Senin, 30 Mei 2011

CANDI KALASAN

ekspedisi rorojongrang
Candi Kalasan
Candi KALASAN
Hari kedua, pagi jam 07.00 berangkat dari rumah seorang kawan :  http://www.facebook.com/profile.php?id=100001891770582, langsung menuju candi kalasan yang terletak di Jalan Solo –Yogyakarta Km.14, letak candi sangat dekat dengan jalan raya hanya 50m saja. Kalau anda dari solo maka candi ada disebelah kiri anda. Persis didepan RS. Bhayangkara. Dibandingkan di Candi Sambisari, penjaga disini lebih ramah. Setelah Membayar Rp. 2000,- untuk tanda masuk mulailah eksplor candi Kalasan ini.
Keberadaan Candi kalasan dapat dikaitkan dengan sebuah prasasti batu yang berbahasa sansekerta berhuruf Prenagari, berangka tahun 700 saka atau tahun 778 Masehi. Didalam Prasasi (disebut) Kalasan itu disebutkan tentang diperingatinya jasa Raja Panangkaran yang telah membangun sebuah kuil bagi Dewi Tara dan memuat arca dewi yang ditahtakan di kuil tersebut. Yang kemudian dinamakan Tarabhawana (nama asli Candi Kalasan). Selain itu didalam prasasti Kalasan juga disebutkan tentang pendirian tempat tinggal (asrama) bagi para pendeta dengan menghibahkan desa Kalasa kepada para sanggha. (Prasasti Kalasan kini disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor D-147)
Didalam Prasasti tersebut, baik kuil dewi Tara maupun asrama disebut sebagai wihara. Asrama yang disebutan dalam prasasti, sering dikaitkan dengan keberadaa Candi Sari yang berada disisi timur laut Candi Kalasan.
Candi Kalasan ini adalah Candi Budha, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan candi-candi lain disekitar prambanan. Berdasarkan penelitian terhadap struktur bangunan candi, diketahui bahwa bangunan yang kita saksikan ini adalah bangunan ketiga, diperkirakan penyebutan angka 700 saka dalam prasasti, tentu bukan bangunan yang saat ini terliht, melainkan bangunan yang baru.
Seni hias pada Candi Kalasan juga mempunyai corak khas yakni berupa pola hias sulur gelung yang ditempatkan secara vertikal sehingga bisa member kesan tinggi pada bangunan. Sisa bangunan yang tertinggal, saat ini 24m. Bangunan tubuh candi berdiri pada batur setinggi 1m dengan kaki candi setinggi 3m. tubuh 13m dan atap 7m.
Untuk tubuh candi berdenah bujursangkar berukuran 16,5 x 16,5m. Disetiap sisi bangunan terdapat pintu dengan tangga, pintu utama ada disisi sebelah timur yang menuju bilik utama candi. Dahuli didalam bilik utama candi ini terdapat sebuah arca yang cukup besar, hal ini diketahui karena masih ada dudukan arca yang sangat besar.
Relief pada tubuh bangunan candi dipahat secara halus yang kemudian dilapisi dengan lapisan Brajalepa, yakni semacam semen pelapis sisi luar bangunan. Lapisan Brajalepa ini terlihat hingga 3 lapis yang saling bertumpuk. Berdasarkan analisis laboratorium lapisan Brajalepa terdiri dari pasir kwarsa 30%, Kalsit 40%, kalkopirit 25% serta lempung 5%.
Atap Candi Kalasan (dulu terpasang genta)
Keunikan lain dari candi kalasan ini adalah dijumpainya batu monolit di tangga pintu masuk di sisi sebelah timur. Batu ini sering disebut sebagai moonstone. Candi kalasan merupakan komplek bangunan yang terdiri dari bangunan induk yang dikelilingi oleh stupa sebanyak 52buah yang mengelilingi candi.
Dibagian atap, dulunya juga dipasang genta, yang kini disimpan di Museum Sana Budaya, genta ini terbuat dari perunggu, yang sekarang tersimpan di Museum Sana Budaya.

