Kamis, 11 Desember 2014

Prasasti Sojomerto, Reban Batang

Prasasti Sojomerto
“Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa dari yang mulia Dapunta SelendraSantanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya,Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra.”

****

        Tawaran untuk menghadiri pembukaan Pameran Buku Di Pekalongan, 2 Desember 2014 sulit untuk ku tolak, pikirku sekalian mampir Batang... ada janji dengan seorang Karib yang lama ta bertemu adalah Kang Rahwan yang sekarang kebetulan pindah ke dinas yang ngurusi Situs di Batang..(Dulunya beliau di Perpustakaaan daerah Kab. Batang).
    (Bukan) Singkat cerita, Rute Perjalanan kali ini ku lalui lewat Gunungpati - Boja - kaliwungu - Batang - Pekalongan. Acara Pembukaan Pameran Pekalongan selesai sekitar jam 12 siang. kemudian ngobrol dan dijamu sate kambing oleh Brother Egih Sugiharja (lumayan bro dadi panas semangatq blusukan.. hahahah)  dan bersama pula Sista Yusti Hudadiana : (GGMU).... ono kuliner aneh (tapi ga berani nyoba.... lha kelaparan....wediku neg ga cocok : Gule Kacang Ijo.... di Lapangan Soronegen Kota Pekalongan
Egih, Yusti, saya.

       Selain silaturahmi.... kumanfaatkan pula belajar di Perpus pekalongan yang sekarang sudah sangat modern.... wah jadi ngiri dengan perpustakaan digitalnya---end---.
      Saat Ngobrol itulah saya sempatkan untuk berkomunikasi dengan kang Rahwan Astyo Wibowo,karena memang saya utang janji untuk silaturahmi sekaligus ingin minta tolong guide blusukan ke sojomerto dan tentu nya bisa pula situs yang lain, karena mas ku yang satu itu sekarang yang ngurusi situs pula.... sungguh harapan saat itu sangat besar...
     Namun apalah daya, ternyata beliau mendapat tugas dari kantor untuk tes...(mungkin kenaikan jabatan : amin!..) dan dengan waktu selesai nya menurut kang rahwan itu sekitar jam 3. Dilema bagi saya, karena sebisa mungkin jam 5 harus sudah sampai lagi di Gunungpati.
       Apa boleh buat, walau mengecewakan kang Rahwan namun 'Show Must Go on".... putar otak..... akhirnya jadilah saya nembak Bro Egih untuk Menggambarkan peta lokasi.... entah kebetulan/ ngepas2 kan...(hahaha) bro egih ijin sama kantor untuk pulang gasik dan memberikan pedoman jalan terdekat dari rumahnya...di daerah Batang pula.
    Tanpa diduga (Saya merasa dimudahkan).... saat di rumah Bro egih...ada tetangga yang memberikan rekomendasi agar aku lewat rute Jalur Pantura saja. (Arahan Bro Egi kata beliau terlalu jauh..lewat jalur tengah).... Ancer2nya Setelah kota Batang... Cari terminal Banyuputih...

       Masuk jalan di samping terminal Banyuputih... Kemudian lurus lewati Limpung..(Jalan relatif sudah bagus, namun sobat hati2 banyak yang ngebut... dan ugal2an terutama pelajar) melalui Jalur Limpung - Bawang. sampai ketemu dengan Reban.. sampai dengan Kecamatan Reban disitulah Dusun Sojomerto berada.... Dimana berdiri Prasasti Sojomerto yang melegenda itu.

    Hujan Gerimis mengiringi blusukan saya kali ini.. tantangan berat... saya lupa bawa jas ujan (celana)... namun kepalang basah... terjang terus.... (kehujanan dari batas kota Batang. 

     Petunjuk yang paling mudah, cari saja SD Sojomerto 01
     Selain hadangan hujan.... Letak Prasati Sojomerto pun minim petunjuk... (neg ono kang Rahwan ta protes ki).... jadilah.... saya hampir setengah jam muter2 nyari petunjuk itu.... = kesasar. Hikmah dari Kesasar itu saya jadi tahu..... Air yang melimpah...daerah tinggi nan subur....wajar bila Syailendra bermula disini... Sungguh suatu daerah yang bikin ngiri...jauh dari polusi dan kebisingan...sungai dan saluran air depan rumah warga bebas sampah dan bening....

