Jumat, 11 Desember 2015

Jejak Candi di Ngablak Candirejo Ungaran : Menelusuri bekas eskavasi

     Jumat, 11 Desember 2015
      Setelah melihat, postingan rekan di grup Dewa Siwa, rasanya tak sabar untuk segera menyambangi, karena Situs ini masih satu area/ dekat sekali dengan Situs Makam Ndowo dan Yoni Situs Bugangan Candirejo Ungaran serta  
Situs Candirejo Kec. Ungaran Barat.

     Setelah Lek Wahid, bersedia jadi penunjuk jalan (disela-sela kesibukannya- maturnuwun), Saya dan Lek Suryo segera meluncur menuju Lokasi. Titik point di Gang setelah Masjid Gowongan Ungaran/ Jalan Semarang Solo tepatnya di Depan KFC Ungaran. Di depan gang ada petunjuk ke arah pemancingan Seweden Indah. Ikuti petunjuk itu, kira-kira 100m setelah Pemancingan Seweden tetapp lurus, ada gang masuk sebelah kiri. Masuk 20m, kemudian parkir di depan rumah warga. jangan lupa beritahukan maksud sahabat. "Niliki watu candi". 
      Kemudian perjalanan lanjut dengan jalan kaki menyusuri area ladang dan sawah. Kebetulan saya mengabadikan dengan video perjalanan menuju lokasi, walaupun dengan hp dan kualitas seadanya. 



      Dari sumber yang ditemui Lek Wahid dan mbah Eka saat penelusuran beberapa waktu lalu. Di Ngablak, tepatnya di sawah bengkok, sekitar tahun 2005 pernah di eskavasi BCB. Dan menurut saksi mata banyak batu kotak besar yang jika dikumpulkan 2 truk saja tak muat. 
Jejak candi Ngablak Candirejo : ada di bawah pohon pisang
     Ditemukan pula beberapa Arca yang sudah dibawa ke museum. 
      Sebagai, Pengingat ditanamlah pohon pisang diatasnya oleh warga. 
     Tapi bukankah pohon pisang merusak???? 
     Luas area runtuhan candi yang dipendam kembali saat proses eskavasi itu berkisar 50m persegi, dan runtuhnya/ jatuhnya bangunan candi ke arah timur.
Sisa Candi Ngablak Candirejo Ungaran
Watu candi situs Ngablak Candirejo Ungaran
      Yang masih nampak jelas, dan tersisa/ 'muncul' keatas ya Watu candi yang berpola ini, semoga tak diboyong warga dijadikan talut/ pondasi rumah, seperti yang sudah-sudah nasib situs yang lain.
     The Only one dari sisi yang lain:
Watu candi Dsn Ngablak Candirejo Ungaran
     Mblusuk Bersama Lek Suryo dan Kali Ini Lek Wahid sebagai guide

saya, lek suryo dan lek wahid : di Candi Ngablak Ungaran
Salam Pecinta Situs!
@ssdrmk
Save This Not Only A Stone...
Mari Lestarikan....

Rabu, 02 Desember 2015

Situs Yoni Karangpawon Candirejo Tuntang

Situs Yoni Karangpawon Candirejo Tuntang
2 Desember 2015 
     'Mblusuk edisi double', Sekali lempar dua durian jatuh istilah saya... hehehe. 
gd. eks Kawedanan Tuntang
     Ya bersamaan dengan ada Pameran Purbakala di Eks Kawedanan Tuntang, kebetulan lokasi kali ini satu desa dengan Gedung Pameran tersebut, maka jadilah. Setelah menyusun strategi,  waktu dan 'rundown'... akhirnya meluncur.
    Kali ini bersama Lek Suryo, yang beberapa saat lalu berhasil menelusuri yoni yang terbalik di Candirejo Tuntang, jadwal beliaupun pas 'off'. Janjian di Gd. Pameran 
     Setelah kami puas melihat-lihat, mengagumi etalase peradaban, beberapa gambar bisa di lihat di link : foto album dewa siwa.
     Saya lanjut ke Yoni terbalik Situs Candirejo Tuntang, sebenarnya situs ini pernah saya telusuri bersama Lek Trist beberapa waktu lalu setelah menelusuri Yoni di Situs Candirejo tuntang. Namun saat itu tak ketemu. (Padahal sangat dekat sekali.)
karangpawon : petunjuk 1
    Dari Gedung eks Kawedanan Tuntang, kami lanjut perjalanan arah Banyubiru, kira-kira 200m sebelah kiri ada gang (petunjuk 1).
    Masuk gang, kira kira 100m saja/ ada baiknya sobat bertanya kepada penduduk, Mohon Maaf karena terbatasnya kesempatan saya tak sempat ambil gambar petunjuk. Sebagai bantuan, posisi Yoni persis ada dibelakang rumah Warga : Bapak Slamet Rifai/Bu Mini. Tepatnya di Dusun Karangpawon RT 04 / RW IV. (Di sebelah rumah, depan ada warung kelontong)
     Yoni terbalik,
Yoni Karangpawon Candirejo tuntang

