Tampilkan postingan dengan label Serat Kuno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serat Kuno. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

Serat Panji Asmara Bangun : Pesanggrahan Tambak Baya


Pesanggrahan Tambak Baya
(03)

Panji terus bersedih hati di taman mengingat penjelmaan Sri. Doyok dan Prasanta berlucu-lucu tidak pada tempatnya diantara mereka sendiri. Saat ini Prasanta bercerita tentang pengalaman isteri Raja Kadiri yang tertua kepada Panji. Panji menganggap pemberitahuan itu sungguh-sungguh dan ingat akan berbagai kemungkinan.
Jalayana raja seberang tiba di pantai Jawa dengan angkatan lautnya. Mereka mendiami Pasanggrahan Tambak Baya. Dalam suatu rapat umum, patih memberitahukan kepada raja, bahwa puteri raja Kadiri bernama Mindaka, sudah dikawinkan dengan sang Panji, tapi perkawinan itu tidak baik jadinya: penganten laki-laki tidak suka pada penganten perempuan. Raja segera menyuruh susun sepucuk surat untuk menyunting penganten perempuan itu. Dua orang raja taklukan membawa surat itu kepada raja Kadiri. Sambil menunggu balasan, sang raja bersenang-senang dalam hutan yang dekat dengan berburu.
Raja Kadiri bersedia menerima tamu, patih menceritakan kepadanya tentang kedatangan Jajalalana. Para utusan yang membawa surat diberitahukan kedatangannya dan diminta masuk. Disusun surat balasan, persiapan-persiapan dilakukan untuk menghadapi perang. Raja kembali kekeraton dan memberitahu tentang maksud Jajalalana. Putrinya sang mempelai ketika ditanya apakah mau kawin dengan Jajalalana, menjawab bahwa ia tidak mau.
Saat ini diceritakan penjelmaan tentang Sri. Ia mempunyai seorang saudara pria bernama Jaka-bodo. Sri menyuruh saudaranya ini ke pasar menjual sebuah Sumping (perhiasan telinga berkembang) seharga 1000 rupiah. Jaka-bodo berangkat ke pasar membawa Sumping, tiap orang yang melihatnya ingin membelinya, tapi harganya terlalu mahal. Orang berkerumun . doyok berlucu-lucu lagi. Panji tertarik perhatiannya dan disuruh panggil orang yang menjual sumping itu. Setelah ia melihat penjual Sumping itu ia merasa terhibur. Dibelinya Sumping itu dan senantiasa ia teringat kepada pembuatnya. Bagaimanakah konon rupanya? Esok paginya Panji bersama Punakawannya (pelayan-pelayannya) pergi ke hutan untuk berburu.
Raja Temon menunggu dengan tak sabar saudaranya pulang, akhirnya ia dating dengan uang, hasil penjualan Sumping. Sementara ia menceritakan kepada Wara Temon, bagaimana terjadinya jual beli, datanglah Gajah-gumanglar hendak memaksakan kemauannya. Tapi kali ini ditolak dengan janji-janji. Temon makin mengharapkan kedatangan Panji.
Esok paginya Nyi Bantrang dan suaminya pergi ke pasar. Panji yang mengembara ke dalam hutan, kehausan, ia pergi ke sebuah desa untuk minum dan dengan demikian tiba di rumah Temon, Temon keluar dengan air dalam Pinggan emas. Panji jatuh pingsan. Temon dipanggil lagi keluar untuk membikin siuman kembali. Hal ini dilakukan dengan sirih yang dimamahnya.
Panji dan Temon masuk bersama-sama. Para Punakawan duduk di pintu. Bantrang dan istrinya kembali dari pasar. Prasanta menenangkan hatinya, katanya sang pangeran sedang di dalam bersama anaknya. Dalam pertemuan Panji dengan Bantrang, Bantarang menceritakan pengalaman-pengalaman Temon. Selanjutnya Bantrang jiga menceritakan tentang Gajah-gumanglar. Panji berjanji akan membinasakannya kalau dia datang lagi. Baru saja Panji habis bicara, muncullah Gajah, berseru dari jauh supaya Temon menyongsongnya. Menyusul perkelahian antara dia dan Panji, dalam perkelahian itu tentu saja Gajah kalah. Gajah mati kena panah.
Saat ini Temon dibawa sang pangeran ke kota. Prasanta disuruh berjalan dahulu untuk memberitahukan, bahwa puteri raja yang hanyut dahulu sudah ditemukan kembali. Suatu rombongan yang besar menjemput sang puteri. Waktu bertemu, Kili-suci memeluk sang puteri. Dimulailah perjalanan panjang ke kota. Kanjeng sinuhun raja mengenali puterinya dan bertanya kepada Bantrang bagaimana jalannya peristiwa. Bantrang bercerita. Untuk memeriksa kebenaran cerita Bantrang. Sri Ratu Rago yang dihukum, dipanggil dan ditanyai. Tapi ia tidak ingat suatu apa, karena waktu ia dalam keadaan pingsan. Saat ini seorang anak kecil berumur 4 tahun disuruh menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Anak bayi itu menceritakannya dan semua yang hadir senang. Kemudian anak itu meminta kepada sang raja menghukum isterinya yang jahat, jika tidak maka para dewa akan marah kepada kanjeng sinuhun. Mendengar kata-kata itu raja Kadiri marah kepada isterinya yang kedua, hendak ditikamnya isterinya itu.
Narada tiba-tiba muncul dan menahan raja berbuat demikian, katanya segala itu terjadi karena kemauan para dewa. Pun kelahiran Sekar-taji adalah kemauan para dewa. (Temon setelah dikenali) ikut pula membantu dalam kejadian yang menyedihkan dengan sang puteri. Setelah para Punakawan berlucu-lucu, narada menghilang lagi. Diadakan pesta besar. Kemudian menyusul perang besar yang berakhir dengan kematian Jajalalana. (suatu kejadian yang selalu kita dapati dalam kisah Panji)—akhir naskah Brandes No. 150.


