Rabu, 28 Maret 2012

Candi Sojiwan

Candi Sojiwan : kecantikan masa lampau
14 Maret 2012, Beruntung 100x, perjalanan kali ini diliputi rasa sukacita... bagaimana tidak satu hari sebelumnya baru di tugasi ke Solo. "Mendadak dangdutz" istilahnya.... hehehe...  walaupun kondisi badan cuape minta ampun, tanpa pikir panjang kuterima saja tugas Seminar ke Solo ini. karena langsung terlintas dalam pikiran saya mampir ke kawasan Roro Jonggrang alias candi di sekitar Prambanan, karena dari 15an Candi di kawasan Prambanan ini, saya baru menyelesaikan setengahnya.
Peta Penunjuk Arah : Kawasan Roro Jonggrang

jadilah, malam harinya, searching di internet, cari info dan petunjuk arah.... tx to : denah-penyebaran-candi di kawasan Prambanan, karena dengan peta yang dibuat si empunya blog saya sendirian cukup pede menelusuri keberajaan Candi Sojiwan.
     Seminar saya ikuti sampai Jam 1 (SMP singkatannya: Sudah Makan Pulang, lha wis gimana lagi.... untuk materi seminar setelahnya hanya promosi dari panitianya kok: mencari alasan...xixixixi)
     Candi Sojiwan adalah Candi Budha yang terletak di di desa Kebon Dalem Kidul, kecamatan Prambanan, kabupaten KlatenJawa Tengah. kira kira berada radius 2 km dari Candi Prambanan. Candi Sojiwan kurang lebih dibangun antara tahun 842 dan 850 Masehi. Candi ini dibangun kurang lebih berbarengan dengan candi Plaosan.
    Saya Seminarnya di Univ. Muhammadiyah Surakarta (Solo), jadi perjalanan balik arah, jalan Solo-Yogya saya meluncur. Start dari UMS jam 1... karena jalanan cukup padat merayap, barulah saya sampai di Kawasan Prambanan sekitar jam 3an (lupa gak bawa jam, cuman kira2..)
Petunjuk 1 ke Candi Sojiwan
Lihat Peta Sebentar, Tepatnya di Gang kecil ini sobat masuk ( ke Lokasi Candi Sojiwan) 
petunjuk ke 2 ( arah ke Candi Sojiwan-Sudah terlihat)
Mengikuti jalan masuk tersebut, ± 500m kemudian ketemu dengan perempatan, ambil kanan (petunjuk 2)....
Lalu Sampailah...
Candi Sojiwan
Setelah menulis buku tamu, dan mengisi kotak perawatan (seikhlasnya; penjaganya bilang gitu)... mulailah aku berselancar di Candi SOJIWAN....
     Candi Sojiwan untuk pertama kalinya ditemukan oleh para penjelajah Barat pada tahun 1813 oleh Kolonel Colin Mackenzie, seorang anak buah Raffles. Ia yang sedang meneliti peninggalan-peninggalan kuno di sekitar daerah Prambanan, menemukan kembali sisa-sisa tembok yang mengelilingi candi ini.
Aku di Candi Sojiwan
     Sayangnya Tripod ketinggalan, nyesel banget... tapi bagaimanapun foto tetap mesti dijepret.... jadilah EOSD ku di taruh di sembarang tempat...(tentunya asal bisa+aman).seperti foto diatas.... kutaruh di pondasi pagar Candi... hasilnya...hmm lumayan...
     langsung saja, dimulai dengan Tangga.... dihiasi dengan patung naga dan singa, namun di sisi yang lain rusak tak berbentuk.. 

Pintu Candi Sojiwan




Masuk kedalam disambut Pintu Candi, ---Kalau pintu Candi setinggi itu, mungkin, orang jaman dulu setinggi pemain NBA ya? wkwkwkwk----  Pintu Candi Megah! itulah kesan sesungguhnya tentang Candi Sojiwan. beberapa pose ku ambil di pintu candi.... bukan pose bak model tapi okelah untuk sekedar narsis.
Masuk ke bangunan candi, melihat keindahan Atap.....
Sangat rumit, bagaimana orang dulu nyusun ini tanpa teknologi semaju sekarang?...
bukti kemajuan peradaban Nusantara masa lalu....---kenapa sekarang mundur?---
bagaaimana leluhur menyusun batuan menjadi karya agung ini, termenung kalau memikirkan caranya. kehebatan para arsitektur...
Candi Sojiwan: Tempat arca




