Minggu, 10 Oktober 2021

Arca Keramat tinggalan Masa Hindu Klasik di Bogoreco,Kec. Guntur Demak

Arca di Situs Bogoreco, Guntur-Demak
     Minggu 10 Oktober 2021. Pandemi membuat segalanya menjadi berat, mulai dari pembatasan mobilitas sampai yang terberat kehilangan rekan blusukan, menjadikan semangat ngedrop pula. Berimbas dengan hasil blusukan yang tertunda bahkan hampir hilang.
     Butuh usaha keras mengingat kembali cerita blusukan yang sudah dilakoni, bagaimana tidak? sudah hampir setahun, naskah tak saya tulis. Saya mulai coba menggali informasi tentang blusukan terakhir yang belum tertulis, sampai memeriksa satu-persatu folder di komputer, laptop dan google drive. Setelah perjuangan, akhirnya ketemu satu lokasi .... dokumen Situs Bogoreco, Kecamatan Guntur kabupaten Demak. Juga menghubungi kembali mas Romi (guide blusukan saat itu) untuk mendapatkan informasi penting yang barangkali terlewat.
Diskusi setelah resik resik situs Tugu, Semarang : Saya, ssdrmk kaos Hitam, Mbak erni Mas Luthfan dan Mas Romi (yang berselfie)
     Kisah dimulai ketika, obrolan saat ketemu di resik-resik situs Watu Tugu, Jrakah Semarang. Saat itu disela-sela ngobrol, kami mendiskusikan ada sebuah informasi dari Mas Romi tentang hasil penelusurannya di dekat kampung halamannya (=dekat mranggen). 
    Saat itu, ditengah mepetnya waktu ketika ada keperluan mendesak di area Pucanggading. Saya melihat celah kesempatan waktu, hit n run .... saya janjian jam 4 dan rencana saya langsung meluncur, dan mas Romi kok kebetulan berkenan....
     Singkat cerita, jam 4 sudah berada di titik awal petunjuk menuju rumah Mas Romi, yang entah mengapa setiap ke rumah mas Romi saya selalu kesasar... aneh. Dari Mranggen, kami kemudian meluncur menuju kecamatan Guntur, motor sata bawa agak laju karena pertimbangan hari mendekati petang. 
   Arah maupun petunjuk benar- benar terlupa, pingin minta tolong mas Romi untuk mencari titik di google map satelite sangat rikuh... heheheh. jadi saya lompati saja ya.... (tapi entah nanti barangkali beliau berkenan memberikan titik di google map... nanti saya update).
     Yang saya ingat, kami masuk di jalan menuju persawahan, saat itu banyak tatapan tanda tanya dari warga. Kemudian kami parkir di sela-sela rimbunan Bambu, tepat dimana tujuan kami sudah ada di depan mata. 
Demak
Situs Bogoreco, Bogosari guntur Demak
    Berada di Dusun Bogoreco Desa Bogosari, dimana kemungkinan asal nama dusun ini karena keberadaan arca ini ( jawa = reco). Sementara di google baik kamus sansekerta maupun kawi tak ada arti untuk kata bogo.  Semoga sahabat ada yang berkenan memberikan pencerahan. 
     Walaupun di vlog nanti kami lebih mengarah arca ini Dewi Durga, namun kami tak juga menutup kemungkinan arca ini Rsi Agastya.  Ciri khas durga menginjak Kerbau (setelah lebih seksama tak nampak) tak ada. namun sekali lagi saya menerima pencerahan, bukan apa-apa... minim dokumentasi dan detail gambar menjadikan tulisan ini jauh dari kata layak.  Jadi semoga banyak lagi blusuker yang mengupas arca ini agar warga masyarakat menjadi tahu.
     "Lupa juga", kata Mas Romi saat saya tanya posisi Arca ini saat ini dimata warga ; bagaimana, legenda/ sejarah yang berkembang .. mungkin saya harus kembali lagi kapan-kapan untuk melengkapi lagi cerita saya ini. Selain banyak yang terlewat, HP saya juga mati, alhasil 90% dokumentasi di Bogoreco saya meminjam HP mas Romi.
     Versi Video vlog amatir di : https://youtu.be/qBx6j_Ezq_s


