Tampilkan postingan dengan label Boyolali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Boyolali. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 November 2019

Murwa Candika Bersih Candi Kragilan Boyolali : Penyelamatan Cagar Budaya Berbasis Masyarakat


 Murwa Candika Bersih Candi Kragilan Boyolali : Penyelamatan Cagar Budaya Berbasis Masyarakat
Murwa Candhika 
Sabtu, 16 November 2019. Undangan komunitas mBo’ja lali kepada para pecinta situs dan watu candi Dewa Siwa langsung menarik hati. Bertajuk “Murwa Candhika Situs Candi Watugenuk”, Komunitas mBo’ja lali menginisiasi kegiatan yang menginspirasi : usaha pelestarian cagar budaya dengan pelibatan masyarakat.
     Murwa berasal dari kata purwa yang berarti permulaan, sehingga murwa berarti memulai. Sedangkan candika adalah asal kata candi. Penggunaan candika memberi makna bahwa upaya ini tidak hanya terkait terutama dengan fisik candi, tetapi juga hal-hal yang mendasari keberadaan candi, termasuk lingkungan sekitarnya. **
Dewa Siwa Mangayubagya Murwa Candhika Komunitas Mbo'ja lali
Segera kemudian kami mengkondisikan kawan-kawan di Komunitas Dewa Siwa, dengan  Mangayubagya”, tujuannya wujud dukungan serta mempererat persaudaraan antar komunitas. 
Sendang Nganten :Panandita memulai prosesi Adat mengambil Air Suci
Sementara, saya pribadi sebenarnya sudah tahun 2017 menelusuri jejak candi Kragilan (linkCandi Kragilan), mengulang namun kegiatan Murwa Candika sayang untuk saya lewatkan.
Prosesi dimulai dengan ritual di Situs Watu Gentong (kemudian mengambil air di Sendang Nganten yang lokasinya masih di Desa Kragilan.
   Dilanjutkan dengan kirab membawa air suci yang dibawa dalam kendi berjumlah 9. Berasal dari 9 sumber air di sekitar Boyolali (Situs Sumur Songo {7}, Situs Candi Gatak Cepogo dan sendang Nganten Kragilan). 
  Air suci dari 9 mata air dianggap sebagai perwujudan 9 dewa dari 8 segenap arah mata angin dan 1 di pusatnya. Mitos yang berkembang dimasyarakat bahwa Sendang Nganten ini menjadi tempat berkumpulnya 9 dewa*. 
Kirab Murwa Candika Situs Candi Watu Genuk Kragilan Boyolali
         Diiringi Penari, Kirab dipimpin Panandita, membunyikan 'bajra' (lonceng) sambil mengucapkan mantra-mantra keselamatan dalam bahasa Sansekerta berjalan kaki kurang lebih dari 1km,  menuju Candi Kragilan
       Sesampai di lokasi, disambut dengan tarian Bedhaya, 
Tarian Bedhaya di Murwa Candika, Bersih Candi Kragilan
      Tarian Bedhaya juga dimaksudkan sebagai pembuka acara bersih Candi. yang dilanjutkan dengan Tarian Garuda Dwiwarna, 
Tarian Garuda Dwiwarna di Murwa Candika, Bersih Candi Kragilan
      Tarian yang mewujudkan Bhineka Tunggal Ika, satu dalam budaya yang dinaungi dengan bendera Merah Putih.
     Selanjutnya, puncak kegiatan Murwa Candika, dipimpin Panandita. Air suci di dalam kendi kemudian disiram ke sekeliling Yoni, dengan diiringi puja mantra Panandita. 
Murwa Candika, Bersih Candi Kragilan
     Setelah prosesi berakhir, kembali di suguhkan tarian rakyat yang dibawakan oleh komunitas Seni Budaya. 
     Seperti yang Kang Ody Dasa* (koordinator Komunitas Mbo'ja lali) ceritakan kepada penulis. Tujuan kegiatan Murwa Candika memperkenalkan cagar budaya dan memberikan pengetahuan mengenai cagar budaya serta perlunya untuk menjaga kelestariannya, sekaligus pengembangan pemanfaatannya. 
Bapak Kades, Dedy Saryawan dan dri BCB Jateng
        "Kepedulian masyarakat untuk menjaga kelestarian alam dan cagar budaya yang berada di lingkungan sumber air, juga mengembangkan potensi-potensi pemanfaatan cagar budaya dan lingkungan alamnya dengan pelibatan masyarakat tentu akan membangkitkan inisiatif warga", jelas kang Ody Dasa.   
   Berbagai komunitas, seperti Komunitas peduli cagar budaya, Komunitas peduli kelestarian alam, Komunitas seni budaya dan alumni Duta Wisata Boyolali dilibatkan dalam Murwa Candika. 
       Tentu peran Bapak Kades, Dinas Kebudayaan setempat dan BCB Jateng dalam mendukung kegiatan menjadikan usaha pelestarian seperti menemukan jalan mudah. 
Kades Kragilan : Bapak Dedy Saryawan
    Fakta demikian terungkap ketika sarasehan Penyelamatan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat dengan Narasumber dari BCB jawa Tengah. 