Minggu, 29 Mei 2011

CANDI KEDULAN

ekspedisi rorojongrang


Tidak banyak referensi langsung yang bisa saya dapat, karena di candi ini saya mengalami kejadian yang membuat hati saya agak kecewa (baca:dongkol). Selain tidak ada petunjuk sama sekali/ papan arah yang menuju candi, saya hanya mengandalkan informasi bertanya pada orang didaerah itu yang kebetulan saya temui, dan celakanya banyak yang tidak tahu menahu keberadaan candi ini.
 Berbekal sebuah peta buta yang bener - bener buta karena hanya mencantumkan sebuah jalan masuk disekitar km.14 berdekatan dengan Candi Kalasan. Cukup lama saya mencari keberadaan candi ini, mutar2 sambil berharap ada petunjuk/ maupun tulisan dipinggir jalan, hamper 30 menit saya mencari dan nyaris putus asa, ada juga yang mengetahui keberadaan candi ini. Sebenarnya candi Kedulan ini hanya 2 km. dari jalan raya. Hanya memang tidak ada petunjuk sama sekali. Selain memang harus masuk lagi di tengah persawahan penduduk sekitar 100m. sehinga cukup kesulitan bagi orang pertamakali menuju candi Kedulan ini.
Dan puncak kekesalan saya, sama sekali saya tidak boleh memotret/ lihat candi ini oleh petugas keamanan yang ada saat itu, Hari Rabu tanggal 19 Meil 2011, pukul 8-9 pagi. Ceritanya, ketika saya sampai, langsung minta ijin untuk berkunjung ke Candi Kedulan, yang saya dapat diluar dugaan. Dengan muka menunjukkan tidak ramah sekali (seperti tampang saya kolektor illegal saja!) Tidak boleh, harus ada izin dari kantor untuk pemotretan disini!!, (lha kok pake bentak sic, (dalam batin saya…) “Pak saya hanya seorang yang mencintai candi, saya tidak punya pamrih apapun berkunjung kesini, tujuan saya hanya pingin leihat dan menikmati keagungan karya nenak moyang, tidak neko-neko, hanya itu pak, kamera yang saya bawa ini juga untuk mengambil gambar sekedar kenang-kenangan bagi saya untuk bukti saya sudah sampai Candi Kedulan”
“Maaf mas, tidak boleh, kalau mau minta surat izin ke kantor dulu itu peraturannya! Petugas keamanan Candi Kedulan sambil petantang-petenteng. Saya masih mencoba member pengertian “Kalo hanya untuk keperluan pribadi tetap ga boleh? Atau saya tunjukkaan koleksi foto2 saya di beberapa candi lain pak?” masih saya mencoba melulukan hati arogan pak penjaga itu. Hasilnya = nihil.
Ya sudahlah, daripada tidak ada hasil gambar sama sekali saya ambil gambar dari luar, tidak apa-apalah, itu cukup mengobati kekecewaan saya.. semoga kejadian ini tidak menimpa pecinta candi lain yang berkunjung ke Candi Kedulan. Semoga!
Menurut sumber informasi yang saya kumpulkan, candi ini memang baru diketemukan tahun 1993.
Keadaan hasil temuan candi yang berikutnya dikenal dengan candi Kedulan ini masih berupa reruntuhan. Penggalian candi, untuk menyusun kembali sampai saat ini katanya masih terkendala berbagai hambatn, salah satunya keadaan tanah disekitar reruntuhan candi yang merupakan persawahan, sehingga saat digali, banyak mengeluarkan air dang membentuk sebuah kolam.
Candi Kedulan adalah sebuah candi bercorak Hindu yang terdapat di Dusun Kedulan, kurang lebih 3 kilometer dari Candi Kalasan. Candi ini ditemukan secara tak sengaja oleh para penambang pasir pada 24 November 1993. Kesenangan yang berbeda akan didapatkan bila mengunjungi candi ini, sebab anda bisa menikmati proses rekonstruksi candi yang sangatlah rumit (seharusnya....menjadi wisata rekontruksi yang menarik jika penjaganya tidak searogan yang saya alami)
Mengelilingi daerah sekitar lokasi penggalian, akan dijumpai batu-batu candi yang tengah direkonstruksi dengan cara mencocokkan batu satu dengan batu lainnya. Batu yang telah berhasil dicocokkan diberi simbol-simbol tertentu yang ditulis menggunakan kapur. Tampak konstruksi sementara bangunan pagar pembatas selasar candi, atap, bilik candi dan beberapa bagian tubuh candi lainnya. Terlihat pula lingga dan yoni yang diduga merupakan komponen yang mengisi bilik candi.

Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Seperti halnya dengan Candi Sambisari, candi ini ditemukan terletak tiga sampai tujuh meter di bawah permukaan tanah, kemungkinan besar karena tertimbun lahar dari gunung Merapi yang diduga kuat meletus secara besar-besaran pada awal abad ke-11 (kira-kira tahun 1006). Karena jenis tanah yang berada di sekitar candi terdiri dari 13 lapisan yang berbeda, maka kemungkinan besar bahwa candi ini tertimbun lahar dalam beberapa kali letusan (13 kali).
Jenis arsitektur dari candi ini terlihat mirip seperti gaya Candi Sambisari dan Candi Ijo. Candi yang mempunyai hiasan berupa relief mulut kala (raksasa) dengan taring bawah ini pertama kali ditemukan di tengah sawah pada tahun 1993 oleh para pencari pasir yang mengeduk pasir untuk bahan bangunan. Pada tahun 2003 di lokasi penggalian tersebut ditemukan dua buah prasasti yang ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta mengenai pembebasan pajak tanah di Desa Pananggaran dan Parhyangan untuk pembuatan bendungan dan irigasi serta pendirian bangunan suci bernama Tiwaharyyan di zaman Kerajaan Mataram Kuno.
Beberapa arkeolog menduga bahwa prasasti tersebut berkaitan dengan pendirian Candi Kedulan. Bangunan suci Tiwaharyyan diduga merupakan Candi Kedulan itu sendiri. Desa Pananggaran yang diceritakan pada prasasti diduga berada di wilayah sekitar candi, begitu pula bendungan yang dimaksud. Namun sampai kini belum ditemukan jejak bendungan kuno yang dimaksud. Mungkin bendungan itu dibangun di Sungai Opak yang berjarak ±4 km dari lokasi candi, atau mungkin juga di sungai yang kini sudah tidak ada lagi karena tertutup lahar letusan Gunung Merapi seribu tahun silam.
Banyaknya teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan beserta pesona komponen candi menjadikan berwisata ke Candi Kedulan menarik untuk dilakukan. Kondisi candi yang masih dalam tahap rekonstruksi justru menambah kesenangan ketika mengunjunginya.