Maturnuwun mas Romi
Mas Romi, Mranggen
     Salah satu partner andalan, yang sering menuruti permintaan saya.. hehee... kapan-kapan njenengan ku antar kemana mas? heheheh ..
     Salam pecinta Situs dan watu Candi!
Spiritmu tetap kubawa kawan #lektrist
#hobikublusukan

Kamis, 23 September 2021

W.OW. Ada Kemuncak Candi di belakang Hotel Wahid Salatiga


Kemuncak Pungkursari Salatiga

   Kamis, 12 Agustus 2021. Disela-sela WFO, ada durian runtuh… bagaimana tidak, seseorang dengan jarak yang cukup jauh menawari untuk jemput. Dari Bawen ke Ungaran, dibonceng diajak blusukan kemisan ke area Salatiga. Mas Seno, Maturnuwun. Walaupun tak melupakan jasa Mas Eka Budi yang turut berjasa pula membawakan Jaket, helm, juga tambahan peran yang absurd… wkwkwk. Singkat cerita beberapa destinasi area Salatiga saya amini. –diakhir blusukan ternyata saya baru nyadar, mereka berdua sudah pernah penelusuran---

     Biar gak ganjil, kami menyambangi dulu rekan Salatiga yang juga dedengkot blusukan Dewa Siwa, Mas Yohanes. Silaturahmi Kopi sambil cerita ngalor ngidul, lama gak bersua. Terakhir blusukan bareng bersama mas Yohanes sekitar tahun 2018 di Yoni Situs Yoni Ampel Boyolali.
     Ngopi dulu,
     Oia  sebelum blusukan, Mas Seno sedekah mie ayam, menghidupkan kembali roh kemisan ... Cukup mie ayam sudah tegar blusak sana blusuk sini .... Lupa nama warung mie ayamnya.... Yang pasti dekat rumahnya mas Yohanes
  Berempat kemudian kami menuju destinasi pertama, berada ditengah kota, dekat (belakang) hotel Wahid.     Dari cerita yang saya dapat di sekitarnya banyak tinggalan yang tersebar berada di beberapa gedung Pemerintahan maupun milik swasta, tentu akses tidak mudah untuk sekedar mengunjunginya.         Berada di dalam gang perkotaan, tepatnya di Pungkursari RT 01 RW 03.
     Situs Kemuncak Pungkursari Salatiga,
     Warga nampaknya sudah mengetahui peninggalan kuno ini, dengan dibuatkan taman dan kolam yang Nampak asri. Melegakan, bila melihat beberapa perlakuan situs yang lain…. Salut untuk warga.
   Konon dulu saat ditemukan saat seorang warga membuat sumur, selain Kemuncak ini juga ada beberapa batu yang identik dengan struktur candi. “Posisi sebelumnya dipinggir jalan tak jauh dari lokasi yang sekarang, namun karena agak menghalangi jalan dan agar didapat estetika serta pelestarian warga sepakat ketika mebuat taman, kemuncak ini di tempatkan disini”, jelas salah seorang warga. Yang kemudian malah menjadi titik fokus orang yang berkunjung / lewat.
      Dugaan yang lain, bahwa kemuncak ini dulu pindahan dari situs Petirtaan Kalitaman, (ada salah satu jejak yang sempat saya temui—walau update terakhir sudah tak ada) yang mendasari dugaan itu adalah jarak yang dekat, kemudian ciri identik dengan kemuncak/ bagian atas bangunan pembatas petirtaan. 
   Info samar lain keberadaan beberapa arca di sekitar area ini. (Karena masih samar saya tak berani mengungkapkan-salah satunya ada di komplek perkantoran pemerintahan)
   Taman Kemuncak Pungkursari,
Kemuncak Pungkursari
    Umpak, diduga masih terkait Kemuncak…
    Adapula Batu yang cukup besar yang menarik hati kami karena berbeda bentuknya. Namun karena baterai HP saya mepet, saya meminta tolong Mas Seno… Eh, belum sempet copy, foto2 di hape hilang…. Apes…. (karena semua dokumentasi blusukan di area selanjutnya di hape Mas Seno semua)
     Video mini reportase saat di Situs Pungkursari Salatiga (prodes edit)
     Maturnuwun Mas Seno, Mas Eka Budi dan Mas Yohanes….,  
Mas Seno, Mas Eka Budi, Mas Yohanes dan warga Pungkursari
    Berlanjut ke Yoni Di Mapolres Salatiga.
    Salam Pecinta Situs dan Watu Candi.

