Tampilkan postingan dengan label Serat Purwakanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serat Purwakanda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 September 2010

Serat Purwa Kanda : Prasanta dan Jati Pitutur


Prasanta dan Jati Pitutur
(06)

Kedua orang Jati itu menjawab,bahwa mereka tidak dapat melakukan yang demikian itu saat in, tapi kemudian, kalau mereka sudahmenjelmakan diri kedalam tubuh yang buruk. Menjelang waktu itu putrid dari Keling akan mengandung dan apabila anaknya sudah lahir, mereka akan menyediakan diri untuk menjaga pangeran kecil itu, dengan mengganti namanya, Pitutur Jati selanjutnya akan bernama Prasanta dan Jati-pitutur akan bernama Sadulumur. Miluhur menerima janji itu dan pamitan dengan para keramat. Setelah kembali kepada istrinya, yang menunggu di jalan yang besar, mereka meneruskan ke Jenggala Manik. Tapi mereka hendak mampir sebentar pada putrid Pregiwangsa di Singasari. Sebab putri itu ingin bertemu kembali dengan saudara-saudaranya.
Dalam perjalanan, Miluhur melihat cahaya di Gunung Pruwata. Dengan saudara-saudaranya ia pergi ke tempat itu dan disitu menemukan sebuah batu yang besar hitam di tepi kolam. Karena mengira bahwa cahaya yang kini tak Nampak lagi itu, dipancarkan oleh batu itu, ketiga saudara itu memutuskan membelah batu itu, barangkali ada apa-apanya didalamnya. Miluhur menendangnya dengan kakinya, batu itu belah dua nampaklah seekor katak (kedidang), yang sedang melakukan tapa didalamnya. Tapi katak itu bukan katak biasa,ia adalah Wisnu yang mengambil bentuk itu untuk kemudian menjelmakan diri dalam manusia. istrinya Sri dari Medang, tidak ditinggalkannya. Istrinya itu disimpannya dalam perutnya. Wisnu ingin masuk dalam diri Pangeran Jenggala Manik dan Sri dalam diri Putri Kadiri.
Penuh keheranan Miluhur menanyakan katak itu apa maksudnya. Dengan kasar binatang itu menjawab “Apa pedulimu, apakah aku bertapa atau tidak? Kalau kau tanyakan apa mauku, maka aku ingin menjadi raja pulau Jawa.” Karena marah oleh kata-kata itu, Miluhur menangkap bintang itu dan mencabiknya (horizontal) menjadi dua. Belahan ditangan kirinya diberikannya kepada Mangarang dan belahan ditangan kanannya dipegangnya sendiri. tapi kedua belahan itu menghilang dalam tangan mereka. Maka terdengarlah suatu suara, yang mengatakan bahwa Miluhur harus mencium kaki katak itu. Miluhur tidak peduli dengan perkataan itu dan meneruskan perjalannanya ke Singasari. Di negeri itu, ia tinggal tujuh hari. Kemudian ia terus berjalan ke Timur arah Jenggala Manik, Pregiwangsa pun ikut serta.
Raja Jenggala Manik, Dewawangsa, sudah mendengar kabar, bahwa putera-puternya akan tiba hari itu. Dikirim orang-orang untuk menyongsong para pangeran, sedangkan raja sendiri beserta para pembesar menunggu di sitinggil. Tidak lama kemudian tibalah para pangeran, mereka disambut dengan hangat. Sang putri terus masuk ke keraton untuk menemui ratu permaisuri. Hadiah raja Keling dipersembahkan kepada raja Jenggala Manik. Orang-orang Keling dibawa ke penginapannya.
Raja kembali ke keratonnya, dimana mereka santap bersama. Setengah bulan kemudian orang-orang Keling pulang ke negerinya dengan membawa banyak barang anugerah balasan.
Pangeran Miluhur gembira dengan anaknya pada selirnya dari Blora. Tatkala ia berangkat ke negeri Keling, selir itu, setelah lahir Kanistreen, mengandung beberapa bulan dan kini sudah setahun lampau. Putranya ini, yang dengan demikian adalah seibu dengan Kanistreen, diberi nama oleh kakeknya Pamade, Pamade diambil anak oleh putri dari Keling, supaya ia segera pula mendapat anak. Isteri pertama Miluhur, yang berasal dari Bagelen, sejak itu dikembalikan kepada ayahnya karena marahnya.
Tidak lama setelah itu, putri dari Keling mengandung pula, seluruh keluarga gembira. Pada waktu itu, Miluhur dikunjungi oleh dua orang, yang tidak diketahui asal usulnya. Yangs seorang pendek dan gemuk, matanya sakit, yang seorang lagi kecil, kurus, hidungnya bundar besar.orang pendatang itu menanyakan siapa putera mahkota diantara yang hadir-karena miluhur dikelilingi oleh sanak keluarganya. Semua yang hadir menganggap mereka itu gila, tapi akhhirnya Miluhur meladeni mereka.
Kedua orang itu memperkenalkan diri sebagai Prasanta dan Sadulumur, berasal darigunung Jambangan. Mereka hendak mengabdikan diri  kepada pangeran. Segera teringat akan janji kedua Jati. Kedua belah pihak berjanji setia. Orang baru itu meminta makan dan pergi sendiri ke dapur, hingga yang hadir keheran-heranan, tidak mengerti sama sekali. Hanya ketiga pangeran, Miluhur dengan kedua orang saudaranya mengetahui apa yang terjadi. Kandungan puteri Keling sudah mendekati harinya. Dalam pada itu, raja Dewakusuma jatuh sakit. Dirasa ajalnya sudah tiba, karena itu disuruhnya panggil patihnya, Murdanasraja. Patih itu mempunyai empat orang putera, ia mengetahui pula, bahwa setelah raja mangkat, kerajaan jawa akan terbagi empat, disuruhnnya puteranya yang sulung Kudasuwarsa bekerja pada Miluhur, yang kedua Jayabadra pada Mangarang yang akan menjadi raja Kadiri. Yang ketiga Jayasinga pada Midadu dari Gegelang dan yang bungsu Jaya Kacemba pada raja Singasari.
Penyakit raja bertambah parah. Setelah member nasehat supaya bersatu hati, iapun pamitan dengan putra-putranya dan menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Orang membuatkan candi untuknya. Sekaligus orangpun berkumpul untuk mengumumkan penabalan Miluhur menjadi raja Jenggala Manik. Kepada pangeran-pangeran lainpun dibagikan masing-masing sebuah kerajaan : Jawa dibagi menjadi empat, tapi perbandingan kerajaan sedemikian rupa, sehingga Jawa seolah-olah tetap merupakan satu kerajaan saja. Juga para pembesar Jenggala Manik dibagi kedalam empat kelompok yang sama dan kepada tiap raja diberikan satu kelompok.
Patih yang lama pamitan untuk meletakkan jabatan dan menjadi orang keramat. Para raja tidak menaruh keberatan, tapi ingin mengangkat keempat putra patih yang lama menjadi patih tiap kerajaan. Demikianlah terjadi.
Keempat raja masuk keraton. Permaisuri-permaisuri mereka semuanya mengandung. Tapi yang pertama mengandung ialah ratu permaisuri Keling. Di dalam keraton orang berpesta, musik gamelan ditabuh dan orang menari. Prasanta dan Sadulumur bermain dalam pesta itu sebagai badut, mulutnya dimencang-mencongkan ke kiri dan ke kanan,hingga para inja (pelayan wanita yang sudah berumur) tertawa geli.
Tatkala sampia waktu kandungan putrid Keling, lahirlah seorang anak pria ke dunia. Anak itu diliputi cahaya, yang menerangi seluruh keraton. Orang ramai diseluruh keraton tatkala anak itu lahir. Yang menjadi bidan ialah Kili-suci dari Kepucangan, ayahnya member anak itu nama Inu. Kili-suci meramalkan bahwa Inu  dikemudian hari akan menjadi raja besar di pulau Jawa. Tidak ada raja di masa silam, tidak pula dimasa depan, yang akan menyamainya. pulau-pulau lain akan ditakhlukkannya dan tunduk kepada Jawa. Apabila Mangarang mendengar ramalan itu, ia berkata :”jika demikian hendaknya aku mengambil mantu, yaitu apabila anak yang dikandung istriku, ternyata seorang perempuan.” Para hadirin menyetujuinya niat itu dan anak itu diserahkan selanjutnya kepada Prasanta dan Sadulumur, supaya bebas dari segala macam penyakit. Inu lahir pada hari yang sama dengan hari Penabalan keempat orang ayahnya menjadi raja Jawa, yaitu dalam tahun 880 (sonya-sarira-estining),tapi setelah melahirkan ibunya jatuh sakit dan pada hari ke empat puluh meninggal dunia. Banyak susu ibu dicarikan, tapi Inu tidak mau minum susu seorangpun dari mereka, ia hanya mau minum susu ibu Pamade, karena itu Pamade dihentikan menyusu dan selanjutnya dirawat Kili-suci dari Kepucangan.
Saat ini ketiga raja yang lain minta ijin hendak pulang ke keratonnya masing-masing. Kanistreen kini sudah berumur 13 tahun dan Godeg alias Brajadenta 11 tahun. Yang kemudian ini tegap tubuhnya. Raja Jenggala Manik yang banyak mempunyai selir akan banyak mendapat anak, karena selir-selir itu mengandung sekaligus. Pada waktu itu raja mengambil kakak Setrapameja dari Jungmara juga sebagai selir. Iapun segera mengandung.

