Tampilkan postingan dengan label Bawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bawen. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2020

Temuan Batu Bata Kuno dan Gerabah di Kolam Lele Dusun Tulung, Doplang Bawen

Perbandingan Batu Bata Kuno dan Batu bata masa kini
Batu Bata Kuno Doplang
            Selasa 11 Agustus 2020. Ketika dapat kabar seorang warga menggali tanah untuk dibuat Kolam Lele. Warga tersebut menemukan batu bata berukuran besar (=banon). Tentu pecinta situs dan watu candi macam Pak Nanang losss doll langsung gass ke lokasi, saya kebagian beruntung karena dikabari dan diajak. Sangat kebetulan hari ini jadwal saya free (Kerja terus kapan dolane?). Janjian setelah jam 2, membuat waktu memang sangat terbatas. Tapi tentu saya tak akan menyia-nyiakan waktu untuk turut serta menjadi saksi penemuan kepingan sejarah Bawen. 
       Bagi saya, ini menjadi sebuah potongan kecil puzzle yang nanti bisa disusun menjadi sebuah fakta sejarah peradaban kuno di kawasan ini. Sangat antusias sekali, bila harus menggambarkan bagaimana perasaan saya (asli bukan lebay), “Bagaimana tak antusias, jika warga menemukan biasanya berlomba-lomba menjual kepada mafia kolektor, eh ini Bapak Sukardi malah menghubungi Pak Nanang yang sudah terkenal malang melintang di dunia perWatuan kuno melalui Komunitas Dewa Siwa. 
      Dari markas komunitas yang terletak di Berokan Bawen, tepatnya di bakso Pak Keman Bawen (Sebelah masjid Berokan), kami ; Saya, Mas Seno, Mas Artdi dan tentu saja Pak Nanang dan Bu Wahyuni segera meluncur ke lokasi. Kurang dari 5 menit kemudian kami sampai. 
      “Sudah beberapa batu bata berukuran besar yang saya temukan, namun sudah pecah. Juga pecahan gerabah”, cerita Bapak Sukardi membuka percakapan. 
     "Sempat pula menemukan gerabah berbentuk kendi, namun saat ini saya lupa naruh dimana”, sesal beliau. 
      Lokasi bakal kolam lele yang berada tepat di bawah sendang (juga keberadaan pohon besar) plus kontur daerah berupa pinggiran gumuk (bagian sisi belakang rumah diatas berupa makam, menjadi penguat dugaan kami bahwa dulu di lokasi ini pernah ada sebuah bangunan. Bisa berupa petirtaan, bisa malah sebuah bangunan suci atau malah pemukiman. 
     Sambil menunjuk bagian belakang, bapak Sukardi (tepatnya di bagian septic tank) beliau berkata, “Dulu saat menggali kedalaman kira-kira 2m, ada tatanan batu bata yang ditata mirip lantai. Namun tak saya ambil karena ternyata batu bata itu masih tertata menumpuk sampai dalam”, tambah beliau. 
Beberapa Batu Bata Kuno yang dikumpulkan Pak Sukardi :
Banon Doplang
Juga pecahan kecil gerabah 
Potongan Gerabah
      
Sementara berubah fungsi dulu :

           Semoga penemuan Batu bata di Tulung Doplang Bawen ini menjadi pintu masuk penemuan-penemuan jejak sejarah yang lain …. 
      Titip untuk masyarakat dan generasi muda Dusun Tulung (Tulung adalah bahasa jawa yang berarti Tolong) … Save our herritage jejak peradaban Dusun Tulung Doplang ini” 
Link Youtube : 

      Foto bersama di lokasi :
Bapak Sukardi, Seno, Ardi, Nanang K, Bu Wahyuni di Tulung Doplang Bawen