         Akhirnya hujan mereda dan nampak seseorang untuk ditanya.... haha.. Kata Ibu itu. petunjuknya papan penjual Madu : 
(saya ambil gambar papan nama "Madu" dari dalam gang..) 
     Prasasti ini berada ditengah perkampungan dan Masuk Gang... yang hanya cukup untuk motor....  perempatan gang ambil kanan... ketemu pos kampling ambil kanan lagi.. 10m dari pos kampling, berada di pekarangan seorang warga Prasasti Sojomerto berdiri Gagah!
Prasasti Sojomerto : Di Halaman Rumah Seorang Warga
Sojomerto : dari samping
       Prasati Sojomerto beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna. Prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun, berdasarkan taksiran analisis paleografi diperkirakan berasal dari kurun akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 masehi.   










Prasasti Sojomerto
   Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. 
     Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia (sumber : wikipedia)









Bunyi Prasati Sojomerto
  1. ... – ryayon çrî sata ...
  2. ... _ â kotî
  3. ... namah ççîvaya
  4. bhatâra parameçva
  5. ra sarvva daiva ku samvah hiya
  6. – mih inan –is-ânda dapû
  7. nta selendra namah santanû
  8. namânda bâpanda bhadravati
  9. namanda ayanda sampûla
  10. namanda vininda selendra namah
  11. mamâgappâsar lempewângih

------

     Papan nama Prasasti Sojomerto "HANYA ORANG TERTENTU YANG MASIH BISA MEMBACA...!... hahahaha.... (tertawa sedih maksudku kang Rahwan)



Save This..
Not Only a Stone
Di Prasasti Sojomerto
Salam Pecinta Candi.!!
Sampai ketemu di Situs yang lain...

Rabu, 10 Desember 2014

Situs Watu Gentong Banyukuning


20 November 2014,       
      Blusukan ke Situs Watu Gentong ini, sebenarnya tujuan kedua setelah ekspedisi ke Candi 9 Gedong Songo. Jam sebenarnya sudah menunjukkan setengah 5 sore. Dan karena itu salah satu tim blusukan ijin pulang.... katanya di cari mama...hahahaha Virose Arrizona : dimarahi mama pora? wkwkwkwk.    Jadilah tinggal Saya, Mas Kusbi, Mas Pman, Mba Derry dan putranya.
Gang masuk arah Situs Watu Gentong
       Situs ini berada di Desa Banyukuning Kecamatan Bandungan. Tepatnya di RT 05/ II. Dari Arah pasar Bandungan, Jalan Masuk Ke Banyukuning 'ancer-ancer / pedomannya" : sebelum SPBU ada gang sebelah kiri... Ikuti jalan masuk itu.... setelah ketemu gang (seperti dalam gambar disamping) 
      Sekitar 500m... lurus saja sampai ketemu dengan Masjid. Watu gentong di Banyukuning (saat ini) di tempatkan di sisi depan kanan dan kiri masjid. 
     Beberapakali, jika ada situs di masjid yang saya temui umumnya di alih fungsikan, namun Watu Gentong di Masjid ini malah di "muliakan", dengan diberi pagar dan di beri penutup tampah. 
Situs Watu Gentong Banyukuning
     Dibeberapa literatur yang saya baca.... keberadaan Watu Gentong ini mengindikasikan di sini dulunya ada sebuah bangunan suci untuk ibadah. Watu Gentong yang diisi air suci untuk membersihkan diri dari segala yang buruk sebelum masuk ke tempat suci. apakah dulunya ada bangunan tempat ibadah/ candi sebelum dibangun masjid, perlu dikaji lebih mendalam.
         Sumur dan gentong sama - sama tempat air... air adalah simbol wisnu .. sumur itu simbol pandito, air simbol ajaran suci,timba simbol ngangsu kawruh, walaupun air(ajaran suci) diambil terus menerus tidak pernah habis karena timbul dari ibu pertiwi... kalo gentong istilahnya simbol ajaran yang suci untuk sebuah keluarga.. fungsinya untuk minum dan buat tirta saat pemujaan... bukan istilah wudu dlm ajaran islam tapi tirta dalam ajaran weda.. tempatnya pasti di utara rumah/ petilasan dsb...
 ENTONG - GENTa ONG.. GEN / Watak NTA / aNTA / berkelanjutan tidak pernah habis/ nonstop ONG / simbol ajaran suci/Tuhan...... dari segi bentuk BUNDAR artinya sempurna . AIR simbol wisnu kalo secara ajaran vertikal AIR itu sungsum tulang belakang manusia... siapa saja dalam meditasi bisa menggerakkan sungsum di tulang belakang manusia itu bisa berjumpa dengan TUHAN di DALAM DIRINYA... atau secara kundalini yoga dari cakra muladara sampai sahasra cakra...
       (Sumber : interview Mas Radito)
     Untuk memperkuat, argumen ada beberapa bukti yang perlu di cermati, Di Samping masjid ada Gbeberapa tumpukan batu, yang kami curigai adalah sisa-sisa bangunan candi. 
    Batu bundar berlubang ditengah dan 2 batu persegi itu kami yakin adalah yang masih tersisa dari sebuah wujud bangunan candi.

