Selasa, 23 September 2014

Situs Watu Kodok Pledokan Sumowono

Situs Watu Kodok
       Blusukan lanjutan dari Situs Kunto Bimo.... dari bantir Sumowono... Ikuti jalan desa tersebut.... cari arah langsung ke Pledokan... (masih relatif mudah bertanya ke warga (berbeda jika di kota besar). Sumber data keberadaan situs ini dari Dinas Pariwisata kabupaten Semarang. Namun, entah gambar itu tahun berapa (yang di atas) .... karena pada saat saya dan rombongan kesana : Mba Derry (bersama anaknya) , Mas Wrong Way dan mas Eka WP... sangat berbeda kondisinya.

Cari petunjuk ini : 


       









    
       
       Jika tidak salah itung, mulai dari situs kunto bimo.... kami bertanya sampai 10 kali kepada warga yang ditemui... (benar2 blusukan). Situs Watu kodok berada di Dusun Ngaglik, Desa Pledokan, kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Tepatnya di bukit Ndadi.
      Ada legenda yang turun temurun di masyarakat : mereka mengkeramatkan batu batuan ini karena tuahnya untuk mendatangkan hujan. Yang dapat mencukupi kebutuhan air bagi pertanian yang ada di wilayah ini.
     Sebuah kearifan lokal, jika kita hubungkan dengan keberadaan katak yang memang hewan yang identik dengan kehadiran hujan maka kita mahfum... kemudian kehidupan katak yang ada dalam dua dunia (air dan darat)... memang menjadikan katak ini spesial....
 sebuah cerita dari blog sebelah : 
Hewan transisi antara darat dan air karena hidup di dua alam tersebut. Beberapa legenda mengatakan katak hewan yang berasal dari bulan. Katak juga dianggap sebagai penentu turunnya hujan. Bagi masyarakat Mesir kuno katak dianggap sebagai hewan pembawa kesuburan. Ini didasari oleh kehadiran mereka di sungai Nil sebelum terjadi luapan sungai yang mendatangkan kesuburan. Menurut Blavatsky, sifat ampibi dan muncul serta hilang menjadikan katak sebagai salah satu mahkluk utama dalam ide penciptaan dan kebangkitan. Katak juga melambangkan puncak evolusi manusia yang diperkuat oleh cerita rakyat mengenai katak yang menjelma menjadi manusia.
   
 Menuju Bukit Ndadi, Dusun ngaglik ini sungguh butuh perjuangan.... apalagi yang berlebih lemaknya...hehehehe.. (ampun nesu lo ya)..... Medan menanjak sangat membakar lemak.... bahkan mas eka sempet bilang " pulang dari sini dadi gering... hahahahah.
     Namun..... Perjuangan bukan (/memang) sia sia? yang ada Perasaan kecewa.... sedih dan marah bercampur..... Situs Watu Kodok hanya tinggal beberapa sisa batu (yang dulu dikeramatkan) berwujud telur kodok....
Gambar Sisa Sisa Situs Watu Kodok itu ... :



Situs Watu Kodok
    Nampaknya situs ini tak lagi di hormati.... tak lagi dianggap sakral... sudah terbengkalai... berganti menjadi sebidang lahan pertanian ...


      Mas Man dan Mba Dery sedang mengira-ira... inikah watu kodok itu... saking bingungnya mana sisa sisa itu?






     Di Atas Bukit ini..... di grumbul semak itulah dulu sekali ada batu yang disakralkan.... WATU KODOK

      
    Pemandangan di atas bukit nDadi ini, (dimana situs watu kodok berada sangat eksotis... berlatar gunung Ungaran yang gagah berdiri menjadikan hati kita tenang.... bila berimajinasi; tentunya dulu ketika beribadah di situs ini (nenek moyang)... dengan suasana yang tenang, menyatu dengan alam semesta dan dekat dengan penguasa alam.... 
Spot dari situs Watu kodok pledokan
Potensi.... sejarah dan budaya..... namun lagi-lagi NOTHING!

eka wp di Situs watu kodok
     Saat berjuang untuk turun, dengan medan yang curam itu, ada salah satu ndok kodok yang berada si semak-semak bawah bukit...... ada apa ini..... kenapa di biarkan?????