Yoni Karangpawon Candirejo tuntang
      "Kalau dibalik, lubang di watu itu tergenang nanti banyak nyamuknya mas...." ujar warga, saat kutanya kenapa terbalik. Alasan yang menggelikan. Lubang yang di maksud adalah lubang tempat lingga seharusnya berada.
     Konon selain Yoni terbalik ini, tak jauh dari lokasi. Dulu banyak ditemukan watu candi yang berbentuk pola. namun kini nasibnya menjadi pondasi rumah warga.
Sumur tua disamping Yoni Karangpawon Candirejo tuntang
       Di Samping yoni ini ada sumur tua, yang airnya tak pernah habis walapun musim kemarau berkepanjangan. Dari warga, saya dapat  informasi memang sumur ini masih satu rangkaian/ ada hubungannya dengan lokasi ini. 
Yoni Karangpawon Candirejo tuntang
     Keberadaan Yoni, menjadi bukti adanya sebuah bangunan suci, tempat pemujaan masa lalu. Yang biasanya di area pemujaan ada tempat untuk penyucian terlebih dulu sebelum melakukan pemujaan. Atau lebih dikenal dengan Petirtaan.
   Lokasi Yoni berada di lokasi yang baik, entah itu subur, lokasi yang lebih tinggi dari sekitar, dekat dengan mata air dan struktur tanah nyang stabil. 
 Yoni Karangpawon Candirejo Tuntang : setelah di balik

     Karena rasa penasaran kami, setelah minta ijin yang punya rumah, kami coba balikkan untuk melihat bentu lubang tempat lingga.
 Yoni Karangpawon Candirejo Tuntang : setelah di balik
     Lebih Dekat, penampang atas Yoni Karangpawon, Desa candirejo tuntang  







      Lubang Lingga, Berbentuk Segi Empat, Kedalaman 30 cm. 






"Karena Nyamuk lubang ini ditutup dengan cara dibalik....."
Video Amatir saat di Situs 

     Mbolang guide spesial Lek Suryo dan matursembahnwun kagem rencange lek suryo engkang asma Mas Yogi, : "Mpun lodang ngancani".

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi....

Save This Not Only A Stone...
Mari Lestarikan....

Selasa, 01 Desember 2015

Situs Watu Lumpuk, Jubelan Sumowono

Situs watu Lumpuk Sumowono
1 Desember 2015
     Berawal dari Postingan beliau Bapak 
Nanang Klisdiarto Tanggal 22 November 2015 tentang situs di daerah sumowono. Langsung masuk daftar agenda saya dengan kategori 'sangat segera'. 
    Setelah beberapakali mencoba mencari rekan dan mencocokkan waktu, akhirnya Selasa, 1 Desember 2015 ini baru bisa menuju Lokasi. Bersama Lek Imam, Pecinta alam sekaligus Aktivis Pramuka.
    Berangkat dari Ambarawa (perpustakaan), saya lewat jalur Ambarawa-Bandungan-Sumowono. Melewati pertigaan ke arah Candi Gedongsongo dan Pertigaan ke arah Candi Asu Sumowono.
smpn 1 sumowono : petunjuk 1
    Petunjuk yang paling mudah, Melewati SMPN 1 Sumowono (petunjuk 1.), dengan jalan menurun sahabat pelan-pelan saja. 
gang menuju lokasi : petunjuk 2
Petunjuk 3
    Disebelah kanan akan ada gang masuk (Petunjuk 2).
petunjuk 4
   Ikuti Jalan kampung tersebut, tetap berada di jalur beraspal. 
duakali belokan (petunjuk 3). Sampai ketemu dengan jalan beton/cor (petunjuk ke 4)
Jalan beton : menuju situs watu lumpuk
petunjuk 5
    Telusuri jalan ini, Situs watu lumpuk Jubelan Sumowono berjarak kira-kira 1 km. Melewati Pemakaman umum desa dan Tandon Air Pamsimas (petunjuk 5)
  Setelah habis jalan beton, sahabat telusuri jalan tanah.
    Karena banyaknya jalur, saya sarankan sahabat untuk bertanya pada petani saja, Saya pastikan 100% warga tahu keberadaan watu lumpuk itu.
       Rute yang saya lalui : 






     "Awan-awan kok meh uka-uka mas?", tanya seorang warga sambil menunjukkan arah dimana watu lumpuk berada. Saya tahu maksudnya, tapi saya biarkan saja... daripada nambah panjang lebar....   Langsung saya bergegas menuju lokasi :
Watu Lumpuk Jubelan Sumowono

     Watu Lumpuk, konon dinamakan demikian karena menurut warga watunya nampak di kumpulkan disini, dalam bahasa jawa 'dilumpukke', yang kemudian katanya akan dibangun Gedong Songo dilokasi ini, namun urung dilakukan.
sisa situs watu lumpuk jubelan sumowono

    Unsur aura memang masih terasa kuat disini, nampak sekali berwibawa.