#hobikublusukan

Selasa, 21 September 2021

Yoni di Mapolres Salatiga

    
 Kamis, 12 Agustus 2021. Dari Situs Kemuncak Pungkursari Salatiga, kami berlanjut ke Yoni yang pernah viral. Bukan karena dirusak atau hilang, namun di’selamatkan’, dan dilestarikan oleh Polisi. Ya Kesatuan di Mapolres Salatiga. Beberapakali saya melihat liputan di media massa baik online maupun cetak, saat itu walaupun hanya bisa menyimak namun ikut bangga. Maturnuwun pak Polisi. salah satu berita yang terdokumentasi : Link berita : 
     Sampai di lokasi, sebenarnya sudah pesimis karena dihalaman Mapolres banyak pejabat Polisi yang sedang bersiap apel. Mungkin ada sebuah acara (nampaknya sertijab) namun kepalang tanggung kata mas Eka Budi dan Mas Yohanes, Kami kemudian mencoba ijin ke Pak Polisi yang sedang bertugas di Pos Penjagaan. Tapa saya duga samasekali, ternyata boleh dan jawabannya sangat ramah… ---(entah kenapa setiap masuk saya takut..heheheh, tapi sedikit terbuyarkan dengan keramahan bapak Polisi tadi). Hanya berkata, “Tidak lama kan? Cuma foto sebentar tidak apa-apa, itu belum mulai kok”… Seribu terimakasi plus senyum lebar langsung secepatnya kami ke lokasi.
     Sayang sekali Baterai HP mepet, jadi tak puas mendokumentasikan. Mas Seno Menawari memakai HP beliau… namun ternyata …. HPnya kena musibah, sebelum saya sempat copy…..
     Alhasil, dokumentasi seadanya.
     Namun apa yang saya temui ini sangat super tidak hanya seadanya. Bisa menjadi inspirasi instutisi yang lain….. Sekali lagi maturnuwun Buat Mapolres Salatiga
     Maturnuwun Mas Seno, Mas Eka Budi dan Mas Yohanes…., Blusukan Berlanjut 
     Salam Pecinta Situs dan Watu Candi.

Rabu, 16 Juni 2021

Arca Ngampin Ambarawa, Masih Terjaga dengan Baik.


Arca Ngampin Ambarawa
      Rabu 16 Juni 2021. Disela PPKM darurat, saat WFO 50% tiba tiba teringat pengalaman blusukan penelusuran situs beberapa tahun silam. Dimana hasil blusukan ada yang melarang untuk mem-publish, bahkan dengan ancaman... padahal saya belum melakukan apa apa di medsos baik IG, FB maupun twitter, naskah di blog juga belum kepikir. Waktu itu blusukan di area Ngampin Ambarawa, dua destinasi. Pertama di salah satu penginapan dan yang kedua dikebun warga. Oknum tersebut katanya juga memiliki penginapan tersebut (penginapan keluarga---).
     Eh ditambah orang lain yang ternyata dibelakang saya ngrasani bahwa blog saya ini banyak menyebabkan hilangnya situs... Heheheh ... Padahal biasanya sebelum saya datang banyak yang sudah posting di medsos.... Entahlah.... Mungkin maruk, pingin dikuasai sendiri, padahal jika bergerak bersama sama akan terasa mudah. Itu pikiran saya. Tapi Karena sudah ilfill dengan para pelaku itu, ya sudah saya skip, akhinya foto dan video hasil penelusuran itu saya simpan di folder dengan judul ada ancaman.
       Berlalu-nya waktu, karena lama tak blusukan, kangen nulis pula di blog, saya ingin membagikan kisah blusukan itu, walaupun kisahnya ada pahitnya 'tentang sebuah arca di dekat kolam ikan Ngampin  Kulon Ambarawa'. Sialnya.. foto dan video sampai tulisan ini saya buat tak ketemu. Ya sudah....
     Serba kebetulan, saat bertugas di Ambarawa, terlintas dibenak untuk WA rekan blusuker aktif Ambarawa. Bu Noorhayati, guide dan jadi teman bincang2 di lokasi situs. Rencana saya bikin podcast ringan di lokasi. Eh gayung bersambut, beliau berkenan menemani.
     Link podcast di channel youtube mampir yaaa!!!... :