---

       Sambil rehat.... minum dan diskusi : temanya kenapa bisa terabaikan 'the art local' ini.... diskusi berlangsung seru, sampai kemudian dengan kecurigaan (maaf, terlihat dari tatapan beliau).. seorang warga mendekat....
Di Bawah bukit, dimana situs watu kodok berada
     Saat ditanya tentang Nasib situs watu kodok ini, dengan ragu beliau menjelaskan memang dulu jaman kakeknya, situs masih dikeramatkan... sekarang memang jarang yang peduli....
     Lalu Siapa yang harus peduli????????


Save This.. This is Not Only a Stone!!!

Situs Watu Kodok Pledokan Sumowono
Salam Pecinta Situs..

Senin, 22 September 2014

Situs Bantir Losari Sumowono

Situs Kunto Bimo Sumowono

           Akhirnya kesampaian juga, Blusukan bersama komunitas. Setengah ku paksa Mba Derry, (ternyata bersama pula generasi penerusnya, alias Gilang anak semata wayangnya: lha wis ijin misua belum mba blusukan ngajak anak? hahahaha) Mas P.Man, blusukan bareng juga Mas Eka WP (neg blusukan gini ga ada istilah newbie kok)..... Kita cari pengalaman bersama... that's the point.

     Jumat, 19 September 2014. Kumpul di perpust Ambarawa sekitar jam 1 Siang setelah Jumatan. Briefing sebentar alias penentuan lokasi Blusukan.... 
Candi asu : 19 Sept 2014
      Rute dari Ambarawa melalui Kota Wisata Bandungan. Sesampainya di Bandungan, mampir sebentar di Candi Asu Sumowono.  "Pemanasan untuk Mas Eka WP katanya....." Gambar samping kondisi Candi Sumowono saat ini.
        Sekitar 15 menit di Candi Asu (karena sepi tak ada warga yang bisa ditanya)... Perjalanan kami lanjutkan ke   Sumowono. Dimana tujuan pertama kami Situs Kunto Bimo Sumowono.
Situs Kunto Bimo
       Situs Kunto Bimo berada di Dusun Bantir Desa Losari Sumowono. Jika kesana cari saja pusat pelatihan TNI Bantis. Setelah komplek itu... ada gang sebelah kiri, ikuti gang itu.     

      













Situs Kunto Bimo, Berada di Bukit ini,  : 

         Jalan mendaki ke bukit, sudah dibeton. Motor matic pun kuat sampai areal atas. Situs Kunto Bimo berada ditengah-tengah areal pemakaman warga.
Situs Kunto Bimo berada di dalam bangunan ini
    Satu lagi argumentasi bahwa situs itu selalu berada dekat dengan air, berada di tempat yang tinggi serta keadaan geografi sekitarnya subur. (Hanya pengamatan saya pribadi)
    Jadi teringat, pemilihan lokasi pemakaman yang kebanyakan ada di suatu bukit/ tempat yang tertinggi... satu pertanyaan yang tertinggal : "Apakah bertujuan untuk selalu dekat kepada yang kuasa?
      Situs Kunto Bimo, begitu nama yang diberikan oleh masyarakat.. terkesan agak saru bagi sebagian orang, namun sebenarnya tidak sepenuhnya salah.... Situs Kunto Bimo ini sebenarnya adalah Lingga. Dan Lingga merupakan pasangan dari Yoni, untuk yoni adalah perwujudan dari perempuan sementara Lingga adalah laki-laki... dan secara keseluruhan merupakan persembahan untuk memohon kesuburan. (dikoreksi jika kurang tepat). Merupakan peninggalan dari masa Hindu. Lekat dengan persembahan kepada dewa Siwa.
ndok kodok di Situs Kunto Bimo
     Yang unik di situs ini... ada 2 buah batu bulat. yang biasanya tersebut oleh masyarakat adalah telur katak. Hewan katak dijadikan simbol untuk meminta hujan.---
      Tak Jauh dari Situs Kunto Bimo, Sekitar 50m arah belakang. Ada batu lempeng datar, seperti batu menhir.../batu persembahan peninggalan jaman megalitikum.
Menhir di Situs Kunto Bimo Sumowono
     Karena letaknya di puncak bukit, pemandangan di situs ini dahsyat, berlatar Gunung Ungaran dan banyak kawasan perbukitan yang membiru di Kejauhan.... sebuah Spot fotografi yang menarik.....
Kemegahan Gn. Ungaran terlihat Dari Situs Kunto Bimo
      Entah karena kebetulan, Kami berombongan memakai matic, semua... dan masalah yang datang.... ketika menuruni bukit untuk meneruskan perjalanan adalah sama! yaitu di rem pun tak mau berhenti... karena memang curam... jadi HATI-HATI.

