Minggu, 24 April 2016

Menelusuri Situs Tlogo Mijen Semarang

Menelusuri Situs Tlogo Mijen Semarang
     Minggu 24 April 2016, Blusukan kami lanjut mengikuti panduan dari Mas Imam, Dari Candi Dudak Mijen, Kami keluar menuju arah Jatibarang. Melewati Situs Duduhan depan mie ayam langganan kami, jalan ke bekas Eskavasi Candi Duduhan, Yoni Duduhan, Yoni Lumpangsari Duduhan, dengan tujuan Desa Tlogo masih di Kelurahan Jatibarang Kecamatan Mijen.      
     Pertigaan ambil ke kiri, kira-kira 500m ada gang sebelah kanan (gang sebelum arah Gunungpati, bila lurus arah Kaligetas). Saat kami sampai disini, terasa ada yang janggal... Ya teman rombongan blusukan kami tak nampak.... Lek Max Trist .... Kami mencoba balik arah, bahkan kami semua...... hmmm entahlah...semoga ga kenapa-kenapa/ barangkali mampir di rumah 'mboknom' kata rekan ... hahahaha. Tinggalah kami ber-empat.
    Sibuk nyari Lek Trist itulah, saya tak sempat ambil gambar petunjuk arah. Mohon Maaf.
Lapik Arca Situs Tlogo Mijen Semarang
    Karena Mas Imam sudah pernah menelusuri Situs Tlogo ini, kami tinggal menuju lokasi. Lapik Arca berada di depan rumah seorang warga. Bapak ..... (nunggu info mas Imam). Saat sampai, tak ada orang di rumah tersebut. Jadilah kami minta ijin kepada depan rumah alias tetangganya. Satu ibu-ibu dan anak gadisnya..... "Meh dibaleni pora lek suryo?neg ra ta baleni dewe lho....? hahahah!"
Lapik Arca Tlogo : Diatasnya dulu ada Arca
    Untuk menjawab rasa penasaran ibu dan anak gadisnya tersebut, kami berinisiatif menjelaskan tentang aktifitas dan kami berasal dari Komunitas DEWA Siwa alias pecinta Situs dan Watu Candi. "Oooo, watu itu pindahan dari sendang sebelum kampung ini", jelas Ibu tersebut --jalan menuju yoni duduhan--end--.
    Sayangnya kami terlupa tanya nama beliau. Kami sempat memberikan kenang-kenangan Stiker dewa Siwa, namun sayangnya yang tertulis di belakang stiker bukan no hp satu diantara kami..... heheheheh.
     "Di belakang rumah ini, juga ada batu kuno mas, tapi kami tak tahu apa.... "lanjut ibu itu.
 Segera kami meluncur, ditambah rasa penasaran kami, "Watu ne alus berbentuk hampir persegi" jelas Mas Imam. Seketika, beribu pertanyaan hinggap di pikiran kami, mungkinkah Menhir????.
    Di belakang rumah persis MENHIR itu berdiri miring.....
Menhir Tlogo Mijen Semarang
Menhir, adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditatah seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik, dari kata men (batu) dan hir (panjang). Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar di atas tanah, namun pada beberapa tradisi juga ada yang diletakkan terlentang di tanah. Menhir, bersama-sama dengan dolmen dan sarkofagus, adalah megalit. Sebagai salah satu penciri utama budaya megalitik, pembuatan menhir telah dikenal sejak periode Neolitikum (mulai 6000 Sebelum Masehi)...(sumber : wikipedia)
 Situs Tlogo Mijen Semarang
     Menhir di Tlogo ini terlihat ada sedikit usaha perusakan, "Ooia, grompal watu itu dulu ada yang berusaha memecah untuk dijadikan material pondasi, namun yang memecah itu sakit dan tak dilanjutkan, takut kuwalat katanya..." jelas Ibu tersebut.
    Posisi Menhir tepat di sebelah pondasi...nampaknya menjadi pertanda..... tak lama lagi Menhir ini bernasih seperti yang sudah-sudah.... semoga hanya kekawatiran saja... karena yang terjadi... menhir ini di lindungi!!!
     Blusukan Bareng Dewa Siwa minus Lek Trist yang raib entah kemana :
Di Situs Tlogo Mijen : Lek Suryo, Saya, Mas Imam dan Mbah Eka
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Foto bersama Menhir :