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi 
#hobikublusukan

Kamis, 23 Mei 2019

Menengok Sejenak Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen

Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen

Kamis, 24 Mei 2019. Beberapa bulan lalu, pak Nanang memberikan titik koordinat watu lumpang yang berukuran cukup lumayan. "Pulang dari rumah teman, tak sengaja lihat watu Lumpang ini", kata Pak Nanang waktu itu. Saya kemudian menyimpan di database destinasi tersebut. Sementara, hari ini seperti yang kami rencanakan beberapa waktu lalu saat penelusuran ke Petirtaan Gonoharjo, jadwal kami adalah reresik sebuah situs di daerah Jambu. Beberapa rekan sudah bersedia, bahkan seorang pamong budaya serta satu jupel candi juga tertarik turut serta.
Saya pribadi malah 5 hari lobi 'istri', untuk blusukan sekalian bukber. Yang diluar dugaan acc tanpa syarat, alias lampu hijau. Dan sepertinya rencana akan berjalan lancar seperti harapan kami.
Namun, bagai petir menyambar ... Satu screenshoot dikirim lewat WA ke saya, pak Nanang menambahi pesan. "Gawe Reresik dibatalkan", gara gara situs tersebut ternyata keduluan orang membersihkan. Walaupun sebenarnya tidak secara tuntas, dugaan saya dibersihkan hanya untuk melihat penampang atas....  Saya gelo sekali, bagaimana tidak.... Rencana gawe Reresik batal, benda cagar budaya itu urung dibersihkan.
Karena saya terlanjur membuat planning, anak juga sudah dirumah rewang,  saya menguatkan hati untuk mencari destinasi alternatif yang bisa saya telusuri sendiri. Karena pak Nanang sepertinya saking gelo ne, beliau melampiaskan dengan  berburu di alas gunung, (saya tahu setelah ketemu istri beliau) dan tak merespon  WA saya.
Saya juga mencoba WA mas Seno, barangkali bisa jadi guide namun karena WA masih down (efek pendemo tak mau ngaku kalah=maksa harus menang) nampaknya tak terkirim.
Awalnya mau nekat lintas antar kota : Candi Bongkotan Wonosobo, yang sudah lama sekali saya impikan, namun sampai di Karangjati ada ragu dalam hati saya, sadar diri dengan kondisi fisik, slogan "Ngelih-Ngelak .... Wani!", saya kesampingkan dulu, akhirnya saat berhenti di SPBU Galpanas isi Pertalite, kemudian saya malah teringat titik koordinat yang diberikan pak Nanang. Jadilah memantapkan hati yang dekat saja.
Dusun Klowoh Lemahireng, Bawen
Untung sisa kuota kasih bisa berikan petunjuk arah di Gmaps. Saya ikuti panah dalam peta..., Sampai kemudian masuk di gerbang dusun Kluwoh Desa Lemahireng Kec. Bawen.
Dari kejauhan, Watu Lumpang sudah terlihat...
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Tak ada cerita yang saya dapat hari ini tentang watu lumpang ini, selain asal mula ditemukan oleh pekerja proyek perumahan tersebut. Kemudian beruntungnya, alat Beghu yang mengangkat tak meremukkan watu Lumpang ini. Apresiasi tinggi, saya sampaikan kepada Pimpro Perum Punsae 3... Yang masih peduli dengan memindahkan ke lokasi yang sekarang.
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Tinggal pihak desa yang ditunggu gerakannya. Watu lumpang ini bisa menjadi tetenger, sumber sejarah desa. Watu Lumpang pada masa lalu menjadi bagian tak pisahkan dari kehidupan religius masyakarakat. Salah satu fungsi lumpang digunakan sebagai sarana ritual menyiapkan sesaji untuk persembahan kepada para dewa-dewi. Lekat di daerah yang agraris. Subur.
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Dan yang paling memungkinkan untuk menangani ya pemdes dengan seluruh sumber daya yang ada termasuk Anggaran.
Saya berkhusnudzon saja, ketika Pimpro menaruh Watu Lumpang ini tepat dipinggir jalan dusun, tepat di jalan masuk bakal perumahan (Saat saya kesini masih tahap meratakan tanah). 
Tujuannya pasti ingin menarik perhatian, barangkali pihak terkait berinisiatif merawat benda cagar budaya ini. 
Atau malah pihak pengembang akan menjadikan semacam tetenger (=baca ‘monumen’) yang bisa menjadi ciri khas perumahan ini. semoga..
Terlihat lumayan besar, dan tebal Watu Lumpang Klowoh Lemahireng ini, dan relatif kondisinya masih baik. Tak berlumut, menandakan baru saja diangkat dari dalam tanah.
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Seperti Watu Lumpang yang berada di Tambakboyo Ambarawa, warga bersama-sama membangunkan khusus tempat yang layak, didekat pos kamling warga dengan taman minimalis. Ini Gambar dari Watu LumpangTambakboyo, ijin model... (semoga beliau berkenan... apa kabar kawan?)
Watu Lumpang Tambakboyo Ambarawa
Tapi, lumayan lah ketika warga masih peduli. Semoga pihak pengembang perumahan Punsae 3 ini bijaksana….
Watu Lumpang sangat mencolok,
Tapi tentu saja warga kebanyakan pasti tidak sama seperti saya/ kami para pecinta situs… Namun Harapan kami tetap ada pihak yang nguri-uri…
Semoga ada pembaca yang tahu legenda, mitos atau kepercayaan warga tentang Watu Lumpang ini dan berkenan berbagi kepada saya, agar bisa saya bagikan lewat kisah sederhana ini...
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Watu Lumpang Klowoh, Lemahireng Bawen
Sampai ketemu di perjalanan selanjutnya,
#hobikublusukan
Nb :
Esok paginya saya ternyata kesini lagi… Setelah acara, saya janjian dengan Mas Eka Budi, pemilik Blog sesama Pecinta Situs : Ini Link Naskahnya.. https://jelajahkarungrungan.blogspot.com