      Ngampin sendiri mempunyai jejak peninggalan masa lalu yang spesial, beberapa masih dapat dilihat. Seperti : Candi Ngentak, Lumpang, Kala. Lapik di Situs penginapan Ngampin, kemudian pasti banyak lagi yang disembunyikan. 
    Menuju lokasi kurang dari lima menit,, petunjuknya disebrang SPBU, di jalan gang tepat di samping kolam renang, ikuti jalan tersebut. Menyeberangi Rel KA, Arca Berada di samping rumah warga dekat kolam ikan.
      Sayangnya saat sampai di lokasi kami tak ketemu beliau yang punya rumah. Terakhir saat blusukan beberapa waktu lalu, orangnya super ramah, walaupun sekilas kebetulan hanya berpapasan saat beliaunya mau pergi. Namun kesan 'monggo' nya tulus dan ramah beda 180derajat dengan destinasi sebelumnya.

       Kedatangan kali ini juga ingin mengungkap secara jelas rasa penasaran saya, tentang ini arca apa. Dulu saat kesini diskusi belum secara detail. Tapi dengan obrolan dengan Bu Noorhayati di Podcast memnuat sedikit terang. Dugaan saya bisa : arca AwalokiteÅ›wara, salah satu Bodhisatwa yang paling dimuliakan. Selain satu kaki dibawah, ciri lain ada bunga teratai (=juga di beri gelar padmapani). Mencoba compare ddengan arca di Candi Mendut : sumber https://www.sasadaramk.com/2011/11/candi-mendut-peninggalan-bersejarah.html
Sumber foto dari blog ini juga
       Sementara Mungkin Juga arca ini adalah Manjusri. Dalam agama Buddha Manjusri dekenal sebagai Bodisattwa yang mempunyai sifat bijaksana, atau dikenal sebagai “yang mengajarkan kebijaksanaan”. Manjusri selalu digambarkan sebagai anak muda, sehingga tidak pernah digambarkan mempunyai sakti. Ia merupakan Bodisattwa yang populer dan dipuja di seluruh negeri yang menganut agama Buddha. Foto perbandingan dengan Arca Manjusri sumber dari : http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng
       Arca Manjusri temuan dari Ngemplak Simongan : sumber http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/cagarbudaya

     Sayangnya ciri-ciri antara Awalokistwara ataupun Manjusri yang memang mirip sudah hampir musnah perbadaannya, terutama kepala arca yang raib. 
      
   Sampai saya tulis cerita ini saya masih diliputi Keraguan, walaupun  menjadikan saya mencari tahu...
      Kondisi Arca masih sangat baik, walau tentu butuh perhatian, baik dari masyarakat sekitar maupun pemerintah. Pujian tulus kepada pemilik lahan yang tetap menempatkan arca dilokasi asli 'insitu', lewat tulisan ini saya coba mengetuk warga sekitar atau pemerintah untuk membuatkan tempat yang layak tanpa memindah ke lokasi lain, Kami dari Komunitas Dewa Siwa pun siap bila dijawil, apapun baik urun rembug, turut menyumbang tenaga dan masih banyak lagi. 
      Beberapa foto arca Ngampin Ambarawa :


Arca Ngampin Ambarawa dari belakang

Arca Ngampin Ambarawa  dari Atas

    Maturnuwun senior Bu Noorhayati, pencerahannya menakjubkan.
Bu Noorhayati Dewa Siwa
      Sampai ketemu di penelusuran berikutnya :
     Salam pecinta situs dan watu candi
#hobikublusukan

