Rabu, 17 September 2014

Situs Dusun Lembu Desa Ngrapah Banyubiru

Situs Ngrapah Banyubiru
            Blusukan kali ini, benar-benar tanpa rencana sama sekali. Ketika hampir pulang kerja... tiba-tiba Mr.Pman datang... "Dah lama ga pinjam buku", katanya.... ku langsung bilang, "Blusukan ae yooh mas, Ngrapah kan cedak omahmu....."..  
       Akhirnya..... Jumat tanggal 12 September 2014.... berangkat dari kantor (Perpust Ambarawa) jam 15.00 menujulah ke Desa Ngrapah Banyubiru.
          Menuju Situs ini.... saya tempuh melalui Jalan Ambarawa - Banyubiru-Salatiga, Setelah sampai di Jalan sekitar kantor Kecamatan Banyubiru, pelan-pelan saja.. melewati komplek TNI... Tengok Ke kanan ada jalan tembus ke arah Jambu/Magelang/jogja... ikuti Jalan itu...
 Kira kira 1km dari jalan masuk itu....cari Dusun LembuDesa Ngrapah,  Ada Gang masuk, sebelah kiri, ... 
      Kemudian Cari Mushola Al Iman... Situs tepat di dekat tempat wudhu....
       Situs ini tepatnya berada di Dusun Lembu Desa Ngrapah Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang.
      Arca Nandi yang Numpang tepat diatas Yoni akan kita lihat di situs ini. Menurut beberapa warga yang pada saat itu kutemui.... Yoni dan Arca Nandi ini dulu adalah pindahan dari sawah warga yang berada di pinggir sungai sebelah dusun Lembu ini. Kepala Arca Nandi ini di curi oleh 'Kompeni".... Karena menurut cerita turun temurun ... sebelum kompeni datang kepala Nandi masih ada.....
Arca nandi Situs Lembu Desa Ngrapah Banyubiru
        Yang baru saya tahu: "Nandi ini jantan lho... " kata Mr. Pman "Itu lho Buktinya di bagian pantat nya".... ku perhatikan dengan seksama... memang benar juga..... Harus lebih teliti memang.... dan ada manfaatnya blusukan bersama sesama penyuka situs... : 
Arca Nandi : bukti ini jantan
       "Proses pemindahan arca ini sudah lama sekali mas.... saat warga masih suka laku prihatin, beda dengan sekarang".. Kata warga itu lagi, aku hanya manthuk2... membenarkan. Memang dulu... duluuuu sekali.... Arca ini sebagai media ibadah... sangat dihormati, Dulu itu.... arca ini sangat disakralkan. Karena Nandi merupakan kendaraan dewa Siwa. Dan Yoni yang berada dibawahnya itu adalah perwujudan penyembahan terhadap dewa siwa.. 
       Yoni itu sendiri merupakan perlambang kesuburan.... biasanya ada pasangannya... : Lingga. Oleh warga, Yoni ini dikenal dengan sebutan Watu Lumpang, Sedang lingga nya disebut alu... untuk Alu pasangan dari yoni ini sudah hilang sejak zaman diketemukan dulu. (Sumber dari obrolan dengan warga)
Yoni Situs Lembu Ngrapah Banyubiru

    Yoni Di Situs Dusun Lembu Desa Ngrapah ini berukuran sedang... bergaris tengah 58 cm yoni ini tanpa ada ukiran/relief. hanya berbentuk sederhana. penampakan atas tertutup oleh Arca Nandi yang nampaknya sengaja ditempatkan di atas Yoni, namun tujuannya apa belum tahu... (Mbah Jono..narasumber rekomendasi warga untuk ditanya lebih jelas tentang situs ini sedang tidak berada dirumah, Kata warga mbah Jono mempunyai kemampuan lebih... dan tahu akan hal-hal seperti ini : rumahnya tepat berada di depan mushola)
      Yoni Situs Dusun Lembu Ngrapah dari berbagai sudut :




         Saat saya datang, Arca Nandi digunakan untuk jemur keset!!!!! , apa ga tahu ya bagaimana beratnya, sulitnya untuk membuat arca ini..... merenungsendiri.....


      Gambar ini menunjukkan 'respect or nothing'... : 
di Situs Ngrapah

 Save This...

Not Only a Stone!!!!!!

Situs Ngrapah Banyubiru

Salam Pencinta Situs.....