masuk ke candi perhatian langsung tertuju pada tempat (menaruh) arca/ patung/sesaji/...saya kurang informasi yangjelas... Tanpa pikir panjang, ku langsung naik dan jepret!... sambil mencoba bertapa, alias merenung, kira2  apa yang di atas batu ini....?
Candi Sojiwan : Dimanakah arca aslinya?
Candi Sojiwan memiliki ciri khas yaitu adanya sekitar 20 relief di kaki candi yang berhubungan dengan cerita-cerita Pancatantra atau Jataka dari India. Dari 20 relief ini, tinggal 19 relief yang sekarang masih ada. Di bawah ini disajikan setiap relief yang dipetik dari cerita fabel Pancatantra atau jataka yang berada di candi Sojiwan. Jumlah relief yang dibicarakan ada sekitar 12. Cerita relief dibaca menuju ke selatan (mapradakṣiṇa). Sayang sekali kondisi relief-relief ini banyak yang sudah memprihatinkan.(sumber tulisan : wikipedia, kalo foto original karya ku sendiri...)


relief 1.
Candi Sojiwan : dua orang berkelahi
     Relief ini menggambarkan dua orang pria yang sedang berkelahi satu sama lain. Pria sebelah kiri berada dalam posisi menyerang. Ia memegang sebuah pedang pada tangan kanannya yang tegak berdiri ke atas. Tangan kirinya dikepalkan dan menuding kepada figur yang berada di sebelah kanan. Kaki kirinya berdiri dan memberi kesan seakan-akan menendang. Sedangkan figur yang duduk di sebelah kanan membelakangi figur yang satunya. Mulutnya terbuka, ia berambut keriting dan memakai sebuah kalung dan gelang. Tangan kirinya memegang sebuah payung. Posisi figur ini seolah-olah terganggu dan kontras terhadap figur yang satunya.
Ada kemungkinan cerita yang dilukiskan di sini adalah kisah "Dhawalamukha" yang dimuat dalam "Kathâsaritsâgara".

Relief.2 
Candi Sojiwan :angsa dan kura-kura
Relief ini melukiskan fabel seekor kura-kura yang dibawa terbang oleh sepasang angsa. Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini:
Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai, banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.
Ada angsa jantan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal airnya dari telaga Manasasara.Adapun nama angsa itu, si Cakrangga (nama) angsa jantan, si Cakranggi (nama) angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati.
Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi (nama) si jantan, sedangkan si Kacapa (nama) si betina.
Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. [Kedua] angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:
“Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Kami ingin pergi dari sini, sebab semakin mengeringlah air di danau. Apalagi menjelang musim kemarau.Tidak kuasalah kami jauh dari air. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini, mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Amat murni airnya bening dan dalam. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Di sanalah tujuan kami kawan.” Begitulah kata si angsa.Maka si kura-kurapun menjawab, katanya:
“Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda, sekarang anda akan meninggalkan kami, berusaha untuk hidupmu sendiri.
Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda, tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka anda. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian.
Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. Ini ada kayu, pagutlah olehmu tengah-tengahnya, kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu, [hanya] janganlah kendor anda memagut, dan lagi jangan berbicara. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti, janganlah hendaknya anda tegur juga. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. Itulah yang harus anda lakukan, jangan tidak mentaati kata-kata kami. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan, akan berakhir mati.”Maka demikianlah kata angsa.
Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura, ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa, di sana dan di sini, laki bini, kanan kiri.Segera terbang dibawa oleh angsa, akan mengembara ke telaga Manasasara, tempat tujuan yang diharapkannya. Telah jauh terbang mereka, sampailah di atas ladang Wilanggala.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Si Nohan nama si anjing jantan, si Babyan nama si betina. Maka mendongaklah si anjing betina, melihat si angsa terbang, keduanya sama menerbangkan kura-kura. Lalu katanya.“Wahai bapak anakku, lihatlah itu ada hal yang amat mustahil. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering, sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa, begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan.
Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering, sarang karu-karu.
Maka mengangalah mulut si kura-kura, lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi nasehatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.


Relief 3 (Perlombaan antara Garuda dan kura-kura)



     Pada relief ini kita bisa menyaksikan seekor burung Garuda dan kura-kura di belakangnya dan di antara kakinya.Relief ini melukiskan cerita perlombaan antara Garuda dan kura-kura menyeberangi samudra. Akhirnya Garuda kalah karena disiasati oleh para kura-kura.
     Cerita lengkapnya seperti dimuat dalam kitab Tantri disajikan di bawah ini:
Alkisah adalah seekor kura-kura tua yang menjadi pemimpin sekelompok kura-kura. Ia sangat berprihatin karena setiap hari anggota kelompoknya pasti ada yang dimangsa oleh Garuda. Maka ia berpikir-pikir mencari siasat. Lalu ia berdiskusi dengan kura-kura lainnya supaya lolos dari sang Garuda.
Lalu si kura-kura tua memiliki sebuah siasat. Mereka bertaruhan dengan sang Garuda. Bercepat-cepatan terbang menyeberang laut. Kalau kalah, maka semua kura-kura tetap dimakan sang Garuda. Namun jika menang, mereka akan berhenti menjadi makanan sang Garuda.
Para kura-kura ragu bagaimana bisa mengalahkan sang Garuda, bahkan bertaruhan akan menyeberang lautan.
Maka sang kura-kura tua menjawab bahwa mereka tidak usah khawatir, ia punya siasat. Katanya: “Pasti akan kalahlah sang Garuda oleh kalian. Turutilah semua kataku. Berjajarlah satu sama lain di dalam laut. Isilah lautan dengan penuh sampai di pinggir olehmu. Kalau sang Garuda memanggil, menyahutlah dulu yang di depan sang Garuda, semuanya begitu satu-satu sampai di pinggir. Sapalah duluan, siapapun yang dijumpai olehnya.”
Begitulah inti diskusi mereka diharapkan supaya tidak dimangsa lagi. Maka tersusunlah mereka di dalam lautan lalu datanglah sang Garuda meminta makanannya.
Sahut si kura-kura tua, katanya: “Aduh wahai sang Raja Burung, nanti akan saya berikan makanan anda. Lawanlah kami dulu. Memang kami ingin bertaruhan dengan anda. Bercepat-cepatan menyeberang laut. Kalau kami kalah, ya anda dapat memakan kami. Tetapi jika anda kalah, berhentilah memangsa kami sampai dengan keturunan kami di masa depan!”
Begitulah kata si kura-kura, tertawalah sang Garuda, kemudian katanya: “Wahai kura-kura asal kalian patuhi omonganmu saja. Kalian berani menantangku bertaruhan? Kapankah kalian bisa menang? Pastilah kalah!” Begitu kata mereka berdua dan keduanya setuju.
Segeralah kemudian melayang sang Garuda, sedangkan semua kura-kura sudah tersusun sebelumnya dari batas dan pinggir lautan. Sampai sudah sang Garuda di tengah laut dan memanggillah ia si kura-kura yang dengan segera menyahutinya.
Masing-masing yang dijumpainya dari depan sama-sama mendahului teriakan sang Garuda: “Hah anda tertinggal wahai sang Garuda!” Begitulah kata semua kura-kura menjawab.
Sang Garuda berkata: “Aduh cepat sekali kalian, sungguh lelah saya!” Kemudian ia melayang. Ia mempercepat penerbangannya. Baru saja kelihatan tepi lautan pantai utara olehnya. Terlihat si kura-kura sudah sampai dan bersantai-santai, katanya dengan tenang: “Aduh lama Tuan saya menunggu kedatangan anda. Saya capai dan lesu, terhenti melaju sampai kedatangan Tuan.”
Sahut sang Garuda: “Aduh kalian sungguh kencang. Saya mengaku kalah.” Maka sang Garuda sungguh sudah berhenti memangsa kura-kura bahkan sampai sekarang juga.