Serat selanjutnya : Brahmana Dari Sabrang

Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi kebudayaan




Serat Purwa Kanda : Brahmana dari Sabrang


Brahmana dari Sabrang
(07)

Diceritakanlah tentang Kadiri. Raja kerajaan ini mendapatkan seorang anak perempuan yang manis, yang disebut Raden Galuh ia lahir dua bulan setelah Inu dan diniatkan akan dijadikan isteri Inu.
Kini diceritakanlah seorang Brahmana di tanah Sabrang. Ia tinggal di Alon (atau:Alonda?). Karena tapa, ia menjadi sangat sakti. Di tanah Sabrang tidak ada yang dapat menyamainya dan ia dihormati oleh orang banyak. Ia ingin sekali menjadi raja Jawa. Tapi dewa-dewa tidak member ijin untuk itu. Ia harus merasa puas dengan mengusai negeri-negeri Sabrang saja. Tapi ini tidak dirasanya cukup, ia hendak menjadi raja Jawa juga, karena itu menggunakan tipu daya. Ia mempunyai seorang anak gadis yang amat kecil dan buruk rupanya. Bersama anaknya itu ia melayang di udara dan memeriksa seluruh pulau Jawa. Sampai di Gegelang dilihatnya, bahwa permaisuri baru saja melahirkan seorang anak perempuan. Malam hari ditukarnya anaknya dengan anak raja Gegelang itu. Setibanya dirumah putri yang dicurinya itu disebutnya Ratna Be, diserahkannya kepada isterinya. Anak yang ditinggalkan di Gegelang diberi nama Ratna Sarag Bodhag oleh ayahnya. Lama kemudian permaisuri Gegelang mengandung lagi. Untuk sementara tidak diceritakan lagi tentang Gegelang.
Saat ini diceritakan tentang raja Jenggala Manik. Ia mendapat seorang putera lagi, yang disebut Lemmpungkaras. Bersamaan waktu dengannya dilahirkan banyak anak raja, tapi semuanya pria tidak seorangpun perempuan.
Saat ini raja Jenggala Manik hendak mengawinkan anaknya, Kanistren dengan Prasanta. Putri itu tidak mau tapi dipaksa oleh ayahandanya. Semuanya dipersiapkan untuk upacara perkawinan, pun raja-raja yang sudah hadir semua. Karena malu suaminya buruk, Kanistreen memandang ke udara. Maka dilihatnya dewa-dewa dan dewi-dewi yang menghadiri upacara itu. Ia pun terhibur hatinya. Namun wanita-wanita dalam keraton merasa sayang, bahwa Kanistren kawin dengan pria yang sedemikian buruknya.
Sampai di keraton orang berpesta.
Mempelai pria dan perempuan akan mencium kaki ke empat raja. Tapi mereka tidak mau dicium kakinya oleh Prasanta. Hanya mempelai perempuan yang diizinkan mereka melakukannya. Raja Jenggala Manik mengajarkan mempelai perempuan, kewajiban-kewajiban seorang wanita. Kemudian dia diserahkan kepada Prasanta. Prasanta berjanji akan mengurus istrinya baik-baik. Selama ia duduk di sampingnya, ia berlucu-lucu. Sadulumur berkata : “Si Dojok senanti (jawa:samengko) terlalu banyak untung, dapat bini putri terlalu baik, anaknya sang Katong, kaluk pagi duduk kursine, ngadep meja makan roti beskuwit, merteganya putih, minum kopi dan susu”.
Orang yang mendengarnya tertawa.
Dalam pendapa pesta diteruskan, setelah jauh malam, Prasantaa pergi ke kamarnya dengan istrinya, ia menjelma kembali kedalam tubuhnya yang indah. Mereka berkasih-kasihan. Kanistren tertanya, mengapa Prasanta memperlihatkan dirinya yang buruk di sepan umum. Prasanta menjawab, bahwa yang demikian itu dilakukannya dengan sengaja, karena ia kuatir orang akan mengetahui bahwa ia seorang dewa. Terutama karena ia bertugas untuk menjaga penjelmaan Wisnu.
Beberapa hari kemudian, tamu-tamu para raja kembali ke negerinya. Saat ini diceritakan lagi tentang Brahmana. Ia sama sekali tidak senang, kalau tidak menjadi raja Jawa. Istrinya saat ini mendapat seorang anak pria lagi, yang dibawanya pula melayang di udara, untuk menukarnya dengan seorang pangeran Jawa. Kebetulan raja Gegelang mendapat seorang anak pula dan seorang lelaki. Pada suatu malam anak itu diculik oleh Brahmana dan digantinya dengan anaknya sendiri. sampai dirumah anak raja yang diculiknya itu diberi nama Kelana Tunjungpura. Setelah beberapa lama anak itu menjadi besar. Yang tertua, yang perempuan bernama Bekang Werdeya. Kepada anak-anaknya itu sang Brahmana banyak mengajarkan ilmu dan kepandaian. Mereka menjadi masyhur d tanah Sabrang. Banyak raja-raja menyerahkan diri kepada anak muda itu, berkat kesaktiannya. Dalam pada itu, ia sudah diangkat menjadi seorang raja Pulo Kencana. Anak-anak perempuan keempat puluh raja takhlukannya, dijadikannya selir, tapi tidak seorangpun mereka itu sungguh-sungguh disenanginya. Ia ingin mencari istri yang lebih baik. Tentang dirinya untuk sementara tidak diceritakan lagi.
Saat ini dilanjutkan cerita tentang raja Jenggala Manik. Ia sudah mempunya 108 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan, semua putra raja bernama Panji, sedangkan perempuan yang bungsu namanya Ragilkuning.
Pun raja Kadiri sudah beranak, empat orang banyaknya. Yang sulung ialah putrid Sekar-Taji (Raden Galuh), yang kedua pangeran Gunungsari. Dua anak perempuan raja yang lain bernama Tamiaji dan Mindaka, masing-masing anak pada selir yang lain.
Raja Gegelang mempunyai tiga orang anak pada seorang istri yaitu Rana Sarag Bodhag dan Sinyanglaga, kedua anak ini adalah anak Brahmana. Yang ditukarkan, yang bungsu, anak perempuannya yang sesungguhnya bernama Kumuda. Raja Singasari mempunyai dua orang anak : Nawang-wulan, seorang perempuan dan Banyak-wulan seorang pria.
Anak-anak perempuan dari ketiga raja itu diniatkan akan dikawinkan dengan Panji Inu Kertapati, yang dianggap sebagai pengganti ayahnya, meskipun ia banyak mempunyai saudara pria. Tempat kediaman yang ditunjukkan  kepada Panji, ialah Kuripan. Dalam segala halia melebihi saudara-saudaranya. Ia menggubah lagu, memperbaiki dan menambah music gamelan. Pun ia memperhalus bahasa dan kesusasteraan. Tapi ia belum lagi kawin.
Saat ini diceritakan tentang selir Miluhur yang ketika mengandung sudah diasingkan. Ia melahirkan seorang anak pria, yang tubuhnya tegap dan yang atas kehendaka Kala, disebut Punta. Anak itu menanyakan kepada ibunya, siapa ayahnya “Lembu Miluhur”, yang kini menjadi raja” , jawab ibunya. Apabila anak itu menjatahkan keinginannya yang sangat untuk melihat ayahnya, ibunya menasehatinya supaya jangan langsung menemuinya, sebab ayahnya tidak akan segera mengakuinya sebagai anak. Anak itu harus mencari dulu seorang teman. Kalau sudah haruslah ia mencoba menarik orang-orang disekitar kota Jenggala Manik, hingga karenanya raja akan menanyakan tentang dirinya. Anak tu pamitan dengan ibunya untuk menuruti nasehatnya.
Juga selir yang berasal dari Wandan dan yang dulu dibuang itu, melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberni nama Kertala dan sama tegapnya dengan Punta, lagipula kulitnya hitam dan bulunya lebat. Ia pun ingin melihat ayahnya. Ia mendapat nasehat yang sama dari ibunya seperti Punta, ia pun berpamitan dengan ibunya seperti Punta. Dalam perjalanan, anak-anak itu bertemu. Karena keduanya sama berani, terjadilah pertengkaran antara keduanya yang berakhir dengan perkelahian. Kala dan Anantabogamemisahkannya dan mengatakan bahwa mereka bersaudara . setelah bermaaf-maafan kedua pemuda itu harus meneruskan perjalannya. Dan setelah sampai di dalam kota, mereka harus segera menggabungkan diri dengan In, salah seorang saudara mereka yang banyak. Setelah berkata demikian, dewa-dewa itumenghilang.
Kedua bersaudara itu hendak menakhlukkan Balambangan, Tengger dan Malang, sebelum meneruskan perjalanan ke Jenggala Manik. Demikianlah terjadi. Sampai di Jenggala Manik, raja mendapat laporan, bahwa seorang musuh yang kuat sedang dalam perjalanandari jurusan Timur. Semua negeri-negeri di Timur sudah menggabungkan diri dibawah pimpinan dua orang bersaudara untuk menyerang Jenggala Manik. Raja meminta nasehat saudaranya perempuan, ulamawati Kili-suci, yang mengusulkan semua anak raja keluar menyerang. Raja mengikuti nasehat itu. Semua putra raja, juga Panji, mengeluari musuh.
Keberangkatan tentara yang teratur.
Punta berunding dengan patihnya, Tambak-juda, di Lumajang. Pertempuran mulai. Apabila Punta dan Kertala sama-sama menghadapi Panji, keduanya tertangkap. Mereka tak dapat bergerak dan beriba-iba menyeru nama ayahnya, Miluhur. Apabila Panji mendengarnya ia terharu sekali.