Serat selanjutnya : Buah Perjuangan
Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi “Nguri-Uri Budaya”


Selasa, 20 September 2011

Serat Pulo Kencana : Jati-pitutur dan Pitutur-Jati


Jati-pitutur dan Pitutur-Jati
(09)

Dari batu yang pecah itu keluar dua orang. Mereka itu membawa kedua anak tersebut kepada raja, yang mengenali pendatang baru itu sebagai penjelmaan kembali Jati-pitutur dan Pitutur-jati. Raja member mereka nama Jurudeh (juga disebut Dojok atau Sadulumur) dan Prasanta. Kini raja menyuruh buatkan Panji sebuah tempat tinggal di Utara pasar besar. Tempat kediamannya ini disebut Kasatriyan. Setelah itu raja mendapat anak lagi, mula-mula seorang putra bernama Panji-anom, Lempung-karas atau Carang-waspa. Kemudian seorang puteri bernama Dewi Kanistren, tapi anak ini pada hari ketujuh setelah lahirnya, diberikan kepada patih Kudana-warsa. Yang bungsupun seorang perempuan, disebut Ragil-kuning atau Onengan. Dari saudaranya pria yang banyak, yang tinggal pada Panji hanya Punta, Kertala, Lempung-karas dan Onengan beserta dua orang pria yang keluar dari batu.
Panji mnegrjakan pertanian. Apabila masa panen disuruhnya panggil semua perempuan Jenggala Manik untuk itu. Semua perempuan dari seluruh kerajaan, tua dan muda, berdatangan untuk mencabut padi, bahkan juga nyonya-nyonya Gambir(an), Gang Pinggir dan Gang Tengah. (Ketiganya nama-nama kampung dari Betawi), dating. Musik gamelan dan lain-lain, permainan hiburan meramaikan pesta panen ini.
Janda yang dulu miskin tapi saat ini sudah menjadi kaya itu, menyuruh kedua anak angkatnya ikut memotong padi, karena ia takut pangeran akan marang bila mereka tidak serta. Tapi anak-anak itu menolah, katanya tidak biasa memotong padi, lagipula janda itu banyak padinya didalam lumbung. Karena keingkarannya anak-anak itu diusir dan merekapun pergi. Tapi baru saja mereka berangkat, semua harta milik janda itupun lenyap. Sri dan Unon kini berjalan ke timur, ke jurusan persawahan Panji. Setelah sampai di sawah, kedua anak gadis itu kaget karena bertemu dengan babi Kamandalu (dalam Manikmaja  : Kala Gumarang dan dalam cerita Sri-sedana : Celeng Damalung). Atas pertanyaan mereka apa mau binatang itu, mereka mendapat jawaban : aku hendak membinasakan sawah Panji. Sri melarang binatang itu melakukan pekerjaan itu, tapi binatang itu tetap berkeras. Akhirnya binatag itu dibunuh oleh Sri dengan Sadak (Daun Sirih yang digulung dengan kapur didalamnya). Darahnya memancar kemana-mana dan itulah asal segala penyakit padi.
Waktu berjalan di pematang sawah, Sri terinjak duri. Ia marah. Ia duduk diatas keranjangnya yang terbalik dan dicobanya mengorek duri itu keluar dari kakinya.
Tiba-tiba sawah Panji berobah dari hutan, binatang liar berlarian kian kemari. Mereka berlari-lari kemana-mana dengan tidak memperdulikan pakaian dan perhiasannya. Senanglah hati penjahat-penjahat Cakrajaya Ang, yang keluar untuk menggarong.
Panji bertanya pada Prasanta, apa sebab kekacauan itu. Prasanta tidak dapat menjawab. Lalu diadakan penyelidikan dan Panji menemukan kedua gadis itu, yang seorang sedang menarik duri dari kakinya. Panji menolong menariknya, dan setelah duri itu keluar, gadis itu membalikkan keranjangnya lagi dan hutan itu berubah kembali lagi menjadi sawah seperti dulu. Panji berniat mengambil gadis itu sebagai istri. Prasanta disuruhnya pulang lebih dulu ke keraton, untuk mengatakan kepada raja. Bahwa Panji akan kembali dengan bakal istrinya.


----Tamat----
 
Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi kebudayaan

Serat Pulo Kencana : Kota Singasari


Kota Singasari
(08)