Papan Nama Candi kedulan....Saya tulisi sendiri...

Candi Sambisari


Ekspedisi Roro Jongrang….

CANDI SAMBISARI

candi Sambisari
Tanpa diduga samasekali, bagai Durian Runtuh .. Ekspedisi kali ini dipenuhi unsur kebetulan, aku ditugasi Kantorku untuk ikut Rakor Jaringan Perpustakaan SeJawatengah di Solo. Padahal beberapa jam sebelumnya, saat pelatihan computer di Setda, aku sempat browsing2 peta,penginapan, dan foto2 candi Prambanan dan sekitarnya, Gayung bersambut… ketika balik kantor langsung disodori surat tugas… alhasil : Persiapan seaadanya karena tugas mendadak. Mencoba menghubungi rekan yang berdomisili di sekitar prambanan.
Rakor selesai sekitar jam 12.30, saat itu ku langsung berpikir untuk langsung meluncur ke candi, setelah menawari beberapa teman untuk ikut, tidakada yang mau, eh ada seorang senior alias seorang sahabat dari Komunitas 75 komunitas75@groups.facebook.com  (anggota terdiri dari staf di perpustakaan Kab/kota) yang pingin pulang ke jogja karena ada keperluan yang mendesak ya naluri ‘baik hati” ku timbul (ga setiap kali ada lho).. karna di jogja kan juga banyak candi yang bersebaran selain di Prambanan yang menjadi tujuan awalku. Karena sikon tidak memungkinkan, setelah menimbang rasa barang sejenak, ku memutuskan untuk tetapa berekspedisi saja ke candi Roro Jonggrang. Apalagi barusan di hub oleh teman yang tinggal di klaten ‘welcome’ ku repoti barang semalam untuk tidur. terimakasih tak terhingga untuk nurdin.  http://www.facebook.com/profile.php?id=100001891770582, yang menyediakan bed super empuk ... (ndablek.com). hehehehe maturnuwun sob.
Perjalanan setelah Rakor selesai, ku kogja dulu, perjalanan inilah yang membuat perasaanku tidak tenang, saat sesampainya di kota Klaten, salah satu ruas jalan ada yang baru diperbaiki (aspas dikelupas)... Ban luar Motor vixionku terluka parah (baca: cowel), sedangkan ban dalam bocor.
Dan aku ga sadar sampai perjalanan balik lagi ke Candi Sambisari setelah dari jogja. bersyukur sekaligus kawatir alias ketar-ketir.
 CANDI SAMBISARI
Candi Sambisari terletak di Jalan Solo-Yogyakarta km.10, tepatnya di desa Sambisari Kelurahan Purwomartani, lebih kurang 4 km dari Candi Prambanan ke arah Yogyakarta. Candi Sambisari berada di areal persawahan yang subur di Daerah Istimewa Yogayakarta. Untuk mencapai lokasi candi, ada papan petujuk yang berdekatan dengan trafick light di Jl. Solo Jogja Km. 10. Dari tepi Raya, perjalanan kurang lebih 2,5km.