Relief 4 (Kera dan buaya)
Candi Sojiwan: Buaya dan Kera
     Relief ini melukiskan cerita seekor kera yang menyiasati seekor buaya sehingga dapat menyeberangi sungai. Cerita ini merupakan cerita jataka.
Pada jataka bahasa Pali nomor 208, cerita ini disebut sebagai Śumşumāra jātaka kisahnya adalah sebagai berikut.
Alkisah ketika sang Brahmadatta merupakan raja Benares, sang Bodhisattwa lahir sebagai raja kera dan hidup pada tepi sungai Gangga. Seekor buaya betina melihatnya dan ingin memakan jantungnya. Maka untuk menangkapnya, yang jantan ingin menyiasatinya dengan menawarkannya menyeberangi sungai Gangga di punggungnya di mana ia dapat menemukan banyak buah-buahan yang sedap. Si kera menerima tawarannya. Pada tengah sungai si buaya mengaku bahwa ia telah menipu si kera. Lalu si kera untuk menyelamatkan dirinya, bersiasat. Ia mengatakan bahwa jantungnya telah digantungkan pada sebuah pohon. Kemudian ia bisa mengambilkannya kalau si buaya mengantarkannya ke tepi sungai. Lalu sang Bodhisattwa menertawakan si buaya.

Relief 5 (Tikus dan ular)

Candi Sojiwan : Tikus dan Ular
     Cerita ini secara rinci adalah sebagai berikut: Relief ini melukiskan cerita persahabatan antara seekor tikus dengan seekor ular. Persahabatan mereka tidaklah lestari.
Alkisah adalah seekor tikus yang ditangkap oleh seorang pemburu. Tikus ini akan dipakainya sebagai makanan ular, hewan piaraannya. Maka si ular ingin memakannya tetapi si tikus meminta jangan dulu. Katanya kalau sudah memakannya si ular menjadi gemuk dan akan dimakan oleh si pemburu. Sebaiknya berteman saja dengan si tikus dan mendengarkan nasehatnya. Si tikus menyuruhnya untuk menggigit tutup keranjang di mana mereka ditaruh. Maka loloslah mereka dan setelah beberapa saat si ular lapar dan memakan si tikus.

Relief 6 (Serigala dan wanita serong)

Candi Sojiwan : Serigala dan Wanita Serong

     Pada relief ini terdapatkan adegan seekor serigala, sebuah kolam dan seorang wanita. Di kolam bisa terlihat ikan dan setangkai bunga teratai. Serigala ini melihat ke arah kanan, ekor si serigala ini ditandai dengan garis-garis untuk menunjukkan bahwa ekornya berbulu. Lalu sang wanita yang duduk berjongkok di sebelah kanan melihat ke dalam air.
     Kemungkinan besar yang dilukiskan pada relief ini adalah sebuah cerita jataka yang disebut sebagai Culla-Dhanuggahajātaka dan merupakan jataka nomor 374. Moral cerita ini adalah “kehilangan keberuntungan”. Kisah yang terkandung dalam jataka ini adalah sebagai berikut:
Alkisah adalah seorang petani tua yang sangat kaya. Istrinya adalah seorang wanita muda cantik. Ia tidak merasa tenang di rumah dan pada suatu hari ketika sedang berjalan-jalan, ia berjumpa dengan seorang penyamun licik. Si penyamun ini berpura-pura seolah-olah ia jatuh cinta. Sang wanita termakan siasatnya dan keesokan harinya mengambil semua harta benda suaminya dan bersama si penyamun melarikan diri. Lalu mereka berada di tepi sebuah sungai dan si penyamun berkata kepada si wanita untuk menyerahkan harta bendanya kepadanya supaya ia tidak kesusahan ketika menyeberang sungai. Bahkan bajunya diminta supaya ia tidak kebasahan kalau menyeberang sungai. Setalah itu si penyamun melarikan diri, sementara itu sang wanita yang sudah telanjang tertinggal di tepi sungai meratapi nasibnya.
Tak lama kemudian ada seekor serigala yang menggondol daging di moncongnya. Serigala ini lalu melihat seekor ikan di sungai dan dagingya dijatuhkannya karena tergiur. Namun akhirnya ikannya menyelam dan dagingnya diambil oleh seekor burung pemangsa. Maka sang wanita yang melihat adegan ini menertawakannya. Si serigala yang mendengarnya mencemoohnya dan mengatakan bahwa ini adalah kasus maling teriak maling dan sang wanita ini lebih bodoh dari padanya.