Tidak lama kemudian ia pun pulang ke perkampungannya, Singasari sambil membawa isterinya Puteri Pregi Wangsa. Dia sendiri bernama Parta Kusuma. Saat ini Jati-pitutur dengan jalan sihir menciptakan empat orang patih : Kudana Warsa menjadi patih Jenggala Manik, Jayabadra patih di Kadiri, Jaya Singa patih Urawan dan Jaya Kacemba patih Singasari.
Kili-suci tetap tidak kawin. Tempat kediamannya yaitu di hutan Kapucangan. Keempat raja mengingini pendewati itu supaya tinggal bersma mereka. Jati-pitutur dengan jalan sihir menciptakannya pula menjadi empat dan kini tiap raja mendapatkannya untuk tinggal bersamanya.
Saat ini semua sudah beres, Jati-pitutur dan Pitutur-jati pamitan dengan raja Jenggala Manik. Mereka meramalkan kepada raja, bahwa kanjeng sinuhun akan mendapatkan seorang putera yang berani dan cakap, puteranya itu akan dijaga oleh orang-orang yang keluar dari batu.setelah berkata demikian Jati-pitur dan saudaranya menghilang untuk kembali ke tempat dewa-dewa.
Raja Jenggala Manik sakit raja Singa, penyakit itu baru akan sembuh kalau kanjeng sinuhun akan meniduri seorang perempuan Papua. Permaisuri teringat bahwa ia akan mendapat seorang, yaitu aank seorang raja dari Wandan-kuning dan sebagai seorang tawanan, ia sudah lama hidup tersia-sia.ia tinggal di dapur dan tidak mempunyai pakaian, kecuali yang lekat di badannya. Setelah mandi dan mendapatkan pakaian yang baru, ia pun ditiduri oleh sang raja. Penyakit raja segera sembuh. Tapi seorang perempuan Papua itu mengandung dan melahirkan seorang anak pria yang disebut Brajadenta juga Panji Tohpati atau Prakosa. Jadi ia kini adalah putera raja yang tertua. Setelah itu sang raja masih banyak lagi mendapatkan anak dari selirnya, tapi tidak seorang pun anak perempuan. Tapi ia jatuh sakit lagi, sekali ini penyakitnya itu hanya akan sembuh dengan meniduri seorang perempuan Bali, perempuan itupun mengandung pula. Karena marahnya raja memerintahkan supaya budak itu ditanam hidup-hidup, ia tidak sampai hati menyuruh bunuh dengan keris. Tapi budak perempuan itu tetap hidup di dalam tanah dan melahirkan seorang anak pria yang badannya dituksr oleh para dewa dengan bahan yang kuat.
Sambil membawa ibunya di telapak tanganya, ia keluar dari dalam tanah dan pergi kepada raja, ia diterima oleh raja sebagai puteranya dan disebut Raden Pamade. Putera-putera raja dsebutkan satu persatu.
Saat ini diceritakan tentang dua onang bersaudara, seorang pria, seorang lagi perempuan. Keduanya dikasihi oleh para dewa. Yang perempuan bernama dewi Sri dan yang pria Sedana. Mereka sebenarnya adalah Cri dan Wisnu. Mereka mengembara di dalam hutan, tidak tahu akan pergi kemana. Yang pria jatuh cinta kepada saudaranya. Saudaranya pun berjanji pula seperti itu. Tapi karena  mereka bersaudara, yang perempuan menolak dengan tegas keinginan saudaranya pria dan berjanji baru akan menuruti kemauannya, kalau mereka keduanya sudah dilahirkan kembali untuk kedua kalinya. Yang pria menerima syarat itu dengan senang hati dan menikam dirinya. Mayatnya jatuh cerai berai dalam jurang. Dewi Sri tinggal seorang diri dan ia menangis. Air matanya berobah menjadi seorang perempuan yang jelita, yang beriidri di depannya. Perempuan itu diambil saudara oleh Sri dan diberi nama Unon. Atas permintaan Sri, ia dikemudian hari harus menjelma sebagai Puteri Urawan. Kini keduanya tinggal pada seorang janda miskin bernama Sambega. Sejak kedatangan Sri dan Unon di kediamannya, janda itu menjadi amat kaya.
Kemudian diceritakan tentang Puteri Keling (Isteri pertama Raja Jenggala Manik). Hingga kini ia tidak mempunyai anak, karena itu ia amat berduka cita. Raja menghiburnya, dan tidak lama kemudian mulai Nampak tanda-tanda ia mengandung.
Sedana masuk dalam dirinya. Ia melahirkan seorang putera, yang disebut Panji (Raden Putra, Gagak-pranala, Kudarawisperga) atau Marabangun.
Di sebelah barat Alun-alun ada sebuah batu rata yang besar yang amat keramat tapi juga amat berbahaya. Barangsiapa menyentuhnya mati. Panji mempunyai seorang ibu susu bernama Madu-keliku, tapi ia tidakmau menyusu padanya. Untuk makannya ia hanya menghisap ibu jarinya, karena marahnya, Madu-keliku tatkala tidak ada orang lain, melemparkan anak itu keatas batu tersebut, batu itu terbelah dua, sedang anak itu tidak apa-apa.


Serat selanjutnya : Jati-pitutur dan Pitutur-jati

Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi kebudayaan.