Serat selanjutnya : Punta dari Kertala
Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi kebudayaan

Serat Purwa Kanda : Punta dan Kertala


Punta dan Kertala
(08)

Panji menanyakan, mengapa mereka memanggil-manggil nama ayahnya. Keduanya memberikan penjelasan. Mereka berdamai dan pulang ke Jenggala Manik, dimana raja menunggu-nunggu pulang anak-anaknya. Sampai dihadapan raja, Punta dan Kertala dibawa menghadap sebagai seorang tawanan. Setelah melihat Punta dan Kertala, raja jatuh kasihan pada mereka. Setelah memberikan penjelasan, mereka diakuinya sebagai anaknya dan selanjutnya mereka harus setiap waktu membantu Panji. Punta mendapat daerah Cengkal-Sewu dengan mendapat gelar Andaga dan Kertaka mendapat daerah Malang dengan gelar Kalang. Mereka yang sudah berjuang mendapat anugerah dari raja. Kemudian pertemuan diakhiri.
Cerita dilanjutkannya. Raja Jenggala Manik hendak mengawinkan Panji dengan putri Raja Daha.
Bersama-sama dengan Brajadenta, yang harus kawin dengan putrid Sarag Bodhag dari Gegelang. Segala sesuatu dipersiapkan. Para bupati seluruh Jawa, mempersembahkan berbagai hadiah sebagai sumbagan untuk pesta-pesta.
Diceritakan tentang Kelana Tunjung-pura. Ia meminta izin kepada ayahnya, sang Brahmana, supaya boleh kawin dengan putrid Daha. Sang Brahmana melarangnya, katanya putrid itu sudah diniatkan untuk dikawinkan dengan Panji, sedangkan Panji adalah pahlawan yang tidak bisa ditakhlukkan dan penjelmaan seorang dewa. Tapi Kelana tidak mau melepaskan maksudnya. Karena kasihan kepada putranya, Sang Brahmana berjanji akan menculikkan Putri Kadiri. Ia melayang diudara dan sampai malam hari di Kadiri, tatkala orang sedaang mempersiapkan perkawinan. Apabila ia melihat tempat putrid, dipakaikannya jampe-jampe untuk menidurkan sang putri. Tatkala melihat tuan putri. Ia teringat kembali segala perbuatannya dahulu. Sebab ia adalah penjelmaan Watugunung, yang mencari Dewi Sri. Diangkatnya putri yang sedang tidur itu. Dimasukkannya ke dalam Cupu-manik dan dibawanya pulang ke Takanda, tempat kediamannya sendiridan bukan ke Pulo Kencana. Sebab ia ingin menahan putri itu untuk dirinya sendiri.
Setelah diketahui orang Sekar-taji hilang, seluruh Kadiri berduka cita. Semua petgas dikirim ke segala penjuruuntuk mencari sang putri. Pun dikirim berita ke Jenggala Manik tentang kehilangan tuan putri. Gunung-sari yang menyampaikan berita itu, sampai di Jenggala Manik. Kanjeng Sinuhun Raja terkejut mendengar berita dari Gunung-sari, ia meminta nasehat kakaknya. Kili. Kakaknya itu berkata bahwa, “Menurut perhitungan…. Sang putri diculik oleh seorang yang luar biasa kuasanya, tinggalnya jauh, sangat jauh dari Jawa, bahkan dipisahkan oleh laut dan gunung. Tidak ada orang dapat menemukannya kecuali Panji sendiri.” panji pun disuruh dating. Setelah mendengar jalan kejadian, Panji memutuskan akan mencari sang putri. Prasanta akan mengikutinya kemana-mana. Gunung-sari kini disuruh kembali ke Kadiri.
Panji sampai di tempat kediamannya sendir, ia minta nasehat Prasanta (di sini tiba-tiba ia disebut Ki Lurah Cakrajaya) mengenai usaha pencarian. Karena bingungnya, Panji jatuh pingsan. Saudara-saudaranya yang lain, yang juga hadir, mencoba menyadarkannyakembali. Onengan menangis karena terkejut. Sang raja yang mendengar kejadian itu, pun datang ke tempat kediaman Panji, bersama kakaknya Kili-suci. Ia menanyakan keadaan putranya, Prasanta menjawab : “ Ah, biasa saja, memang kalau dia sedih, dia jatuh pingsan”.
Tak lama kemudian Panji siuman kembali, tapi ia segera menghilang. Kepada Prasanta untuk segera mencari Panji. Prasanta pun menghilang pula seketika itu, menimbulkan keheranan sekalian yang hadir. Atas permintaan Prasanta sebelum ia gaih, orang di Jenggala Manik harus bersiap-siap untuk berperang, sebab perang besar akan terjadi. Nasehatnya itu dituruti orang.
Sang Brahmana yang membawa Sekar-taji, meletakkannya di tempat kediamannya sendiri. ia membelai-belainya, meskipun Sekartaji terus menolaknya. Tatkala ia hendak memperkosanya, Sekartaji melarikan diri. Dikejarnya. Sekartaji berusaha sembunyi di dalam sebuah hutan kecil.
Panji yang tidak kelihatan, sampai ditempat itu. Dicegahnya Brahmana itu mendekati sang putri. Sedang Prasanta mengangkat sang putrid dan memasukkannya ke dalam sebuah Cuput-manik. Saat ini Panji menampakkan diri, terjadi pertengkaran mulut, setelah itu perkelahian, sebentar di udara, sebentar di bumi. Akhirnya sang Bramana melarikan diri di angkasa. Prasanta harus “memutar”nya supaya kembali. Sadulumur berlucu-lucu berkenaan dengan pemutaran jenterapemintal, sebagaimana Brahmana itupun “diputar”. Brahmana itu bersumber di angkasa, tapi ia terkejut tatkala merasa bahwa ia makin lama maki dekat ditarik ke tempat Panji. Akhirnya ia ditangkap dan dipenggal kepalanya. Atas usul Prasanta, kepalanya itu disertai sepucuk surat, dilontarkan kepada putranya, Kelana, supaya ia dating ke Jenggala Manikuntuk membalas dendam dan dapat dibunuh disana.
Setelah kepala Brahmana dilontarkan ke Pulo-Kencana, Panji dan Prasanta pulang ke pulau Jawa, Prasanta mendapat tugas untuk membawa Sekartajikembali ke Kadiri, Panji sendiri meneruskan perjalanan ke Jenggala Manik.
Kelana Tunjung-pura, dikelilingi oleh para pembesarnya. Patih Lindu-prahara duduk didepannya. Dibicarakan tentang perjalanan Brahmana, yang belum juga kembali. Tiba-tiba kepala Brahmana itu jatuh didepannya. Sekalian orang terkejut. Kelana membawa kepala itu kepada ibunya, yangmenangis dengan sedihnya. Pun Bekang Mardeya menangisi ayahnya. Suratpun ditemukan dan dibaca. Isinya ialah tantangan Panji kepada Kelana. Tentara negeri Sabrang dipersiapkan. Mereka naikkapal dan menuju Jawa.
Setelah Panji sampai di Jenggala Manik, orang bersiap-siap untuk membawa mempelai itu ke Kadiri, sebagian orang Jenggala Manik menyongsong orang Jenggala Manil. Rakyat yang bertempur itu lalu menuju kota Kadiri, dengan bawaan yang menarik perhatian; gunungan,dan sebagainya. Menjelang matahari terbenam. Panji tiba di istana, disongsong oleh para istri raja.
Perkawinan dilangsungkan, orang bersuka-ria, Prasanta dan Sadulumur menjadi Badut. Apabila sudah jauh malam. Panji menuntun istrinya ke kamar mempelai. Mereka berkasih-kasihan. Esok paginya Panji menghadap raja bersama istrinya yang baru. Raja berbicara tentang perkawinan mereka. Setengah bulan kemudian kedua mempelai itu dibawa kembali ke Jenggala Manik. Pasangan mempelai yang lain, Brajananta dan putri Gegelang, pun datang di Jenggala Manik. Diadakan pesta besar.



Tamat.

Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi kebudayaan



Senin, 23 Agustus 2010

Serat Purwa Kanda : Prabu Amiluhur


Prabu Amiluhur
(05)

Raja teringat akan suara yang mengatakan kepadanya, bahwa anaknya akan diperistri oleh seorang Pangeran Jawa. Maka disuruhlanh Pangeran-pangeran itu dibawa kekeratonnya. Dimintanya penjelasan lebih lanjut tentang diri pemenang itu.
Dalam pada itu dari luar diberitahukan, bahwa keempat puluh raja yang datang untuk maksud yang sama, mulai mengamuk. Setelah dimusyawarahkan raja menyerahkan kepada Pangeran-pangeran Jawa untuk memusnahkan mereka. Pangeran-pangeran tersebut keluar dengan beberapa pengiring untuk menghadapi musuh. Sambil menantang, raja-raja itu sudah melakukan persiapan untuk berperang.
Pertempuran dimulai. Karena kekuatan musuh lebih besar, tentara Keling terpaksa mundur. Miluhur lalu teringat akan janji kedua Jati. Disentuhnya bumi tiga  kali dan sekonyong-konyong kedua Jati itu menjelma, diiringoi oleh tentara yang besar, terdiri dari makhluk-makhluk gaib yang mempergunakan jerat sebagai senjata. Keempat puluh raja itu kesemuanya diikat. Prajurit-prajuritnya dihalau kacau-balau. Kedua Jati itu membawa raja-raja yang sudah diikat itu kepada Miluhur dan mereka menyerahkan diri kepadanya. Setelah itu kedua Jati ghaib pula seperti sebelumnya. Bersama patih Pangeran-pangeran Jawa itu membawa raja-raja yang takhluk itu kepada raja Keling, yang karena rasa maturnuwun menjanjikan kerajaan kepada Miluhur. Segera dilangsungkan perkawinan Miluhur dengan putri raja, dengan segala upacara kebesaran.
Diadakanlah pesta yang ramai. Demikianlah Miluhur mendapatkan putri Sangkaningrat dari negeri Keling sebagai istri.
Setelah tujuh hari, raja memperlihatkan diri pula keluar. Miluhur pun hadir.atas pertanyaan raja, apayang kini hendak dilakukan oleh Miluhur kepada empat puluh raja itu, ia menjawab bahwa mereka sebaiknya dikirim kembali ke negerinya. Tapi sekali setahun mereka harus datang berkunjung ke negeri Keling dengan membawa upeti.
Untuk menentramkan hati raja Jawa, raja Keling akan mengirimkan berita kesana, menjelaskan apa yang sudah terjadii di negeri Keling. Atas usul Miluhur untuk itu ditunjuk pedangan yang sudah menolongnya member tempat bernaung, tatkala ia sampai ke negeri Keling. Demikianlah Martawangsa dengan diiringi beberapa pengiring dikirim kepada raja Jenggala Manik untuk menyampaikan berita itu. Raja kembali kedalam keraton, keempat puluh raja pulang kenerinya masing-masing dan martawangsa naik kapal menuju pulau Jawa. Tidak diceritakan kejadian-kejadian dalam perjalanan, Martawangsa segera sampai ke tanah Jawa. Raja Jenggala Manik beserta permaisurinya,semenjak perginya putra-putranya, amat berduka cita. Tapi saat ini sampailah kabar baik. Patih memberitahukan kedatangan pedangang Martawangsa kepada raja. Setelah dipanggil menghadap raja. Martawangsa menyerahkan surat, yang segera dibaca oleh sang raja. Melalui surat itu, kini sang raja dengan girang mengetahui pengalaman-pengalaman ketiga orang puteranya. Martawangsa diterima dengan baik dan tinggal dirumah patih. Bebrapa hari kemudian ia dikirim kembali ke negeri Keling dengan surat balasan. Raja Manik Jenggala Memberinya kecuali hadiah-hadiah balasan juga sejumlah besar orang dengan sebuah kapal untuk membawa putera-puteranya kembali ke tanah Jawa. Sampai di negeri Keling, orang Keling mengagumi orang Jawa yang melakukan segalanya dengan tertib. Raja Keling diberitahu tentang kedatangan Martawangsa, yang baru kembali dari Pulau Jawa. Ia keluar dikelilingi oleh pembesar-pembesar. Kepada Martawangsa diucapkan selamat datang dan ia menceritakan hasil tugas perjalanannya. Dibacalah surat dari Raja Jenggala Manik. Orang merasa girang. Orang-orang Jawa yang baru datang dipanggilah oleh miluhur dan disambut dengan baik.
Pertemuan berakhir. Raja kembali ke keraton. Sejak datangnya orang Jawa di Keling. Setiap senen Miluhur mengadakan senenan seperti dijawa.orang Keling melihat permainan senenan Jawa itu (semacam turnoi) dengan gembira dan kagum.
Setelah enam bulan tinggal di negeri Keling, putera-putera raja ingin pulang ke Jawa. Mereka minta ijin ke raja dan diperkenankan pergi. Orang-orang bersiap-siap untuk perjalanan kembali ke pulau Jawa. Kapal-kapal diselesaikan, dimuat didalamnya barang dan makanan. Setelah selesai semuanya, Miluhur dan istrinya pamitan dengan raja dan permaisuri. Merekapun naik kapal dan berangkat menuju pulau Jawa.Raja dan permaisuri ditinggalkan berduka cita.
Sampai di pulau Jawa, kapal ditujukan ke pelabuhan Jungmara. Adipati kota itu sudah mempersiapkan penginapan dan sebagainya. Orangpun turun kedarat. Pertemuan antara pangeran dipati Jungmara, seorang cucu Sandanggarba, jadi masih keponakan jauh bagi Miluhur. Ketika ditanya, dipati yang bernama Setraprameja menjawab, selama kepergian para pangeran itu, ayahnya meninggal dunia, tapi setelah itu, atas sabda dhawuh raja Jenggala Manik, ia menggantikannya. Ia mempunyai saudara perempuan jelita, bernama Setrawulan, yang padaperjamuan makan bersama melayani para pangeran. Miluhur jatuh cinta kepadanya, tapi tidak menyatakannya. Para pengeran hanya tujuh hari tinggal di Jungmara. Kemudian orang berangkat lagi dengan joli dan naik kuda. Pangeran Singasari dan Lembu Mijaya menyongsong para pangeran itu di tengah jalan. Pertemuan yang hangat. Tiba di kaki gunung Semeru, Miluhur hendak mampir sebentar di tempat kediaman kedua Jati. Ditinggalkannya istrinya, dijaga oleh pangeran Singasari, di jalan besar, dan ia pergi tanpa pengiring mendaki gunung. Tapi kedua saudaranya ikut serta. Setelah sampai diatas mereka bertemu dengan kedua keramat itu. Setelah pertemuan yang mesra, Miluhur mengusulkan supaya mereka melakukan tapa di kota saja dan membantunya dalam urusan Negara.


Serat selanjutnya : Prasanta dan Jati Pitutur
Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi kebudayaan





Minggu, 22 Agustus 2010

Serat Purwakanda : Mangarang dan Midadu


Serat Purwakanda : Mangarang dan Midadu

Mangarang dan Midadu
(03)

Dengan berhati sedih berangkatlah Miluhur dari keraton, tidak kembali ketempat tinggalnya sendiri. saudara-saudaranya, Mangarang dan Madidu, juga turut bersama-sama menghadap ayahnya, juga ikut dengan dia. Ketiga putra raja itu masuk hutan keluar hutan, dengan tiada tujuan tentu. Setelah ketiga orang putra raja itu meninggalkan kota, rakyat seluruhnya berduka cita.
Maka tersebutlah pertapaan di gunung Jambangan. Di tempat itu sudah lama tinggal dua orang bersaudara yang sedang tapa. Mereka itu bernama Jati-pitutur dan Pitutur-jati. Keduanya sebenarnya bukan manusia, akan tetapi dewa utama, yang sedang mencari anak angkatnya Wisnudewa. Wisnudewa bersama istrinya menghilang dari keinderaan. Tapi kedua Jati itu mengetahui di mana mereka akan menemui penjelmaan dewa Wisnu, karena itulah mereka menunggunya di Pulau Jawa sebagai pertapa.
Ketiga orang pangeran itu berjalan dalam hutan, tak tahu arah tujuan. Dari jauh mereka lihat suatu cahaya diatas bukit itu, mereka bertemu kedua pertapa itu, yang menyambut mereka dengan ramah.

Serat selanjutnya : Arga-Jambangan
Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi kebudayaan

Sabtu, 21 Agustus 2010

Serat Purwakanda : Keraton Jenggala Manik

Serat Purwakanda : Keraton Jenggala Manik



Keraton Jenggala Manik
(02)