Jumat, 01 Februari 2019

Mampir di Watu Lumpang Doplang, Bawen


Jumat, 1 Februari 2019. Akhirnya bisa lagi, setelah cukup lama menunda membagikan kisah awal Pebruari ini. Banyak kendala (alasan) mulai dari semakin tak kondusifnya situasi dan kondisi, juga logistik yang cukup terbatas. Belum lagi destinasi yang entah kenapa saya semakin langka saja mendapatkan informasi. Mungkin saya memang kurang baik, sehingga dampaknya kembali lagi ke saya dengan pelitnya informasi… heheheh maaf. Tapi saya bulatkan tekad, untuk Blusukan ‘must go on’… beberapa rencana yang sempat tertunda harus kuwujudkan.
'Kadang yang tak terencana malah menghasilkan', quote saya untuk kisah ini. Bagaimana tidak. Secuilpun niat saya gak punya untuk ingin blusukan. Karena tujuan awal saya di  Jumat ini adalah ke Sekretariat Komunitas Dewa Siwa (Komunitas Pecinta SItus dan WAtu Candi, untuk memantapkan planning membuat perpustakaan komunitas di rumah Pak Nanang Klisdiarto, Berokan Bawen.  
Namun ternyata saat ngobrol, kedatangan pula personel lain : mas Seno. Ngobrol ngalor ngidul kemudian mengambil property di beberapa lokasi, setelah itu Pak Nanang menawari kami untuk menengok Lumpang di ‘belakang rumahnya.
Saat mendengar kata belakang rumah Pak Nanang ada Watu Lumpang, seketika saya menyumpah serapah (bukan memaki---karena takut kuwalat) namun tertawa…. Kenal hampir 10 tahun tapi belakang rumah kok malah di-“imbu sampai mateng, ki pie to pak!”, sesal saya. Pak Nanang hanya terkekeh.
Dari arah Ambarawa, kami kemudian berbelok ke Kiri tepat di gang sebelum rumah Pak Nanang yang sekaligus adalah Warung Bakso Pak Kemang Berokan, Ini Bukan endorse atau pun iklan. Tapi memang kebetulan kalau blusukan makanan wajib kami adalah mie ayam plus es teh… rencana kami juga (saya ngaku sebagai provokator) mendirikan perpustakaan komunitas di Salah satu sudut di Warung Bakso-Mie Ayam Pak Keman Berokan. Tujuan kami tentu saja edukasi, menjadi sekretariat plus jujugan mencari sumber data/pengetahuan tentang situs dan segala hal yang berkaitan. Semoga bisa terwujud. Amin!.
Kira kira dari pertigaan kami berbelok kurang dari 500m, kami kemudian nitip parkir di depan salah satu warung kelontong semi modern. Kemudian mengikuti Pak Nanang di depan. Menyusuri pematang sawah. “Tapi karena cukup lama, agak lupa…. Kita cari dulu”, jelas Pak Nanang. Saya batin…. Ini terlihat sekarang faktor U memang menentukan…. Tapi saya batin, entah mas Seno mbatin juga tidak. Cukup agak lama kami memutar meneliti satu persatu petakan sawah, sempat pula bertanya pada ibu yang sedang memanen padi. Namun ternyata ibu itu malah ga ngeh  ada watu lumpang di sekitar sini --- (ternyata bukan warga asli---namun buruh panen padi).
“Terang saja kita cari ga ketemu, lha wong ditutupi damen – batang padi”, kilah Pak Nanang. Saya dan Mas Seno Cuma Ngakak.
Segera saya mendokumentasikan sambil menerima sedikit uraian cerita dari Pak Nanang Klisdiarto. Hanya segelintir sesepuh / orang tua yang tahu keberadaan Watu Lumpang ini, selebihnya abai.
Beberapa dari orang tua yang Pak Nanang temui, menyebut area ini dengan sawah sekenteng, sebuah penyebutan yang identik.
Pak Nanang dan Mas Seno : Gambar setelah batang padi menutupi watu lumpang disingkirkan...
di Lumpang Doplang