Jumat, 10 Desember 2010

Serat Nagri Ngurawan : Curiganata


Serat Nagri Ngurawan : Curiganata


Curiganata
(01)

Curiganata melihatnya, lalu mencemplungkan diri ke dalam pertempuran. Ia berjauang dengan tabag, betapapun sengit ia diserang oleh para wanita. Ia bermeditasi ditengah pertempuran. Para dewa bingung. Narada dikirim kepada Wasi itu. Pertapa itu menuntut supaya tentara Jenggala Manik dipulihkan, tuntutannya dipenuhi. Pertempuran dimulai lagi. Sang Wasi dihujani kembang dan wewangian, ia tidak tahan. Haripun malam.
Dengan tidak sabaar Raja Daha dan Raja Urawan menunggu kedatangan Jayakusuma di gunung. Setelah menakhlukkan Bali, Jayakusuma tetap tinggal di Bata-bang. Ia tidak segera datang oulang ke pulau Jawa. Karena Prasanta sakit. Dicarikan obat untuk orang sakit itu. Pangeran Urawan datang kepada Panji membawa sepucuk surat. Dengan lisan diceritakannya tentang keadaan di kedua istana dan bagaimana sifat musuh. Panji bersiap-siap untuk berangkat ke Urawan. Prasanta dibawa dalam tandu. Ratu Tawang-Gantungan keluar. Diperintahkannya utnuk menyerang Singasari saat itu. Balatentara berangkat.
Dalam pada itu Jayakusuma tiba di Urawan dengan balatentara yang besar. Raja menyambutnya dan orang bergembira karena mengenalinya sebagai putra mahkota kerajaan Jenggala Manik. Segera Panji berangkat menempuh musuh. Pertempuran diteruskan. Surengrana turutserta, ia naik keretanya bernama sagaruki. Pertempuran tambah seru, prajurit wanita mempergunakan berbagai kembang dan wewangian sebagai senjata. Kereta Surengrana hancur. Panji datang menolong. Tersebar desas-desus, bahwa Panji tertangkap oleh musuh. Canra Kirana menyerbu ke medan pertempuran, ia bertemu Panji yang membawanya kembali.
Pangeran-pangeran Jenggala Manik yang ditawan, dimasukkan dalam kurungan, tapi mereka diperlakukan dengan baik sekali. Panji ditempat kediamannya membicarakan dengan para istrinya betapa sukarnya menakhlukkan musuh. Ia ingin mendoa. Karena doanya keinderaan geger. Narada datang kepadanya, member nasehat supaya mengikutsertakan Prasanta dalam perang. Narada menghilang. Panji kembali kepada para istrinya dan memberitahukan kepada mereka kejadian tadi

 Serat selanjutnya : Prasanta sembuh kembali

Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi peradaban agar lestari…. Dari buku Kitab Jawa Kuno

Rabu, 03 November 2010

Serat Panji Asmara Bangun : Menak Agung


 Menak Agung
 (07)