      Komunitas Pecinta Situs...... Dari Kiri.... Mba Derry, Mas P.mAn, Saya dan Mas Eka WP.

Save This... Not Only A Stone!!!

Menhir di Situs Kunto Bimo Susukan
Salam Penyuka Situs Batu
      

Rabu, 17 September 2014

Situs Dusun Lembu Desa Ngrapah Banyubiru

Situs Ngrapah Banyubiru
            Blusukan kali ini, benar-benar tanpa rencana sama sekali. Ketika hampir pulang kerja... tiba-tiba Mr.Pman datang... "Dah lama ga pinjam buku", katanya.... ku langsung bilang, "Blusukan ae yooh mas, Ngrapah kan cedak omahmu....."..  
       Akhirnya..... Jumat tanggal 12 September 2014.... berangkat dari kantor (Perpust Ambarawa) jam 15.00 menujulah ke Desa Ngrapah Banyubiru.
          Menuju Situs ini.... saya tempuh melalui Jalan Ambarawa - Banyubiru-Salatiga, Setelah sampai di Jalan sekitar kantor Kecamatan Banyubiru, pelan-pelan saja.. melewati komplek TNI... Tengok Ke kanan ada jalan tembus ke arah Jambu/Magelang/jogja... ikuti Jalan itu...
 Kira kira 1km dari jalan masuk itu....cari Dusun LembuDesa Ngrapah,  Ada Gang masuk, sebelah kiri, ... 
      Kemudian Cari Mushola Al Iman... Situs tepat di dekat tempat wudhu....
       Situs ini tepatnya berada di Dusun Lembu Desa Ngrapah Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang.
      Arca Nandi yang Numpang tepat diatas Yoni akan kita lihat di situs ini. Menurut beberapa warga yang pada saat itu kutemui.... Yoni dan Arca Nandi ini dulu adalah pindahan dari sawah warga yang berada di pinggir sungai sebelah dusun Lembu ini. Kepala Arca Nandi ini di curi oleh 'Kompeni".... Karena menurut cerita turun temurun ... sebelum kompeni datang kepala Nandi masih ada.....
Arca nandi Situs Lembu Desa Ngrapah Banyubiru
        Yang baru saya tahu: "Nandi ini jantan lho... " kata Mr. Pman "Itu lho Buktinya di bagian pantat nya".... ku perhatikan dengan seksama... memang benar juga..... Harus lebih teliti memang.... dan ada manfaatnya blusukan bersama sesama penyuka situs... : 
Arca Nandi : bukti ini jantan
       "Proses pemindahan arca ini sudah lama sekali mas.... saat warga masih suka laku prihatin, beda dengan sekarang".. Kata warga itu lagi, aku hanya manthuk2... membenarkan. Memang dulu... duluuuu sekali.... Arca ini sebagai media ibadah... sangat dihormati, Dulu itu.... arca ini sangat disakralkan. Karena Nandi merupakan kendaraan dewa Siwa. Dan Yoni yang berada dibawahnya itu adalah perwujudan penyembahan terhadap dewa siwa.. 
       Yoni itu sendiri merupakan perlambang kesuburan.... biasanya ada pasangannya... : Lingga. Oleh warga, Yoni ini dikenal dengan sebutan Watu Lumpang, Sedang lingga nya disebut alu... untuk Alu pasangan dari yoni ini sudah hilang sejak zaman diketemukan dulu. (Sumber dari obrolan dengan warga)
Yoni Situs Lembu Ngrapah Banyubiru