    Dalam Sambutannya saat sarasehan, Bapak Kades Kragilan, Bapak Dedy Saryawan mengungkapkan rencana desa untuk membeli tanah agar bisa memaksimalkan pemanfaatan, pelestarian dan potensi desa lain sungguh menjadi inspirasi.

         Candi Kragilan sendiri, atau warga menyebut Candi Watu Genuk sebenarnya sudah diteliti sejak ditemukan sekitar tahun 2014. Pasang surut Situs Watu Genuk, tak mengalami perhatian yang serius. Pemasangan plang papan nama Situs, memang pernah dilakukan. 
      Sampai kejadian di pertengahan 2019 dimana ada orang tak dikenal yang menggali Candi Kragilan ini, ditambah kurang dari 100m penambangan batu serta disisi lain ada pembangunan perumahan. Akumulasi kejadian, kondisi dan semangat Komunitas mBo'ja lali yang memuncak, didukung semua lapisan masyarakat menjadikan Murwa Candika sebagai kegiatan rintisan pelestarian Cagar Budaya yang melibatkan masyarakat.
Murwa Candika Bersih Candi Kragilan Boyolali
    Bagi Masyarakat, tentu untuk mengikuti jejak Komunitas mBo'ja lali mengadakan kegiatan seperti ini dibutuhkan tekad yang kuat dan kerjasama yang tidak mudah. Tapi secara individu barangkali bisa berperan. 
       Pak tua ini contohnya, 
Cukup cinta Candi, maka perilaku akan baik,  sumber foto http://www.sasadaramk.com
     Tak harus mewah namun sederhana saja. Jangan buang sampah sembarangan, jangan merusak, jangan mengambil.
Mas Eka Budi Z, Mas Teddy (Komunitas Kandang Kebo), Saya dan Mas Rafael (Klik Nama terhubung blog)
       Sampai Ketemu di Kisah Pecinta Situs Watu Candi,
Salam ...
#Hobikublusukan

Ikutan yuk di Kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia  Rawat atau Musnah!”
Kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia  Rawat atau Musnah!
Nb :
Sumber 
* Wawancara lewat WA dengan Kang Ody Dasa, Koordinator Komunitas mBoja' lali
** Kerangka Acuan Kegiatan/ Term of Reference Murwa Candhika Situs Watu Genuk oleh Komunitas mBo'ja lali

Sabtu, 16 November 2019

Mampir di Situs Watu Genuk, Kragilan Boyolali


Situs Watu Gentong Kragilan Boyolali
Sabtu, 16 Oktober 2019. Cerita kali ini sebenarnya surprise. Kejutan. Saya sama sekali tak punya informasi atau cerita tentang situs Watu Gentong di lokasi ini. Karena sesungguhnya saat saya ke Situs Kragilan waktu itu (2017) Warga yang kutanyai tak menunjuk ada watu istimewa di Kampoeng Air Kragilan. Pas di kegiatan Murwa Candhika Candi Kragilan baru saya tahu. Itupun ketika saya ingin mengikuti prosesi itu dari awal di Sendang Nganten (Kampoeng Air Kragilan).
Kampoeng Air Kragilan 

