Senin, 23 Mei 2011

PERPUSTAKAAN DI DAERAH PERBATASAN Peluang dan Manfaatnya bagi masyarakat

*/ Bambang Murdianto, SS.
  
Pendidikan adalah hak dasar manusia, yang harus dipenuhi oleh suatu negara. Tanpa melihat atau mempertimbangkan asal usul, suku, agama, ras dan dari mana manusia itu tinggal. Di perkotaan, pedesaan, daerah maju ataupun daerah terpencil mutlak diberikan fasilitas pendidikan yang layak. Di UUD 1945 pun, sudah di letakkan dasar bahwa, tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pendidikan (pasal 31 UUD 1945, perubahan IV-2002).
Perpustakaan yang merupakan sarana pendidikan harus ikut berperan memberikan sumbangsih dalam mensukseskan pendidikan kepada semua masyarakat. Undang-undang perpustakaan yang telah ditetapkan menjelaskan bahwa masyarakat didaerah terpencil, terisolasi atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus. (Pasal 5 ayat 2 UU No. 43 Tahun 2007).
Kabupaten Semarang yang dikelingi 7 kabupaten/kota dan 1 kota (Salatiga) yang berada didalam wilayah Kabupaten semarang, mempunyai keadaan geografis yang kurang menguntungkan, selain jarak yang jauh dikelilingi gunung-gunung, juga wilayah yang sangat luas. Seringkali karena alasan-alasan tersebut daerah-daerah perbatasan kurang mendapat perhatian.
Mengambil istilah DEMOKRASI INFORMASI (Sutarno NS, dalam bukunya ”Perpustakaan dan Masyarakat”), semua orang mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkan perpustakaan. Mendasarkan pada hal tersebut, Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang memulai usaha pemerataan informasi sebagai fasilitator dengan pembukaan pos baca perpustakaan di daerah perbatasan. Pos baca perpustakaan direncanakan dibuka di beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan kabupaten/kota lain.
Pos Baca ini nantinya menyediakan banyak koleksi life skill serta pengetahuan praktis bagi masyarakat, sehingga diharapkan secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat dengan mengaplikasikan langsung informasi yang didapat dari buku. Pos baca juga bertujuan menjadikan masyarakat tanggap informasi. Selalu up to date dengan perkembangan pengetahuan, sehingga tidak tertinggal dari daerah perkotaan.
Tujuan pembukaan pos baca di kecamatan daerah perbatasan selain penyediaan fasilitas dan sumber informasi bagi masyarakat, yang tidak kalah penting pos baca nantinya bisa sebagai pusat pembelajaran. Buku-buku yang disediakan (termasuk koleksi lain; koran,majalah,dsb) secara tidak langsung menciptakan masyarakat yang cerdas, masyarakat pembelajar, masyarakat yang gemar membaca dan berbudaya. Masyarakat yang gemar membaca berkorelasi langsung dengan karakter, pandangan, dan wawasan yang luas.
Jadi titik akhirnya, masyarakat sekitar pos baca selanjutnya akan bersikap mandiri, percaya diri dan mampu mengikuti perkembangan dan tantangan perubahan zaman. Pos baca juga termasuk sarana belajar nonformal yang cara belajarnya masyarakat akan memperoleh kesenangan, dan kepuasan batin melalui membaca buku.
Sebagai tonggak awal, Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang pada bulan ini, bekerja sama dengan Kantor Kecamatan Kaliwungu, akan membuka Pos Baca Perpustakaan. Yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat. Dengan dibukanya Pos Baca ini, masyarakat yang memerlukan informasi tidak perlu jauh-jauh ke Perpustakaan di Kabupaten lain.
Masyarakat di kecamatan Kaliwungu, menurut Kasi Perpustakaan (Perpustakaan Kabupaten Boyolali) sering berkunjung dan memanfaatkan layanan di perpustakaan Kabupaten Boyolali. Hal ini dibuktikan dengan bukti adanya kehadiran banyak warga sekitar Kecamatan Kaliwungu dibuku tamu Perpustakaan Umum Kabupaten Boyolali.
Selain fungsi sebagai sarana rekreasi informatif bagi masyarakat, pos baca yang memiliki koleksi beragam diharapkan mampu merubah pola pikir masyarakat kearah yang maju. Sebagai pusat informasi bagi masyarakat, pos baca perpustakaan berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, hal ini sesuai dengan sasaran pemerataan pembangunan dan pengembangan daerah perbatasan yang menjadi misi utama pembukaan Pos Baca di Kantor Kecamatan Kaliwungu ini.
Pembukaan pos baca ini tentunya harus didukung ketersedian koleksi yang cukup memadai, sampai Periode Juni 2010 koleksi yang dimiliki Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang sebanyak 49.000 eksemplar. Jumlah tersebut jauh dari kata mencukupi, karena Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang selain memiliki layanan perpustakaan di Ungaran juga memiliki Layanan Perpustakaan di kota Ambarawa, serta beberapa pos baca yang sudah melayani masyarakat; Pos Baca Medika di RSUD Ungaran, Pos Baca Kantor Kecamatan Bandungan. Itu belum buku-buku yang dipinjamkan dengan sistem layan silang ke lebih dari 65 pos keliling (sekolah,perpusdes,dll).
Untuk mensiasati kekurangan koleksi, Kantor perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang menerapkan sistem drop buku setiap bulan sekali, yaitu buku diputar pada masing-masing pos baca sebulan sekali. 
Kedepan, pembukaan pos baca ini diharapkan semua daerah perbatasan bisa di kembangkan, Selain Perpustakaan Umum Kabupaten Boyolali, yang menjadi tempat mencari informasi warga di daerah perbatasan lain seperti Kecamatan Pabelan, Tengaran, Tuntang maupun Banyubiru juga sering berkunjung ke Kantor Perpustakaan Umum Kota Salatiga, seperti yang tercantum data Buku Pengunjung Perpustakaan Umum Salatiga.
Pos Baca Perpustakaan di daerah perbatasan ini diharapkan bisa memenuhi harapan masyarakat luas akan informasi pengetahuan tanpa terkendala jarak. Budaya gemar membaca akan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan, selain peningkatan taraf hidup, perubahan pola pikir juga selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, Sehingga apa yang tertuang didalam UUD RI 1945 bisa terwujud, khususnya hak setiap warga Negara untuk menikmati pendidikan, melalui ilmu pengetahuan yang ada di buku.
Adanya perhatian pada masyarakat dengan berbagai pembangunan salah satunya  penambahan fasilitas informasi dalam bentuk pos baca perpustakaan tentunya akan menambah partisipasi aktif masyarakat dalam membangun daerah.
*\ staf pengembangan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang
Pernah dimuat di majalah Buletin Pustaka