Relief 7 (Raja dan putri patih)

Candi Sojiwan : Raja dan putri patih

     Pada relief ini kita bisa melihat seorang wanita yang duduk bersila sementara ia memangku kepala seorang pria yang sedang bertiduran.
Relief ini oleh para pakar diidentifikasikan sebagai relief dari cerita bingkai Tantri Kâmandaka

Relief 8 (Gajah dan kambing)

Candi Sojiwan : Kambing dan Gajah

Relief 9 (Manusia singa)

Candi Sojiwan :Manusia Singa

Relief 10 (Serigala dan banteng)

Candi Sojiwan : Serigala dan Banteng

     Relief ini menceritakan cerita seekor serigala yang mengikuti seekor banteng karena mengira bahwa buah zakar si banteng ini merupakan buah benaran dan menunggu sampai matang lalu jatuh dan bisa dimakan.

Relief 11 (Kinnara)

Candi Sojiwan : Kinarra
ada relief ini terdapat lukisan kinnara, atau sejenis makhluk sorgawi. Makhluk ini biasanya dihubungkan dengan kebahagiaan berumah-tangga. Selain di Sojiwan, relief ini banyak ditemukan di candi-candi di Jawa Tengah lainnya.

Relief 12 (Singa dan banteng)

Candi Sojiwan : Singa dan Banteng
     Relief ini melukiskan pertempuran seekor singa melawan seekor banteng.     Di samping kanan Candi Sojiwan terdapat reruntuhan Candi, tampaknya candi perwara.
Mungkin banyak batuan yang telah HILANG, atau rusak dimakan jaman... entahlah mana yang benar... yang pasti semakin menambah keyakinan saya bangsa ini ga menghargai sejarah. padahal dengan sejarah kita bisa belajar banyak..... Parade Relief yang tercecer di Candi Perwara :
Sementara di sebeleh kiri depan candi sojiwan juga terdapat : reruntuhan candi dan stupa yang relatif besar 
Candi Sojiwan : halaman depan
Candi Sojiwan: here i am
    Setelah waktu beranjak petang. Akhirnya beranjak pulang. sampai ketemu lagi di lanjutan ekspedisi Rorojonggrang... masih banyak yang belum kudatangi...ciaoooo

Ditemukan Perahu Tertua di Indonesia Dari Zaman Mataram Hindu Pada Abad-7

Beberapa tahun lalu tepatnya pada hari Sabtu tanggal 26 Juli 2008, dipagi hari sekitar pukul 7:30 pagi, beberapa warga di desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Jawa Tengah sedang membuat tambak garam. Mereka menggali dengan cara memacul tanah di daerah pesisir tersebut.

Lokasi berada sekitar 400 meter dari pantai yang sekarang, yang mungkin dahulunya wilayah situs ini masih merupakan pinggir pantai. Lalu, secara tidak sengaja mereka, para penggali tambak garam tersebut menemukan bangkai perahu kuno yang kemudian wilayah situs itu dikenal dengan nama Situs Kapal Punjulharjo


Dari hasil identifikasi, jenis kapal berasal dari sekitar abad ke 7 dan 8 setara dengan pembangunan Candi Borobudur. Ini adalah penemuan kapal kayu yang paling komplit dan bisa jadi yang tertua di Indonesia!


Dan penemuan tersebut terlengkap di Asia Tenggara karena kondisi kapal tersebut pada lambung bawahnya masih utuh, dibanding temuan di sejumlah wilayah lain seperti di Sumatera dan juga di negara lain seperti di Malaysia dan Filipina.


Perahu Punjulharjo memberi pengetahuan bagaimana teknologi itu digunakan, mulai dari papan-papan yang dilengkapi dengan tambuku yaitu tonjolan pada bagian dalam dengan lubang-lubang untuk mengikat berbentuk kotak.


Juga ditemukan materi lain pembentuk perahu seperti gading-gading gajah yang membuat bentuk melengkung dibagian lunas perahu, ikatan antara papan dengan gading pada tambuku, bagian haluan, bagian buritan, lunas, dan ditempat lainnya.



Bersamaan dengan perahu kuno tersebut, didalamya juga ditemukan pula kapak, tulang, tongkat ukir, tutup wakul dari kayu, pecahan mangkuk dan tembikar lainnya, juga tempurung kelapa serta kepala patung dari batu.


Dengan keberadaan tersebut sudah pasti Situs Kapal Punjulharjo merupakan aset Nasional, bukan hanya daerah, dan merupakan benda cagar budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan.


Seperti yang dikatakan oleh peneliti dari Perancis yang ikut meneliti, Prof. Pierre Y Manguin, bahwa Situs Kapal Punjulharjo sangat spektakuler, terutuh yang pernah ada.



Perahu tersebut juga bukan karena karam atau tenggelam, melainkan ditinggalkan oleh pemiliknya begitu saja. “Mungkin karena sudah tua pada waktu itu”, jelas Manguin.



“Oleh karenanya, bangkai perahu tersebut tidak mudah hancur karena rendaman air laut seperti pada situs perahu-perahu kuno ditempat lain”, tambahnya.

Sepakat dengan Manguin adalah Siswanto, Kepala Balai Yogyakarta. Siswanto menambahkan, hasil uji sampel itu juga mengukuhkan perahu itu sebagai situs arkeologi kelautan tertua dan terutuh yang pernah ditemukan di Indonesia.


Pasalnya, situs perahu sebelumnya hanya tinggal beberapa papan dan tidak berbentuk perahu utuh seperti di Punjulharjo, Rembang ini. Pada tahun 2009 lalu, para peneliti kembali melakukan penelitian lanjutan disitus tersebut.



SITUS KAPAL REMBANG LEBIH TUA DARI BOROBUDUR
Lokasi temuan perahu kuno di desa Punjulharjo yang kemudian dinamakan Situs Punjulharjo sejak tanggal 17-25 Juni 2011 lalu, untuk kesekian kalinya telah diteliti kembali oleh tim dari Balai Arkeologi Jogyakarta yang masih melibatkan seorang arkeolog dari Perancis tersebut.

Penilitian difokuskan pada desain dan teknologi yang digunakan untuk membuat perahu, guna menentukan dari mana asal perahu.


Ketua Tim Peneliti Novida Abas ditemui di sela-sela kegiatan menjelaskan perahu situs Punjulharjo termasuk kuno. Dari hasil carbon dating diketahui berasal dari abad ke-7 atau 1.300 tahun yang lalu.



“Penelitian lebih fokus seputar desain grafis perahu sedetail-detailnya untuk selanjutnya akan dilakukan rekontruksi bentuk aslinya,”ujar Novida.




Sementara itu arkeolog Perancis Pierre Manguin saat ditemui menjelaskan perahu yang ditemukan identik dengan temuan perahu lain di wilayah Asia Timur dan Tenggara sehingga dinamakan Perahu Nusantara.

Situs Punjulharjo menurutnya spektakuler seperti yang telah disebutkan sebelumnya, karena perahu yang ditemukan masih cukup utuh sehingga membantu tim peneliti mengungkap daerah asal dan tujuan perahu berlayar.


“Seperti yang kami teliti beberapa temuan sebelumnya, biasanya perahu tenggelam dan menyiskan potongan papan saja. Situs Punjilharjo spektakuler karena masih utuh,” ungkapnya.



Novida sendiri menambahkan, tim peneliti yang dipimpinnya hanya melakukan uji konstruksi dan usia perahu. Sedangkan pengangkatan dan rekonstruksi akan dilakukan tim lain yang kompeten di bidangnya.


Kepala Balai Yogyakarta, Siswanto saat dihubungi terpisah menjelaskan perahu kuno berusia jauh lebih tua dibandingkan Candi Borobudur yang dibangun pada sekitar abad ke-9 Masehi.


Beberapa bulan lalu, sampel kayu perahu yang dikirim ke Amerika untuk diteliti melalui teknologi carbon dating telah keluar. Hasilnya laboratorium menyatakan positif sampel itu berasal dari abad ke 7 Masehi atau sekitar era Mataram Hindu.



Siswanto menambahkan, hasil uji sampel itu juga mengukuhkan perahu itu sebagai situs arkeologi kelautan tertua dan terutuh yang pernah ditemukan di Indonesia.