Saat ini diceritakan tentang raja Bali yang amat berkuasa dan memerintah negerinya dengan baik sekali. Pada suatu kali, ia hendak bersenang-senang dengan berburu. Untuk itu disuruhnya panggil orang-orang besarnya. Menak Agung dan Cau (Sadulumur dan Prasanta) harus mempersiapkan segala sesuatu untuk perburuan. Suatu rombongan besar bergerak menuju hutan, tempat berburu. Perburuan pun dimulai. Banyak perburuan binatang ditangkap.
Sementara sang raja berdiri dibawah payung dekat pohon Tangguli, seekor ular datang mendekatinya, sebesar pohon Tal. Karena ketakutan, orang-orang pada lari kucar-kacir. Sang raja tinggal seorang diri dan dilihatnya ular itu semakin mendekat. Tapi baru saja ular itu sampai di tempat raja, Jaja-asmara pun datang berlari-lari, dipegangnya kepala binatang itu dan diputarnya sehingga putus dalam sekejap, sekalian yang melihatnya terheran-heran. Sang raja menghadiahinya kerajaan Linjangan, dengan hak memakai gelar adipati.
Setelah banyak binatang perburuan terkumpul, diberilah tanda untuk pulang. Sang raja segera tiba di pagelaran (beranda muka)keraton, dimana dibicarakan lagi untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan yang berdekatan (syair 24-26 ada bagian-bagian yang rusak, sehingga tidak dapat dimengerti). Mula-mula direncanakan akan menaklukkan kerajaan Balambangan, setelah itu Tuban dan seterusnya. Sang raja menyetujui rencana itu. Segera orang-orang dikumpulkan untuk bersiap-siap mencari perjalanan penaklukan itu.
Jaja-asmara berangkat dengan tentara yang besar ke Balambangan. Dengan cepat mereka menyeberangi selat Bangawan (Bali) dan mengadakan pertahanan di pelabuhan.
Raja Balambangan duduk dihadap oleh para pembesarnya. Sang Patih, Nila Bangsa memberitahukan tentang kedatangan musuh. Ditulis surat pada Wirasaba dan Sandi-waringin. Dalam pada itu tentara Balambangan dikerahkan. Pertempuran dimulai.
Pertempuran dilanjutkan, raja Balambangan tewas. Keraton diduduki oleh Jaja-asmara. Yang masih hidup menyerah. Seorang keponakan raja yang tewas, diangkat menjadi raja oleh Jaja-asmara. Raja baru ini harus menghadap raja Bali, dengan membawa upeti sebagai bukti penyerahan. Raja-raja Wirasaban Sandipura dan Sandi-waringin  harus melakukan demikian pula. Dikirimsurat edaran ke Bupati lain di Bang Wetan, mengatakan bahwa barangsiapa tidak menyerahkan diri akan dibinasakan.
Setelah menerima pemberitahuan itu para bupati Bang Wetan memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Bali. Mereka membawa upeti dan menyerahkan puteri-puterinya kepada raja Bali. Jaja-asmara setelah mendapat kemenangan pulang ke Bali.

Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi “Nguri-Uri Budaya"Serat selanjutnya : Raja Bauwarna

Serat Panji Asmara Bangun : Raja Bauwarna


Raja Bauwarna
 (08)

Saat ini diceritakan tentang Raja Bauwarna. Sudah empat puluh hari lamanya, bahkan dua bulan dia tidakmuncul-muncul. Ia berhasrat sekali hendak menaklukan Bali. Tapi tidak ada yang berani menaklukan tugas itu, karena Bali amat berkuasa. Kini sang Raja keluar dengan segala kemegahan. Para pembesar hadir semua. Disebutkan para pegawai-pegawai. Astra Miruda dan Astra Wijaya. Yang pertama memakai dodot merah pun hadir. Raja bertanya kepada patih Jaja-singa, siapa yang ingin memikul tugas menaklukan Bali. Patih menjawab “Tidak ada, sudah diminta kepada orang Urawan, tidak ada yang berani. Hanya Jaja-kusuma yang belum diminta pendapatnya tentang itu, Pun dengan Astra Mirusa dan Astra Wijaya. Sang raja menyuruh panggil tumenggung untuk berbicara sendiri dengannya.
Tumenggung datang. Kepada raja mempertanyakan keselamatan kerajaan Urawan. Tapi raja hendak menaklukan Bali ( juga disebut Nusa kembangan. Pulau kembang”. Panji berjanji kepada raja akan melaksanakan tugas itu. Astra Miruda dan Astra Wijaya pun berjanji demikian. Raja puas dan mengundurkan diri. Yang tinggal di paseban mempertanyakan soal penghormatan dan gaji tumenggung yang tidak sesuai dengan jasa-jasanya, orang lain yang belum melakukan apa-apa untuk kerajaan, lebih banyak penghasilannya. Percakapan ini tidak diteruskan. Orang pada bubar. Astra Miruda pulang naik kuda dengan bertudung payung, Astra Wijaya pun juga, bahkan meliputi kerisnya dengan punya kainnya (suatu tanda orang pesolek). Tapi Jaja-kusuma berjalan kaki saja dan tidak pula berpayung. Orang yang melihatnya mengira, bahwa ia pasti habis kena marah raja, tapi mengapa? Orang yang mengetahui lalu menceritakan keadaan yang sebenarnya: ia harus menaklukan Bali.
Sureng-rana, puteri Cemara, ia menyesali Panji (dengan banyak menggunakan wangsalan), sambil menangis. Seorang emban menghibur hatinya dan mengusulkan supaya ia menyongsong suaminya “tapi ia diusir seperti kucing dan puteri itu bertambah keras tangisnya.
Jaja-kusuma duduk di pendapanya. Dikelilingi oleh para sentana dalem. Dikatanaknnya bahwa ia mendapat perintah dari raja. Untukmenaklukan Bali. Para sentana dalem berjanji akan menolongnya.
Dalam pada itu datang emban, mengatakan bahwa istrinya sedang menangis dengan sangat. Panji berdiri dan mendatangi istrinya yang masih marah kepadanya. Dipeluknya istrinya itu, tapi ia coba melepaskan diri.
Panji menghibur hatinya. Dimintanya supaya ia tinggal di rumah, apabila ia pergi berperang, tapi istrinya menjawab bahwa ia ingin ikut serta, diapun seorang satria, katanya. Disuruhnya saudaranya mempersiapkan pakaian perangnya. Adegan kamar. Omong-omong para emban.
Patih sekonyong-konyong datang ke tempat kediaman Panji, mengetuk pintu. Terkejut Panjikeluar dari kamarnya, hanya berbaju dalam. Isterinya pun hanya berbaju tidur. Patih tidak berani memandang Pnanji. Dan membalikkan diri. Surengrana menarik kembali suaminya kedalam, dan memberinya pakaianyang pantas pertemuan.