Kondisi Watu Lumpang yang malah ditutupi batang padi bekas panen, menjadikan bukti memang watu lumpang ini tak lagi mendapatkan tempat… Sunggguh sedih memang…
Sebuah kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Tapi Kami sebagai komunitas, atau minimal saya lewat blog ini, ingin menyampaikan sebuah cerita. Bahwa Watu Lumpang Doplang ini punya sejarah panjang.
Lumpang Doplang, dibawah tumpukan batang padi
 ‘Dia’ adalah bukti telah hadirnya peradaban di ribuan tahun lalu di sekitar area ini. Ditambah beberapa titik sekitar berokan memang ada situs, seperti Arca Nandi di Pasar Sapi, Candi di Perum Mustika Candi (nama kuno dulu adalah Gumuk Candi), yang saat ini sebagian besar di bawah ketempat yang terakhir menjualnya. Konon saat ini bekas bangunan candi ada di Tower tepat ditengah perumahan Mustika Jati. Cerita yang saya dapat selain bangunan candi utuh, juga ada petirtaan, namun saat ini hilang tak berbekas, bahkan saya yakin yang sekarang tinggal di Mustika Jati Tak ada yang tahu dulu pernah megah berdiri bangunan suci di situ.
Kondisi Lumpang saat ini, terbenam dan miring :
Telat memang tak mampu mengubah keadaan, namun upaya kecil kami sebuah komunitas yang mencoba bergerak melakukan sesuatu, ataupun saya secara pribadi yang hanya berbagi lewat cerita semoga menggugah orang untuk mencoba  mempertahankan jejak cerita bukti peradaban masa lalu. Agar tak mlongo saat ditanya asal usul nama desamu.
Kembali ke Watu Lumpang Doplang, Kondisi yang sejajar dengan lumpur sawah, menjadikan memang watu lumpang ini riskan terlupakan…. Bahkan tiba-tiba hilang, rusak atau entah kemana… hanya dengan alasan…. Bila watu lumpang tak ada area ini bisa ditanami padi walaupun hanya berapa batang saja…..
Watu Lumpang atau banyak disebut sanghyang Kulumpang pada masanya menempati posisi istimewa, pada masa Hindu Klasik yang pernah bersemayam di Bumi Nusantara ini. Sebagai media pelaksanaan upacara seperti penetapan tanah sima, upacara ritual masa tanam, masa panen atau ritual lain.
ssdrmk di Lumpang Doplang
Di era kuno modern, Lumpang biasa dipakai untuk menumbuk biji…. bedanya ada Watu Lumpang yang khusus digunakan untuk menumbuk sesajen yang digunakan untuk ritual upacara suci.
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Sampai ketemu di penelusuran berikutnya… Maturnuwun Pak Nanang dan Mas Seno…di Jumat berkah ini…
#hobikublusukan

Minggu, 04 November 2018

Watu Lumpang Kandangan : Rise of DS


Watu Lumpang Kandangan
      Minggu 4 November 2018. Penelusuran kali ini pelengkap dari Gathering Komunitas Dewa Siwa yang ingin membangkitkan kembali roh nya, “The Rising Spirit. setelah lama tenggelam dalam kekalutan. Saya sebagai salah satu anggota komunitas tersebut memang pernah menyatakan keluar sampai suasana kondusif dan ganjalan itu menjadi terurai. Harapan saya dengan kumpul bareng ini semua bisa diselesaikan.
Kumpul di Basecamp Dewa Siwa “saya menganggap demikian”, karena selain posisinya di tengah juga si empunya rumah welcome… 
Di Rumah Pak Nanang K. di Berokan Bawen, yang juga juragan MieAyam Bakso : ancer-ancer mudah adalah Kawasan Gembol, Rumah pak Nanang cukup dekat yaitu di bawahnya...hehehehe (para cowok pasti tahu Gembol itu apa : monggo search in google)