Walaupun yang tersisa hanya watu candi berjumlah 4, berpola yang dikumpulkan di atas bukit batu.
    Dari cerita warga pula, yang pernah diberitahu oleh seorang pelaku ritual, bahwa watu lumpuk ini sudah sejak jaman batu, alias megalitikum sudah dipakai untuk ritual. 
     Jika melihat bagaimana letak batu dan lokasi yang berada di bukit serta ciri khas lain.... mengingatkan menhir/ dolmen/ sejenisnya.

    Jadi setelah jaman megalitikum, yang identik dengan animisme, peradaban berkembang pada masa hindu kuno yang memanifestasikan tuhan / dewa dengan sebuah bangunan suci.



Bukit dimana watu lumpuk berada

    Ada 2 bukit dimana ditengarai peninggalan megalitikum pernah ada di sini, hanya berjarak 40m-an saja. 
bukit ke 2 : watu lumpuk

Add caption
     Pemandangan di sekitar situs 'JOSS GANDHOSS' sayang saya kesini terlalu sore, jadi hanya sebentar menikmati pemandangan, karena kabut tebal akhirnya menyelimuti.
view dari watu lumpuk

Video Amatir saat di Situs 

Blusuk bersama lek Imam :
Imam Wicaksono










     Salam Pecinta Situs dan Watu Candi....
@ssdrmk on situs watu lumpuk : the javanese 
Save This Not Only A Stone...
Mari Lestarikan....

Jumat, 27 November 2015

Watu Lumpang Situs Setra Tambangan Mijen Semarang

Watu Lumpang Setra Tambangan Mijen
27 November 2015
    Kisah blusukan Sambungan dari Situs Watu Lumpang Bubakan a.k.a Mbah Bathok ra. Kami keluar lagi ke arah jalan Gunungpati - Cangkiran, ambil arah kiri. Di sebelah kanan (saat kami ke sini, sedang dibangun perumahan elit: Teras Bali). Setelah Perumahan tersebut, sobat pelan-pelan... Di Sebelah kanan ada gang masuk, ikuti gang tersebut. (Petunjuk arah menyusul---kemarin ta sempat)
     Ketemu dengan perumahan baru, dengan jalan berpaving, jalan masuk tadi beraspal. ada Pos kampling ambil kiri. telusuri gang lurus (konon jalan tembus je Jatiombo). Pemandanga yang menari, unik (sayangnya saya tak bisa ambil gambar)...: Di kabel Listrik di atas pertumahan... berjejer baris ribuan pohon pipit. Saat kesini sekitar jam 4 / 5 sore.
gambar 1
     Di Pojokan perumahan Situs Watulumpang Ke Setra Berada, (gambar 1 : saya ambil posisi sejajar dengan watu lumpang, dengan arah ke perumahan)
   Watu Lumpang dibuatkan peneduh ala kadarnya oleh warga sekitar, dan nampaknya masih digunakan untuk ritual tertentu
Situs watu Lumpang Setra Tambangan
    Masih di'muliakan' dengan bukti sisa-sisa pembakaran dupa, kemenyan dan bekas lilin (yang mungkin digunakan untuk penerangan pelaku ritual-yang biasanya malam hari)

Watu Lumpang Setra Tambangan Mijen

     Watu Lumpang Setra Tambangan Mijen terlihat dari atas masih nampak mulus, lubangnya pun masih nampak aura berwibawa.
   Namun sama sekali tak kami dapatkan sekelumit sejarah / legenda ataupun mitos dari warga disekitar. karena memang Situs ini jauh dari pemukiman warga kampung asli. Hanya dari cerita Kang Mas Roso, rekan dewa siwa yang pernah 'tirakat' di tempat ini, beliau mendapat informasi adanya petilasan kuno di sini. "Saat nyepi di Situs Watu Lumpang ini, malah ditemui penunggu yang berwujud wanita cantik, yang menunjukkan di sekitar situs dulunya ada petilasan. Hanya itu yang saya dapat". Jelas Kang mas Roso.

      Karena Blusukan kali ini masih bersama Kang daru lelana saya cuplikkan lagi hasil diskusi saat berada di Situs sebelumnya :
"Watu Lumpang pada masa Hindu-Buddha digunakan sebagai piranti untuk penetapan tanah Sima. Yaitu semacam tanah yang disucikan, di mana hasil pertanian dari tanah tersebut digunakan untuk memelihara suatu bangunan suci. Jadi semacam tanah wakaf untuk masjid, pada era sekarang. Watu Lumpang disebut juga "Sang Hyang Kalumpang", dipergunakan oleh pemimpin penetapan tanah Sima (Makudur) untuk memecahkan telur dan sebagai landasan memotong leher ayam. " urai Mas daru Lelana.

Video Amatir saat di Situs 

     Blusuk Bersama.... lek Wahid, Saya, Kang Daru Lelana dan Mas Beny
Dewa siwa di Situs Watu Lumpang Setra Tambangan Mijen
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi....

Save This Not Only A Stone...
Mari Lestarikan....