Setelah parkir di lahan parkir (di halaman rumah warga yang berada disamping kawasan candi), sudah menunggu petugas keamanan yang langsung bertanya, “Apa keperluannya?” aneh ya pertanyaannya, tapi setelah kujawab “melihat keindahan candi pak”, ku jadi ngerti, bawa kamera Canon EOSD1000 membuat bapak keamanan jadi curiga, “Kalau mengambil gambar untuk keperluan terterntu harus ijin dulu!”,  ku membatin “kok ketus buanget sic!”, ya sambil tersenyum kecut ku jawab, “pak saya bawa kamera ini bukan ada maksud apa-apa, tapi karna saya memang suka candi, saya ambil gambar untuk koleksi pribadi, bukan untuk publikasi atau sejenisnya pak… atau saya lihatkan foto-foto saya di candi-candi yang lain biar bapak percaya?” dengan tidak mau kalah ketus nya ku jawab…karena jengkel juga, padahal banyak pengunjung lain yang foto-foto pake Hp,Kamera pocket kok aman-aman aja. Lha aku kok disangka punya niat lain….Singkat kata, setelah bayar biaya masuk Rp. 2000,- mulailah meng “eksplor” Candi SAMBISARI.
yoni di dalam candi utama
Candi Sambisari diketemukan sekitar tahun 1966 takkala seorang petani dengan tidak sengaja telah membenturkan cangkulnya pada puncak candi yang terbenam di tanah peladangannya. tetapi dia sempat keheranan saat cangkulnya menyentuh benda keras berupa batu-batu berukir yang diduga merupakan bagian dari reruntuhan sebuah candi. Nama petani itu adalah Karyoinangun yang pertama kali menemukan kembali sebuah kompleks candi yang kemudian diberi nama candi Sambisari sesuai nama daerah ditemukannya candi tersebut. Menindaklanjuti penemuan tersebut oleh pihak Balai Arkeologi Yogyakarta dilakukan penelitian dan penggalian. Dari hasil penggalian tersebut pada Juli 1966 diperoleh kepastian bahwa daerah tersebut terdapat sebuah situs candi dan dinyatakan sebagai daerah suaka budaya. Setelah itu dimulailah proses penyusunan kembali reruntuhan kompleks candi yang runtuh karena goncangan dan terpendam dari material letusan gunung Merapi ini diperkirakan dari penelitian geologis terhadap material batuan dan tanah yang menimbun komplek candi. Tahun 1987 pemugaran dan melakukan rekontruksi ulang terhadap kompleks candi dapat diselesaikan dengan posisi candi pada kedalaman 6,5 meter dari permukaan tanah sekitar atau sering juga candi Sambisari disebut sebagai candi bawah tanah. Tetapi sebagian ahli arkeologi memperkirakan dulunya situs candi ada di atas permukaan tanah, seperti halnya candi-candi yang lainnya.
Berdasarkan penelitian geologis terhadap batuan candi dan tanah yang telah menimbunnya selama ini, candi setinggi 6 m ini telah terbenam oleh material Gunung Merapi dalam letusan yang hebat pada tahun 1006. Candi Sambisari merupakan candi Hindu dari abad ke-10 yang diperkirakan dibangun oleh seorang Raja dari dinasti Sanjaya, dengan patung Shiwa sebagai mahaguru menepati bilik utamanya.
Kompleks candi Sambisari berlokasi berdekatan dengan bangunan candi yang lain misal Prambanan, Kalasan, Sari. Lokasi candi Sambisari berjarak sekitar 4 km dari kompleks candi Prambanan kearah barat atau sekitar 14 km dari pusat kota Yogyakarta ke arah timur. Candi Sambisari merupakan candi Hindu beraliran Siwa dari abad ke-X, dibangun oleh dinasti Syailendra ini berada di wilayah kabupaten Sleman propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat penggalian kompleks candi Sambisari ditemukan pula benda bersejarah lainnya, misalnya perhiasan, tembikar, prasasti lempengan emas. Dari penemuan tersebut didapat perkiraan bahwa candi Sambisari dibangun tahun 812-838 M saat pemerintahan Raja Rakai Garung dari Kerajaan Mataram Hindu (Mataram Kuno). Kondisi kompleks candi Sambisari sangat terawat dan bersih dan banyak wisatawan lokal, domestik maupun mancanegara banyak berdatangan mengunjunginya dan menjadi satu paket kunjungan wisata budaya dengan kompleks candi lain di sekitarnya khususnya candi Prambanan yang sudah lebih terkenal.
Kompleks candi Sambisari saat ini tampak dengan empat buah bangunan candi dengan dibatasi oleh tembok mengelilinginya dengan total luas 50 x 48m pada posisi di sekeliling tanah yang telah diadakan penggalian. Pada bangunan candi utama yang terbesar memiliki ketinggian 7,5 meter dan berbentuk bujur sangkar yang berukuran 15,65 x 13,65m pada bagian bawah candinya, sedang badan candi berukuran 5 x5m. Diperkirakan kompleks candi tidak hanya seluas itu tetapi bisa lebih luas jika diadakan penggalian lebih lanjut tetapi dikwatirkan tidak dapat menyalurkan air untuk dibuang karena posisinya lebih rendah daripada sungai yang ada di sebelah baratnya. Pintu masuk ke dalam kompleks candi Sambisari pada keempat sisi bujur sangkar dengan menuruni tangga.
Candi Sambisari berada di bawah permukaan tanah sedalam 6,5 meter. Padahal kenyataannya tinggi candi hanya 7,5 meter. Karenanya, jika dilihat dari samping, candi ini seakan muncul dari bawah tanah. Bagian bawah candi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 13,65 m x 13,65 m. Sedangkan badan candi berukuran 5 m x 5 m. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke IX - X M. Karena letusan Gunung Merapi di tahun 1006, daerah di sekitar ini tertutup oleh bahan-bahan yang berasal dari gunung berapi. Sehingga apa yang terlhat sekarang candi ini berada lebih rendah dari permukaan tanah.
Pintu masuk candi menghadap ke arah barat. Tangga untuk masuk dilengkapi dengan sayap. Di ujung sayap tangga terdapat relief Makara yang disangga oleh dua belah tangan makhluk kate. Keunikan yang lain, candi ini tidak memiliki pilar penyangga. Sehingga bagian dasarnya sekaligus berfungsi sebagai pilar penyangga candi. Di bagian ini terdapat selasar yang mengelilingi badan candi, dan memiliki 12 anak tangga
Ketika hari mulai gelap,saya akhiri ekspedisi hari pertama ini, untuk dilanjutkan esok hari. Sebelum beranjak, ku sempatkan bercakap-cakap dengan penjaga parkir tentang kawasan ini, katanya Candi ini ramai saat liburan, banyak juga wisatawan mancanegara yang mampir kesini.

Candi Sambisari











.




Senin, 23 Mei 2011

Korelasi Human Development Index dengan Minat Baca

Bambang Murdianto, SS.
Staf Pengembangan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang 
         
            Bangsa Indonesia ternyata (masih) peringkat bawah Human Developmant Index 2007. Data terakhir Indonesia berada di urutan ke 107 dari 177 negara. Di Kawasan Asia Tenggara masih lebih baik dari negara Timor Leste (150), kemudian sedikit lebih baik dari Myanmar (132), Kamboja (131), Laos (130).  Tetapi Indonesia berada di bawah Vietnam (105), Filipina (90), Thailand (78), Malaysia (63), Brunai Darrusalam (30) dan jauh di bawah peringkat negara kecil Singapura (25).
Sementara sebagai perbandingan kemerdekaan negara – negara di Asia tenggara, karena umumnya kemerdekaan berarti dimulai adanya pembangunan suatu bangsa yang disertai terbentuknya sistem yang ada di dalam suatu negara itu,  diantaranya peningkatan perekonomian, kesehatan dan pendidikan. Indonesia pada tahun 1945, sementara Timor Leste baru merdeka tahun 1999. Seperti tabel berikut :
Tabel .1


Negara

Tahun merdeka

Penjajah

Indonesia
Timor Leste
Myanmar
Kamboja
Laos
Vietnam
Filipina
Thailand
Malaysia
Brunai Darussalam
Singapura


1945
2002
1948
1953
1949
1954
1946
-----
1957
1984
1965

Belanda, Inggris, Jepang
Portugis
Inggris
Perancis
Perancis
Perancis, Amerika
Amerika
Tidak pernah dijajah
Inggris
Inggris
Inggris
SUMBER: Buku Pintar Senior :

            Dari tabel.1 diatas, Indonesia merupakan negara di Asia tenggara yang paling awal kemerdekaanya dibandingkan dengan negara lain. Kecuali dengan Thailand yang tidak pernah dijajah. Dengan melihat tabel diatas seharusnya Indonesia sekarang sudah menjadi negara berperingkat HDI lebih baik dari Singapura. Akan tetapi yang terjadi sekarang Indonesia jauh tertinggal dengan negara negara lain. Indonesia yang dijajah 356 tahun oleh Belanda secara tidak langsung memang mempengaruhi pemikiran dan budaya masyarakat Indonesia. Penjajah Belanda, membuat rakyat Indonesia jauh dari pendidikan dengan tujuan agar tidak ada orang Indonesia yang berpikiran maju. Hal itu masih berpengaruh sampai sekarang dalam budaya masyarakat sehari – hari.
Masyarakat lebih banyak menyukai budaya instan daripada membaca buku. Televisi lebih sering dihidupkan dan ditonton daripada membuka kemudian membaca buku. Untuk membaca buku masyarakat belum menjadikan sebagai suatu kebutuhan. Bahkan dari data th. 2002 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1000 jam/tahun. ( Pengaruh nonton TV pada anak-anak, www.turnofftv.org//, diolah dari Yayasan Kita dan Buah Hati; dan Kidi .)
Masalah utama yang bangsa Indonesia hadapi sekarang ini bermula pada : Menurunnya kualitas SDM yang dipengaruhi oleh kualitas pendidikan. Pendidikan pada akhirnya berhubungan dengan kemiskinan, kesehatan, masalah masalah yang lain. Pendidikan menjadi faktor penentu bagi kualitas sumber daya manusia, semakin berkualitas manusia tersebut akan semakin meningkat kualitas hidupnya. Memperbaiki kualitas suatu bangsa, tidak bisa secara instan, membutuhkan proses yang cukup lama. Hal itu hal tersebut ditempuh dengan melalui perbaikan proses pendidikan. Proses pendidikan yang dimaksud adalah perbaikan budaya masyarakat menjadi masyarakat yang gemar membaca.
Dengan di tetapkan Undang – Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007, perkembangan perpustakaan tampaknya semakin menggairahkan, dengan begitu ada harapan meningkatnya minat baca masyarakat. Dan salah satu penentu keberhasilan pendidikan suatu bangsa adalah minat baca masyarakat. Perpustakaan sebagai salah satu faktor utama dalam usaha untuk meningkatkan minat baca, seperti yang tertuang dalam Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat 6, bahwa perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial ekonomi. Negara Jepang mewajibkan masyarakatnya untuk membacakan bagi anaknya dalam sehari minimal 20 menit ( dongeng sebelum tidur ), begitu juga negara Amerika Serikat juga membuat aturan bagi warganya dengan mewajibkan membaca buku sekurang – kurangnya 15 menit membaca buku.
Dengan aturan semacam itu masyarakat yang pada awalnya dipaksa pada akhirnya akan terbiasa dan menjadi budaya. Terbukti dengan paksaan membaca tersebut kedua Negara tersebut menjadi Negara yang berkuasa dalam segala bidang termasuk  perekonomian. Sampai saat ini apabila kita bandingkan masyarakat kita dengan masyarakat di kedua Negara diatas salah satunya dapat diambil contoh, masyarakat Indonesia kalau naik angkutan umum lebih suka melamun, berbeda dengan masyarakat di Jepang atau Amerika Serikat. 
Dengan minat baca yang tinggi seseorang akan mampu berpikir lebih kritis, mampu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari – harinya. Ketika seseorang membaca buku tentang teknik komputer : pencegahan dan pembasmi virus, apa yang didapat melalui buku yang dibaca tersebut dapat dipraktekkan langsung, kemudian pada saatnya nanti akan berguna saat seseorang tersebut memasuki dunia kerja, begitu juga ketika membaca buku beternak sapi, membudidayakan ikan hias, atau bahkan buku – buku fiksi yang hanya bersifat hiburan.
Sifat buku yang mampu memberikan inspirasi dan meningkatkan imajinasi seseorang akan mampu menjadikan seseorang tersebut mempunyai bekal untuk menghadapi dunia kerja. Minimal setelah membaca buku seseorang akan bertambah pengetahuan, skill, pemikiran, pandangan mengenai suatu masalah dan lain sebagainya.
Pernah dimuat di Majalah Buletin Pustaka
Judul diatas “ Korelasi Human Development Index dengan Minat Baca “,

PERPUSTAKAAN DI DAERAH PERBATASAN Peluang dan Manfaatnya bagi masyarakat

*/ Bambang Murdianto, SS.
  
Pendidikan adalah hak dasar manusia, yang harus dipenuhi oleh suatu negara. Tanpa melihat atau mempertimbangkan asal usul, suku, agama, ras dan dari mana manusia itu tinggal. Di perkotaan, pedesaan, daerah maju ataupun daerah terpencil mutlak diberikan fasilitas pendidikan yang layak. Di UUD 1945 pun, sudah di letakkan dasar bahwa, tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pendidikan (pasal 31 UUD 1945, perubahan IV-2002).
Perpustakaan yang merupakan sarana pendidikan harus ikut berperan memberikan sumbangsih dalam mensukseskan pendidikan kepada semua masyarakat. Undang-undang perpustakaan yang telah ditetapkan menjelaskan bahwa masyarakat didaerah terpencil, terisolasi atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus. (Pasal 5 ayat 2 UU No. 43 Tahun 2007).
Kabupaten Semarang yang dikelingi 7 kabupaten/kota dan 1 kota (Salatiga) yang berada didalam wilayah Kabupaten semarang, mempunyai keadaan geografis yang kurang menguntungkan, selain jarak yang jauh dikelilingi gunung-gunung, juga wilayah yang sangat luas. Seringkali karena alasan-alasan tersebut daerah-daerah perbatasan kurang mendapat perhatian.
Mengambil istilah DEMOKRASI INFORMASI (Sutarno NS, dalam bukunya ”Perpustakaan dan Masyarakat”), semua orang mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkan perpustakaan. Mendasarkan pada hal tersebut, Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang memulai usaha pemerataan informasi sebagai fasilitator dengan pembukaan pos baca perpustakaan di daerah perbatasan. Pos baca perpustakaan direncanakan dibuka di beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan kabupaten/kota lain.
Pos Baca ini nantinya menyediakan banyak koleksi life skill serta pengetahuan praktis bagi masyarakat, sehingga diharapkan secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat dengan mengaplikasikan langsung informasi yang didapat dari buku. Pos baca juga bertujuan menjadikan masyarakat tanggap informasi. Selalu up to date dengan perkembangan pengetahuan, sehingga tidak tertinggal dari daerah perkotaan.
Tujuan pembukaan pos baca di kecamatan daerah perbatasan selain penyediaan fasilitas dan sumber informasi bagi masyarakat, yang tidak kalah penting pos baca nantinya bisa sebagai pusat pembelajaran. Buku-buku yang disediakan (termasuk koleksi lain; koran,majalah,dsb) secara tidak langsung menciptakan masyarakat yang cerdas, masyarakat pembelajar, masyarakat yang gemar membaca dan berbudaya. Masyarakat yang gemar membaca berkorelasi langsung dengan karakter, pandangan, dan wawasan yang luas.
Jadi titik akhirnya, masyarakat sekitar pos baca selanjutnya akan bersikap mandiri, percaya diri dan mampu mengikuti perkembangan dan tantangan perubahan zaman. Pos baca juga termasuk sarana belajar nonformal yang cara belajarnya masyarakat akan memperoleh kesenangan, dan kepuasan batin melalui membaca buku.
Sebagai tonggak awal, Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang pada bulan ini, bekerja sama dengan Kantor Kecamatan Kaliwungu, akan membuka Pos Baca Perpustakaan. Yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat. Dengan dibukanya Pos Baca ini, masyarakat yang memerlukan informasi tidak perlu jauh-jauh ke Perpustakaan di Kabupaten lain.
Masyarakat di kecamatan Kaliwungu, menurut Kasi Perpustakaan (Perpustakaan Kabupaten Boyolali) sering berkunjung dan memanfaatkan layanan di perpustakaan Kabupaten Boyolali. Hal ini dibuktikan dengan bukti adanya kehadiran banyak warga sekitar Kecamatan Kaliwungu dibuku tamu Perpustakaan Umum Kabupaten Boyolali.
Selain fungsi sebagai sarana rekreasi informatif bagi masyarakat, pos baca yang memiliki koleksi beragam diharapkan mampu merubah pola pikir masyarakat kearah yang maju. Sebagai pusat informasi bagi masyarakat, pos baca perpustakaan berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, hal ini sesuai dengan sasaran pemerataan pembangunan dan pengembangan daerah perbatasan yang menjadi misi utama pembukaan Pos Baca di Kantor Kecamatan Kaliwungu ini.
Pembukaan pos baca ini tentunya harus didukung ketersedian koleksi yang cukup memadai, sampai Periode Juni 2010 koleksi yang dimiliki Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang sebanyak 49.000 eksemplar. Jumlah tersebut jauh dari kata mencukupi, karena Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang selain memiliki layanan perpustakaan di Ungaran juga memiliki Layanan Perpustakaan di kota Ambarawa, serta beberapa pos baca yang sudah melayani masyarakat; Pos Baca Medika di RSUD Ungaran, Pos Baca Kantor Kecamatan Bandungan. Itu belum buku-buku yang dipinjamkan dengan sistem layan silang ke lebih dari 65 pos keliling (sekolah,perpusdes,dll).
Untuk mensiasati kekurangan koleksi, Kantor perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang menerapkan sistem drop buku setiap bulan sekali, yaitu buku diputar pada masing-masing pos baca sebulan sekali. 
Kedepan, pembukaan pos baca ini diharapkan semua daerah perbatasan bisa di kembangkan, Selain Perpustakaan Umum Kabupaten Boyolali, yang menjadi tempat mencari informasi warga di daerah perbatasan lain seperti Kecamatan Pabelan, Tengaran, Tuntang maupun Banyubiru juga sering berkunjung ke Kantor Perpustakaan Umum Kota Salatiga, seperti yang tercantum data Buku Pengunjung Perpustakaan Umum Salatiga.
Pos Baca Perpustakaan di daerah perbatasan ini diharapkan bisa memenuhi harapan masyarakat luas akan informasi pengetahuan tanpa terkendala jarak. Budaya gemar membaca akan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan, selain peningkatan taraf hidup, perubahan pola pikir juga selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, Sehingga apa yang tertuang didalam UUD RI 1945 bisa terwujud, khususnya hak setiap warga Negara untuk menikmati pendidikan, melalui ilmu pengetahuan yang ada di buku.
Adanya perhatian pada masyarakat dengan berbagai pembangunan salah satunya  penambahan fasilitas informasi dalam bentuk pos baca perpustakaan tentunya akan menambah partisipasi aktif masyarakat dalam membangun daerah.
*\ staf pengembangan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang
Pernah dimuat di majalah Buletin Pustaka