Agenda yang dibahas terutama adalah mengurai masalah dan tentu saja menyelesaikan dengan baik. Karena kami semua yang datang menganggap bahwa Komunitas Dewa Siwa telah menjadi rumah kedua bagi kami, menjadi keluarga. Bawasannya  'sedulur kui saklawase'. Walaupun memang tak semua yang seharusnya datang tak menganggap ini penting. Tapi sudahlah Dewa Siwa tetap harus terbit lagi laksana Matahari di pagi hari.
Mulai pertemuan siang hari, sekitar jam 11an, berbagai hal dibahas. Sampai kemudian terputus konsensus : Koh Singo sekarang yang menjadi Nahkoda Komunitas Dewa Siwa ini. Saya pribadi menjadi semangat kembali, semoga berkembang dan sesuai roh awal Komunitas ini.
Sudah menjadi adat di Komunitas kami, bila ada pertemuan seperti ini, diakhiri dengan penelusuran bersama. Walaupun awalnya memang tak direncanakan. Tapi kalau sudah menjadi garis ya terjadilah blusukan kekeluargaan ini.
Watu Lumpang di belakkang toko Andalan 
Saya minta maaf kepada Mas Seno (FB Sabaku Seno) yang saya tembak untuk jadi guide. hehehe. terus terang sekian lama kami mencocokkan waktu luang agar bisa penelusuran area Kandangan (domisili Mas Seno) tak jua menemukan titik temu. dan baru lah di akhir Gathering ini, mas Seno tak bisa lagi mengelak...heheheheh. Ampun kapok nggeh. "Sekalian silaturahmi mas", begitualibi kami.
Dari Berokan, kemudian melewati pasar Sapi Bawen, terus melewati Terminal Bawen kemudian pas di tanjakan langsung ambil kanan.

Langsung menuju lokasi dengan petunjuk dari Mas Seno. Lumpang yang menjadi destinasi kami ini terletak di area kebun jari warga, persis dibelakang Toko Kelontong Andalan. Tepatnya di Dusun Bulu, Desa kandangan Kecamatan bawen Kabupaten Semarang
Sampailah Kami, 
Watu Lumpang Kandangan
     "Sebenarnya, dulu sekitar 10 tahun lalu masih ada satu lagi watu lumpang tak jauh dari sini, berukuran lebih kecil namun sudah hilang entah dicuri orang atau dirusak ditempat saya kurang tahu", jelas Mas Seno. Sayang sekali memang kami telat!
Watu Lumpang Kandangan

    Kondisi Watu Lumpang Kandangan sudah memprihatinkan, banyak dempul semen di beberapa titik, sehingga malah seperti serangan jamur yang menutupi watu Lumpang.
Watu Lumpang lumayan tebal, 

Fungsi Lumpang diduga salah satunya sebagai sarana ritual wujud syukur kepada yang kuasa (atas melimpahnya hasil pertanian)

Seduluran ki guyonan bareng

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
#hobikublusukan


Senin, 03 September 2018

Dua Watu Lumpang Desa Harjosari Bawen : Dikepung Pabrik, Yuukkk Diselamatkan.....