Selasa, 01 Juni 2021

WOW... Pernah Ada Harta Karun di Situs Watu Dandang Karangjati


      Rabu, 2 Juni 2021. Awalnya memang saya tak tahu menahu ada jejak peninggalan istimewa di Karangjati ini selain Ganesha Congol dan Petirtaan Kalinjaro. Padahal 2015 saya awal kali pertama ke situs Ganesha Congol, dan setelahnya entah puluhan kali lebih riwa-riwi area ini (selain situs juga main ke rekan blusukan paling gila-). 
Ketemu pegiat Sejarah Karangjati 
   Hari inipun sebenarnya niatnya menyambangi rekan ini, selain silaturahmi lama tak bersua juga ada project Komunitas DEWA SIWA. Di Lokasi Lembah Gana, (di Blog saya ini Ganesha Banjarsari) ternyata juga ada rekan komunitas lokal rekan dari Mas Dhany, dan surprise ada si tukang limpe... Mas Seno... heee.. 
      Situs Ganesha Congol, kondisinya saat ini, sangat membanggakan. Para pemuda dengan komando Kak Dhany sebagai sesepuh menjadikan Ganesha ini cukup hidup, mulia. Apresiasi dan salut, masih ada para pemuda yang mau nguri-nguri.
Lembah Gana, Karangjati
     Setelah mengungkapkan rencana cangkrukan, sayapun  berpamitan, karena waktu sudah sore, ternyata selain saya Mas Seno juga ikutan pulang. Eh mas Dhany turut serta, keset di jemuran belum kering katanya. Kami bertiga beriringan menyusuri pematang sawah, tiba-tiba mas Seno berbelok memisahkan diri. "Niliki Situs Watu Dandang", saya terbengong. Eh entengnya mas Dhany bilang, "Mosok rung reti?", sambil khas ngekek setan. "Kok umpetke kok!", sambil tanpa dikomando saya langsung berbelok mengikuti arah Mas Seno. 
     Benar juga....

    Konon masyarakat menyebut nama Watu dandang ya karena bentuknya mirip alat untuk menanak nasi. Yang lebih menakjubkan adalah sebaran peninggalan di area ini, pernah ditemukan Guci berisikan perhiasan emas, kelat bahu, giwang, kalung, koin. Namun sudah tukarkan uang, sayangnya penjual sudah menghadak yang kuasa, sehingga tak bisa mengorek cerita dan tak tahu rimbanya kemana harta karun peradaban Kangjati tersebut. Eman2 tenan!

    Link Video amatir di Channel Youtube Jangan lupa mampir ya ke :

https://www.youtube.com/watch?v=z9ATQ551SFw

     Sampai ketemu lagi di Penelusuran berikutnya.

saya, Kak Dhany dan Mas Seno

   Terimakasih Mas Seno Atas Pinjaman HP nya.... juga kirim file dengan kuotanya... hehehhe. 

Watu Dandang Karangjati
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi. 

     #hobikublusukan

Minggu, 11 April 2021

Dewa Ganesha bertebaran... Muncul Lagi Arca Ganesha di Bergas Lor.

Arca Bergas Lor, kabupaten Semarang
     Senin 12 April 2021, Kadang level pertemanan akan diuji oleh kesalahpahaman, level tertinggi dalam persahabatan adalah hujatan super dasyat, level saudara tertinggi dengan pamer sekaligus ngece super dewa.
     Tapi saya hanya akan membahas 2 oknum, yang bagaimanapun berperan besar menjadikan naskah ini bisa saya tulis. Walupun tak elok ketika cerita sumpah serapah kepada rekan dibaca orang lain. Kesannya saya tak berakhlak, namun saya akan mencoba jujur. Foto pamer :