    Yoni Di Situs Dusun Lembu Desa Ngrapah ini berukuran sedang... bergaris tengah 58 cm yoni ini tanpa ada ukiran/relief. hanya berbentuk sederhana. penampakan atas tertutup oleh Arca Nandi yang nampaknya sengaja ditempatkan di atas Yoni, namun tujuannya apa belum tahu... (Mbah Jono..narasumber rekomendasi warga untuk ditanya lebih jelas tentang situs ini sedang tidak berada dirumah, Kata warga mbah Jono mempunyai kemampuan lebih... dan tahu akan hal-hal seperti ini : rumahnya tepat berada di depan mushola)
      Yoni Situs Dusun Lembu Ngrapah dari berbagai sudut :




         Saat saya datang, Arca Nandi digunakan untuk jemur keset!!!!! , apa ga tahu ya bagaimana beratnya, sulitnya untuk membuat arca ini..... merenungsendiri.....


      Gambar ini menunjukkan 'respect or nothing'... : 
di Situs Ngrapah

 Save This...

Not Only a Stone!!!!!!

Situs Ngrapah Banyubiru

Salam Pencinta Situs.....

Rabu, 10 September 2014

Situs Payungan Kaliwungu Kabupaten Semarang

Situs Payungan Kaliwungu
Selasa, 9 September 2014 
      Tanpa rencana blusukan kali ini, Saat mampir ke kantor pusat di Ungaran, aku dapat tawaran untuk ikut layanan perpustakaan keliling ke daerah Kaliwungu (setelah pasar Ampel Boyolali arah kiri). Spontan ku bilang... "Lha neg mampir situs piye?... Drivernya bilang oke - oke saja...Tanpa pikir panjang, ku bilang iya!
    Berbekal info dari web site dinas pariwisata, mantablah.... namun 'tanpa mengurangi rasa hormat'... ada kesalahan informasi mengenai lokasi. Info berada di Dusun Prampogan, namun ternyata berada di dusun Payungan. Tapi dengan kesalahan itupun pencarian saya malah lebih mudah.... 
Ceritanya begini: 
      Memang terasa lebih ringan, blusukan bersama mobil perpustakaan keliling.... Ketika mencari Dusun Prampogan, bertanya kepada penduduk lebih mudah dan tak ada sorot mata curiga, berbeda ketika blusukan memakai motor.
      Saat di prampogan, 3 warga penduduk yang kutanya tak ada yang tahu keberadaan situs ini, kemudian nekat saja cari pak kadus Prampogan (saya pede ketika blusukan kali ini... hehehe , berkat mobil  keliling.....), Benar juga. jawaban dari Pak Kadus Prampogan... Bahwa situs ini yang benar berada di Dusun Payungan, 1,5km dari dusun Prampogan. 
       Dari Prampogan, kemudian saya kembali menelusuri gang, (untuk lebih mudah nanti akan saya beritahu arah ke lokasi).... 
      Kira kira  jarak sudah seperti yang di arahkan pak Kadus Prampogan, saya 'clingak-clinguk' cari warga yang bisa saya tanya informasi keberadaan situs Payungan.Ternyata...... ketika berhenti dirumah penduduk itu, saya tepat berada di gang masuk arah situs... 
legaaa rasanya....
      -----
     Arah menuju Situs Payungan Kaliwungu Kabupaten Semarang : 
Gapura Payungan
      Dari jalan Solo Semarang, Bila dari Semarang setelah pasar Ampel Ampel, cari gang sebelah kiri (ada petunjuk arah ke SMK Kaliwungu. Ikuti Jalan itu. Kira2 5 km disekitar Desa jetis ada Gapura masuk (sebelah kanan) bertuliskan Desa Payungan. Masuk saja ke gang di gapura itu, cari saja petunjuk bertuliskan dusun payungan (saat saya kesana petunjuk menuju menuju semua dusun lumayan lengkap). Selain Petunjuk arah nama dusun ada pula beberapa tugu yang menjadi khas desa Payungan ini.