Watu Lumpang Desa Harjosari Bawen
           Senin 3 September 2018. Akhirnya mendapatkan titik terang juga. setelah hampir 4 tahun lalu saya menelusuri jejak keberadaan Watu Lumpang ini. Saat itu informasi yang saya dapat mengenai keberadaan Watu Lumpang berada di belakang Pabrik 'coke warna merah. Saat itu dengan semangat '45 bersama Mas Eka WP langsung coba kami telusuri, namun ternyata tahun 2014 itu belum kami temukan saat penelusuran mencari jejak tersebut. 
    Sampai kemudian ada rekan posting hasil penelusuranya (Bu Noorhayati), seketika saya langsung mencoba meminta petunjuk. Setelah beberapakali tertunda akhirnya Senin ini jadilah. Janjian jam 3 kurang 15 menit di lapangan Desa Harjosari Bawen Ambarawa, eh Surprise.... ternyata ada juga Pak Nanang Klisdiarto dan mas Widjatmiko.... W.O.W. 
     Ngobrol sebentar bahas project, kemudian mereka bertiga sepakat dan berkenan kompak  mengantar saya ke Watu Lumpang tersebut. Tentunya kebahagiaan tak terkira, bagaimana tidak melihat mereka, terutama Bu Noorhayati yang sering jadi sasaran bully, Pak Nanang tentunya saya juga---..... kalau mas Miko siapa yang berani bully? wkwkwk. Masih militan bersemangat untuk menelusuri jejak, Walaupun (ini kata orang yang meremehkan lumpang) hanya lumpang. Tapi Lumpang tetaplah Lumpang, sederhana namun punya jejak sejarah yang indah.... yang menyimpan bukti peradaban.
Watu Lumpang Desa Harjosari Bawen

   Dari lapangan Desa Harjosari, kami kemudian jalan kaki menyusuri pematang sawah, beberapakali berpapasan dan ketemu petani yang sedang memanen padi, sambil menatap aneh mereka bertanya, "Mau kemana?", Saat kami jawab, "Ingin menelusuri Lumpang", seketika ekspresi mereka nampak bingung, antara kaget, aneh, dan penuh tanda tanya, tapi saya yakin ada sedikit juga rasa respek... 'Berarti masih ada yang masih ingin melestarikan tinggalan leluhur.' Saya optimis mereka mbatin begitu...wkwkwkkw.
         Sekitar 10 menit kami jalan kaki dibawah terik matahari, namun semilir angin mampu meredamnya. Sampailah kami.
Watu Lumpang Desa Harjosari Bawen
    Kondisi Watu Lumpang, ditengah ladang warga.

Watu Lumpang Desa Harjosari Bawen
        Beberapa sisi watu lumpang sudah tak utuh lagi, gompal. Sepertinya Watu Lumpang ini pun sudah tak digunakan lagi. Watu Lumpang penampakan dari sisi belakang, 
Watu Lumpang Desa Harjosari Bawen
      Beberapa saat diskusi, menimba ilmu dari Mas Wijatmiko, tentang beberapa hal yang berkaitan dengan Watu Lumpang.
Watu Lumpang Desa Harjosari Bawen
         Kejutan lain, saya diarahkan untuk jalan kaki kearah belakang, sekitar 20m... "Loh Kok Ada Watu Lumpang lagi...", ternyata ada 2 lumpang yang berdekatan!
       Kondisi Watu Lumpang yang kedua memang sedikit berbeda. Dibanding yang pertama, Watu Lumpang yang kedua kondisinya agak sedikit mengkhawatirkan. Sudah tak bulat lagi.
     Dapat informasi mengejutkan, (=baca membuat kawatir), bahwa lahan ini sudah dibeli sebuah perusahaan, dan tak lama lagi akan didirikan Pabrik, terus terang saya galau, apakah bisa 2 Watu Lumpang ini direlokasi ke tempat aman, misalnya Kantor Desa/ bisakah.... bagaimana ya warga masyarakat? Jangan dijual ya...atau bahkan digepuk!...saya dan teman2 berkenan urun tenaga ikut relokasi ke lokasi aman.....

      ---  ya walaupun ini Lumpang tapi Ini Lumpang Peradaban.....

     Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Mas Miko, Bu Noorhayati, Saya dan Pak Nanang K
     Nb: Saya ucapkan terimakasih kepada Bu Noorhayati, Pak Nanang dan Mas Miko yang masih saja Militan Penelusuran Jejak ini, Sampai ketemu lagi....
Watu Lumpang Desa Harjosari Bawen
#hobikublusukan

