Tampilkan postingan dengan label sendang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sendang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2018

Situs Watu Lumpang Jatipelen Desa Wonorejo Pringapus : #2

Situs Watu Lumpang Jatipelen Desa Wonorejo Pringapus : #2
       Setelah dari Lumpang yang pertama, di Jatipelen Desa Wonorejo Pringapus, kami kemudian menyeberangi jalan, mengikuti pemandu kami : Mas Eka Budi dan masih bersama 4 mahasiswa KKN Unnes, “Ini lumpang yang kedua di dusun yang sama”, ucapnya sambil celingak-celinguk terlupa, karena sudah lama terakhir kesini, begitu alibi dari Mas Eka B. ‘Faktor U’, batin saya. 
     Beberapa saat kemudian, akhirnya ketemu juga, itupun  setelah semua terlibat mencari. Posisi sama dengan Watu Lumpang yang pertama, yaitu di pematang sawah, namun yang kedua ini kondisinya sudah terpotong tak utuh lagi. Walaupun lebih mulus, karena mungkin saja masih terpendam sebagian. Sedangkan yang pertama tadi sudah dipermukaan semua. 
     Namun kondisi sama-sama ditinggalkan. Watu Lumpang Jatipelen yang kedua ini kalau menurut saya auranya masih berwibawa. Entah kenapa perasaan saya merasa Watu Lumpang ini lebih Indah. 
     Sebelum-nya saya perlu intermezzo, mungkin yang membaca cerita perjalanan saya ini juga ada yang bosan, kok watu lumpang, lumpang lagi lumpang lagi... bagi saya walaupun banyak orang yang gak terlalu peduli bahkan meremehkan keberadaan watu Lumpang yang ‘biasa’, bukan ‘Sang Hyang Lumpang’ (berciri khusus seperti ada inkripsi, relief dll) namun bagi saya ‘cuek’ saja. Sesederhana pun, Watu Lumpang adalah jejak peradaban di masa yang telah lalu. Walapun tak menyentuh peradaban kebangsawanan hanya rakyat jelata. Biarlah yang meremehkan itu, karena orang orang tersebut merasa ilmunya sundul langit lupa melihat bumi, karena saya memang hanya ingin berbagi jejak peradaban saja. Maaf ya sahabat. Saya perlu menulis ini untuk memberikan pandangan saya juga. ---- dan untuk memotivasi diri sendiri.
Situs Watu Lumpang Jatipelen Desa Wonorejo Pringapus : #2
     Watu Lumpang yang kedua ini, secara fisik bentuknya berbeda. Terkesan agak kotak.
     Keberadaan 2 Watu Lumpang di satu area yang cukup dekat, bagi saya pribadi memunculkan dugaan ramainya peradaban waktu itu. 
Watu Pande
      Apalagi ada beberapa ciri lain, seperti tanah yang subur, dekat dengan mata air, dimana peradaban akan selalu dekat dengan ciri-ciri tersebut.
      “Tak jauh dari watu Lumpang ini ada sendang yang ada batu unik nya, Kalau warga menyebut dengan batu pande.” Jelas Eka Budi. 
     Konon menurut warga dulunya di sendang ini ada seorang empu yang bermukim dan ahli membuat senjata. 
     Jarak sekitar 100m dari Watu Lumpang.
     Namun entah kenapa, saya malah berasumsi ini adalah bakalan struktur sebuah bangunan, terlihat dari kotak-presisi yang ingin dibuat. 
      Kok bisa?! Jika ini adalah untuk menempa? Kenapa posisinya agak jauh dari air sendang. sekitar 2m. 
       Apakah tidak repot? Apalagi konon ini adalah sendang suci. 
     Jika ini batu asahan untuk mempertajam logam setelah di tempa, kenapa malah terlihat presisi? 
      Tentu saja tak ingin sedikitpun menggugat legenda yang telah mematri di hati warga tentang sendang pande ini, bahwa dulunya ada empu pembuat senjata. 
      Biarlah menjadi kearifan lokal, dan menjadi pemacu warga untuk tetap melestarikan legenda, sejarah desa nya. 
     Bersama Guide Eka Budi dan Mahasiswa KKN Unnes 2018 Kelurahan Gedanganak

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi 
Bersama Jagad : di Situs Watu Lumpang Jatipelen Desa Wonorejo Pringapus : #2
      Bersambung Lumpang Berikutnya : Lumpang Kawah Wonorejo Pringapus. 