Kanjeng sinuwun pindah ke keratonnya yang baru, yang tetap memakai nama Jenggala Manik seperti nama rimba tempatnya dibangun itu. Orang Kuripan yang mau pindah, pindahlah ke Jenggala Manik yang amat makmur. Keraton Kuripan yang lama lalu dijadikan sebuah taman,yang menimbulkan kesan seakan-akan tempat itu sbuah pertapaan. Dalam keratn yang baru diadakan keramaian.
Kemudian ketiga orang saudara raja itu mangkatlah: panuwun meninggalkan seorang putra, ia menjadi menantu raja lalu menggantikan ayahnya menjadi Bupati Bagelen dengan nama Arumbinang. Juga putra Karungkala menggantikan ayahnya dengan nama Dirajasena. Anak Tunggul-petung juga sudah menggantikan ayahnya, memakai nama Tunggul-seta. Ia harus pindah ke kratonnya yang lama di Panaraga. Prambanan lalu dijadikan tempat pelipur lara.
Sri Gentayu lama memerintah, dari putra mahkota Dewakusuma, ia sudah mempunyai cucu lima orang, tapi masih kecil-kecil. Yang tua sekali seorang perempuan bernama Warakili, yang kedua seorang pria benama Luhur, yang menengah juga seorang pria, Mangarang namanya. Yang dibawah itu pria pula, bernama Midadu dan yang bungsu seorang perempuan Wragilwangsa  namanya, tapi ia dari lain ibu. Ibunya ialah putri dipati Singasari, bernama Sindureja yang sudah meninggal. Sejak itu ia digantikan oleh anaknya, jai ipar Dewakusuma dengan nama Jayasastra krena ia juru tulis Dewakusuma.
Perpindahan raja ke Jenggala-manik terjadi dalam tahun 800M (laja-Boma-sariraning). Raja tidak dapat melihat cucu-cucunya dikawinkan. Sinuwun jatuh lalu mangkat. Tak lama kemudian meninggal pula patihnya. Jakasanagara yang meninggalkan seorang putra bernama Amongtani.
Dengan upacara kebesaran Dewakusuma diangkat menjadi raja Jenggala Manik. Jayasastra membacakan pengumuman itu, sekalian rakyat bersorak gegap gempita atas pengangkatan itu dan dimana-mana rakyat memberi hormat dengan bunyi musik gamelan, tembakan meriam dan sebagainya. Setelah itu diadkan keramaian. Pengangkatan Dewakusuma mejadi Raja Jenggala Manik terjadi pada tahun 811 M (eka tunggal sarira). Sebagai patih lalu diangkat Murdana-sraja.  Oleh kebijaksanaan raja dan kecakapan patihnya negeri menjadi makmur dan sejahtera.
Raja itu mempunyai lima orang anak yang kini sudah dewasa. Yang sulung, Warakili tetap tidak kawin dalam hidup membujang ia selalu melakukan badah. Yang kedua Miluhur jadi anak lak-laki yang tertua, diangkatnya menjadi putra mahkota. Putranya ini sudah kawin dengan putri Bupati Bagelen.
Putri ini yang jadinya istri pertama putra mahkota, bernama Murdaningrum dan agak pencemburu. Suaminya sebenarnya tiada berapa mencintainya. Ia hanya mengawininya karena takut kepada ayahnya. Lagipula ia sudah mempunyai tiga orang selir; yang seorang anak rangga Blora, yang kedua putri Demang Cengkalsewu, dan yang seorang lagi sahaya yang berasal dari negeri Candana laras. Pangeran itu amat mencintai selir-selirnya itu.
Saudaranya, mangarang juga sudah kawin dengan anak seorang Bupati Bandung. Putri itu bernama Candra-ningsih. Mangarang beroleh daerah Kadiri dan selanjutnya bernama Lembu Mangarang. Midadu sudah kawin pula dengan putri Bupati Panaraga, bernama Sumekar. Ia mendapat daerah Gegelang dan seterusnya bernama Lembu Midadu.
Yang bungsu, putri Wragil-wangsa kawin dengan putra Sastrajaya, yang sudah meninggal dan digantikan anaknya sebagai Bupati Singasari dengan nama Lembu Mijaya. Putra Mahkota, Lmbu Miluhur dengan selirnya dari Blora, mendapat anak seorang perempuan yang dinamakan Kenestri (dalam bagian lain: Kanistren). Anak itu dirawat oleh neneknya, yaitu permaisuri.
 Putri mahkota sudah hamil tujuh bulan. Begitu pula kedua selir putra mahkota yang lain, sudah hamil pula. Karena dengki, lalu putri mencari akal. Putri itu pura-pura sakit, merasa sakit kepala dan kedua belah kakinya lumpuh. Pangeran ketika diberitahukan hal itu, lalu menanyakan kepadanya apa sebabnya. Putri itu menerangkan, bahwa ia ketika tidur bermimpi dipukuli oleh kedua orang selirnya itu, yang seorang memukul kepalanya, dan seorang lagi memukul kakinya. Apabila mereka itu tiak disikirkan, pastilah ia akan menemui ajalnya. Kerena marah kepada dua orang selirnya, putra mahkota memerintahkan untuk megasingkannya dan membunuhnya. Tugas itu diserahan kepada lurah (kepala pasukan) Gulang-gulang bernama Sumambita. Kedu selir itu dibawalah kedalam hutan, aka tetapi ketika Sumambita hendak menjalankan perintah itu, selir yang berasal dari Cengkal-sewu direbut oleh Batara Kala dengan cara  yang gaib, serta disembunyikannya didalam sebuah hutan,dimana kala sudah menciptakan baginya sebuah tempat yang dapat didiami. Permpuan itu melahirkan seorang anak pria, yang atas sabda dhawuh Kala, dinamakan Phunta.