Perpustakaan (masih saja) Terlupakan…

(Review Hasil Musrenbang tingkat Kecamatan Tahun 2012)
*Bambang Murdianto, SS.

Bulan Februari ini dilaksanakan musrenbang tingkat kecamatan mulai tanggal 7 sampai dengan tanggal 17 Februari 2011. dan ternyata kurang dari 5% desa dari 235 di Kabupaten Semarang mengusulkan pembangunan perpustakaan.
 Buku dan Rak serta pembangunan gedung perpustakaan menjadi bahan usulan dari desa-desa tersebut. Dari hasil laporan tim pendamping musrenbang menyebutkan bahwa usulan yang dibawa desa untuk di bahas di tingkat kecamatan selalu ‘kandas’, bukan lagi menjadi prioritas.
Tabel Lengkap Hasil Musrenbang
NO
Kecamatan
Desa
1
2
3
4
5
6
7
8
9.
Tengaran
Getasan
Susukan
Bawen
Jambu
Bringin
Ungaran Timur
Pabelan
11 Kecamatan
Nyamat
Tajuk, Samirono,Jetak,Wates
Muncar, Gentan, Kenteng
Polosiri
Genting
Popongan, Kalikurmo
Kawengen
Bejaten, Kauman Lor, Sumberrejo
nihil
Sumber: Tim Pendamping Perpusda Musrenbang, dikumpulkan Penulis.
Membaca misi Bupati Semarang yang pertama (dari 5 misi), meningkatkan kualitas SDM yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudaya serta menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologi. (www.semarangkab.go.id), perpustakaan seyogyanya bisa menjadi alternatif mewakili dan merepresentasi keinginan tersebut. Selain tentunya faktor utama pendidikan formal yaitu sekolah.
Apa pasalnya? Banyak hal yang mendasari kenapa harus perpustakaan. Sebelum uraian lebih lanjut mengenai pentingnya perpustakaan bagi masyarakat, kembali ke proses musrenbang yang beberapa waktu lalu telah dilaksanakan. Luar biasanya, ada salah satu usulan dari peserta musrenbang dari Kecamatan Jambu tepatnya desa Genting yang mengusulkan “Rumah Pintar”. Usulan yang mengadopsi secara positif bentuk perpustakaan terpadu yang identik dengan Kota Semarang, seperti yang telah diduga sebelumnya, usulan ini tidak diprioritaskan.
Hakikatnya “rumah pintar” adalah perpustakaan yang modern, terpadu dan menjadi pusat kegiatan pengembangan masyarakat. Sederhanannya, rumah pintar menjadi ‘jujugan’ masyarakat untuk mencari pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan sebagainya.
Kenapa begitu penting arti perpustakaan?
Perpustakaan merupakan sebuah ruangan/gedung yang berisi buku-buku yang diatur sedemikian rupa sehingga mudah dicari dan dipergunakan sewaktu-waktu diperlukan pembaca. (Sutarno, NS :2003). Ketika perpustakaan berada di masyarakat di lingkungan terkecil/pedesaan maka perpustakaan mampu mentransformasikan ilmu yang ada di koleksi mereka. Sarana murah untuk peningkatan sumber daya manusia, dengan banyak membaca wawasan menjadi luas, cara pandang pun semakin berbeda. Sudah saatnya paradigma perpustakaan berubah.
Yang ini harus diketahui, perpustakaan bukan hanya berisi buku saja. Perpustakaan sudah berkembang menjadi pusat kegiatan belajar mengajar masyarakat. Hal tersebut pernah diulas dalam surat kabar, (Warta Pustaka, Selasa 22 Februari2011 halaman 12), dengan judul ”Ubah Paradigma Perpustakaan”. Saat ini sudah harus segera diwujudkan perpustakaan (umum) sebagai pusat sumber belajar dan keterampilan hidup. Hal ini tentunya harus didukung oleh berbagai pihak. Perpustakaan tidak akan mampu mewujudkan cita-cita tersebut apabila ’dibiarkan sendirian’. Semua pihak harus melepas ego sektoral masing-masing.
Yang paling dekat dengan dunia perpustakaan tentunya pendidikan. Sudah saatnya bersama-sama membangun perpustakaan yang baik, berkoordinasi, saling mendukung dan menciptakan suasana yang kondusif untuk penciptaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Seperti sudah menjadi rahasia umum, dan tampaknya malah sudah dimaklumi, mayoritas sekolah yang ada terutama sekolah dasar belum mengelola perpustakaan secara baik dan benar. Sebuah hal yang memprihatinkan. Dan untuk itu, tidak boleh tidak, ego sektoral harus dihilangkan.