#hobikublusukan

Kamis, 24 Mei 2018

Petirtaan Situs Kalitanggi Klero Tengaran : Sendang Kalitanggi


Petirtaan Situs Kalitanggi Klero Tengaran : Sendang Kalitanggi
Kamis, 24 Mei 2018. Tujuan terakhir dari ‘Blusukan Kemisan, edisi Puasa tetap seru blusukan’ di Klero. Yang pertama Sendang Klero, kemudian Situs Makam Kuno di Dusun Poncol Klero, dan yang terakhir ya yang sahabat baca ini. Dari Poncol, kami keluar menuju jalan raya, melewati Candi Klero. Keluar gerbang ambil kiri arah Solo. Setelah Jembatan kembar (tapi tak serupa), langsung ambil kiri. Ingat tepat setelah jembatan.
Diakhirnya nanti…. Sebenarnya ada jalan langsung lokasi tepatnya sebelum Puskesmas Tengaran (yen ra puasa mampir puskesmas iso njaluk traktir …. Apa kabar kawan yang kerja di Puskesmas Tengaran? Hehehhehe. Sori no name. rahasia! Wakakakka), Mas Eka Budi berujar, “Kalau lewat jalan cor itu tak akan tahu sensasi lain…“, maksudnya watu candi yang bertebaran di rumah penduduk, depan, samping dan belakang rumahnya.
Kami titip parkir motor di samping warung dekat cucian mobil. Kemudian berjalan kaki menuju sendang melewati jalan sempit sela rumah warga.
Sampailah,
Petirtaan Situs Kalitanggi Klero Tengaran : Sendang Kalitanggi
Sendang masih digunakan oleh warga untuk aktivitas.
Tempat Jemuran?
Banyak batu besar berbentuk kotak, beberapa ada pola.
Petirtaan Situs Kalitanggi Klero Tengaran : Sendang Kalitanggi
Petirtaan Situs Kalitanggi Klero Tengaran : Sendang Kalitanggi
Riyen kathah sanget mas, tapi akeh sing di colong, kependem juga” seorang warga yang sedang mencuci pakaian bercerita dengan logat medhoknya, sengaja tak saya translate.
Petirtaan Situs Kalitanggi Klero Tengaran : Sendang Kalitanggi
Beningnya Sendang Tanggi ini menggoda kami untuk menceburkan diri…namun sayang seribu sayang. Diatas sendang ini ada kandang hewan…. 
jalan Cor-coran sebelah puskesmas Klero menuju Kalitanggi
 Posisinya diatas, dibelakang rumah warga (posisi sendang memang dibelakang rumah tersebut) “Tau dong bagaimana baunya… dan mungkin kalian juga berpikiran sama dengan ku… “Bagaimana resapan kotoran itu? Apakah tidak pengaruhi air ini?”…. Achhh!!
Saya tak mampu berkomentar banyak… hanya satu kata : Eman! Satu lagi potensi ini terlupakan! Ide sederhana,  kenapa Desa Klero tak dijadikan desa Wisata? Kemudian asset situs di rekontruksi ulang menjadi sebuah kawasan wisata sejarah? Begitu susah ya? Candi Klero, 4 situs, Khas Buah Waloh, kerajinan, sungai besar yang masih bening. Alam yang sejuk…. Pokoknya banyak potensinya!
Keberadaan beberapa situs disekitar candi Klero menguatkan dugaan saya selain mestinya terkait, area ini mungkin dulunya sudah berkembang sebuah pusat (entitas kerajaan vassal) peradaban. 
Saya juga menduga (bahkan yakin!), bahwa petirtaan megah pernah ada disini. Kenapa bisa saya pribadi menduga seperti itu…. Yang paling utama; Beberapa tahun lalu, saya mendapatkan cerita dari pamong budaya kenalan saya, di Sendang ini dulunya ditemukan arca. Sudah pula Kab.Smg 1 menengoknya. Tapi atas dasar kesepakatan bersama arca tersebut dipendam lagi. Dengan pertimbangan keamanan. 
Dari bocoran yang saya terima, arca dengan tangan 4 dan dibawahnya ada sapi. Sudah jelas itu siapa. Semoga tetap aman disana!
Yang kedua, struktur batu kotak berukuran sangat besar, keberadaan makara, kemuncak mejadi bukti. “Makara yang ikonik sudah diselamatkan ke BCB”, jelas Mas Eka Budi. Kemuncak yang terbengkalai di sudut kebun, 

Yang ketiga ; kemudian seperti yang dijanjikan mas Eka, kami juga di tunjukkan beberapa struktur batu candi.  Sambil kami mengakhiri blusukan kali ini, kami pulang dengan sedikit jalan yang berbeda, masih melewati jalan depan rumah warga.
Ini berturut turut sensasi yang dijanjikan :
 

Kemisan kali ini, membuktikan bahwa meskipun puasa, tetap blusukan tak menjadikan puasa kami batal. Tentunya rekomendasi blusukan ke petirtaan saja… wkwkwkwk, iya pora mas Dhany? 
Dhany Putra 
Matursembahnuwun mas Eka Budi waktu istirahatnya terganggu (beliau sebenarnya malam sebelumnya kerja masuk malam).Foto Mas Eka Budi nunggu kiriman...
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Sampai ketemu lagi di Kemisan seru yang akan datang #gantiduet jadi lupa tak membuat video amatir.
 #hobiku blusukan