Rabu, 10 September 2014

Situs Payungan Kaliwungu Kabupaten Semarang

Situs Payungan Kaliwungu
Selasa, 9 September 2014 
      Tanpa rencana blusukan kali ini, Saat mampir ke kantor pusat di Ungaran, aku dapat tawaran untuk ikut layanan perpustakaan keliling ke daerah Kaliwungu (setelah pasar Ampel Boyolali arah kiri). Spontan ku bilang... "Lha neg mampir situs piye?... Drivernya bilang oke - oke saja...Tanpa pikir panjang, ku bilang iya!
    Berbekal info dari web site dinas pariwisata, mantablah.... namun 'tanpa mengurangi rasa hormat'... ada kesalahan informasi mengenai lokasi. Info berada di Dusun Prampogan, namun ternyata berada di dusun Payungan. Tapi dengan kesalahan itupun pencarian saya malah lebih mudah.... 
Ceritanya begini: 
      Memang terasa lebih ringan, blusukan bersama mobil perpustakaan keliling.... Ketika mencari Dusun Prampogan, bertanya kepada penduduk lebih mudah dan tak ada sorot mata curiga, berbeda ketika blusukan memakai motor.
      Saat di prampogan, 3 warga penduduk yang kutanya tak ada yang tahu keberadaan situs ini, kemudian nekat saja cari pak kadus Prampogan (saya pede ketika blusukan kali ini... hehehe , berkat mobil  keliling.....), Benar juga. jawaban dari Pak Kadus Prampogan... Bahwa situs ini yang benar berada di Dusun Payungan, 1,5km dari dusun Prampogan. 
       Dari Prampogan, kemudian saya kembali menelusuri gang, (untuk lebih mudah nanti akan saya beritahu arah ke lokasi).... 
      Kira kira  jarak sudah seperti yang di arahkan pak Kadus Prampogan, saya 'clingak-clinguk' cari warga yang bisa saya tanya informasi keberadaan situs Payungan.Ternyata...... ketika berhenti dirumah penduduk itu, saya tepat berada di gang masuk arah situs... 
legaaa rasanya....
      -----
     Arah menuju Situs Payungan Kaliwungu Kabupaten Semarang : 
Gapura Payungan
      Dari jalan Solo Semarang, Bila dari Semarang setelah pasar Ampel Ampel, cari gang sebelah kiri (ada petunjuk arah ke SMK Kaliwungu. Ikuti Jalan itu. Kira2 5 km disekitar Desa jetis ada Gapura masuk (sebelah kanan) bertuliskan Desa Payungan. Masuk saja ke gang di gapura itu, cari saja petunjuk bertuliskan dusun payungan (saat saya kesana petunjuk menuju menuju semua dusun lumayan lengkap). Selain Petunjuk arah nama dusun ada pula beberapa tugu yang menjadi khas desa Payungan ini.


     Setelah sampai di Dusun Payungan, tanya saja gang menuju areal pemakaman umum warga. Situs ini melewatinya. Situs Payungan Berada di Dusun Payungan Desa Payungan Kecamatan kaliwungu Kabupaten Semarang. 
     Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, ketika terakhir saya bertanya, ternyata saya tepat berhenti di gang masuk ke situs tersebut. Adalah bapak Nur Said yang kebetulan saya tanya, rumah beliau tepat berada di seberang jalan tempat kami kami parkir.
     Setelah saya jelaskan dan sedikit berbasa-basi, dia menceritakan bahwa batuan candi itu sekarang sudah banyak yang dicuri dan tercecer dibeberapa tempat khususnya di masjid Al Falah (dulu sempat dijadikan pondasi, namun sudah dibongkar dan disusun di halaman: tapi saya belum sempat kesana), serta talud di sekitar jalan masuk.
     Gang masuk ke situs, selain melewati makam juga melewati sebuah sungai, yang biasanya airnya lumayan banyak. Tapi karena musim kemarau jadi mudah untuk melewatinya 
     Foto beberapa ceceran batuan candi yang (dipaksa) lepas : 

 Batu candi yang tercecer ini, ada yang dibuat talud, ada yang ingin dibawa oleh penduduk dijadikan umpak tiang rumah, pondasi dll.




    "Dulu sempat ada warga yang ingin membawa batuan candi berbentuk kursi..... saat membawa batu itu belum sampai rumah, sudah tidak kuat... kemudian sakit, hilang ingatan saat batu itu dikembalikan orang itu sembuh", cerita dari pak Nur Said (warga dsn. Payungan).
Situs payungan
      Yang masih tersisa di Situs ini antara lain : batuan Candi berbentuk gagang keris (yang berbentuk keris sudah dicuri orang, hilang bersamaan dengan arca dewa, pak Nur Said tak tahu dewa apa itu), Lingga yang sudah rusak, dan Yoni, selain tentunya batuan candi berserakan disekitar situs ini yang sudah tertutup rimbunan rumput gajah.
Situs Payungan : Batu Berbentuk gagang Keris