Sesaat setelah sampai, saya ketemu Mas Yoga Wahyudi saudara dari Pengging Boyolali yang baik hati sering menjadi penunjuk jalan saat blusukan di area Boyolali. Beliau bercerita ritual diawali dari situs Watu Genuk, dengan telunjuk tangan mengarah ke seberang Taman Air Kragilan. Untuk detail naskah yang sudah saya buat klik Link “Murwa Candika Candi Kragilan”.
Kirab Air Suci Murwa Candhika Situs Candi Kragilan
Segera setelah Kirab – arak arakan budaya yang membawa 9 kendi berisi air suci 9 sumber menuju ke Candi Kragilan, Saya menyempatkan dulu menengok Watu Genuk, Kragilan.
Sendang Nganten yang berada di dalam Kampung Air Kragilan
Bagi bukan warga Kragilan, tentu saja mungkin jarang yang tahu, di dalam pagar tembok putih yang mirip sebuah bangunan ini ada jejak peradaban masa lalu yang spesial. Membayangkan dulu antara Sendang Nganten (Taman Air Kragilan) dan Watu Genuk ini tak terpisahkan… tentu bisa ditarik garis masih terkait dengan Candi Kragilan. Sederhanya…. Bila akan beribadah Ke Candi Kragilan, harus bersuci dulu di Sendang Nganten ini, atau air suci dikumpulkan ke dalam Watu Genuk…. Semacam hipotesa… (sok ilmiah = dibaca saja dugaan).
Watu Genuk atau mirip Gentong ini saya masih menunggu info cerita dari Kang Ody Dasa asal mula penyebutan watu Genuk...juga untuk nama Watu Nganten sendiri, saya masih mencoba tanya2 senior di ‘Komunitas Mbo’ja lali’. 
Sayangnya Lokasi Wisata kampoeng air ini lama terbengkalai. Mungkin karena air nya susut dan pengelola abai untuk nguri-ngiru peninggalan leluhur barangkali..... 'mungkin saja!'
Close Up
Situs Watu Gentong Kragilan Boyolali
      Watu Gentong berukuran lumayan besar, berbeda dengan gentong yang dimiliki biasanya orang jaman nenek/kakek saya…. (Kalau sekarang model Gentong Plastik). Kondisi Watu Gentong cukup baik, walau ada sisi yang rusak. Melihat secara lebih detail, bagian yang terpendam ada relief di setiap sisi tubuh watu gentong. Sangat indah.
Situs Watu Gentong Kragilan Boyolali
Namun melihat kondisi secara umum, Watu Gentong ini masih ada yang nguri-nguri. Watu Gentong juga ada di daerah Bandungan : Situs Watu Gentong Banyukuning, namun dengan bentuk yang sedikit berbeda. Namun mungkin kegunaan hampir sama. Karena ciri-ciri bangunan lain yang terkait pun ada.
Sampai ketemu di penelusuran berikutnya
Saya dan Jagad di Situs Watu Gentong Kragilan Boyolali
#hobikublusukan

nb:
Mampir dulu di Simpang Solidaritas Kragilan Mojosongo

Rabu, 27 Maret 2019

Ekspedisi Kembang Kuning Cepogo Boyali : Kolaborasi #1 Watu Lumpang - Watu Lesung

Ekspedisi Kembang Kuning Cepogo Boyali : Kolaborasi #1 Watu Lumpang - Watu Lesung
        Rabu, 27 Maret 2019. Akhirnya bisa juga.... terus terang kisah ini terjadi karena saya memaksa dengan sangat mengancam kepada Mas Eka Budi Z, pemilik Blog Karungrungan. Bagaimana tidak dipaksa... sekian tahun beliau hanya PHP saja setiap ku ajak blusukan. ---
      Awal ketertarikan saya menelusuri jejak sejarah Kembang Kuning tentu saja nama desa Kembang Kuning yang eksotis. Apalagi rekan yang berkesempatan mengikuti kegiatan blusukan bersama komunitas ‘Mboja_lali’ (sebuah komunitas yang juga concern dengan situs di area Boyolali) mengunggah foto-foto beliau saat berada di situs. Mata saya langsung tak bisa lepas dari keberadaan jejeran watu Lumpang. (Pak Nanang selalu saja berhasil pamer dan membuat saya merasa wajib menelusuri ulang)
   Alhasil, segera saya coba merencanakan strategi untuk penelusuran ke Desa Kembang Kuning ini. Sebuah Ekspedisi yang sepertinya akan menantang, penuh perjuangan, karena (musim) hujan tentu saja mengintai, belum pasti dapat partner… namun hari Rabu ini adalah kesempatan saya untuk free durasi (karena istri luar kota… dan besok sudah pulang…heheh—)
    Jadilah saya melempar ajakan ke beberapa rekan pecinta situs, walaupun saya menyadari tak akan mudah karena ini hari kerja. Untungnya Mas Seno bersedia menemani karena beliau masuk kerja shift malam, sayangnya calog guide andalan absen karena keduluan janji dengan orang lain. Tapi beliau berjanji memberikan detail petunjuk lengkap menuju lokasi, dan tentu saja Mas Eka Budi.
       Bagi saya pribadi.. blusukan kali ini terasa spesial karena saya sudah sejak lama berangan-angan bisa blusukan kolaborasi 2 blogger plus 2 youtuber (spesial situs).. hehehe… tidak bersaing namun saling menguatkan. Saya sendiri salut dengan Mas Eka Budi yang konsisten untuk terus ngevlog, sementara saya ngot-ngotan.
     Selain ingin mendapatkan petunjuk arah, atas saran dari Mas Yohanes, saya memberanikan diri mencoba menghubungi senior komunitas Pecinta Situs Boyolali “Mbo'ja_lali, Pak Pak Ody Dasa. Yang ternyata diluar dugaan luar biasa ramah, saya pribadi sampai melonjak gembira karena petunjuknya sangat lengkap bahkan sampai titik koordinat. Bahkan ada rekan yang dijawil pak Ody untuk mendampingi kami. Bagi kami ini sungguh keberuntungan tiada terkira. (Walaupun sayangnya pak Budi Wiyono terkendala teknis : mungkin kita belum berjodoh pak… berarti saya lain kali akan datang kembali, dan mencari njenengan untuk duduk ngopi bareng nggeh…)
     Bahkan dari Pak Ody Dasa pulalah, saya dapat akses ke Pak Kades Kembang Kuning, Bapak Yarmanto tapi terus terang saya ga berani… sangat sungkan untuk ngrepoti. "Matursembahnuwun Bapak, sudah dibalas WA saya, sebenarnya saya sudah didepan rumah... tapi... sungkan, rikuh walaupun hati ingin mendapatkan banyak cerita dari Bapak..."---