Situs Poncol Klero Tengaran


Situs Poncol Klero Tengaran
Kamis, 24 Mei 2018. Lanjutan dari Blusukan Kemisan, edisi Puasa tetap seru blusukan di Klero. Keluar Sendang Klero, awalnya langsung seperti rencana. Tapi mas Dhany ngeyel (dengaren iso ngece, “Durasimu kok cepetmen?!”), ya sudah, semoga ngeyelnya bermanfaat! Akhirnya saya ikuti. Sesampainya di jalan dekat candi Klero kami ambil kiri, kalau sebaliknya kearah jalan utama. Hanya sekitar setengah km saja, sampailah kami di dusun Poncol. Kami bertanya sebanyak 2 kali kepada warga tentang dimana keberadaan Sendang Pawon. Nama ini cukup memantik rasa semangat kami untuk menelusuri, bagaimana tidak? Di lokasi yang berbeda dengan nama berunsur ‘pawon’,  ada situsnya : sebut saja Kalipawon Ambarawa, Karangpawon Candirejo Tuntang, dan Watu pawon Kawengen Ungaran juga tentu ingat Candi Pawon.
Saat kami masuk gerbang Dusun Poncol terus terang ada wangi bunga khas, namun saya pribadi belum ngeh. (tetap baca ya). 100m setelah itu, kami parkir di masjid Dusun Poncol, seperti saran warga yang kami temui. Kemudian kami berjalan menuju Sendang Pawon (Sendang diarah depan masjid, seberang jalan). Melewati ratusan anak tangga yang menurun curam (--terbayang tantangan kami nanti, waktu kembali, semoga sepadan!).
Kemudian sampailah….
Sedndang Watu Pawon Poncol
Disambut ular sawah yang sedang ninis (saat akan saya foto mumpet malu mungkin). Kami celingukan, mengedarkan pandangan barangkali watu purbakala yang kami maksud disekitar sendang. Beberapawaktu kemudian kami pastikan hanya nama saja, kecuali batu unik yang tak bisa kami duga-duga ini apa:
Sendang Watu Pawon Poncol Klero Tengaran
Modus Mas Dhany kembali terulang, akhirnya saya ikuti pula….. wkwkkwkw
Beberapa waktu kami cari, akhirnya kami putuskan yntuk menyudahi. Kami kemudian dengan gontai meniti tanjakan tangga yang menurut kami semakin bertambah jumlah anak tangganya. Beruntung Mas Eka WP tak turut serta, bisa-bisa kumur ‘Degan Hijau’ beliau. Kami kemudian berniat lanjut menuju destinasi terakhir.
Kami kemudian kembali, niat kami langsung menuju sendang berikutnya. Saat lewat di gerbang tadi saya sempat terlintas dalam pikiran “apa ini ya, kok harum sekali??!”, tepat saat saya selesai berpikiran seperti itu. Mas Eka Budi menepuk pundak dan “Stop!”, teriaknya. Saya bingung sejadi-jadinya, kemudian dia balik badan dan berlari. Saya putar balik motor untuk nututi, ternyata…
Di sebuah lokasi (di pinggir jalan) berpagar batako keliling ternyata ada makam kuno. Hanya 1 makam. Makam tersebut memakai watu candi untuk nisannya! Rejeki memang tak akan kemana!
Selain watu candi tersebut yang membetot perhatian kami, keberadaan kayu tua yang sudah mati dan tumbuh disampingnya satu pohon kamboja. Nampaknya bunga kamboja inilah yang tadi saya hirup wanginya, padahal cuma satu pohon saja. Ach..!! saya tak tanggap ternyata. Untung ada Mas Eka Budi yang jeli.
Segera kami mengeksplor.
makam keramat Situs Poncol Klero Tengaran
Watu candi terlihat jelas polanya,
makam keramat Situs Poncol Klero Tengaran
Disekeliling lantai area makam ini sudah dipaving, sehingga kami tak tahu lagi watu candi lain yang mungkin saja digunakan untuk lantai. Berbagai kemungkinan bisa saja ; entah watu candi ini awalnya bagian strukur Candi Klero yang dibawa kesini untuk dijadikan makam. Atau malah diarea ini dulunya ada pula bangunan suci masa lalu? Dugaan berseliweran di pikiran kami.
Makam Mbah Poncol, Situs Poncol Klero Tengaran
Seorang ibu yang rumahnya tepat disamping makam ini, saat kami tanyai hanya bilang, “Makam Keramat mas, sing mbabat alas alias pendiri dusun poncol ini, warga menyebutnya Kyai Poncol”, urai ibu tersebut. Cerita ya hanya terbatas itu. Karena beliau juga menambahkan bukan asli warga Poncol. Semoga suatu saat ada yang melengkapi cerita ini (berkenan meninggalkan komentar). Agar cerita tetap terjalin sampai nanti.
Karena waktu sudah menunjukkan jam 11, kami kemudian segera untuk menuju destinasi terakhir.
Crew Kemisan kali ini, Saya, Eka Budi dan Dhany Putra…,
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Lanjut menuju Sendang "Kali Tanggi" masih di Klero Tengaran. #hobiku blusukan