     Setelah sampai di Dusun Payungan, tanya saja gang menuju areal pemakaman umum warga. Situs ini melewatinya. Situs Payungan Berada di Dusun Payungan Desa Payungan Kecamatan kaliwungu Kabupaten Semarang. 
     Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, ketika terakhir saya bertanya, ternyata saya tepat berhenti di gang masuk ke situs tersebut. Adalah bapak Nur Said yang kebetulan saya tanya, rumah beliau tepat berada di seberang jalan tempat kami kami parkir.
     Setelah saya jelaskan dan sedikit berbasa-basi, dia menceritakan bahwa batuan candi itu sekarang sudah banyak yang dicuri dan tercecer dibeberapa tempat khususnya di masjid Al Falah (dulu sempat dijadikan pondasi, namun sudah dibongkar dan disusun di halaman: tapi saya belum sempat kesana), serta talud di sekitar jalan masuk.
     Gang masuk ke situs, selain melewati makam juga melewati sebuah sungai, yang biasanya airnya lumayan banyak. Tapi karena musim kemarau jadi mudah untuk melewatinya 
     Foto beberapa ceceran batuan candi yang (dipaksa) lepas : 

 Batu candi yang tercecer ini, ada yang dibuat talud, ada yang ingin dibawa oleh penduduk dijadikan umpak tiang rumah, pondasi dll.




    "Dulu sempat ada warga yang ingin membawa batuan candi berbentuk kursi..... saat membawa batu itu belum sampai rumah, sudah tidak kuat... kemudian sakit, hilang ingatan saat batu itu dikembalikan orang itu sembuh", cerita dari pak Nur Said (warga dsn. Payungan).
Situs payungan
      Yang masih tersisa di Situs ini antara lain : batuan Candi berbentuk gagang keris (yang berbentuk keris sudah dicuri orang, hilang bersamaan dengan arca dewa, pak Nur Said tak tahu dewa apa itu), Lingga yang sudah rusak, dan Yoni, selain tentunya batuan candi berserakan disekitar situs ini yang sudah tertutup rimbunan rumput gajah.
Situs Payungan : Batu Berbentuk gagang Keris

Tangga di Ratu Boko
       





      Batu berbentuk seperti gagang keris itu (menurut Pak Nur Said) kurang lebih setahun ini ada batu yang berbentuk keris hilang. Tapi coba bandingkan Tangga candi Ratu Boko, bila diilustrasikan batu itu berdiri mestinya mirip dengan hiasan Tangga di Candi ratu Boko.        Jadi ketika batuan candi yang tersisa ini ada yang nampaknya berwujud hiasan tangga... tentunya dapat disimpulkan.... dulunya situs ini adalah sebuah candi yang ukurannya tentu lumayan. namun karena banyak yang tercecer dan lebih banyak lagi yang dicuri (terutama yang berbentuk arca/ada reliefnya)... sehingga untuk rekontruksi/ekskavasi akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Sungguh sebuah penyesalan!
----
Yoni Situs Payungan
     Yoni yang Lapuk, Yoni Situs Payungan ini sudah lapuk di berbagai sudut, hanya tinggal dasarnya saja, dan sedikit nampak mulut yoni itu. Yoni sendiri adalah perwujudan dewa siwa, sebagai perlambang kesuburan. Yoni merupakan pasangan dari lingga.
    Kemuncak candi kah ini? atau umpak? ah aku bingung namun ku coba mmaparkan gambar dari berbagai sudut :
 


      Batuan candi Lepas: 


Situs ini masih sering digunakan oleh orang untuk beribadah : semedi dan sejenisnya. Pak Nur Said pun cerita... dulu banyak ditemukan koin emas disini...... w.o.w....  namun karena angkernya tempat ini, sekarang tidak ada yang coba-coba mengganggu. 
       Saya pun setuju tempat ini memang angker.... biar aman... tak lagi dicuri batu-batu candi berharga ini. Semoga kena kutuk siapapun pencuri batu candi itu!!!!
Save This... Not Only A STONE!
Bersama bapak nur Said di Situs Payungan

Salam Pecinta Candi