   Saya masih menunggu kiriman Gambar Embung Kembang Kuning, karena saat saya kesana terlalu fokus pada situs... juga keburu hujan.--semoga beliau berkenan...
     Langsung saja ya… cerita eksotisme Desa Kembang Kuning ini….. ---

Watu Lumpang - Lesung Desa Kembang Kuning
       Sebelumnya saya ceritakan dari awal Mula, berangkat dari Ungaran, jemput dulu ke rumah anak manja, Mas Eka Budi.. kemudian langsung ke lokasi kedua dimana Mas Sabaku Seno Menunggu di SPBU Bawen.
       Kami tancap gass menuju Cepogo. Setelah Pasar Ampel melewati jembatan langsung ambil kanan. Terus saja lurus sampai ketemu dengan Desa Kembang Kuning.
    Sayang sekali rencana saya untuk mengambil gambar Embung saat pulang (nanti gagal karena hujan). Padahal sangat eksotis… Embung Kembang Kuning sungguh sebuah destinasi wisata yang elok. Apresiasi kepada pemerintah Desa yang dipandegani Bapak Kades Yarmanto, menjadikan embung yang tujuan awal untuk pertanian menjadi sebuah tempat wisata desa yang natural, indah…sangat eksotis… dengan taman bunga (Ini saya lihat saat perjalanan menuju menjadi destinasi utama kami.… sebuah keselarasan tercipta)
     Koordinat pemberian Pak Ody Dasa yang kami pasangkan di GMaps mengarahkan kami untuk melewati Embung Kembang Kuning dan berbelok di jalan berbeton 50 meter sebelah kiri. 

Makam Desa Kembang Kuning
       Kami kemudian parkir di depan makam desa. Setelah itu mencoba cek barangkali ada sahabat komunitas Mboja_lali yang merapat…  Kami kemudian memutuskan untuk bertanya kepada beberapa warga dimana keberadaan Situs Lumpang Kembang Kuning.
     “Mlebet mawon teng suket gajah niku”, tunjuk warga pembawa rumput sambil tangan beliau mengarah ke area dimana suket Gajah setinggi kami. Nafas panjang, melenguh atau istilah lain yang sepadan menjadi ekspresi spontan kami bertiga. Namun pantang pulang sebelum blusukan. Akhirnya kami terobos.

     Sampailah...

Ekspedisi Kembang Kuning Cepogo Boyali : Kolaborasi #1 Watu Lumpang - Lesung

      Sampai tak bisa berkata-kata, deretan 9 watu lumpang dan 6 watu lesung langsung memaku pikiran saya, berbagai kemungkinan, berbagai dugaan melintas dalam pikiran saya. Apakah ada orang yang telah mengumpulkan jadi satu? atau sudah sejak dulu memang ada di area ini?
Eka Budi Z
      Semoga ada pencerah, (masih Menunggu cerita Dari Pak Ody Dasa dan Bapak Budi tentang cerita dari sini. Saking semangatnya kami, eh.... mas Eka Budi malah rebahan di suket.... rebah dengan cantik...
     Masing -masing kami langsung asik sendiri, mengabadikan dengan gadget masing masing. 
      Sial bagi saya, pinjaman kamera SLR ternyata terlupa memory card nya.... padahal bawanya sudah repot sekali.... (kejadian kedua dalam masa blusukan saya.... sial sekali. Alhasil saya dokumentasi seadanya dengan memory dan baterai yang terbatas.
     Keberadaan 9 watu lumpang dan 6 watu lesung sangat bisa menajdi sebuah bukti, keberadaan peradaban di Desa Kembang Kuning ini dulu pernah bersemayam dan maju pada masanya. Dugaan saya erat kaitannya dengan daerah agraris.... (karena banyak ahli memberikan penjelasan mengenai salah satu fungsi kedua watu ini untuk pertanian).     Close Up Watu Lumpang dan Watu Lesung (sebagian saja)