Perpustakaan (masih saja) Terlupakan…

(Review Hasil Musrenbang tingkat Kecamatan Tahun 2012)
*Bambang Murdianto, SS.

Bulan Februari ini dilaksanakan musrenbang tingkat kecamatan mulai tanggal 7 sampai dengan tanggal 17 Februari 2011. dan ternyata kurang dari 5% desa dari 235 di Kabupaten Semarang mengusulkan pembangunan perpustakaan.
 Buku dan Rak serta pembangunan gedung perpustakaan menjadi bahan usulan dari desa-desa tersebut. Dari hasil laporan tim pendamping musrenbang menyebutkan bahwa usulan yang dibawa desa untuk di bahas di tingkat kecamatan selalu ‘kandas’, bukan lagi menjadi prioritas.
Tabel Lengkap Hasil Musrenbang
NO
Kecamatan
Desa
1
2
3
4
5
6
7
8
9.
Tengaran
Getasan
Susukan
Bawen
Jambu
Bringin
Ungaran Timur
Pabelan
11 Kecamatan
Nyamat
Tajuk, Samirono,Jetak,Wates
Muncar, Gentan, Kenteng
Polosiri
Genting
Popongan, Kalikurmo
Kawengen
Bejaten, Kauman Lor, Sumberrejo
nihil
Sumber: Tim Pendamping Perpusda Musrenbang, dikumpulkan Penulis.
Membaca misi Bupati Semarang yang pertama (dari 5 misi), meningkatkan kualitas SDM yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudaya serta menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologi. (www.semarangkab.go.id), perpustakaan seyogyanya bisa menjadi alternatif mewakili dan merepresentasi keinginan tersebut. Selain tentunya faktor utama pendidikan formal yaitu sekolah.
Apa pasalnya? Banyak hal yang mendasari kenapa harus perpustakaan. Sebelum uraian lebih lanjut mengenai pentingnya perpustakaan bagi masyarakat, kembali ke proses musrenbang yang beberapa waktu lalu telah dilaksanakan. Luar biasanya, ada salah satu usulan dari peserta musrenbang dari Kecamatan Jambu tepatnya desa Genting yang mengusulkan “Rumah Pintar”. Usulan yang mengadopsi secara positif bentuk perpustakaan terpadu yang identik dengan Kota Semarang, seperti yang telah diduga sebelumnya, usulan ini tidak diprioritaskan.
Hakikatnya “rumah pintar” adalah perpustakaan yang modern, terpadu dan menjadi pusat kegiatan pengembangan masyarakat. Sederhanannya, rumah pintar menjadi ‘jujugan’ masyarakat untuk mencari pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan sebagainya.
Kenapa begitu penting arti perpustakaan?
Perpustakaan merupakan sebuah ruangan/gedung yang berisi buku-buku yang diatur sedemikian rupa sehingga mudah dicari dan dipergunakan sewaktu-waktu diperlukan pembaca. (Sutarno, NS :2003). Ketika perpustakaan berada di masyarakat di lingkungan terkecil/pedesaan maka perpustakaan mampu mentransformasikan ilmu yang ada di koleksi mereka. Sarana murah untuk peningkatan sumber daya manusia, dengan banyak membaca wawasan menjadi luas, cara pandang pun semakin berbeda. Sudah saatnya paradigma perpustakaan berubah.
Yang ini harus diketahui, perpustakaan bukan hanya berisi buku saja. Perpustakaan sudah berkembang menjadi pusat kegiatan belajar mengajar masyarakat. Hal tersebut pernah diulas dalam surat kabar, (Warta Pustaka, Selasa 22 Februari2011 halaman 12), dengan judul ”Ubah Paradigma Perpustakaan”. Saat ini sudah harus segera diwujudkan perpustakaan (umum) sebagai pusat sumber belajar dan keterampilan hidup. Hal ini tentunya harus didukung oleh berbagai pihak. Perpustakaan tidak akan mampu mewujudkan cita-cita tersebut apabila ’dibiarkan sendirian’. Semua pihak harus melepas ego sektoral masing-masing.
Yang paling dekat dengan dunia perpustakaan tentunya pendidikan. Sudah saatnya bersama-sama membangun perpustakaan yang baik, berkoordinasi, saling mendukung dan menciptakan suasana yang kondusif untuk penciptaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Seperti sudah menjadi rahasia umum, dan tampaknya malah sudah dimaklumi, mayoritas sekolah yang ada terutama sekolah dasar belum mengelola perpustakaan secara baik dan benar. Sebuah hal yang memprihatinkan. Dan untuk itu, tidak boleh tidak, ego sektoral harus dihilangkan.
Selain wajib ada di sekolah sekolah, (UU No...Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal... & UU No. 43 Tahun 2003 Tentang Perpustakaan& masih banyak lagi dasar hukum yang lain) perpustakaan seharusnya juga ada dimana pun. Di desa, masjid, instansi, pabrik dan fasilitas publik yang lain. Karena belajar dan ataupun membaca tidak mengenal batasan-batasan tertentu. Di perpustakaan, warga masyarakat biasa bisa menjadi pengusaha. Contohnya pengusaha makanan misalnya. Buku-buku life skill/keterampilan banyak pilihannya. Setelah dibaca buku tersebut, cari contoh pengusaha yg terinspirasi buku....
Peningkatan peran perpustakaan mesti diwujudkan, selain mengejar ketertinggalan HDI manusia indonesia, juga meningkatkan kemampuan ekonomi.
Perpus Bergema misalnya (perpustakaan desa di Kab. Wonosobo), menawarkan berbagai macam kegiatan melalui perpustakaan yang muaranya mengembangkan kualitas sdm serta meningkatkan kemampuan finansial. Mulai dari koperasi, kegiatan pertanian yang mampu memproduksi berpuluh-puluh ton kentang, pecinta alam, usaha catering, pelatihan komputer, kesenian rebana yang sering diundang mengisi acara, PAUD, dan banyak kegiatan lainnya. Semua kegiatan tersebut dimulai dari buku yang ada di perpustakaan. Perpustakaan Bergema berkerjasama dengan berbagai pihak antara lain Perpusda, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas Pariwisata, Departemen Agama, berbagai instansi dan perusahaan yang lain. Bersama-sama, terpadu dalam usaha meningkatkan SDM dan kesejahteraan warga masyarakat.
Ketiga, banyak kegiatan yang di selenggarakan, bermanfaat dan men-stimulus warga, maka lambat laun masyarakat akan timbul perasaan membutuhkan. Hal itu yang sekarang dirasakan perpustakaan Bergema di Kab. Wonosobo. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan bagi masyarakat, bagi pemerintah ataupun bagi perpustakaan itu sendiri. Dengan banyaknya masyarakat yang memanfaatkan perpustakaan maka berhasil tujuan perpustakan, dan bagi masyarakat sendiri akan meningkatkan kualitas SDM mereka, sementara bagi pemerintah secara tidak langsung akan mempermudah dan mensukseskan jalannya pembangunan. Dengan SDM yang tinggi senantiasa program-program pembangunan yang dilaksanakan akan berhasil sesuai dengan harapan.
 Sementara di Kabupaten Semarang, beberapa desa sudah memulai mengembangkan perpustakaan yang terpadu. Seperti Perpustakaan Cemerlang desa Tlompakan Kecamatan Tuntang yang sudah merintis bentuk perpustakaan terpadu. Baru-baru ini, Perpustakaan Cemerlang tersebut berkerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Semarang dengan layanan Gratis, Layanan Kesehatan Gratis dengan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Kec. Tuntang, Badan KB dan PP Kab Semarang melalui kegiatan seminar pemberdayaan perempuan. Sebelumnya, Perpustakaan Cemerlang yang dikelola Ibu PKK juga pernah mengadakan berbagai pelatihan, mereka dibantu PNPM menyelenggarakan pelatihan menjahit dan bordir serta pelatihan membuat makanan ringan. Semua hasil ‘karya’ para ibu PKK kemarin juga ditampilkan pada acara bazar yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Cemerlang.
Tentunya selain perpustakaan memberikan informasi melalui buku, perpustakaan juga bisa ‘memancing’ peningkatan perekonomian melalui sumber pendapatan dari keterampilan rumah tangga yang diperoleh dari perpustakaan. Hal positif yang perlu di terapkan...dan Perpustakaan jangan (lagi) dilupakan!!! Majulah Perpustakaan....
Pernah diterbitkan di majalah : buletin pustaka
\Staf Pengembangan Kantor Perpustakaan daerah Kab. Semarang

Minggu, 22 Mei 2011

MENGEMBANGKAN PERPUSTAKAAN DESA DI KABUPATEN SEMARANG Potensi dan hambatannya

Mengembangkan Perpustakaan Desa
di Kabupaten Semarang
Potensi dan hambatannya

Oleh :
Bambang Murdianto, A.Md.

Pembangunan pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya untuk itu pembangunan harus secara merata di segala bidang. Di Kabupaten Semarang jumlah desa/ kelurahan ( Data wilayah administrasi desa/kelurahan, Pemdes Kab. Semarang tahun 2007), dari 19 Kecamatan, terdapat 208 desa dan 27 kelurahan. Sementara dari hasil pendataan Perpustakaan tahun 2007 ( Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang ) data anak usia sekolah 149.662 jiwa. Dari jumlah usia anak sekolah 70% - 80% berada di desa. Jika anak usia sekolah dapat dibina dengan sebaik-baiknya, maka diharapkan dapat menjadi sumber daya manusia yang amat potensial dalam pembangunan.
Sebagai gambaran seperti dalam tabel Human Development Index 2007 Indonesia berada diperingkat 107 dibawah Vietnam ( 105 ).
Tabel. 1
High Human Development
Medium Human Development
Low Human Development
Iceland (1)
Norway
Australia
Canada
Ireland
Sweden
Switzerland
Japan
Netherlands
France
Finland
United States
United Kingdom
Hong Kong, China
Israel
Singapore (25)
Korea, Rep. of
Brunei Darussalam (30)
United Arab Emirates
Cuba
Mexico
Tonga
Saudi Arabia
Malaysia (63)
Thailand (78)
China
Lebanon
Philippines (90)
Fiji                                  
Iran, Islamic Rep. of
Sri Lanka
Viet Nam (105)
Palestine
Indonesia (107)
Syrian Arab Republic
Nicaragua
Egypt
Mongolia
South Africa
India
Solomon Islands
Laos (130)
Cambodia (131)
Myanmar (132)
Bhutan
Pakistan
Papua New Guinea
Timor-Leste (150)
Senegal
Eritrea
Nigeria
Tanzania, U. Rep. of
Guinea
Rwanda
Angola
Benin
Malawi
Zambia
Côte d'Ivoire
Burundi
Congo, Dem. Rep.
Ethiopia 
Chad
Central African Republic
Mozambique
Mali
Niger
Guinea-Bissau
Burkina Faso
Sierra Leone (177)