     Oknum pertama, pamer. Adalah salah satu keahliannya, ilmu yang pasti tak didapat di perkuliahan tentu, hehe. Namanya Mas Eka WP, ketika sedang leyeh-leyeh istirahat habis gowes blusukan (link cerita Lapik Margosari Boja), tanpa merasa rikuh, atau berdosa membuat orang lain sakit hati, tatap matanya dalam foto ini seperti ingin mengatakan “Iri Bilang Bos!”, ditambah teknik limpe yang seperti tikitakanya klub decul, malesi tenan… Di WA, saya tulis ucapan yang benar benar terdalam waktu itu. Tapi karena gengsi, saya tetap pura-pura tak interest sama sekali (walau dalam hati perih….). 
     Saat mencoba melupakan, eh keesokan harinya Mas Dhany Putra dengan s*nt8l9y6ny5 sambil mrenges, nawari, “Cedak omahku, terke pora?”, ingin mengesampingkan alias cuma read saja. Tapi antara hati, pikiran dan jemari tak terkoordinasi, tak satu kata. Jari tanpa sadar menyambutnya. Sebenarnya Cuma 5 huruf? Tapi berarti banyak…."kapan"... Yang berarti runtuh tembok besar permasalahan… wkwkwkwk. Asli, serius yen diwedar permasalahannya akan setebal ensiklopedi, merembet kemana-mana. Namun berkat kedewasaan Mas Dhany yang ternyata masih menyimpan sedikit kebaikan… nawari juga.. hahahaha. (baik= menyuguhkan kopi ketika ke rumahnya). Sekalian curhat, entah kenapa hanya gara-gara watu sampai sekarang malah ada satu yang belum cair. Bekunya melebihi hati x pokoke hahahahha….. (itu juga ada sumbangsih mas Dhany…. Oknum ini Komplit pokoke yo kadang malaikat seperti hari ini tapi kadang …… ra tegel nulis…wkwkwkk)
     Diluar dugaan ternyata, tak sepenuhnya ngeterke.. heheh. Mas Dhany janjian dengan komunitas barunya… Lembah Gana, berkumpul dan ingin menelusuri situs seputaran Bergas. Diawal, saya seperti obat nyamuk, apalagi tampilan beliau-beliau sangar, totalitas, mantap pokoknya. Jadi ngerasa kambing congek, newbie alias pemula. Tapi saya mencoba menekan sampai dasar perasaan minder itu, karena arca dengan kepala palsu sangat membuat hati kepincut. Akhirnya saya mengekor...
      Dari Rumah Mas Dhany, yang didekat pasar Karangjati, lokasi tujuan tak sampai 5 menit. Benar dibelakang rumahnya ditarik garis lurus tapi pakai penggaris dilihat Peta. Maturnuwun Mas Dhany dan segenap Anggota Komunitas Lembah Gana, saya diijinkan untuk menyusup.
     Kemudian sampailah, 
     Bersama pemilik:

      “Dulu disimpan Bapak didalam rumah, kemudian saya pindah ke tempat yang sekarang”, buka mas Joko. Konon oleh Bapak Beliau ditemukan sekitar tahun 1989-an di sawah miliknya di area Gebugan, tak jauh dari tempat tinggal beliau. Niatnya merawat kemudian dibawa pulang. Alm. Bapak martono, nama beliau.
     “Saat ditemukan sudah tanpa kepala, tapi saya juga tak tahu kapan tepatnya dibuatkan kepala arca baru itu”, tambah beliau. 
     Dugaan sementara, arca ini adalah Ganesha dari ciri Khas Perut yang gendut, kemudian 4 tangan, 2 didepan dan 2 dibelakang, di badan juga terselempang tali. Kurang lebih itu yang akhirnya memunculkan dugaan Ini Arca Ganesha. 
    Tempat duduk, berbentuk teratai :
     Tampak dari belakang :
Dari gambar, apakah arca ini mengisi relung sebuah bangunan? 

         Di Area Bergas ini banyak sekali Arca Ganesha, …. Berarti apaa ini?!! Dewa Ganesha atau Bathara Gana adalah juga dewa Pengetahuan, kecerdasan, kebijaksanaan… apakah dahulunya banyak kaum cerdik pandai, pertapa, orang yang berilmu diarea ini? Atau malah area ini jadi tempat pusat pendidikan? Sebuah dugaan liar saya pribadi. Yang sudah saya dokumentasikan : Arca Mbah Dul Jalal, Arca Ganesha Pondansari, Ganesa Congol, Ganesha Sidomuncul, kemudian dugaan Arca yang Hilang di aliran sungai dusun Kenangkan depan Sidomuncul. Selain tentu banyak lagi wujud peninggalan lain yang seabrek banyaknya. 
     Belum lagi yang sudah beralih tangan dengan uang … infonya di sekitar perhutani depan Gereja (nama dusunya pendem) dulu ditemukan pula Arca Ganesha yang utuh dan indah, sayangnya penemunya butuh uang… jadilah waktu itu tahun 90an seharga 50rb..(namun ini saya dapat info tutur tinular, entah kebenarannya).
     Untuk berbagai cerita tentang Ganesha, siapa dia tugasnya apa dsb, sahabat cari di google ya.. banyak kok, soalnya naskah ini spesial semi curhat.. Tentang dua oknum yang ternyata memang saudara… sedulur saklawase. Terakhir, maturnuwun poro konco…. Mugo2 seduluran nambahi awet umur lan akeh rejeki. ----
Seperti Dewa Ganesha... Kita harus bijaksana....
    Untuk 2 oknum lain, sengaja tak saya munculkan. Satunya raja PHP, satunya dewa limpe : ternyata menyimpan info dahsyat…..
Maturnuwun mas :
     Link cerita video singkat di channel youtube ya….
     Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
     Sampai ketemu di Blusukan Berikutnya…

Nb: nunggu bayar piutang diterke pas puasa, mengulang saat blusukan puasa beberapa tahun lalu. Colek Oknum pertama!