Watu Lesung Bundar
Watu Lesung Kotak
Ketebalan salah satu Watu Lumpang Kembang Kuning





























       Mulai Blusukan kali ini, saya mulai lagi ngeVlog :
     Tapi maaf saya masih amatir.... dengan segala keterbatasan...
Mas Seno, Mas Eka Budi Z, Saya (ssdrmk) di Watu Lumpang Watu Lesung Kembang Kuning
     Kami, 'Bila Kami bersama... Nyalakan tanda bahaya....(superman is dead) menjadi tagline.... heheheh.
     Foto saya dibawah ini berkat Mas Seno yang heroik, menjadi martir "berubah menjadi manual humandrone alias manjat pohon.... Edyan tenan ...makasih sekaligus salut..... (walaupun akhirnya Gantian Mas Eka Budi yang manjat untuk mendapatkan gambar mas Seno pula. 
manual humandrone : wkwkkwk

      Saya? jadi penyemangat saja plus berdoa mereka tak digigit semut ngangkrang...wkwkwkkw
saya di Watu Lumpang - Lesung Desa Kembang Kuning Cepogo Boyolali
      Jika dari atas, pemandangan jejeran Watu Lumpang dan Watu Lesung sungguh menggetarkan jiwa.... elok.... joss pokoknya :
Situs Watu Lumpang  dan Watu Lesung Kembang Kuning  Cepogo (sumber foto : Seno/eka budi z)
    Salam Pecinta Situs dan Watu Candi, Berlanjut ke Destinasi kedua. : Yoni Desa Kembang Kuning (setelah naskah jadi segera terhubung lewat link)
#hobikublusukan

nb : 
  1. Maturnuwun kagem Bapak Kades Yarmanto, Bapak Ody Dasa, Pak Budi Wiyono, Mas Yohanes dan Pak Nanang yang berkenan memberikan support, motivasi dan petunjuk detail. Salam sembah sungkem untuk sedulur Mbo'ja Lali.
  2. Duet Blusukan KOLABORASI dengan Master Blogger Eka Budi ZjelajahKarungrungan.blogspot.com Silahkan baca juga kisah kami di blog beliau.... Juga di Channel Youtub beliau : https://www.youtube.com/watch?v=CBOs4sE5OJ0&feature=share

Yoni Situs Embung Kembang Kuning, Cepogo Boyolali

Yoni Situs Embung Kembang Kuning, Cepogo Boyolali
        Rabu, Maret 2019. Masih terkait dengan Situs Lumpang-Lesung di Embung Desa Kembang Kuning Cepogo Boyolali. "Diatas Embung persis", begitu pesan dari Pak Nanang. Akhirnya kamipun menuju lokasi (masih saya, Mas Seno dan mas Eka Budi). 
       Hanya terpisahkan tanah lapang, menyusuri jalan paving, tak lebih dari 1 menit sampailah kami....
Embung Kuning sungguh Eksotis
        Dilihat dari posisinya, kami duga Yoni ini ditemukan saat pembangunan embung. Jadi mungkin belum terlalu lama. Sekitar tahun 2016. 
Yoni Situs Embung Kembang Kuning, Cepogo Boyolali

       Untuk dugaan ini benar Yoni saya idem saja dengan senior-senior di Boyolali. Walaupun nanti bisa dipastikan setelah nampak semua. 
       Dari cerita yang saya dapat, plus pesan WA dari Bapak Kades kepada saya nampaknya harapan ‘museum Desa” akan terwujud untuk menambah fasilitas Desa wisata yang sedang dikembangkan. 
Yoni Situs Embung Kembang Kuning, Cepogo Boyolali
      Yoni dengan 2 lubang berbentuk oval ini memang sangat unik. Terus terang baru kali ini melihatnya. Saya menduga dua lubang itu satunya adalah lubang dari arca yang berdiri diatasnya, sementara lubang satunya adalah tempat dimana lingga berada. 
Yoni Situs Embung Kembang Kuning, Cepogo Boyolali
    Bentuk Yoni Oval, apakah karena ada pengaruh tanah Hindustan saya kurang paham. Karena biasanya bentuk yoni di Nusantara ini persegi. 
Yoni Situs Embung Kembang Kuning, Cepogo Boyolali
     Yang bulat maupun oval sangat jarang ditemui. 
    Maturnuwun kepada Bapak Kades Yarmanto yang mengirimkan gambar landscape dari atas 'Taman Bunga Kembang Kuning' yang saya lewatkan, tak sempat mampir karena fokus di durasi, cuaca yang ,mulai gerimis dan tentu saja kami tak menyangka ada tempat seindah ini. 
      Terus terang ketika saya uplod di IG banyak yang tertarik pak… sebuah potensi yang secara cerdas telah dikembangkan Pemdes Kembang Kuning ini. 
Yoni Situs Embung Kembang Kuning, Cepogo Boyolali
      Suasana natural, alami masih saya rasakan… bahkan walaupun tanpa bisa saya abadikan… saat saya duduk mengamati Yoni Kembang Kuning ini tak jauh ada sepasang ‘Gangkrangan’ (Musang) lewat mencari makan. Membuktikan alam masih bersahabat dengan hewan liar, Semoga tetap lestari.
Embung Kembang Kuning :
Embung Kembang Kuning : sumber foto jelajahkarungrungan.blogspot.com
Taman Bunga Kembang Kuning :
Taman Kembang Kuning  Cepogo " sumber foto : Bapak Kades Yarmanto

Taman Kembang Kuning  Cepogo : Sumber foto Bapak Kades Yarmanto
   Team "Bila Kami Bersama--Nyalakan Tanda Bahaya" Blusukan Happy pokoknya, 
       Salam pecinta situs dan watu candi. 
 Situs Embung Kembang Kuning, Cepogo Boyolali
       Vlog di channel Youtube : 
https://youtu.be/koy-1kfkIeo
      Bersambung ke kisah di Candi Telo 
      #hobikublusukan

nb:
kisah ini ditulis pula oleh mas Eka Budi  di Link blog : jelajahkarungrungan

Kamis, 03 Januari 2019

Yoni Situs Candi Kecamatan Ampel Boyolali : Romansa Kemisan

Yoni Situs Candi Kecamatan Ampel Boyolali 
   Kamis, 3 Januari 2018, saya sengaja memberikan judul 'romansa', mengutip komentar mas Seno di facebook. Saya pikir cukup bisa menggambarkan bagaimana jalan cerita blusukan kemisan ini. Penuh rasa memang... seperti permen.
Berawal dari hutang janji saya, dengan Pak Nanang K, beliau yang selalu berkenan guide di banyak destinasi. Timbulah dalam hati saya untuk membalas dengan gantian mengantar. Ditambah pikiran saya butuh sekali direfresh.
Setelah kami sepakat, kemisan ini meluncur ke Payungan Kecamatan kaliwungu Kabupaten Semarang. eh secara kebetulan istri mampir kantor setelah jemput sekolah Jagad, jadilah kupaksa ikut. Padahal sejak beberapa malam sebelumnya saya ragu, maju mundur untuk ngajak istri ‘blusukan kemisan couple’ bersama Pak Nanang dan Istri. Sepertinya yang diatas mengabulkan doa atas ide saya... hehehe
Berangkat dari perpus Ungaran, jam 12an, tepat ketika Ungaran hujan deras, jalan raya di sekitar traffict Light tergenang air luapan selokan kami tetap menerjang. Entah kenapa semangat saya berlipat, walaupun memang anak yang kecil, kami tinggal. Bersama keluarga memang nyaman. hehehe... (itu terjawab nanti, tapi tentunya butuh baca sampai selesai dan menyimpulkan sendiri ya…)
Sesampainya di pertigaan Karangjati, saya melihat motor Mas Dhany standby di TB beliau. Sambil nyopot jas hujan, saya WA Mas Dhany.
Begini Percakapannya :
saya: yuh...
saya: kumpul ning pak Nanang
saya : Kaliwungu
Mas Dhany :Kpn?
saya : Ki Aku nyopot Mantol Ning ngarep Sidomuncul
 Saya : saiki
 ----
Saya tak membalas lagi, saya pikir mas Dhany seperti biasa saat saya ajak, balasnya selalu ‘durasi mepet’, syndrome keset itu gatel, apalagi ini musim penghujan juga basah tentunya.
Langsung meluncur ke Rumah Pak Nanang, ternyata Mas Seno sudah menunggu juga sementara Mas Yohannes pun sudah standby di pertigaan Kecandran JLS. Yang penting saya sudah ngabari mas Dhany, biar tak di komentari nglimpe.  Melewati jalur memutar depan Hortixxxx kemudian melewati Gembol, ehhh tiba-tiba, ada motor sejajar yang berteriak kencang..... "Weee lhadalah... jebul ngapusi, ga no durasi ki!!!", Mas Dhany histeris lucu. Sumpah serapah (khas), tapi kami tertawa bareng setelahnya.
kloter 1 : romansa kemisan
Tiba di Rumah Pak Nanang Mas Dhany masih saja histeris lucu, kami yang berkumpul dan bersiap blusukan membayangkan pulangnya nanti terpontal-pontal biar tak berselimut keset teles  bin gatel... haghaghgahg membuat semua terhibur... Salam keset teles!!!..
"Sebelum ke tujuan, Kita Mampir dulu di Yoni belakang pasar Ampel". kata Pak Nanang. Saya surprise.... berarti tak 100% saya menjadi guide... hehehe.
Anehnya cuaca menjadi berbeda, walaupun mendung, sepertinya langit mendukung blusukan kemisan kami yang penuh cerita ini.... menunda hujan. Apalagi si Jagad bersedia menerima tawaran untuk membonceng Mas Dhany, jadilah Saya serasa Pacaran, tak mau kalah sama Pak nanang dan bu Wahyuni. Mas Yohanes dengan anaknya, sementara Mas Seno mungkin ngiri sama Truk gandeng,  sedangkan mas Dhany... jadi ‘mas Nanny’, yen boso jowone momong… hehehehhehe... Maturnuwun. Semoga pahala surga menantimu. Benar-benar berkah langit untuk kami berdua.
Singkat cerita, sampailah kami di pasar Ampel, kemudian ada tetenger Tugu, kami ambil kiri, mengikuti jalan tersebut. masuk ke Dusun Candi Desa Candi. Sebuah nama yang cukup membuat saya tak fokus dengan jalan yang kami lalui, bagaimana tidak, saya tengok kanan kiri, sampai-sampai ingin bisa melihat kedua sisi kanan dan kiri jalan bilamana ada batu ‘mencurigakan’ tak boleh terlewatkan.
Namun karena desa ini bukan dalam planning kami untuk secara detail kami telusuri, akirnya ya kami lewati. Walaupun dalam hati terpatri untuk suatu saat kembali atau malah ada pembaca yang tertarik menelusur, bahkan malah penduduk lokal yang memberikan informasi menarik kepada kami (saya mewakili siap menerima informasi… heheh)
Setelah melewati perkampungan kami kemudian sampai di jalan yang membelah persawahan. Ternyata Pak nanang menghentikan laju motornya dan parkir di pinggir jalan.
Serunya Blusukan : Mas Yohanes dan Anaknya Tegar
“Dapat informasi malah dari sopir truk pasir yang meninggalkan pesan komentar di grup facebook, tentang watu kuno yang tak terawat di Dusun Candi belakang pasar Ampel”, cerita pak Nanang awal mendapatkan info Situs ini.
Kami kemudian berjalan menyusuri pematang sawah, Situs berada di pinggir sawah kering yang saat ini ditanami pohon Sengon.
Yoni berukuran sedang, berbentuk sederhana tanpa motif, relief. Namun tegas dan berwibawa.
Cerat Yoni masih utuh,
cerat.. 
Melihat di lubang pada penampang atas Yoni kotak dan dasar ada semacam kuncian, saya menduga ini Yoni tapi bukan berpasangan dengan lingga.  Ataukah ini Lapik Arca saya belum dapat memastikan. (semoga para ahli bisa mencerahkan saya...)
Lubang Yoni : Mungkin Arca
Mungkin Arca berada yang berada di atasnya.
masih rungkut
Saat kami berdiskusi dan bersih - bersih situs (walaupun cuma nyabuti rumput sekitar Yoni), ada seorang warga yang mendekat dan nampaknya tertarik dengan aksi kami diskusi dan bersih-bersih situs. 
“Watu itu awalnya disitu”, beliau menunjuk 4m arah Yoni sebelumnya. 
“Sedari kecil Yoni itu ya begitu tanpa ada arca diatasnya”, cerita beliau saat salah satu dari kami bertanya dimana Arca/ Lingga berada.  
Mbah yadi, beliau menyebut nama. Dengan usia kepala 7, masih fasih menceritakan beberapa sejarah dusun Candi. 
Salah satunya tentang warga yang pernah familiar dengan ‘Candi Merapi’.



Informan : Mba Yadi
Sesaat radar kami langsung fokus, karena istilah ‘Candi Merapi’, sesuatu banget bagi kami. “Dulu saat merapi meletus hebat, saat saya terlupa tahun berapa, sepertinya saat saya masih kecil. 
Beberapa Gambar dari beberapa sisi : 

Waktu itu sangat banyak pengungsi akibat letusan gunung berapi dan menempati area diluar pemukiman asli warga dusun Candi. Sehingga warga menyebutnya Candi Merapi. Bukan nama dari sebuah Candi seperti candi Prambanan”, cerita Pak Yadi Panjang Lebar.
Di Yoni Dusun Candi Ampel Boyolali
Ekspetasi kami langsung meredup, walaupun kami tetap menyimpan bara keyakinan penyebutan 'nama Dusun Candi Desa Candi' bukan sembarangan asal comot saja. Atau malah Yoni ini sebenarnya adalah bagian dari bangunan suci yang megah dan hanya belum ketemu saja. 
Apalagi menurut cerita mbah Yadi, yoni ini oleh warga dikenal dengan watu sikenteng. Sebuah bukti penamaan yang identik.
Setelah merasa cukup kami kemudian berpamitan.
Khusus naskah ini…. Kami lanjutkan…. Ke destinasi bonus (saya menjadi pemandu)
Menuju destinasi selanjutnya.
Masih dengan formasi Couple double (Saya-istri dan Pak nanang Istri), Mas Dhany yang momong Jagad, Mas Yohanes yang momong anaknya sendiri dan Mas Seno yang masih saja blusukan sendiri (kalah sama truk gandeng mas…).
Dari  Desa Candi kemudian kami melewati jalan temus menuju pasar hewan ampel, ambil kiri menuju Kaliwungu Kabupaten Semarang. Tujuanya adalah Candi Payungan yang berada di Desa Payungan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang. Tujuan kali ini adalah gentian posisi pemandu, saya sekitar 2014 sudah pernah menyambangi situs ini. Selengkapnya di Link naskah Blog  Situs Payungan Kaliwungu Kabupaten Semarang
Biar lebih afdol baca dulu ha...hehehe
sudah ada jembatan : candi payungan
Kondisi sudah agak berbeda, saat ini sudah ada jembatan bambu yang membuat kita tak perlu lagi berbasah - basah jika musim penghujan karena sungai mengalir airnya (jika kemarau kering). 
Kebun juga berganti menjadi tanaman suket gajah yang cukup membuat saya jadi kebingungan karena semua tertutupi. 
Candi Payungan Kaliwungu
Sempat bingung namun spekulasi saya berhasil. Tidak malu karena kesasar. 
Dan inilah 5 tahun kemudian kondisi Candi Payungan.
Romansa Kemisan
Kebiasaan baru kami bila di situs saat blusukan yang Resik-resik situs, minimal mencabuti rumput. Yang paling spesial ya saat sesi foto double couple blusukan kemisan
Semua yang pegang HP langsung memotret kami.. hehehhe.
hasil jepretan mas Seno


















Secara Pribadi saya sangat senang, bisa ngajak istri. 
Setelah merasa cukup, sebelum pulang, saya tawari sekalian jalan pulang berlanjut ke Yoni situs Timpik Kecamatan Susukan (Tahun 2005 masih satu kecamatan dengan Kaliwungu). Semua sepakat, jadinya saya masih menjadi pemandu.
Tahun 2017 saya kesini bersama mantan Partner pencetus ide Blusukan Kemisan…. Link Naskah Blog : Yoni Situs kauman Desa Timpik kecamatan susukan Kab Smg.
Saya, jagad dan Istri
 Apa Kabar Lek Suryo Wibowo….? salam dari kami sekeluarga? Nunggu kabarmu lek…segera…. Hehehehhehe--- yen wani tur lanang tenan sich!
Tak ada kabar lain dari Yoni situs Timpik ini, selain berpindah posisi dari dibawah tangga, saat ini pindah sekitar 2m... plus beberapa saat lalu Bapak Camat Susukan (kata warga) meninjau situs ini sekaligus survai lokasi awal Yoni ini berawal yang konon menurut informasi terdapat banyak struktur candi yang bila dibangun besarannya tak kalah dari Candi Klero ataupun Candi Ngempon.
Karena Durasi cukup mepet, saya kasihan Mas Dhanny. Walaupun memang sebenarnya sudah saya tawari untuk sekalian ke Stupa Situs Tawang Susukan. Namun phobia keset teles memang menakutkan. Alhasil, tak tega saya rasanya. Saya dan Mas Dhany  pulang terlebih dulu sedangkan rombongan lain berlanjut ke Tawang.
Mengekor terus dari Desa Timpik ke Sruwen, tapi setelah itu seperti punya ilmu memindahkan raga saja. Plasss!!! hilang begitu…. Sayapun senyum senyum bahagia. Tenang tak terpontal-pontal… hahaha
(bisa menyimpulkan sendiri ya....)
Sampai ketemu di kisah seru blusukan selanjutnya….
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
#hobikublusukan