Selain wajib ada di sekolah sekolah, (UU No...Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal... & UU No. 43 Tahun 2003 Tentang Perpustakaan& masih banyak lagi dasar hukum yang lain) perpustakaan seharusnya juga ada dimana pun. Di desa, masjid, instansi, pabrik dan fasilitas publik yang lain. Karena belajar dan ataupun membaca tidak mengenal batasan-batasan tertentu. Di perpustakaan, warga masyarakat biasa bisa menjadi pengusaha. Contohnya pengusaha makanan misalnya. Buku-buku life skill/keterampilan banyak pilihannya. Setelah dibaca buku tersebut, cari contoh pengusaha yg terinspirasi buku....
Peningkatan peran perpustakaan mesti diwujudkan, selain mengejar ketertinggalan HDI manusia indonesia, juga meningkatkan kemampuan ekonomi.
Perpus Bergema misalnya (perpustakaan desa di Kab. Wonosobo), menawarkan berbagai macam kegiatan melalui perpustakaan yang muaranya mengembangkan kualitas sdm serta meningkatkan kemampuan finansial. Mulai dari koperasi, kegiatan pertanian yang mampu memproduksi berpuluh-puluh ton kentang, pecinta alam, usaha catering, pelatihan komputer, kesenian rebana yang sering diundang mengisi acara, PAUD, dan banyak kegiatan lainnya. Semua kegiatan tersebut dimulai dari buku yang ada di perpustakaan. Perpustakaan Bergema berkerjasama dengan berbagai pihak antara lain Perpusda, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Pariwisata, Departemen Agama, berbagai instansi dan perusahaan yang lain. Bersama-sama, terpadu dalam usaha meningkatkan SDM dan kesejahteraan warga masyarakat.
Ketiga, banyak kegiatan yang di selenggarakan, bermanfaat dan men-stimulus warga, maka lambat laun masyarakat akan timbul perasaan membutuhkan. Hal itu yang sekarang dirasakan perpustakaan Bergema di Kab. Wonosobo. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan bagi masyarakat, bagi pemerintah ataupun bagi perpustakaan itu sendiri. Dengan banyaknya masyarakat yang memanfaatkan perpustakaan maka berhasil tujuan perpustakan, dan bagi masyarakat sendiri akan meningkatkan kualitas SDM mereka, sementara bagi pemerintah secara tidak langsung akan mempermudah dan mensukseskan jalannya pembangunan. Dengan SDM yang tinggi senantiasa program-program pembangunan yang dilaksanakan akan berhasil sesuai dengan harapan.
 Sementara di Kabupaten Semarang, beberapa desa sudah memulai mengembangkan perpustakaan yang terpadu. Seperti Perpustakaan Cemerlang desa Tlompakan Kecamatan Tuntang yang sudah merintis bentuk perpustakaan terpadu. Baru-baru ini, Perpustakaan Cemerlang tersebut berkerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Semarang dengan layanan Gratis, Layanan Kesehatan Gratis dengan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Kec. Tuntang, Badan KB dan PP Kab Semarang melalui kegiatan seminar pemberdayaan perempuan. Sebelumnya, Perpustakaan Cemerlang yang dikelola Ibu PKK juga pernah mengadakan berbagai pelatihan, mereka dibantu PNPM menyelenggarakan pelatihan menjahit dan bordir serta pelatihan membuat makanan ringan. Semua hasil ‘karya’ para ibu PKK kemarin juga ditampilkan pada acara bazar yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Cemerlang.
Tentunya selain perpustakaan memberikan informasi melalui buku, perpustakaan juga bisa ‘memancing’ peningkatan perekonomian melalui sumber pendapatan dari keterampilan rumah tangga yang diperoleh dari perpustakaan. Hal positif yang perlu di terapkan...dan Perpustakaan jangan (lagi) dilupakan!!! Majulah Perpustakaan....
Pernah diterbitkan di majalah : buletin pustaka
\Staf Pengembangan Kantor Perpustakaan daerah Kab. Semarang