Hal yang sama terjadi pula atas diri sahaya keturunan Papua yang tengah mengandung, tapi ia dilarikan oleh Antaboga, raja ular, yang jatuh kasihan kepadanya dan mnyembunyikannya dalam sebuah gua. Setelah sampai waktunya ia melahirkn seorang anak pria, bernama Kertala. Karena disihir oleh kedua Dewa itu, sang lurah mngira bahwa ia sudah membunuh kedua perempuan itu. Karena itu iapun melaporkanbahwa ia sudah melakukan tugasnya.
Dalam pada itu, putri mahkotapun sudah mlahirkan seorang anak pria yang kukuh perawakanya. Ketika dibawa kepada kakeknya ia diberi nama Godeg (yang bercambang). Lagipula raja meramalkan bahwa anak itu tidak akan menjadi raja. Selanjutnya Kanjeng Sinuwun menanyakan bagaimana keadaan kedua orang selir itu. Ketika kanjeng sinuwun mendengar jawaban yang berdasarkan kejadian sebenarnya, kanjeng Sinuhun marah kepada putra mahkota, tapi tidak menampakkan kemarahannya itu. Kemuian kedengaranlah suara, yang mengatakan bahwa Miluhur tidak akan memperoleh anak yang akan menjadi raja, kecuali bila ia kawin dengan seorang Putri Keling (Hindia Depan). Kanjeng sinuwun memerintahkan Miluhur datang menghadap. Ia mendapat marah karena perbuatannya terhadap kedua orang selirnya. Miluhur saat ini harus mencari seorang istri, yang akan melahirkan seorang putra yang berhak menjadi raja.

Naskah selanjutnya : Mangarang dan Midadu
Diketik Ulang untuk sasadaramk.blogspot.com, dari buku Kitab Jawa Kuno




Serat Purwakanda : Guna Rasaning Pandita


Guna Rasaning Pandita

Raja Kuripan, putra Resi Gentayu ingin menjadi maharaja seluruh tanah Jawa. Keluarganya menyetujui keinginan itu. Ia lalu muncul dengan tanda – tanda kebesaran yang lengkap sebagai raja besar, seperti lancang, bokor, bancak-dalang rusa emas, Ardawalika dan sebagainya. Gajah dan kuda dibawa kepada sang raja. Hal seperti ini belum pernah ada sebelumnya. Sekalianya ini sudah diadakan oleh Dandang-gendis, karena bakatnya menemukan sesuatu. Akan tetapi musik gamelan lengkap belum ada, musik gamelan itu masih merupakan perangkat bunyi-bunyian menurut tata Seberang, terdiri dari Gong gendang, ketuk dan kecapi. Inilah baru alat-alat bunyi-bunyian yang ada.
    Dandang-gendis bersinar sebagai matahari ditengah-tengah lingkungannya. Dia mempunyai pengetahuan dalam segala hal, dalam ilmu bahasa dan sastra, dan juga dalam ilmu kesenian. Ia cocok benar dengan patihnya yang bernama Jaksanagara, yang juga pecinta kesenian. Patih itu lalu berdiri dan mengumumkan kepada rakyat bahwa raja itu sekarang menjadi maharaja seluruh pulau Jawa yang tiada terbagi-bagi. Untuk selanjutnya ia akan memakai nama Resi Gentayu. Jadi nama ayahnya akan dipakainya. Sekalian rakyat menyetujuinya dengan suara yang gegap gempita, sedangkan musik gamelan ditabuh orang sebagai tanda penghormatan. Tembakan penghormatan dilepaskan. Mereka, yang dalam hubungan kekeluargaan lebih tua dari kanjeng sinuwun, memberi hormat kepadanya, yang muda-muda mencium kakiknya. Setelah itu mereka makan brsama-sama, mereka terus bersukaria sampai larut malam. Penobatan ini terjadi dalam tahun  763 M (Guna-Rasaning-pandita).
Akhirnya orang banyak itu bubar. Raja mengundurkan diri dalam keraton. Raja-raja taklukan sudah pulang ke negerinya masing-masing. Dengan cara inilah Gentayu menjadi raja. Putranya yang tertua bernama Dewakusuma yang bersaudara tida orang putri yang sudah dewasa. Dewakusuma sudah kawin dengan putri raja Panubun dari Bagelen bernama Candrawati.
 Ketia putri itu,saudara-saudara Dewakusuma, sudah bersuami pula. Seorang diantaranya bersuamikan putra raja Sandang-garba di Jungmara, seorng lagi putra raja Krungkala dariiii Bandung danseorang lagi kawin dengan putra Tunggul-petung raja Prambanan.
Raja Gentayu bangga akan putranya, karena ia banyak mempunyai sifat-sifat yang baik dan terutama ia saangat alim. Ia bermaksud hendak mendirikan sebah keraton baru dan untuk itu dipilihnya rimba jenggala manik yang segera diciptakan sebagai kota.