Tangga di Ratu Boko
       





      Batu berbentuk seperti gagang keris itu (menurut Pak Nur Said) kurang lebih setahun ini ada batu yang berbentuk keris hilang. Tapi coba bandingkan Tangga candi Ratu Boko, bila diilustrasikan batu itu berdiri mestinya mirip dengan hiasan Tangga di Candi ratu Boko.        Jadi ketika batuan candi yang tersisa ini ada yang nampaknya berwujud hiasan tangga... tentunya dapat disimpulkan.... dulunya situs ini adalah sebuah candi yang ukurannya tentu lumayan. namun karena banyak yang tercecer dan lebih banyak lagi yang dicuri (terutama yang berbentuk arca/ada reliefnya)... sehingga untuk rekontruksi/ekskavasi akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Sungguh sebuah penyesalan!
----
Yoni Situs Payungan
     Yoni yang Lapuk, Yoni Situs Payungan ini sudah lapuk di berbagai sudut, hanya tinggal dasarnya saja, dan sedikit nampak mulut yoni itu. Yoni sendiri adalah perwujudan dewa siwa, sebagai perlambang kesuburan. Yoni merupakan pasangan dari lingga.
    Kemuncak candi kah ini? atau umpak? ah aku bingung namun ku coba mmaparkan gambar dari berbagai sudut :
 


      Batuan candi Lepas: 


Situs ini masih sering digunakan oleh orang untuk beribadah : semedi dan sejenisnya. Pak Nur Said pun cerita... dulu banyak ditemukan koin emas disini...... w.o.w....  namun karena angkernya tempat ini, sekarang tidak ada yang coba-coba mengganggu. 
       Saya pun setuju tempat ini memang angker.... biar aman... tak lagi dicuri batu-batu candi berharga ini. Semoga kena kutuk siapapun pencuri batu candi itu!!!!
Save This... Not Only A STONE!
Bersama bapak nur Said di Situs Payungan

Salam Pecinta Candi

Senin, 25 Agustus 2014

Situs Stupa Tawang


Stupa Situs Tawang Susukan

     Tujuan terakhir dari Blusukan tanggal 15 Agustus 2014, di Situs Stupa Dsn. Tawang Desa Tawang Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Setelah 3 Situs Yoni di Suruh : kauman, Karang Asem, dan Mplantungan.           Perjalanan kami lanjutkan ke Susukan, Sebenarnya antara susukan dan suruh adalah kecamatan yang bersebelahan, namun untuk menuju tujuan ku kali ini cukup lumayan jauh. 
    Total, 7 kali saya dan Mr. Pman bertanya kepada orang di pingggir jalan. Keluar dari suruh, Pasar suruh ambil kanan, ikuti jalan itu sampai ketemu petunjuk/ arah ke susukan. Lewati Kantor Kecamatan sampai dengan perumahan yang terbengkalai (dekat dengan hutan Jati, dengan jalan yang sudah di beton. Ambil kiri di jalan yang ada pos ojeknya. Ikuti jalan itu... Akan ada petunjuk arah menuju Desa Tawang.
Stupa Situs tawang : Pak.... "lupa namanya."
     Situs stupa Desa Tawang Susukan ini berada di lahan tegalan milik warga desa (kalo tidak salah manten lurah). Ada kejadian sangat menarik, tak ketemu nalar dan logika. Saat saya bertanya untuk yang ketujuh kalinya di dekat sebuah masjid, dan ternyata sudah dekat dengan tujuan saya. Ada seorang Bapak-Bapak yang tertarik/ penasaran dengan blusukan kami. Awalnya kami sempat berpikiran yang tidak-tidak, namun kemudian saya coba menjelaskan apa maksud Blusukan saya. 
(Setelah saya dapat data/ nama segera saya update)
      Diluar dugaan Bapak-bapak itu menemani bahkan menjelaskan dari A-Z keberadaan serta berbagai hal mengenai Stupa situs Tawang ini.
      Stupa merupakan lambang agama budha, bisanya merupakan bagian dari sebuah candi. Namun di Situs tawang ini tinggal stupanya saja. 
     Kondisi stupa lapuk di bagian puncak stupa,  berukuran tinggi 106 cm, dan berdiameter 106,87cm. Relief bunga teratai masih terlihat jelas. 
      "Saat ditemukan, hanya terlihat bagian atas candi ini. Masyarakat tidak menyangka seonggok batu itu ternyata adalah stupa. Ketika pemilik tanah ingin membuat pondasi, barulah batuan itu ternyata Stupa," jelas bapak (yang lupa nama karena catatan hilang) .... Bila melihat keberadaan stupa ini, tentunya besar kemungkinan ada bangunan lain. Yang struktur batunya bisa hilang atau bisa pula masih terpendam di dalam tanah. 
diskusi Stupa Tawang bersama Bapak 'noname'
     Saat ku tanya profesi bapak itu ngaku nya petani... tapi yang bikin heran alias curiga, petani kok usul penyinaran pake gelombang pencari batu layaknya kapal menghitung kedalaman/ meneliti ada tidak bahan tambang. Trus  aktif di google+, facebook.... (namun sayang nama & alamatnya hilang)
       "Bahkan belum lama ini, ditemukan pula banyak koin emas oleh pemilik tanah, namun entah sekarang ada dimana.", tambah bapak itu.
       Stupa pada dasarnya terdiri dari 3 bagian : andah, yanthra, dan cakra.
     Stupa Situs Tawang Susukan kabupaten Semarang dari dekat : 
Stupa Tawang dari dekat
tubuh stupa
Relief Teratai di Stupa Tawang
Stupa Tawang : Cakra/ Payung Stupa yang lapuk
Teratai di Stupa Tawang