Dari data tersebut dapat diprioritaskan kebijakan untuk pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan informasi bagi semua masyarakat tanpa terkecuali, untuk meningkatkan kercedasan bangsa serta meningkatkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan sekaligus mampu bersaing dalam era global sekaligus tuntutan perkembangan jaman.
Salah satu sarana yang amat efisien dan efektif untuk mendapatkan informasi adalah perpustakaan. Perpustakaan menjadi salah satu unjung tombak kemajuan bangsa, dalam Undang Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, pengertian Perpustakaan adalah ” institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka”(BAB I Pasal 1 ayat 1).
Sementara desa/ kelurahan adalah sistem pemerintahan yang terendah dalam unit organisasi pemerintahan di Indonesia, apabila digabungkan pengertian diatas,  perpustakaan desa dapat di simpulkan sebagai berikut ” Perpustakaan yang ada di masyarakat sebagai penyedia informasi untuk meningkatkan dan mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.”
Perpustakaan desa menyediakan sarana/ media pengetahuan yang mendukung perekonomian warga masyarakat. Di perpustakaan tersedia buku buku pertanian, perikanan, teknik dan lain – lain yang mampu untuk menghidupkan perekonomian warga.  Tujuan mendirikan perpustakaan desa secara umum dapat di jabarkan sebagai berikut :
1.      Untuk menunjang program wajib belajar.
            Perpustakaan desa bisa menjadi penunjang pendidikan bagi masyarakat  khususnya bagi usia anak sekolah. Perpustakaan dilengkapi juga dengan  internet, A.P.E, dll.
2.      Menunjang program kegiatan pendidikan seumur hidup bagi masyarakat.
            Pendidikan tidak saja di langsungkan secara formal saja ( SD, SMP, SMA dan Perguruan tinggi ) tetapi bisa juga dengan pendidikan informal di masyarakat, seperti Kejar Paket, kursus, tutorial, penyuluhan dan lain sebagainya. Perpustakaan desa dapat memposisikan diri sebagi penyedia informasi melalui buku - buku penunjang kegiatan kegiatan tersebut.
3.      Menyediakan buku – buku pengetahuan, maupun keterampilan untuk mendukung keberhasilan kegiatan masyarakat di berbagai bidang.
            Pengembangan perpustakaan desa di Kabupaten Semarang memiliki potensi yang amat besar bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia masyarakat. Informasi yang didapat masyarakat melalui perpustakaan desa dapat langsung di praktekkan. Buku tentang menanam lombok misalnya, petani bisa langsung mengaplikasikannya. Buku tentang elektronik, dengan buku tersebut masyarakat yang mempunyai keinginan untuk mempelajari buku tersebut bisa mempraktekkan dengan membuka service elektronik.
4.      Menyediakan bacaan ringan/ hiburan yang sehat dalam rangka membiasakan masyarakat menjadi masyarakat membaca (reading habits).
Peringkat HDI Indonesia yang dibawah Vietnam dipengaruhi juga oleh kebiasaan masyarakat dalam membaca. Membaca melatih sesorang mampu bersikap kritis, menyerap dan memahami yang dibaca sehingga mampu mengekspresikan dalam sikap dan budaya tingkah laku (Rukmiati, Retno: Materi Bintek Perpustakaan, Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang, 2008). Apapun bacaan yang dibaca, sesungguhnya akan bermanfaat bagi pembaca. Bacaan hiburan seperti novel, komik, cerpen, dan bacaan yang lain mampu menggerakkan pikiran untuk berimajinasi.
Kemudian melalui imajinasi tersebut manusia terlatih untuk berpikir kreatif. Pikiran yang kreatif, seringkali mampu untuk menemukan penemuan – penemuan baru yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.   Seperti dalam berita di harian Jawa Pos, Senin 26 Mei 2008, halaman  1, Radar Semarang ”Sri Hardjianto, Pensiunan PNS yang kreatif ciptakan berbagai alat berguna : Kini Bikin Kompor Sekam Pengganti Mitan. Sri Hardjanto yang memiliki hobi mengutak atik peralatan elektronik bermula dari kesenangannya membaca buku – buku tentang elektronik.  
Dari data hasil pendataan Perpustakaan ( Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang, 2007 ) dari 235 desa/ kelurahan, desa / kelurahan yang sudah ada perpustakaannya :