Ketika ditanyakan, patih menjawab bahwa ia diutus oleh sang raja untuk menyerahkan pusaka kerajaan kepada Panji. Dengan jalan demikian ia menguasai kerajaan.
Selanjutnya patih berkata, bahwa raja marah kepada Astra-wijaya. Apa sebabnya ia tidak tahu. Sang patih pulang. Panji bertanya kepada para Kadejan, apakah ada yang mengetahui kenapa raja marah kepada Astra-wijaya. Salah seorang dari mereka, Jaja-sentika, mengatakan bahwa Astra-wijaya disangka memasuki keraton,hal itu sudah dilakkukannya tiga kali dan sekali sang raja sendiri melihatnya. Raja melemparkannya dengan parang tapi tidak kena. Panji tersenyum.
Surengrana berkata, aneh sekali bahwa raja memberi gajah betina kepada orang yang pergi berperang. Bukankah gajah betina itu hanya bisa dipergunakan untuk mengangkut harta rampasan? Panji memujinya atas pemandangannya yang tepat itu. Lalu disuruhnya Astra-miruda datang kepadanya.
Saat ini diceritakan tentang Astra Miruda, kepala mantra anom. Dia berlaku sebagai don juan, wanita-wanita Singasari menjadi korban kenakalannya. Ia senang sekali menyabung ayam dan permainan taruhan yang lain. Para penjudi dimintanya datang kerumahnya untuk bermain. Kekayaan dan perhiasan yang dibawa istrinya dari Patani, segera tandas. Malahan hamba sahajapria dan perempuan digadaikan kepada orang Cina. Kewajibannya diabaikan. Isterinya sedih karena perbuatannya ini, ditambah lagi karena suaminya bersuka-sukaan dengan Puteri Urawan. Ia menyesalkannya. Ia menangis dengan sedih di tempat tidurnya, bantal dan guling dilemparkannya. Seorang emban mencoba, tapi sang puteri berkata : tutp mulutmu, kalau tidak kulempar kepalamu dengan penumbuk sirih ini. Emban ketakutan oleh ancaman itu dan pergi kepada Astra-miruda yang sedangmemegang burung, emban itu menceritakan halnya. Astra-miruda mendapatkan isterinta dan menghibur hatinya. Tapi ia tetap marah kepadanya dan bertanya kemana suaminya itu pergi malam anu dan malam anu. Suaminya menjawab, “Aku pergi ke Pangeran Sinjanglaga”. Dimajukannya kagi beberapa pertanyaa, mengapa Miruda tidak pulang kerumah. Miruda terus memberikan jawaban mengelak. Sang puteri mengemukakan satu pertanyaan lagi: Mengapa kau pulang tidak berbaju hari Jumat?” suaminya menjawab: “Aku berjudi di kampung cina dan kehabisan segala”.
Sekonyong-konyong datang seorang perempuan dari keraton, diutus oleh Puteri Urawan, untuk mengembalikan pakaian Astra-miruda yang ketinggalan karena terburu-buru, bersama sepucuk surat dalam bungkusan kertas dengan kembang. Dalam surat itu sang Puteri mengatakan, bahwa Miruda tidak memegang janji.
Isterinya mengingatkan Miruda, bahwa perbuatan itu bersahaja, tapi Miruda menenangkan hati istrinya.