      Hari mulai gelap, saatnya beranjak pulang.... Terbayang sebuah hasil perjalanan yang menyenangkan walau banyak ironi. Sampai ketemu lagi di banyak situs Kabupaten Semarang. 

Save this....
Not only a stone!!!


di Stupa Situs Tawang Susukan Kab. Semarang

salam penyuka situs....

Rabu, 20 Agustus 2014

Situs Yoni Karang Asem Suruh

Yoni Situs Karang Asem Suruh
    Jumat, 15 Agustus
       Masih Bersama Mr. Pman. Blusukan ke Situs Yoni Karang Asem Suruh kabupaten Semarang ini adalah perjalanan Lanjutan dari Situs kauman dan Situs Mplantungan.
     Berbekal data dari web Dinas pariwisata Kabupaten Semarang, Meluncurlah mencari masjid Baiturrahim..(sesuai data) Yoni berada di Masjid Baiturrahim, dusun Kemiri, Suruh kabupaten Semarang. 
        Ternyata, ada kekeliruan data tersebut.. sempat lama ku muter2 dan 3 kali bertanya. Tak ada yang tahu keberadaan yoni itu, untung saja... pada saat kubertanya di sebuah mushola di dusun Kemiri itu... ada 3 orang remaja dan salah satunya dia ingat ketika shalat di Masjid Baiturrahim Karang Asem pernah melihat yoni itu.
Akhirnya putar balik..
      Dari dusun Kemiri, Putar balik lagi menuju Pasar suruh, Kemudian ambil arah ke kiri, yaitu arah keluar ke tingkir lagi. Tak Jauh. Sebelah kiri ada gang sebelum jembatan. Posisi jembatan sebelum pom Bensin dan minimarket. Jika dari Tingkir, situs ini berada di kanan, dan tak jauh dari situs kauman. Tepatnya di Dusun Karang Asem, tepatnya di depan Masjid Baiturrahim yoni ini berada.
     Dari gang tersebut, masuk kira-kira 100m. kemudian ketemu dengan masjid Baiturrahim :
     Yoni ke empat, yang kutemui dan berada di lingkungan masjid/mushola...., Yoni ke tiga yang diatas nya ditutup, serta yoni ke dua yang berubah fungsi menjadi tempat untuk menunjukkan waktu shalat dengan penanda dari Matahari.

Yoni Karang Asem Suruh
    Yoni dengan kondisi sudah di cat hitam dan diatas yoni disemen dan serta  diubah fungsinya dengan ditambahi keramik berpenanda waktu shalat. 
     Seandainya pembauran, kenapa tidak membuat sendiri disebelah? jika ditutup, Yoni berubah bukan yoni lagi karena lingga entah berada dimana, bukan diposisi atas yoni, tepat di tengah. Biasanya yoni ada lubang untuk lingga

Yoni : Diubah fungsi

Yoni Karang Asem Suruh
      Yoni Karang Asem Suruh berukuran : Panjang :36 cm, Lebar :36 cm, Tinggi :43 cm. Yoni adalah peninggalan periodisasi Hindu (Pemujaan dewa Siwa....) simbol kesuburan. Yoni Karang Asem Suruh berbentuk Sederhana tanpa adanya Relief.
     Situs ini berada di dekat sekolah : Madrasah Islamiyah "Nurul huda", tempat pendidikan anak, namun ku sangsi.... apa anak-anak itu tahu apa sesungguhnya batu ini? mungkin mereka bilang ooo batu penanda shalat jaman dulu, itu peninggalan walisongo lagi.... seperti kejadian saat saya bertanya di situs Mplantungan.... miris....


Save This
not Only a stone!!!

Di Situs Karang Asem Suruh

Salam Pecinta Situs