Naskah selanjutnya : Keraton Jenggala Manik
Diketik Ulang untuk sasadaramk.blogspot.com, dari buku Kitab Jawa Kuno

Serat Purwakanda : Arga-Jambangan


Serat Purwakanda : Arga-Jambangan

Arga-Jambangan
(04)

Tatkala ditanyakan kepada tamu-tamu itu siapa mereka, mereka mengelak memberikan jawaban yang tegas. Tapi kedua orang keramat itu sudah tahu sebelumnya siapa mereka itu dan menyebutkan nama dan sebagainya dari tamu-tamu itu. Tatkala ditanya oleh tamu-tamu itu siapa konon nama orang-orang keramat itu, mereka menyebutkan namanya. Juga nama tempat mereka bertapa itu disebutkannya yaitu, Arga-Jambangan, sebagian dari gunung Semeru. Ketiga tamu itu menyerahkan diri sepenuhnya kepada para pertapa, yang berjanji akan berusaha melakukan segala sesuatu bagi mereka. Makananpun dihidangkan. Selama mereka tinggal ditempat pertapaan, anak-anak pangeran itu mendapat pelajaran mengenai tugas kewajiban seorang raja. Selain itu pangeran-pangeran itu diminta menyebut kedua perta itu dengan sebutan kakang (saudara yang lebih tua). Atas pertanyaan Miluhur apa yang saat ini sebaiknya mereka lakukan, orang-orang keramat itu menganjurkan kepadanya supaya pergi ke tanah ageng (negeri besar) di tanah seberang, untuk mencari seorang istri yang pantas. Raja Keling saat ini sedang mengadakan sayembara. Sebuah sada atau lidi ditanam di dalam tanah. Barang siapa yang sanggup mencabutnya dari dalam tanah, akan mempersunting putri raja. Banyak raja-raja yang mencoba kekuatannya, tapi tidak ada yang berhasil. Karena itu Miluhur harus pergi ke Keling untuk mencoba nasibnya. Apabila Miluhur menjawab, bahwa sukar baginya untuk menyeberangi lautan, karena ia tak mempunyai kapal, dan akan lama menunggu sebuah kapal sewaan, maka para keramat memberikan sebuah Kalpika yang harus dipasangnya pada ibu jari kakinya. Dengan Kalpika ia dapat menyeberangi lautan tanpa bahaya. Kedua saudaranya harus dipegang baik-baik supaya tidak tenggelam ke dalam laut.
Apabila Miluhur mendapat kesukaran di negeri asing, maka cukuplah ia menyentuh tanah dengan tangannya, kedua orang keramat itu akan menolongnya.
Berangkatlah ketiga orang pangeran itu, setelah sampai di tepi laut, Miluhur memakai Kalpika dan berjalan dengan kedua orang saudaranya diatas air seperti berjalan diatas tanah. Karena tenaga Kalpika itu, mereka menjalani jarak yang jauh dalam waktu sekejap saja. Dan sampailah mereka di pelabuhan Keling. Tapi disini pun mereka mengalami kesukaran, karena tidak mengenal bahasa dan adat istiadat negeri itu. Tapi diantara pedagang-pedagang di negeri Keling itu, ada juga orang Jawa. Mereka mencarinya untuk menjadi penunjuk jalan diantara mereka. Mereka temukan yang bernaama Martawangsa, seorang Jawa yang sudah lama tinggal lama di Keling. Meeka berkenalan dengannya, anak-anak raja itu memperkenalkan diri sebagai orang yang kapalnya karam. Orang Jawa itu menerima mereka dirumahnya. Dalam waktu dua bulan saja mereka sudah pandai berbicara dalam bahasa Keling. Setiap hari mereka pergi ketempat raja-raja asing itu mengukur tenaga untuk mencabut lidi dari dalam tanah, tak seorangpun juga belum ada yang berhasil melakukannya. Miluhur meminta pertimbangan saudara-saudaranya untuk mencoba nasibnya. Pun pedagang itu diminta pertimbangannya, tapi ia ragu-ragu akan kemampuan pangeran itu. Orang-orang yang tidak berhasil mencabut lidi itu disoraki dan dianiaya. Ia kuatir Miluhur akan mengalami nasib yang serupa pula. Miluhur berkeras hendak mencoba.
Ketiga orang pangeran itu, kini berjalan diantara orang banyak dan pergi menghadap patih. Orang terkejut bukan orang Keling yang dating menghadap itu. Setelah dicari penjelasan mengenai diri mereka itu, jenis bangsanya dan sebagainya, diberilah laporan kepada raja yang menyuruh orang-orang asing itu menghadap. Mereka diperkenalkan, setelah itu ketiga pangeran itu dibawa kembali ke alun-alun untuk mencabut lidi. Dengan disaksikan oleh banyak raja-raja dan penonton, tuamuda laki dan perempuan. Miluhur mencabut lidi itu dari dalam tanah. Orang bersorak-sorai. Patih berlari-lari mendapatkannya dan menyuruh orang memberitahukan kepada raja, bahwa lidi sudah tercabut dari dalam tanah oleh seorang jawa.
 
Serat selanjutnya : Prabu Amiluhur

Diketik ulang oleh sasadaramk.blogspot.com untuk membagi kebudayaan