Serat selanjutnya : Jaya Kusuma
Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi “Nguri-Uri Budaya

Jumat, 22 Oktober 2010

Serat Niti Praja : Serat Nitipraja


Serat Nitipraja
(01)

Bagaikan tenggelam dilautan api, perasaan hatiku saat ini, ketika menuliskan serta ini, aku diberi nama Serat Niti Praja, maksudnya ingin menir para Pujangga, membuka pemikiran, setelah tiada nanti, memaksakan diri dengan bahasa indah, mengikuti orang-orang cerdik pandai, agar bisa digunakan teladan dan pedoman.
Diksiahkan dalam tembang ini, hidup ini seperti menempuh jurang yang dalam dan dataran luas, sungguh susah, demikian keras tantangannya. Karena itu, ingatlah segala kejadian wahai Pamong Praja, bulatkanlah tekad bersama rakyat dan para cendekiawan, bermusyawarahlah dengan baik, bersatulah dalam tujuan.
Sudah berubah zaman ini, hilang semua tatanan, orang yang tidak tahu akan nista jasadnya. Bagi yang tahu bagi kebajikan, jasadnya seperti intan, bersinas diatas batu. Karena itu latihlah sehari-hari, jangan pernah menyerah menghadapi bahaya, kuatkanlah jiwa ragamu.
Jika kamu menjadi Bupati, dekat dengan Raja, seperti Surya terangnya, tapi ingatlah selalu, tajamkanlah hatimu, jadilah seperti samudera, yang memuat apa saja dan menjadi muara, rakyatmu dan saudaramu, ketahuilah seperti daun hendak bertunas lagi, dimusim yang keempat.
Pujian, makian dan celaan dari orang lain, tahankan seperti dedaunan menahan air hujan. Sebaliknya buatlah agar mereka bergembira, beri sandang dan pangan, buatlah wanita merasa terhormat, sabdakan hal itu kepengikutmu, berlatih berbelas kasih dan suka berdema supaya manusia taat.
Dalam persidangan di hadapan Raja, jika dihadap dibalai Penangkilan lengkap seluruh menteri, jangan terburu engkau bersabda. Jika kamu tidak tegap duduknya, jalannya tidak mantab, maka akan kurang wibawa di depan punggawa, tatalah pandangan. Pandanglah dengan tegas tapi manis, bersabdalah dengan alunan jiwamu.
Pandanglah semua hadiirin, sebelum berkatapikirkan baik-baik, dari awal hingga akhir, duduklah dengan mantab, telitilah semua perkataan mereka, agar mendapat laporan yangbenar, karena jika tidak satu ketika akan meruntukan wibawamu.


Serat (Serat Nitipraja ) selanjutnya : Laporan Para Menteri

Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi peradaban agar bisa terbaca anak-cucu…. Dari buku Kitab Jawa Kuno