Tabel II

No
Perpustakaan
Jumlah
%
1
Ada
27
11,50%
2
Tidak ada
208
88,50%
Jumlah
235
100%

Dari 27 perpustakaan desa tersebut terbagi lagi menjadi :
Tabel III

No
Jenis Perpustakaan
Jumlah
%
1
TBM
17
62%
2
Perpustakaan Desa
10
37%
Jumlah
27
100%

Kantor Perpustakaan Daerah dalam usahanya untuk mengembangkan minat baca masyarakat dan terus mendorong tumbuhnya perpustakaan desa, dengan layanan perpustakaan keliling, di tahun 2007 ini Kantor Perpustakaan Daerah memiliki 2 armada keliling dengan jumlah pos keliling sebanyak 35  pos keliling, yang terdiri dari perpustakaan desa, TBM, dll.
Stigma dan pandangan masyarakat yang memandang perpustakaan belum cukup penting dikarenakan budaya masyarakat yang cenderung lebih menyenangi budaya instan. Data th 2002 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1000 jam/tahun. ( Pengaruh nonton TV pada anak-anak, www.turnofftv.org//, diolah dari Yayasan Kita dan Buah Hati; dan Kidi . )
Kemudian hal-hal berikut ditengarai menghambat peningkatan minat baca dalam masyarakat dewasa ini (Leonhardt, 1997) :
o      Langkanya keberadaan buku-buku anak yang menarik terbitan dalam negeri
o      Semakin jarangnya bimbingan orang tua yang suka mendongeng sebelum tidur bagi anak-anak. Padahal kebiasaan ini merupakan kebiasaan yang jaman dulu banyak dilakukan orang tua.
o      Pengaruh televisi yang bukannya mendorong anak-anak untuk membaca, tetapi lebih betah menonton acara-acara televisi.
o      Harga buku yang semakin tidak terjangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat
o      Kurang tersedianya taman-taman bacaan yang gratis dengan koleksi buku yang lengkap dan menarik.
Hambatan yang tidak kalah penting datang dari pengambil kebijakan/ keputusan. Perpustakaan desa memerlukan keberlangsungan anggaran untuk kehidupan perpustakaan desa. Sementara sampai saat ini belum ada alokasi anggaran untuk perpustakaan desa. Dari aparat di desa juga tidak kalah penting peran untuk mendukung perpustakaan desa, perpustakaan desa belum menjadi salah satu prioritas untuk dikembangkan. Terkesan perpustakaan itu belum penting. Sikap – sikap seperti ini yang sekarang masih saja dilakukan. Itu bisa dilihat dari sedikitnya perpustakaan yang sudah ada di Desa/kelurahan di Kabupaten Semarang. Hanya 27 Perpustakaan, dibandingkan dengan jumlah desa/kelurahan yang ada, yaitu 235 desa/ kelurahan.
Dari 27 perpustakaan yang ada, manfaat yang dirasakan bagi masyarakat sangatlah terasa. Salah satu contoh perpustakaan desa di Bergas Lor lingkungan Talun RW VII, “ Perpustakaan Desa Warung Pasinaon “ yang awalnya berdiri kurang mendapatkan tanggapan yang baik dari masyarakat, akan tetapi setelah berjalan Warung Pasinaon tersebut, mendapatkan apresiasi yang positif. Banyak kegiatan di Perpustakaan Desa Warung Pasinaon. Selain, menyediakan buku – buku bacaan, ada kursus matematika, kursus bahasa inggris dan sebagainya.
Mengembangkan perpustakaan desa harus secara bersama – sama, antara unsur - unsur yang ada di masyarakat dari keluarga sampai dengan kepala desa/ lurah harus bekerjasama dan bersinergi. Potensi – potensi yang ada di munculkan untuk mendirikan perpustakaan desa, Karang Taruna, Pemuda Masjid, Kelompok Tani, Ibu PKK, Posyandu, Majelis Taklim, ataupun kelompok lain dapat diajak kerjasama ikut kedalam penggerak sekaligus pengguna perpustakaan desa. 
----Tulisan ini pernah dimuat di buletin pustakawan: Perpusda Prop Jateng.
*Staf Pengembangan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Semarang
Mahasiswa S1 Ilmu perpustakaan Fakultas Sastra Undip Semarang