Mari Kunjungi dan Lestarikan
@ssdrmk di Tlogo Mijen Semarang
    

     Karena hari sudah beranjak sore, saya berpamitan kepada rekan lain... untuk mendahului pulang..... Sepertinya mereka berencana tetap melanjutkan ke beberapa situs lagi.....
---- to be continue--- perjalanan menelusuri sejarah berikutnya.

nb : dan kisah menular pada saya.... sebenarnya saya ambil gambar Menhir lebih dari 10x...namun tak satupun yang bisa clear... semua terlihat blur... foto saya yang jelas itu hasil jepretan lek Suryo.... Menhir ini jadi saksi....Kamera saya rusak.... dan Menhir Tlogo Mijen menjadi jepretan terakhir kamera saya....---- ach...  padahal saya sudah minta ijin----

Watu Lumpang Situs Wonolopo Mijen Semarang

Watu lumpang Wonolopo Mijen
     Minggu, 24 April 2016, setelah dari Pertitaan kuno Cangkiran, tujuan penelusuran selanjutnya yaitu ke double Lumpang di Jatisari Mijen (pengulangan bagi saya pribadi), di area ini kami juga melewati Candi Tempel Mijen yang berada di dalam lokasi ternak ayam. Namun karena tak menjadi destinasi blusukan 'Mingguan" kali ini jadi kami hanya melewatinya, selain prosedur masuk area ternak yang ribet bin susah tentunya. Maka kami berlanjut ke Watu Lumpang pecah di dekat area Pondok Baitusalam Wonolopo Mijen Semarang.
    Dari Lumpang Jatisari, kami meluncur arah ke Ngaliyan, kita-kira 100m sebelum pasar Mijen ada gang sebelah kiri, sebelum XXXMart. Ikuti jalan tersebut. (mohon maaf foto petunjuk yang saya ambil hilang entah kemana, ada secercah harapan, nampaknya Kang Mas Roso bersedia membantu saya untuk mengambil gambar petunjuk, rumah beliau dekat area ini..jadi tunggu saja.. Plus saya juga dijanjikan untuk dapat dongeng yang berkembang secara turun temurun di Wonolopo ini..... tak sabar rasanya,...).  
Begini ceritanya..... 
     Dongeng Seorang tua kepada anaknya...
    Konon, Pada masa itu..... (tersebutlah zaman Kerajaan Demak)...
     Saat itu...Sunan Kalijaga mencari Kayu Jati yang akan digunakan untuk tiang Masjid Agung Demak, di area Jatibarang.... Setelah menemukan pohon Jati yang sangat lebar (Jati Ombo), Sunan Kalijaga dan cantrik nya istirahat melepas lelah, kemudian saat istirahat tersebut, Sunan Kalijaga mengadakan syukuran "slametan'  atas keberhasilanya mencari kayu jati yang dibutuhkan. 
     Saat "selamatan' tersebut, suan Kalijaga melihat banyak petani yang sedang menjaga padi dari serangan burung 'emprit', alias pipit. Sunan Kalijaga kemudian memerintahkan cantriknya untuk mengundang para petani untuk istirahat sebentar dan ikut makan. 
    Namun jawaban petani, Jika ikut undangan 'selametan', nanti padinya akan habis dimakan burung. Merekapun sudah bawa bekal sendiri.
     Jawaban yang menyepelekan tersebut akhirnya membuat Sunan Kalijaga berujar, memang benar... burung-burung pipit itu jika warga wonolopo siap panen akan datang terus, sehingga para petani harus menjaga tiap hari jika tidak padi nya akan habis.
      Entah kebenaran atau saktinya ucapan Sunan Kalijaga, sampai hari ini burung pemakan padi siap panen ribuan jumlahnya.
    Masih di Wonolopo, Sunan Kalijaga di suatu malam ingin membangun Sebuah Masjid dalam satu malam. Hanya satu malam karena selain manusia juga bangsa jin yang ikut membantu membangun. Namun saat proses pembangunan belum selesai, ada pengganggu, dari Dusun Sebelah, dusun Sadeng membunyikan alu, seperti bunyi waktu subuh. Karena waktu dikira sudah subuh, pembuatan masjid dihentikan, padahal belum selesai.
Setelah tahu ternyata itu hanya perbuatan iseng, Sunan Kalijaga berujar, ooo perawan yang membunyikan alu tadi akan sampai tua perawane..., 
     Karena dua kejadian tersebut, daerah ini kemudian dinamakan Wonolopo. Wono = alas. Lopo = prihatin
    ---Kurang lebih begitu dongeng tutur tinular Asal Muasal Wonolopo----

     Sementara, sampai gambar petunjuk saya dapat, cari Pondok Baitussaalam Wonolopo Mijen. Untuk Lebih Mudah saya sarankan tanya saja kepada warga, keberadaan Watu Lumpang ini.
Watu Lumpang Situs Wonolopo Mijen SemarangAdd caption

     Watu Lumpang Wonolopo ini, konon ditemukan warga saat akan membangun masjid. Saat itu pembangunan dipimpin oleh Kyai Kasmuri, wilayah ini erat kaitanya dengan perjalanan Sunan Kalijaga saat mencari Jati, singgah pula di area ini. Dari cerita yang beredar di kalangan para tetua masyarakat, dahulu ada bangunan suci (candi) namun kurangnya kesadaran warga, banyak unsur batuan candi yang di jarah, digunakan untuk pondasi, talud, dsb. bahkan ada yang dibuang begitu saja. Sumber cerita : interview messanger with kang mas roso. (masih nunggu dongeng lanjutan: sabar ya kawan....)
   Saat musim toto gelap beberapa tahun yang lalu ... tiap malam suasananya seperti pasar malam saja disini", kata seorang warga, menggambarkan saking ramainya pelaku ritual.  
Watu Lumpang Situs Wonolopo Mijen Semarang
     Walaupun Watu Lumpang ini sudah pecah, namun auranya masih sangat berwibawa sekali. Bahkan masih banyak warga yang ritual di sini. "
    Dari obrolan kami ini, saya jadi mendapatkan kesimpulan.... Apakah kerusakan ini dikarenakan penyalahgunaan "Watu Lumpang" ini ya? seribu pikiran membingungkan... padahal Watu lumpang ini adalah wujud benda suci sebuah upacara masa lalu.
     Penetapan Sima (Tanah perdikan), atas jasa kepada penguasa setempat. Setelah upacara penetapan Sima, Watu Lumpang juga kerap digunakan untuk ritual Suci Pra-tanam padi ataupun masa setelah panen....
Watu Lumpang Situs Wonolopo Mijen Semarang
   Sungguh jika hanya itu alasannya kemudian di rusak.... Bukankah itu kebodohan manusianya saja... bukan salah wujud batu karya leluhur ini??? (Mung dremimil bathin)

    Watu Lumpang Wonolopo dari belakang.

    Untuk Video amatir, lagi-lagi menunggu kedatangan Lek Suryo membagikan file viedo di memori hapenya.... maaf.

Blusukan Bersama Komunitas DEWA SIWA

Dewa Siwa di Jatisari Mijen Semarang
Save This Not Only A Stone
Mari Kunjungi, Selamatkan!
@ssdrmk in Watu Lumpang Situs Wonolopo Mijen Semarang

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi

Watu Lumpang Sraten Mijen Semarang a.k.a BSB Beranda Bali

Watu Lumpang Sraten Mijen Semarang a.k.a BSB Beranda Bali
     Minggu, 24 April 2016, setelah dari Pertitaan kuno Cangkiran, tujuan penelusuran selanjutnya yaitu ke double Lumpang di Jatisari Mijen (pengulangan bagi saya pribadi), di area ini kami juga melewati Candi Tempel Mijen yang berada di dalam lokasi ternak ayam.  Namun karena tak menjadi destinasi blusukan 'Mingguan" kali ini jadi kami hanya melewatinya, selain prosedur masuk area ternak yang ribet bin susah tentunya. Lanjut ke Watu Lumpang pecah Jatisari di dekat area Pondok
Lek Suryo sedang setting self timer
     Beristirahat sejenak di watu lumpang double. Sambil mencoba menghubungi rekan Dewa Siwa yang domisili tak jauh dari lokasi ini... sayangnya 'no respon'. Foto dokumentasi masih di hapenya lek suryo.... nunggu, nunggu lagi.. sementara saya pasang foto Lek Suryo, di belakangnya watu lumpang#2 berada, tepatnya di semak-semak.
    Dari area ini, kemudian kami keluar menuju Watu Lumpang Wonolopopo, setelah itu lanjut menuju Situs Watu Lumpang Sraten Mijen Semarang yang dekat dengan perumahan elit Beranda Bali BSB. Keberadaan Watu lumpang ini, saya dapat informasinya sebenarnya sudah beberapa waktu yang lalu dari Pegiat Sejarah Bapak Tri Subekso, malah cara memberi infonya dengan beliau sendiri tampil di Berita ini : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/jadi-bukti-pusat-peradaban-hindu/
     
Gambar menuju Lokasi : susuri jalan tanah itu
       Rute menuju lokasi lumayan mudah, cari saja Beranda Bali BSB, terus saja kira2 200m ada pertigaan (sebelah kanan) ada jalan tanah.... masuk jalan tersebut...susuri jalan tersebut sampai masuk di kawasan Hutan Karet milik sebuah PT. Swasta... (alamat hilang jika sudah saatnya di buat perumahan elit lagi = nunggu banjir...)
Watu Lumpang Wonolopo : dibawah pohon karet
      Untuk petunjuk selanjutnya tergantung kesabaran sahabat sekalian, Watu lumpang persis dibawah pohon salah satu karet..... ( atau liat dulu video amatir kami biar membantu).
Watu Lumpang Wonolopo 
      Di Masa lalu, watu lumpang sangat sakral. Peninggalan Masa Hindu Kuno ini salah satu fungsi atau tercipta sebagai prasyarat atau menjadi sebuah media (sarana) Penetapan wilayah Sima --(Bebas Pajak) yang merupakan anugrah / penghargaan dari penguasa kepada pemimpin wilayah tersebut. Berjalanya waktu Watu lumpang di gunakan pula dalam upacara-upacara sakral lain, bahkan air di watu lumpang sangat disucikan dan oleh sebagian masyarakat ada tuah nya.
    Saat kami menelusuri jejak watu Lumpang Wonolopo ini nampak pula sisa-sisa ritual, terlihat dari bekas pembakaran menyan di atas watu lumpang.
    Dari obrolan kami, Hutan karet ini di beberapa lokasi ada papan peringatan larangan merumput, dll. Karena wilayah ini milik sebuah PT.Swasta  alias pengembang perumahan..... hmmm..... Hanya bisa mengelus dada alias menyesali tak mampu berbuat banyak.....----#$%#@%!!!

Video Amatir : 

       Blusukan Bersama : sang Guide Mas Imam, Lek Max Trist, Saya @ssdrmk, Mbah Eka dan Lek Suryo
Watu Lumpang Sraten Mijen Semarang a.k.a BSB Beranda Bali
Save This Not Only a Stone

Mari Kunjungi dan Lestarikan.... Selamatkan!
Salam Pecinta Situs Watu Candi

---Perjalanan Blusukan Kami Lanjutkan ke Situs Tlogo Mijen Semarang---

Menelusuri jejak Candi Dudak di Dusun Dudak

Candi Dudak di Dusun Dudak
    Minggu, 24 April 2016. Lanjutan blusukan bareng crew Dewa Siwa setelah dari Petirtaan kuno Cangkiran Mijen Semarang.  Dari petirtaan kami menuju area Jatibarang. Dimana bertebaran beberapa situs, bahkan beberapa waktu lalu ada proses eskavasi di area Jatibarang. 
    Dari Cangkiran menuju BSB/Ngaliyan, sebelum mako Brimob Semarang ambil kanan,masuk jalan ber-paving kira-kira 300m ada pertigaan ambil kanan lagi... bila kiri menuju Duduhan (dusun fenomenal di Semarang karena banyak watu candi) :  watu candi di warung Mie Ayam, Yoni di wumah warga, Yoni di kebun warga dan bekas eskavasi Candi Duduhan. 
gambar 1 ( ipal komunal mijen)
     Ikuti jalan gang kampung, cari dusun Dudak (saat ini berganti nama menjadi Sidodadi, Kelurahan Mijen Kecamatan Mijen Semarang/ cari petunjuk gambar 1. 
    Dari petunjuk tersebut, motor kami tinggal di rumah bulik nya Mas Imam ; "Kita jalan kurang lebih 1 km menyusuri saluran air, melewati pematang sawah dan menapaki jalan setapak di ladang warga", pandu mas Imam. Untuk selengkapnya jalan menuju lokasi kami dokumentasikan dalam bentuk video amatir, hape lek Suryo.. 
Part 1 :












Part 2


     Singkat cerita, setelah kami jalan kaki cukup lama, akhirnya sampai juga....
 Candi Dudak di Dusun Dudak
     dari penelusuran wawancara mas imam ke beberapa tetua masyarakat, didapatlah kisah tutur tinular : "Alkisah, pada jaman dulu tersebutlah nama Raden 'Wonoyudo", beliau kasmaran pada seorang putri dari kerajaan sebelah... saat ingin melamar putri raja tersebut.... Raden wonoyudo dibegal (rampok). (Saat ini dikenal dengan nama kampung dungbegal), karena kalah segalanya Raden wonoboyo terbunuh dan kemudian dimakamkan di dusun Dudak ini warga. 

Gumuk Candi Dudak Mijen Semarang
    "Dulu gumuk itu banyak sekali batu bata yang berukuran besar, ada hiasan, relief bahkan banyak patungnya", cerita Mas Iman, seperti yang dituturkan kakek tetua masyarakat dusun Dudak. "Ada juga tatanan batu yang menyerupai lantai/ pondasi, namun banyak yang di bawa pulang, dipakai untuk pawon, pondasi rumah." tambahnya"Seiring berlalunya waktu, tumpukan batu batu itu secara alami tertimbun tanah dan lapuk, ajur sedemikian rupa seperti yang terlihat sekarang", 
   Ada berbagai kisah, sejarah yang beredar mengenai Candi Dudak ini, agar takk membingungkan cukup satu aja (diatas) tentang Raden Wonoyudo yang saya selipkan... Sambil menunggu kajian historis dari pihak berwenang. 
     Tak jauh dari Candi Dudak ini, ada pula Candi Duduhan yang baru di eskavasi beberapa bulan yang lalu. Jika ditarik garis lurus tak sampai jauhnya melebihi 100m. Dugaan saya pribadi masih ada kaitan. Entah itu sebuah kompleks bangunan suci atau malah sebuah area istana. Bila pula melihat ciri khas sebuah  Candi, biasanya ada pelengkap yang disebut perwara, mungkin juga .
     Kemungkinan-kemungkinan yang perlu dikaji mendalam..... 

Yang masih jelas nampak :

   Blusuk Mingguan Bersama Komunitas Dewa Siwa : 

Save This Not Only a Stone!!!!
Mari Kunjungi.... Lestarikan dan Selamatkan


Salam Pecinta Situs dan Watu Candi

Petirtaan Kuno di Cangkiran Mijen Semarang

Petirtaan Kuno di Cangkiran Mijen Semarang
Minggu, 24 April 2016

     Akhirnya terlaksana juga, Blusukan bareng Dewa Siwa area Mijen (plus sekitarnya) ini. Sebenarnya Lek Trist, Lek Suryo dan Mas Imam sudah sedari pagi muter-muter di Gonoharjo area (Kebetulan saya sudah pula menelusuri : Candi Gonoharjo, 4 Kemuncak Gonoharjo).
gang menuju petirtaan cangkiran
     Saya tunggu mereka di terminal cangkiran, sambil menunggu rekan lain : Mbah Eka yang merapat pula. Setelah barang sebatang rokok habis kami lanjut menuju info lama dari Kang Mas roso tentang Petirtaan Kuno di Cangkiran ini. (Lek Trist yang kebetulan sudah pernah berkunjung menjadi guide. 
    Dari terminal, kami ambil arah BSB.. melewati Gang (sebelah kanan menuju Yoni Mbah Badur), 50m kemudian di sebelah kiri masuk Gang. Tak Sampai 100m sampailah di rimbunan pohon bambu. Sampailah :
Petirtaan Kuno di Cangkiran Mijen Semarang
    Informasi yang kami dapat, dari kang Mas Roso tersebut sebenarnya sudah sejak lama kami dapat, yang fenomenal adanya relief buto yang nampaknya sebagai pancuran air, karena berlubang tembus belakang di mulut buto itu.
sumber foto : Kang mas roso

     Tahun ---- saat Kang mas Roso ke lokasi ini, beliau memberikan gambar yang sangat menarik hati kami..
model juga lek trist
Petirtaan Cangkiran : kondisi November 2015
    Namun saat Lek Trist 'sang pendahulu" ke sini sudah raib, Sekitar bulan november 2015 Lek tris ke lokasi ini, namun.
   Sayang sekali kami tak kebagian melihat secara langsung. Semoga bukan hilang, namun diamankan oleh warga....
mata air petirtaan cangkiran
    Di gambar lek Trist, petirtaan Cangkiran rungkut alias banyak ditutupi rumput liar, air juga belum mengalir dari pipa besi. 
    Saat kami datang ke pertitaan ini, air segar dan dingin mengalir dengan jernihnya. dari mata air yang muncul dari lubang di lereng jalan kampung.
     Saking jernihnya, gambar aliran air dari mata air itu tak nampak... amazing!!. Semoga tetap lestari dan selalu memberikan manfaat bagi makhluk hidup. Rahayu..
     Yang masih tersisa dan membuktikan bahwa sendang ini dulunya Petirtaan kuno, keberadaan watu candi kotak berukuran besar, beberapa mempunyai pola tertentu.
    Selain ada yang di jadikan betengan, ada pula yang dijadikan alas untuk mandi/ cuci pakaian warga. (minimal masih punya manfaat).
      Ada pula batu yang berelief dan ada hiasan di ujungnya, nampak seperti hiasan di ujung bangunan petirtaan

     Video Amatir, property ne lek suryo :  


Blusuk Bersama :
Mbah Eka, Lek Trist(duduk), Saya @ssdrmk, Lek Suryo dan Mas Imam


Save This, Not Only a Stone

Mari Kunjungi dan Lestarikan
Petirtaan Kuno Cangkiran : ssddrmk was here


Salam Pecinta SItus dan Watu Candi

---Perjalanan penelusuran berlanjut.....

Kamis, 21 April 2016

Jejak Peradaban Hindu Di Dusun Nglarangan Desa Candi Bandungan

Situs Nglarangan Desa Candi Bandungan
     Kamis, 21 April 2016, tradisi Blusukan "Kemisan" berlanjut. Kali ini saya menjadi penumpang yang benar-benar diantar ke lokasi: Trims to Lek Suryo Idein. Awalnya hasil blusukan beliau beberapa saat yang lalu bersama rekan DEWA SIWA yang lain : Lek Wahid. Saat hasil penelusuran di posting di grup... membuat saya ingin segera nyusul alias njaluk diterke. 
Gambar 1 : Menuju Candi Gedong songo (google street)
      Singkat cerita, jadilah saya menuju Dusun Larangan Desa Candi, Tak Jauh dari Kompleks Candi Gedongsongo.
    Start dari Perpustakaan Ambarawa jam 3 sore kami melaju melewati Bandungan, jalanan relatif tak ramai, mungkin efek cuaca agak mendung. 
Gambar 2
     Setelah sampai di SPBU, Bandungan, belok kanan mengikuti arah menuju  Candi Gedongsongo (gambar 1). 
     Kira-kira 500 meter kemudian, di sebelah kiri ada Gapura dan papan arah menuju Dusun Larangan, ikuti petunjuk tersebut. (Gambar 2). Masuk ke perkampungan di dusun Nglarangan, kira-kira 500m ketemu dengan pertigaan. Tepat di pertigaan ada Poskamling. 
Watu candi di Poskamling Dsn Nglarangan Desa Candi bandungan
     Watu purbakala yang saya ingin telusuri tepat berada di Poskamling ini. Info keberadaan watu purbakala di lokasi ini tak jelas kami dapatkan. "Ya watu itu dah ada sejak nenek moyang" jelas pencari rumput yang kebetulan berada dekat dengan kami. Sebenarnya ada beberapa ibu-ibu yang awalnya penasaran dengan aktifitas kami mendokumentasikan watu purbakala ini. Namun sayangnya dengan wajah yang sama sekali tak welcome. "Ndherek mirsani watu niki bu",... kami mencoba beramah-tamah... namun yang kami dapat hanya lirikan saja. Kejadian ini kami kami alami 3 kali dengan ibu yang berbeda (tentunya dengan beragam respon, bahkan  ada yang hanya melihat saja= cuek.
   Padahal kami berharap ditanya, kemudian akan kami tanya balik... hehehehe--- 
   Entah apa yang terjadi, namun kami positif saja, yang penting niat kami baik. Dalam hati saya, sangat ingin tahu ihwal sejarah dusun yang diberi nama Nglarangan ini... sangat penasaran namun penasaran itu tak terjawab. (Adakah yang bisa bercerita?)

   Watu purbakala, yang masih terlihat dengan baik ada 2 Yoni, Umpak, Lapik arca.
Yoni, 
    Ada 2 Yoni yang berbeda bentuk dan ukuran di Dusun Nglarangan ini, Sebelumnya saya akan selipkan ulasan mengenai Yoni :
    Yoni adalah landasan lingga yang melambangkan kelamin wanita. Pada permukaan yoni terdapat sebuah lubang berbentuk segi empat di bagian tengah – untuk meletakkan lingga.
   Yoni merupakan bagian dari bangunan suci. Bentuk Yoni berdenah bujur sangkar, sekeliling badan Yoni terdapat pelipit-pelipit, seringkali di bagian tengah badan Yoni terdapat bidang panil. 

: yoni nglarangan : Berdenah kotak bujur sangkar
     Pada salah satu sisi yoni terdapat tonjolan dan laubang yang membentuk cerat. Pada penampang atas Yoni terdapat lubang berbentuk bujur sangkar yang berfungsi untuk meletakkan lingga. Pada sekeliling bagian atas yoni terdapat lekukan yang berfungsi untuk menghalangi air agar tidak tumpah pada waktu dialirkan dari puncak lingga. Dengan demikian air hanya mengalir keluar melalui cerat.
cerat yoni nglarangan
     Bagian yoni secara lengkap adalah nala (cerat), Jagati, Padma, Kanthi, dan lubang untuk berdirinya lingga atau arca. Lingga dan Yoni mempunyai suatu arti dalam agama setelah melalui suatu upacara tertentu. Sistem ritus dan upacara dalam suatu religi berwujud aktivitas dan tindakan manusia dalam melaksanakan kebaktiannya terhadap Tuhan, dewa-dewa, roh nenek moyang dalam usahanya untuk berkomunikasi dengan mereka. 
Yoni sederhana : Nglarangan Candi Kec. bandungan
     Dalam ritus dan upacara religi biasanya dipergunakan bermacam-macam sarana dan peralatan, salah satu di antaranya adalah arca.
   Yoni sederhana (yang nampaknya berusia lebih tua dari Yoni yang penuh ukiran disebelahnya)... ---kesimpulan saya pribadi---. (kami belum dafat info lebih lanjut, ini yoni atau lapik arca). 
     Namun saya memberanikan diri menyimpulkan ini Yoni dari keberadaan Cerat dan lubang dimana lingga berada.--bila nanti ada sejarahwan/ arkeolog , dengan senang hati bila tulisan saya ini dikoreksi----
Lapik Arca, 
Lapik Arca Dsn. Nglarangan Desa Candi Kec. Bandungan
    Di sebelah depan PosKamling, di semen lapik arca. Dari Bapak Pencari rumput dulunya ada arca diatas lapik ini. "Sekitar 10 tahun yang lalu masih ada. bentuknya seperti patung. Makanya sekarang bawahnya di semen seperti itu biar tak hilang", jelas beliau.
   Saya tak mengambil secara detail lapik arca ini, karena saat ambil gambar (hanya 2 kali jepretan)... ada pandangan tak bersahabat dari seorang ibu pemilik warung sebelah poskamling. Itu juga yang membuat saya urung beli air minum di warung beliau...padahal dahaga sudah menyiksa. --lebay tapi tenan---
Umpak
    Sementara itu ada 2 watu purbakala, saya duga termasuk dari struktur bangunan suci yang erat pula kaitan dengan kedua Yoni dan lapik arca ini : bisa umpak, bisa pula kiasan pada atab bangunan suci atau pagar kompleks peribadatan.
    Sementara watu purbakala yang satu sangat abstrak bagi saya untuk mengetahui bagaimana bentuknya, karena nampak sudah terbelah alias pecah







    Video Amatir Blusukan di Dusun Nglarangan Desa Candi bandungan (Property pinjam Lek Suryo) : (Proses uplod You tube)

    Blusuk di temani guide :
Suryo idein : sang pengantar di Situs Nglarangan Candi Kec. Bandungan

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi...
@ssdrmkdi Nglarangan Desa Candi Bandungan
Mari Kunjungi dan Lestarikan

--Perjalanan lanjut..... Ke Candi Garon Sumowono, melewati Candi Asu Bandungan.