Rabu, 18 Januari 2012

Prasasti Plumpungan

Prasasti Plumpungan
Prasasti Plumpungan
         Kebetulan, Sabtu 14 Januari 2012 bersama seorang rekan kerja ada keperluan di daerah Salatiga. langsung terlintas dalam pikiranku mampir ke Prasasti Plumpungan berada. Letaknya berada di perbatasan Salatiga-Kabupaten Semarang, tepatnya di Kecamatan Pabelan.
      Prasasti Plumpungan, cikal bakal lahirnya Salatiga, tertulis dalam batu besar berjenis andesit berukuran panjang 170cm, lebar 160cm dengan garis lingkar 5 meter yang selanjutnya disebut Prasasti Plumpungan.
     Rute menuju Prasasti Plumpungan cukup mudah, walau saya dari Salatiga, tapi yang akan ku berikan rute dari Semarang. Jika sahabat dari Salatiga ikuti jalan dari simpanglima salatiga ke arah Bringin, pasti sampai.
     Dari Ungaran, kira-kira 15km ke arah Solo. Kita akan sampai di Jembatan Tuntang, sebelah kanan pemandangannya Rawa Pening, Sobat ambil kiri menuju Bringin. perjalanan kira-kira 4km, melewati jalan berliku... (banyak pula penjual durian di sepanjang jalan).
      Setelah ketemu penunjuk jalan/ tugu Karanglo Bringin, sobat ambil kanan sampai ada petunjuk lebih lanjut. 100m dari petunjuk ini sampailah di Prasasti Plumpungan berada.
Melewati Station Toentang
     Prasasti Plumpungan, merupakan tanda cikal bakal lahirnya Salatiga, tertulis dalam batu besar berjenis andesit berukuran panjang 170cm, lebar 160cm dengan garis lingkar 5m.
    Berdasar tulisan diprasasti di Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, maka Salatiga sudah ada sejak tahun 750 Masehi, pada waktu itu Salatiga merupakan daerah perdikan. Perdikan artinya suatu daerah dalam wilayah kerajaan tertentu. Daerah ini dibebaskan dari segala kewajiban pajak atau upeti karena daerah tersebut memiliki kekhususan tertentu, daerah tersebut harus digunakan sesuai dengan kekhususan yang dimiliki. Wilayah perdikan diberikan oleh Raja Bhanu meliputi Salatiga dan sekitarnya.
         Menurut sejarahnya, di dalam Prasasti Plumpungan berisi ketetapan hukum, yaitu suatu ketetapan status tanah perdikan atau swantantra bagi Desa Hampra. Pada zamannya, penetapan ketentuan Prasasti Plumpungan ini merupakan peristiwa yang sangat penting, khususnya bagi masyarakat di daerah Hampra. Penetapan prasasti merupakan titik tolak berdirinya daerah Hampra secara resmi sebagai daerah perdikan atau swantantra. Desa Hampra tempat prasasti itu berada, kini masuk wilayah administrasi Kota Salatiga. Dengan demikian daerah Hampra yang diberi status sebagai daerah perdikan yang bebas pajak pada zaman pembuatan prasasti itu adalah daerah Salatiga sekarang ini.
Konon, para pakar telah memastikan bahwa penulisan Prasasti Plumpungan dilakukan oleh seorang citralekha (penulis) disertai para pendeta (resi). Raja Bhanu yang disebut-sebut dalam prasasti tersebut adalah seorang raja besar pada zamannya yang banyak memperhatikan nasib rakyatnya.
Isi Prasasti Plumpungan ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta. Tulisannya ditatah dalam petak persegi empat bergaris ganda yang menjorok ke dalam dan keluar pada setiap sudutnya.
Dengan demikian, pemberian tanah perdikan merupakan peristiwa yang sangat istimewa dan langka, karena hanya diberikan kepada desa-desa yang benar-benar berjasa kepada raja. Untuk mengabadikan peristiwa itu maka raja menulis dalam Prasasti Plumpungan Srir Astu Swasti Prajabhyah, yang artinya: "Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian". Ditulis pada hari Jumat, tanggal 24 Juli tahun 750 Masehi.


Di depan Prasasti Plumpungan

 Sampai Jumpa di Perjalanan Mencari Batu Selanjutnya......