Jumat, 22 Juni 2018

Watu Lumpang Situs Karangjoho Desa Samban, Bawen

Watu Lumpang Situs Karangjoho Desa Samban Bawen
       Jumat, 22 Juni 2018. Seperti yang sudah - sudah ditahun yang lalu. Setiap lebaran pasti selalu ada saja cerita penelusuran situs. Namun sayang, kali ini tak ada kesempatan yang kudapat, walau sebenarnya memungkinkan. 
       Beberapakali usaha sudah kulakukan, menghubungi rekan saat mudik ke daerah Demak, kemudian silaturahmi ke beberapa tetua komunitas : Nasib saya kurang mujur, saat silaturahmi tak ada yang dirumah --- salam Pak Mustain M. dan Pak Nanang K. -- tapi untung saja beliau tak ada, kalau dirumah pasti akan kupaksa untuk guide blusukan syawalan... heheh--- namun tentu saja cerita di naskah ini menjadi berbeda.
       Kemudian baru hari ini, titik darah penghabisan saya kembali bangkit, setelah seorang sahabat senior di facebook yang memberi semangat "Ditunggu lho kisah mbolangnya", Matursembahnuwun Bapak Agus Darjanto, tanpa njenengan sangka, sebenarnya telah menyulut api semangat blusukan... hehehe.. salam paseduluran nggeh.
  Menghubungi rekan yang masih 'berkenan' untuk ku ajak blusukan... eh gak ada yang bisa. Untung saja cahaya harapan datang dari rekan .... "Ada destinasi yang cukup dekat dan bisa penelusuran single!", urainya. (maturnuwun Mas Eka Budi). Saat mempersiapkan mental, eh setelah Jumatan, saat prepare diampiri Mas Eka WP yang ternyata juga geleng kepala. Tapi motivasinya lumayan jadi tambahan amunisi, "Gampang kok pinggir jalan, petunjuknya, cari masjid, maju terus, Lapangan Voli kemudian makam ada dibelakangnya". 
        Jadilah meluncur sendirian menuju lokasi, Bukan berarti kembali blusukan solo (alias single) cukup menyenangkan, namun "Blusukan harus tetap berlangsung", menjadikan laju ku yakinkan. 
Semar Sang Pamomong : Karangjoho Samban, bawen
   Berangkat dari Ungaran jam 1 siang, meluncur arah Solo, sampai di dekat Rumah Sakit Ken Saras ambil kanan, menyeberang ke arah desa Samban. Ikuti Jalan menuju Dusun Karangjoho (akan ada papan petunjuk arah). Sampai kemudian sahabat akan ketemu dengan patung Semar sang Pamomong yang menunjuk ke arah Gunung kendalisodo. Namun maaf saya tak akan menceritakan detail legenda, mitos seputar area ini.
        Dari Sumber yang saya baca di Blog Mas Eka Budi ---: Karang Joho sendiri berasal dari nama tokoh yang mbabat alas (mendirikan dusun ini), yaitu Kyai Karang dan Nyai Semi. Konon dulu ada pohon Joho disini sehingga lambat laun daerah ini dikenal dengan nama Karang joho. (Makam beliau ada di komplek makam yang kita datangi ini)
Watu Lumpang Situs Karangjoho Desa Samban, Bawen
       Tepat berada dibelakang lapangan Bolavoli, Watu Lumpang berada di pojokan makam di lereng jurang. Nampaknya bagian sisi bawah jurang terdapat sendang/sungai. (Saat saya disini banyak anak-anak riang bermain air)
      Saya hanya menduga ini adalah watu Lumpang, untuk memudahkan saja menyebutnya. Walau memang untuk fungsi belum secara jelas saya ketahui. 
       Beberapa sumber yang saya baca watu lumpang digunakan sebagai salah satu media (sarana) penetapan tanah sima, ada lagi sebagai sarana untuk persembahan kepada Dewi Sri. 
       Untuk fungsi sederhana sebagai alat penumbuk bahan makanan saya kesampingkan karena saya meyakini watu lumpang ini dulunya sangat sakral.
     Kondisi Watu lumpang sudah tak utuh lagi, dimana grompal di semua sisi, bahkan disalah satu sisi sudah memakan hampir 25%. 
        Saya menduga dulunya Watu Lumpang ini berbentuk hampir bulat utuh. 
      Lubang Watu Lumpang, 
Watu Lumpang Situs Karangjoho Desa Samban, Bawen
Cukup besar, dengan simestris... presisi khas buatan ahli di masa lalu.

      Video Amatir (nunggu proses edit dana upload ya...tapi maaf karena partner sudah pensiun jadi benar2 amatir--belum punya sarana yang lengkap)

Sampai ketemu di Penelusuran Berikutnya
Watu Lumpang Situs Karangjoho Desa Samban, Bawen

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi