Tampilkan postingan dengan label lapik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lapik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 April 2021

Menguak Misteri Sejarah Kuno Margosari, Boja : Gowes Blusukan Situs Lapik Arca

Lapik Margosari, Boja

      Minggu, 11 April 2021. Berawal dapat informasi dari Mas Age Karisma, tentang keberadaan situs di daerah Boja. Terbersit ide, minta mas Age untuk guide pake sepeda. Sekali lagi duet Gowes blusukan. Namun ternyata karena kesibukan mas Age, akhinya niat tak kesampaian. Barulah ketika saya diberi titik koordinat, kemudian saya coba telusuri melalui Gmaps, yang ternyata dekat dengan Gonoharjo. Banyangan saya rute mengerikan bagi kaki berpen saya. Dengkul bisa protol. Namun lama tak gowes juga vakum blusukan menjadikan saya mengesampingkan perasaan ngerti itu. Akhirnya menemukan partner untuk saya ajak partner gowes. Maturnuwun Mas Siswo Handoyo, rekan SMA yang beberapakali gowas Bareng, apalagi saat saya menyampaikan keinginan saya, mas Siswo ini menyambut baik karena ternyata rute yang saya kirim lewat WA, sudah tahu dan sering lewat.

Singkat cerita, gowes kali ini juga sebagai yang terakhir sebelum puasa, tapi kalau blusukan? Tunggu saja.. apakah masih mampu? hehhe/.. (rekan blusukan di Komunitas Dewa Siwa dulu berseloroh “ BLusukan iso-iso kumu degan”…..). Berangkat jam 4.50 dari rumah menuju Gunungpati, kemudian kami melalui rute Gunungpati – Sekolo – sekopek – Bubakan – Cangkiran - ambil kiri.

Berhenti di Charlie Hospital, (Saya juga Panser Biru..hehehhe), kemudian lurus terus. Karena masih pagi, suasana juga masih sepi jadi udara sungguh segar. 

Beberapa Tanjakan lumayan sudah menyambut kami, namun banyaknya pegowes yang bertujuan kearah sama, menjadikan semangat kami menakhlukkan tanjakan. Sesampainya di Pertigaan Margosasi kami kemudian berhenti. Sesuai GMaps,  juga petunjuk dari Mas Age, Bahwa Lokasi yang saya tuju ini hanya 100m dari Kantor Desa Margosari. Didepan Kantor Desa Margosari, Boja :

Di Kantor Desa Margosari Boja

 Tak lama setelah itu, Sampailah saya..

Sempat ketemu dengan pemilik rumah, dan beruntungnya saya berkenan membagikan banyak cerita mengenai lapik Arca ini. 

Konon Lapik ini di dapat dari sawah beliau tak jauh dari rumah. “Waktu itu tujuan saya ingin menyelamatkan, makanya ketika saudara ingin menjualnya saya menentang keras. Karena saya tahu ini peninggalan kuno”, jelas Ibu Bu Siti.

“Selain Lapik ini, sebenarnya di desa ini ada batu-batu kotak besar yang saat ini disimpan warga”, tambah beliau. (bentuknya mirip dorpel setelah ibu Siti menjelaskan, tapi Maaf saya tak bisa memberitahukan dimana ---)

Peninggalan Kuno di Margosari, Boja

Bentuk Lapik Masih terawat, bersih. Namun tetap OCB seperti ini butuh perhatian. Apalagi jarak dengan kantor desa kurang dari 100m. Semoga pihak Desa, terutama Pak Kades segera tergugah untuk nguri-uri peninggalan yang ada di desa Margosari ini.

Fungsi Lapik sendiri (Baik Lapik Sajen Maupun Lapik Arca sebagai tempat menaruh sajen / tempat arca.

Close  up Lapik Margosari.


Hasil Lengkap ngobrol santai dengan Ibu Siti ada di channel Youtube saya ya… mampir juga di Link : 


Maturnuwun Mas Age, dan Mas Siswo….

Saya Mas Siswo dan warga Margosari Boja

Salam Pecinta Situs dan watu candi

Sampai Ketemu di blusukan berikutnya

Rabu, 29 Juli 2020

Jejak Misteri peradaban kuno di Glapan, Kedungjati, Grobogan

Tutukno lakumu le
Opo sing kok sejo bakal kelakon
(quote by *mbah 'lupa namanya)      
Yoni Glapan, Gubug Grobogan
Yoni Glapan, Gubug Grobogan
    Kamis, 30 Juli 2020. Tradisi blusukan saat hari Kamis (istilah kami kemisan), terakhir sudah sangat lama sekali. Kadang yang tak terencana malah bisa terlaksana. Seperti kisah ini, berawalan obrolan ngalor ngidul dengan pak Nanang Klisdiarto, lama tak blusukan luar kota. Saya nyeletuk dulu ada yang posting tentang Lumpang di area Kedungjati Grobogan. Kemudian Pak Nanang malah teringat, pernah dapat informasi ada tinggalan Yoni Knockdown dekat waduk Glapan, namun yang menyimpan info dan gambar Mas Seno.
      Kemudian kami mencoba mengajak Mas Seno sebagai guide dan pembaca arah peta. Awalnya saya sudah pasrah rencana blusukan kemisan akan tertunda lagi, karena Mas Seno sampai kamis jam 8 pagi, belum memberi kabar.  Namun notifikasi WA sekitar jam setengah 9, membuat hati saya berbinar. Mas Seno mengirim pesan bisa dan segera merapat di tempat pak Nanang jam 10. Segera saya ngabari rekan lain yang siapa tahu los dol bisa ikut. Minimal biar saya tak di japri nglimpe. Mendadak karena guide-pun mendadak, jadi bukan kesengajaan.
       Sesuai kesepakatan, setelah kumpul di Pak Nanang, kami bertiga kemudian meluncur. Kali ini agak spesial blusukan kemisan ini. Pokoknya wani ngelih, wani ngelak. Bagaimana serunya, ikuti saja kisah kemisan ini sampai pungkas. Setelah parkir motor, istirahat sebentar sambil nunggu tuan rumah, saya dan mas Seno ngobrol tentang destinasi ini. Tak lama kemudian Pak Nanang datang sambil bawa belanjaan sak karung, setelah sepengginang kami kemudian bersiap. Namun Ajakan Pak Nanang untuk saweran bensin tentu mengagetkan hati alias senang juga, surprise! selain saat ini musim panas terik juga bisa gasak-gasakan sepanjang perjalanan, beda dengan motor sendiri-sendiri. Jadilah iuran 20-ribuan. Tapi celaka bagi saya, ATM yang dijanjikan bisa diambil untuk ikut iuran eh belum tertransfer. Jadilah saya hanya bisa membelikan 3 teh kotak. Maaf nggeh Pak Nanang dan Mas Seno….
     Singkat cerita, jalur yang kami lalui menuju Kedungjati dari Bawen, lewat pertigaan Tuntang arah Bringin, kemudian terus jalan sampai Kedungjati. Kami kemudian diarahkan berbelok menuju jalan perkampungan, dimana beberapakali lewat desa yang bernama identik dengan situs : Kentengsari, juga lokasi makam yang khas ada batuan kuno (Gumuk, ada sendang, pohon besar, dll). 
     Karena terasa cukup jauh kemudian masuk gang yang lumayan kecil, hanya cukup untuk satu mobil saja, tak bisa berpapasan (kebetulan saya yang bawa mobil Pak Nanang, Mbah Truno (Taruna) sebut Bu Wahyuni Klisdiarto yang kali ini sengaja dilimpe.....wkwkkw. 
     Namun ternyata, GMaps membuat kami menempuh jalan lain yang lebih lama, berbelok dan tak efektif serta efisien ditengah durasi. yaang ternyata jalan hasil saran Gmaps tembus lagi ke jalan utama Jalan Salatiga-Gubug. Kata—kata Sumpah dengan serapah tak dihitung lagi bila dikumpulkan dari kami bertiga, lewat jalan utama tentu lebih nyaman, jalan halus dan lebih cepat (walau mungkin jarak km lebih jauh).
     Setelah melintasi rel kereta api, (Stasiun Kedungjati), kami kemudian ambil jalan ke kanan (cari papan petunjuk menuju : Waduk Glapan-Gubug). Sampai di waduk Glapan, kami kemudian berhenti di warung pas di gerbang waduk (ada semacam portal yang membatasi akses mobil dengan dimensi besar dan tinggi). Pak Nanang kemudian bertanya ke mbah penjaga warung. *Kami sebenarnya sudah memperkenalkan diri dan bertanya nama mbah nya, namun ternyata kami kompak lupa. 
      Obrolan cukup menarik, yang ternyata nyambung dengan dunia kami. Beliau nampaknya tahu banyak tanpa harus kami meng-edukasi tentang situs. ternyata (menurut feeling saya) mbah nya itu punya kelebihan membaca aura/ pandangan spiritual yang agak tajam. Warung pojokan sebelum masuk waduk Glapan, dimana membantu kami memberi petunjuk lokasi Yoni :
      Saat ngobrol itulah, akhirnya munculah perkataan seperti di atas (diawal naskah ini), yang ditujukan ke mas Seno. (Bila ada pembaca yang tahu nama mbah-nya boleh dibagi, sampaikan salam juga. Maturnuwun). clue dari simbah baik hati ini, 'Kami mencari Masjid Brebes, Glapan', Yoni ada di sekitar masjid. bukan cuma 1 tapi ada 2.      
     Setelah berpamitan kami kemudian meluncur ke lokasi, Masuk Portal Waduk Glapan, ada remaja (pak ogah) yang membantu mengatur lalu lintas di atas DAM Waduk Glapan. 
waduk Glapan, Gubug
Waduk Glapan Gubug
      Mengikuti petunjuk, kami mencari masjid tersebut, melewati pukesmas pembantu, dan menyusuri pinggiran Waduk yang warna-warni, jalan kemudian sampai berganti yang sepenuhnya belum bagus (masih berbatu--walau perkampungan -- semoga kedepan bisa di cor/ diperhatikan pemdes). 
       Karena mencari masjid belum ketemu, padahal kami sudah jalan sekitar 2km, sampai akhirnya kami ketemu masjid, ternyata kami terlalu jauh (kebablasan).
    Balik arah,  kembali ke SDN Glapan 01, didepan SD ada gang kemudian kami masuk. Sekitar 100m sampailah kami di masjid. Karena bersamaan waktunya dengan shalat Dzuhur kemudian kami sekalian berjamaah. Setelah usai, otomatis tanpa kami setting langsung menyebar mencari keberadaan Yoni.  Namun ternyata tak ketemu juga. 
     Saat istirahat, kami kemudian memberanikan diri bertanya kepada imam masjid yang keluar terakhir. Kyai Ahmadi nama beliau. Kulonuwun dan menjelaskan maksud kami. Diluar dugaan,  dengan detail Kyai Ahmadi kemudian menjelaskan keberadaan Yoni tersebut. Warga masyarakat mengenal dengan Watu Lumpang. Saat ini masih ada di dekat Makam Desa.
Kyai Ahmadi, Glapan Gubug
Kyai Ahmadi, Glapan Gubug
     Juga menawari untuk mendampingi, mengantar sampai ke lokasi depan makam, sungguh suatu berkah bagi kami. Imam masjid, yang kamipun tahu beliau sangat arif dan bijaksana menilai sebuah peninggalan kuno (zaman hindu klasik).... tanpa harus kami jelaskan bahwa beliau adalah juga Ketua NU Ranting Glapan, menambah bangga kami. Bahwa peninggalan kuno akan tetap ada (tak dirusak) bila ditangan orang yang berpandangan luas. Salam Takdzim kami Buat Beliau Kyai Ahmadi. 
       Cerita tentang sejarah kuno, mulai Hindu Klasik-Zaman Islam hingga Zaman Penjajahan mengalir diceritakan secara detail kepada kami. Beruntungnya kami ketemu dan menyerap ilmu dari beliau. Ibarat pesantren sangat kilat namun kami langsung diam menyimak awal sampai akhir. 
     Dari Masjid kemudian kami mengikuti Kyai Ahmadi menyusuri jalan setapak melewati samping rumah warga yang langsung tembus makam. Tak butuh waktu lama, yang ternyata Yoni ada di depan makam. 
       Yoni Situs Glapan, Gubug Grobogan :
Yoni Situs Glapan, Gubug Grobogan
Yoni Situs Glapan, Gubug Grobogan
          Dulu Yoni ini sempat dibawa warga lain desa, namun warga Glapan berinisiatif meminta dan mengembalikan ke lokasi semula. Karena warga disini percaya bahwa Benda ini sangat bersejarah dan bernilai tinggi. "Sebagai tetenger peradaban desa", ungkap Kyai Ahmadi menjelaskan semangat warga desa ketika meminta kembali.
     Selain Yoni ini, didekat area ini ada makam kuno, yang oleh warga disebut makam budo. Sayangnya karena warga tak mengetahui, konon banyak pemburu harta karun yang obrak-abrik makam tersebut. Namun tak ada yang tahu apakah oknum tersebut menemukan yang dicari atau tidak. 
         Sementara diatas gumuk depan makan, dulu banyak ditemukan batu bata berukuran besar (Banon, identik dengan bangunan masa kuno). "Sayang sekali sudah banyak diambil oleh warga. dan saat ini tak bersisa. Sementar masih didekat area Yoni ini ada juga sendang kuno yang tak pernah mengering airnya", jelas Kyai Ahmadi panjang lebar.
     Yoni dengan ciri khas terdiri dua bagian (umumnya satu bagian), banyak orang menyebut Yoni Knockdown. Dimana bagian atas bisa dipisahkan dengan bagian bawah Yoni. Bagian Atas Yoni : 
Yoni Glapan Gubug
Yoni Glapan Gubug
         Bagian penampang atas  berbentuk kotak dimana dibagian tepi ada semacam pelipit. Lubang kotak ditengah adalah tempat Lingga diletakkan. Serta Cerat yang berfungsi untuk 'pancuran air suci'. Trta Amrta yang disiramkan ke lingga, kemudian air akan mengalir keluar lewat lubang cerat. Pemimpin ritual akan menampung air yang keluar dan digunakan sebagai air suci.
      Cerat Yoni :
Cerat Yoni Glapan
      Lubang tempat lingga : 
Lubang Tempat Lingga Yoni Glapan Gubug
Lubang Tempat Lingga Yoni Glapan Gubug
    Sementara keberadaan lingga sudah tak ada yang mengetahui dimana rimbanya. Semoga masih tersimpan rapi dan belum saatnya muncul. Tidak di ambil orang atau malah dijual. Semoga masih ada!.
 Di Bagian badan Yoni, terdapat hiasan sederhana namun tegas....
Yoni Glapan Gubug
Lingga Yoni Glapan Gubug

       Kami kemudian mencoba menelusuri Makam Glapan, sekalian menengok makam pejuang kemerdekaan (Kakek dari Kyai Ahmadi) yang juga dimakamkan di sini. Saat kami menuju Makam eh... mata kami tertumbuk pada 4 batu yang bentuknya langsung membuat terpaku :

Situs Glapan, Gubug
Situs Glapan, Gubug
        Banyak rekan yang menyebut batu seperti ini dengan istilah columnar Joint", namun dugaan kami ini adalah batu Pathok Candi. Atau batu batas terluar area suci candi. Dulu Pendeta pemimpin pembuatan candi menentukan batas luar area suci dan kemudian dicari titik tengah untuk membuat candi. Ada juga masyarakat menyebut dengan 'batu tali cancang gajah'. (Seingat saya di daerah pengging ada yang mirip).
      Dugaan keberadaan 4 buah batu Pathok Candi ini membuktikan keberadaan sebuah bangunan suci di sini semakin menguat. Di sekitar area makam, juga menyebar struktur batu candi yang ada kuncian dan pola, sebagian yang bisa kami dokumentasikan :



   Saya, Mas Seno, Pak Nanang, dan Bapak Kyai Ahmadi. Maturnuwun Pak.

Situs Glapan : Saya, Mas Seno, Pak Nanang, dan Bapak Kyai Ahmadi. Maturnuwun Pak
Kyai Ahmadi, Pak Nanang, Mas Seno dan Saya di Situs Glapan Gubug

      Kami kemudian kembali ke Masjid, dimana lokasi mobil parkir. Saat perjalanan itu Bapak Kyai Ahmadi bercerita, "Di Masjid ada satu lagi mirip tapi bentuknya lebih kecil". Seketika kami surprise dan membelalak mata karena kami tadi terlwat ketika mencari. Dan Lapi Arca di Pojokan dalam Masjid :
Lapik Situs Glapan Gubug
Lapik Situs Glapan Gubug
    Kami menduga ini berbeda fungi, kalo yang berukuran besar sebelumnya adalah Yoni dengan lingga, namun OCB ini dengan lubang tak terlalu dalam kemudian bentuk antara satu sisi dengan sisi lain tidak sama. Kami menduga diatasnya dulu sebuah arca.
        Kejutan yang lain adalah angka tahun di salah satu tiang masjid . (seingat saya Kyai Ahmadi bilang pernah dibaca angka tahun 14xx dengan huruf Hijaiyah).... Super komplit ... Glpan ini... Ada jejak sejarah Hindu Klasik, Jejak Sejarah Masa Islam juga jejak sejarah Perjuangan Kemerdekaan. 
      Semoga generasi muda Glapan tergugah untuk segera uri-uri .... Video Vlog amatir saya nungu proses edit : Link ( Nanti tersedia di channel Youtube)
Situs Glapan, Kedungjati, Grobogan

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi. 
#hobikublusukan

Sabtu, 28 September 2019

Mampir di Situs Magelung Kaliwungu : Lapik yang penuh Misteri


Situs Magelung Kaliwungu
      Sabtu, 28 September 2019. Naskah ini adalah rangkaian cerita blusukan bersama Komunitas Dewa Siwa ditambah Komunitas Exsara. Tujuannya ‘Anjangsana Komunitas ke Kendil Wesi dan Pecud : sesama Komunitas Pecinta situs dan watu Candi. Awalnya, situs Magelung ini tak masuk dalam rencana blusukan kami, tapi kejutan dari Mas Age Kharisma. (Link Naskah Komplit segera terhubung setelah jadi)
     Ceritanya rombongan terbagi beberapa kloter, Kloter I, dengan motor roda 2, setelah kumpul di Pertigaan Boja kemudian Meluncur melalui jalur Boja Kaliwungu Menuju Kendal. Kami jalan pelan-pelan sambil menunggu kloter 2 yang mengendarai mobil.
     Sambil menunggu rombongan yang naik mobil kami sepakat akan berhenti di tengah perjalanan. 

     Kata Mas Age : “Nanti di xxxxmaret saja, didekatnya ada lapik!”.
     Setengah terkejut  tak percaya kami kemudian mengekornya.

     Sesampainya di minimarket tersebut kami langsung berhenti. Sambil rehat sejenak untuk ngadem… 
     Karena cuaca sangat terik, sekaligus membeli air mineral untuk bekal. 
     Tapi rata-rata dari kami langsung tahu dimana lapik berada…..
Situs Magelung Kaliwungu : Lapik yang penuh Misteri
     Menurut info yang kami dapat, kebetulan tempat dimana kami berhenti kami bisa mendapatkan cerita….. 
Magelung Kaliwungu
     Tentang asal muasal Lapik Arca tersebut, konon dulu dibawa oleh Kakeknya yang merupakan pekerja Perhutani. 
     Dulu sempat berpindah-pindah. Namun bisa kembali lagi. 
     Untuk lokasi tepatnya, tak ada yang tahu dimana lapik arca itu berasal. 
    Kami hanya mengira-ira, mungkin lokasi berkontur gumuk, dekat dengan mata air bisa menjadi titik lokasi bila menelusuri jejak.
Situs Magelung Kaliwungu : Lapik yang penuh Misteri
     Diskusi kami berkembang dengan berbagai kemungkinan, salah satunya ada arca/ yoni/ sebuah bangunan yang dulunya menjadi satu kesatuan dengan lapik ini.
Penampakan dari atas : 
     Tapi sayang, ditempatkan di pinggir jalan raya membuat riskan rusak. Bahkan salah satu sisi terlihat bekas tersenggol mobil.
     Kami juga mendapatkan kabar sedih….. dari si empunya rumah… yang terlihat gelagat memang kurang respect dengan Lapik ini.. semoga bisa tersadar…. Kemudian mau nguri-uri apa yang dulu di niatkan leluhur beliau, saat membawa dari lokasi awalnya. 

Situs Magelung Kaliwungu
Minimal memindahkan ke tempat layak dan aman, mungkin pula bisa di beri peneduh. Jikapun tidak…. Semoga pihak terkait, terutama pihak desa mau merawat jejak sejarah desa… dimana Lapik ini bisa ditelusuri ulang jejak dengan peninggalan yang berwujud, bukan hanya mitos, legenda ataupun tutur tinular saja.
Sebagian Rombongan I,
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Situs Magelung Kaliwungu : Lapik yang penuh Misteri
#Hobikublusukan
1. Yang anda baca ini
3.Candi Boto Tumpang 2
4. Situs Bale Kambang (saya kesana berapa tahun lalu)
5. Candi Bale Kambang
6. Arca Ganesha Tersono

Kamis, 13 Juni 2019

Misteri Candi Bongkotan yang menakjubkan : Bonus Pasar Kumandang Bojasari Kertek Wonosobo


Candi Bongkotan, Kertek Wonosobo
Kamis, 13 Juni 2019. Beberapa tahun lalu, selintas dapat berita tentang sebuah situs di Wonosobo. Bahkan info tersebut jauh sebelum saya tahu (secara tak sengaja) situs Bogang yang juga di kota wonosobo, situs Bongkotan ini entah kenapa sangat menarik hati saya...
Setelah sekian lama keinginan terpendam, akhirnya hari ini bisa saya sambangi candi Bongkotan.
Blusukan Sendiri sebenarnya tak terlalu asik, tapi bagaimana lagi.... Beberapa yang tertarik ya hanya sebatas tertarik saja tanpa semangat untuk ikut. Ya sudah.... Blusukan must go on. Seperti biasanya nyuri waktu kerjaan (niru soalnya.... yang jadi teladan wae dolan terus) jadi ya coba balance lah. "Kerja terus kapan dolane". Wkwkwk.
Menuju Candi Bongkotan - Pasar Kumandang
 dari kerjaan sekitar jam 9 lebih, lewat jalur Ungaran-Sumowono-Kaloran-Temanggung-Wonosobo, dengan panduan peta di GMaps saya memantapkan hati, ditambah tawaran Mas Miko untuk bareng ke Candi Dieng menambah motivasi. Walaupun tentu saja nanti mempertimbangkan durasi, melihat jalur pulang padat merayap, bersamaan arus balik lebaran 1440H mestinya butuh waktu panjang agar durasi tak over time.
Juga ketemu dengan sedulur anyar, Mas Febri yang terlihat dari passion  situs nya sangat menarik. (Sedulur anyar di persitusan adalah penambah suplemen baru untuk penelusuran, tentu saja tak melupakan sedulur lawas... = Sedulur saklawase.
Menuju Candi Bongkotan - Pasar Kumandang
Tanpa mengurangi rasa paseduluran pula, nyuwun pangapunten untuk mas Seto, kali ini memang ku limpe. Berulang kali merepotkan tentu jadi sungkan.... Heheh. Tapi tenang masih ada watu gong .....
Tentu saja memperpanjang tradisi blusukan Syawalan yang biasanya bareng 2 Rekan Komunitas DEWA SIWA. Lewat GMpas, menuju Candi Bongkotan cukup mudah, walaupun penuh pengorbanan, jatah beli mie ayam untuk  beli kuota. Wkwkwk.
Singkat cerita, sampailah saya di Candi Bongkotan.. .
Beruntungnya, saya ketemu dengan Juru Pelihara, Ibu Siam. Sayang sekali beliau tak berkenan diambil gambarnya. Saya dapat cerita dari Bu Siam ini pula tentang penemuan Candi Bongkotan sekitar tahun 1989 pertama kali di ketahui oleh warga masyarakat, kemudian konon warga xxxxx maaf saya tak tega melanjutkan. Kemudian tahun 90an dinas terkait (BCB) melakukan penelitian. Maaf untuk data pasti saya belum tahu kapan kajian dilakukan.
Dari cerita Ibu Siam, diduga Candi Bongkotan lebih muda daripada Candi yang berada di Komplek Candi Dieng.
Reruntuhan Candi Bongkotan
Benar benar Tinggal Reruntuhan saja... kesan pertama saya saat sampai di Candi Bongkotan, dari jauh yang terlihat ...

Reruntuhan Candi Bongkotan
- jejak sumuran Candi plus lantai,
Sumuran Candi Bongkotan
Di sumuran ini yang menjadi 'nyawa sebuah bangunan suci, dimana terdapat 8 unsur batuan mulia... Entah dimana saat ini.
- Ada Yoni, tanpa lingga. Bentuk lumayan indah.... Dengan detail relief indah yang mulai aus dan penyangga cerat berbentuk 2 hewan mitologi kuno : ular Naga dan kita kira yang masing - masing melambangkan dunia atas dan dunia bawah. Namun sayangnya keduanya dengan kondisi kepala yang rusak.
Yoni Candi Bongkotan
- terlihat pula Lapik, dugaan ibu Siam ini bisa Lapik Arca atau tempat menaruh sesaji.
Lapik Candi Bongkotan

- yang menjadi perhatian saya tentu saja struktur batuan candi yang berdiri tegak, terlihat mirip lingga namun dengan ukiran yang lebih besar dari Yoni yang berada di pojok belakang kompleks candi bongkotan.










-Juga terlihat 3 Candi pendamping atau Perwara,
Candi Perwara Candi Bongkotan
Sedih rasanya, sebuah bangunan suci tinggal reruntuhan.... Walaupun apalah daya saya...
Ketika berdiskusi, kami (saya, Bu Siam dan Mas Febri) datang lagi Gus Syaiful.... (Di akhir cerita saya dapat banyak pencerahan mengenai Candi Bongkotan ini).
Jejak Relief, 
Relief Candi Bongkotan
Ketika saya sudah merasa cukup, seperti mendapat jawaban atas rasa sedih saya...., Gus Syaiful mengajak saya untuk melihat 3 makam kuno. Namun mohon maaf dengan sangat terpaksa saya tidak mempublish untuk kebaikan semua pihak. Tapi kesimpulan saya langsung berubah.
Masih bisa merubah, Candi Bongkotan bukan lagi sebuah reruntuhan jika warga masyarakat sudah siap lahir batin.... Saya yakin. Bila tidak ada lagi perasaan memiliki yang berlebihan niscaya Candi Bongkotan akan terlihat nyata.....
Pasar Kumandang Bojasari Kertek Wonosobo
Seperti yang saya lihat, di samping Candi Bongkotan Ada wisata Tradisional "Pasar Kumandang", yang pastinya keindahan Candi Bongkotan disandingkan dengan konsep wisata pasar Tradisional pasti dahsyat... Kalau Gus Syaiful berujar.... Jika SDM siap, pasti akan nampak.... Sesanti yang patut di cermati.
Harapan itu masih ada..... Saya yakin!
kopi khas Bongkotan, Bojasari, Kertek : homemade by Gus Syaiful
Mampir di rumah Gus Syaiful, dan saya dapat oleh2 Sebungkus Kopi Robusta khas Bongkotan. Yang diolah sendiri tangan beliau.... Rasanya ta menyesal saya datang kesini walaupun saat saya di Candi Bongkotan mengalami hal yang belum pernah rasakan dari 2010 saat saya keranjingan blusukan situs....
Rem depan motor yang tak berfungsi dengan baik plus lampu motor mati tak membuat saya kapok..... Bagi saya itu pertanda.. 3 jam berangkat, sedang pulang hanya 2,5 dan Durasi tetap aman... Plus cerita berkesan ini bisa saya wariskan ke anak cucu. Sungguh harus bersyukur.
Maturnuwun Mas Febri, Ibu Siam dan Gus Syaiful

Sampai ke temu di penelusuran berikutnya
Salam Pecinta Situs Watu Candi
#hobikublusukan