Sabtu, 10 April 2021

Menguak Misteri Sejarah Kuno Margosari, Boja : Gowes Blusukan Situs Lapik Arca

Lapik Margosari, Boja

      Minggu, 11 April 2021. Berawal dapat informasi dari Mas Age Karisma, tentang keberadaan situs di daerah Boja. Terbersit ide, minta mas Age untuk guide pake sepeda. Sekali lagi duet Gowes blusukan. Namun ternyata karena kesibukan mas Age, akhinya niat tak kesampaian. Barulah ketika saya diberi titik koordinat, kemudian saya coba telusuri melalui Gmaps, yang ternyata dekat dengan Gonoharjo. Banyangan saya rute mengerikan bagi kaki berpen saya. Dengkul bisa protol. Namun lama tak gowes juga vakum blusukan menjadikan saya mengesampingkan perasaan ngerti itu. Akhirnya menemukan partner untuk saya ajak partner gowes. Maturnuwun Mas Siswo Handoyo, rekan SMA yang beberapakali gowas Bareng, apalagi saat saya menyampaikan keinginan saya, mas Siswo ini menyambut baik karena ternyata rute yang saya kirim lewat WA, sudah tahu dan sering lewat.

Singkat cerita, gowes kali ini juga sebagai yang terakhir sebelum puasa, tapi kalau blusukan? Tunggu saja.. apakah masih mampu? hehhe/.. (rekan blusukan di Komunitas Dewa Siwa dulu berseloroh “ BLusukan iso-iso kumu degan”…..). Berangkat jam 4.50 dari rumah menuju Gunungpati, kemudian kami melalui rute Gunungpati – Sekolo – sekopek – Bubakan – Cangkiran - ambil kiri.

Berhenti di Charlie Hospital, (Saya juga Panser Biru..hehehhe), kemudian lurus terus. Karena masih pagi, suasana juga masih sepi jadi udara sungguh segar. 

Beberapa Tanjakan lumayan sudah menyambut kami, namun banyaknya pegowes yang bertujuan kearah sama, menjadikan semangat kami menakhlukkan tanjakan. Sesampainya di Pertigaan Margosasi kami kemudian berhenti. Sesuai GMaps,  juga petunjuk dari Mas Age, Bahwa Lokasi yang saya tuju ini hanya 100m dari Kantor Desa Margosari. Didepan Kantor Desa Margosari, Boja :

Di Kantor Desa Margosari Boja

 Tak lama setelah itu, Sampailah saya..

Sempat ketemu dengan pemilik rumah, dan beruntungnya saya berkenan membagikan banyak cerita mengenai lapik Arca ini. 

Konon Lapik ini di dapat dari sawah beliau tak jauh dari rumah. “Waktu itu tujuan saya ingin menyelamatkan, makanya ketika saudara ingin menjualnya saya menentang keras. Karena saya tahu ini peninggalan kuno”, jelas Ibu Bu Siti.

“Selain Lapik ini, sebenarnya di desa ini ada batu-batu kotak besar yang saat ini disimpan warga”, tambah beliau. (bentuknya mirip dorpel setelah ibu Siti menjelaskan, tapi Maaf saya tak bisa memberitahukan dimana ---)

Peninggalan Kuno di Margosari, Boja

Bentuk Lapik Masih terawat, bersih. Namun tetap OCB seperti ini butuh perhatian. Apalagi jarak dengan kantor desa kurang dari 100m. Semoga pihak Desa, terutama Pak Kades segera tergugah untuk nguri-uri peninggalan yang ada di desa Margosari ini.

Fungsi Lapik sendiri (Baik Lapik Sajen Maupun Lapik Arca sebagai tempat menaruh sajen / tempat arca.

Close  up Lapik Margosari.


Hasil Lengkap ngobrol santai dengan Ibu Siti ada di channel Youtube saya ya… mampir juga di Link : 


Maturnuwun Mas Age, dan Mas Siswo….

Saya Mas Siswo dan warga Margosari Boja

Salam Pecinta Situs dan watu candi

Sampai Ketemu di blusukan berikutnya