Situs Watu gentong Banyukuning
Kami mencurigai tumpukan ini, ada beberapa batu candi: 
Gilang menunjuk salah satu batu candi yang nampak.
Komunitas Berpose 
ki-ka : Mba Derry, Mas Pman, Gilang (derry Junior) dan Mas Kusby
Save This..
Not Only a STONE...
Situs Watu Gentong Banyukuning Bandungan
Salam Pecinta Candi  

Selasa, 09 Desember 2014

Ekspedisi ke Candi 9 di Komplek Candi Gedong Songo

Gedong Songo : candi ke 9
Di tempat ini Jiwa hening..... Meneduhkan.... Menyejukkan....

Setelah bersepakat dengan komunitas, tanggal 20 November 2014 kami berangkat dari tempat ngumpul (Perpus Ambarawa) jam 1 siang. Blusukan kali ini bersama Mba Derry Aditya dan anaknya, Mas Pman, Mas Kusbi, juga Dev Arizona, Rute dari Ambarawa-Bandungan-Gedong Songo kami tempuh kira2 15 menit saja. jalanan cukup lancar (Mungkin karena bukan hari libur).
Sesampainya di Lokasi,  setelah membayar Tiket (kalo tidak salah) Rp.6500/orang.
Jalur yang kami pilih untuk menuju Candi ke Sembilan: Setelah candi ke I, Ambil jalan yang langsung kekiri
Titik merah dibawah : Mba derry
Karena Jalur yang menanjak, bahkan Mba Derry KO di tengah jalan (saran : Naik Kuda & Bawa minyak kayu putih mba….  buat ngolesi kaki kuda ben ra pegel...Wkwkwk. --ra enthuk nesu)
Rombongan terpisah menjadi 2 kelompok (karena mungkin usia? (hahahaha) Saya bersama Devi dan mas Kusbi ada di kelompok belakang, sementara mas Pman dan anakny Mba Derry jauh di depan (ya mungkin masih muda-jadi ga punya udel..hihihi.
Hasilnya, sempat kebingungan, karena satu2nya orang yang tahu jalan menuju ke candi ke 9 itu ya mas Pman sudah jauh didepan ta kelihatan bayangannya. Akhirnya kami ikuti feeling aja… untuk terus naik… saat ambil persimpangan... ada jalan lurus dan kanan, kami bertiga putuskan untuk kanan melalui candi 6. (dan ternyata keputusan kami itu salah namun tidak sepenuhnya salah.... hanya kalau melalui jalan yang lurus tadi jalan tidak terlalu menanjak.
Setelah sampai di Candi ke VI, sobat akan melihat lapangan, dilapangan itulah ada jalan yang berbelok ke kiri menuju hutan pinus.... Ikuti jalan itu yang sudah di beton… (dan ternyata jalan itu tembus langsung ke jalan yang nanjak tadi…) Setelah kira2 50 m dari lapangan Cari penanda jalan setapak seperti gambar yang berikan ini : 
setapak menuju candi ke 9
(Maaf gambar jalan dari lapangan menuju setapak tak sengaja terdelete).
Di Candi yang belum banyak diketahui suasana damai serta hawa sejuk masih terasa alami.
Sebelum menuju  ke candi 9, ternyata ada surprise dari mas wrong way, yang konon katanya ini candi ke 8…. – terus terang saya ya bingung… kalo kabar yang beredar… baru saja ditemukan candi ke tujuh… sementara yang ku kunjungi ini candi ke 8 dan akan ke candi ke 9)
Ikuti jalan setapak itu sampai dengan persimpangan diantara 2 bukit. Dan kedua bukit itulah, yang sebelah kiri (kusebut saja) candi ke 8 dan sebelah kanan candi ke 9.
Candi ke 8

Gedong songo :candi 8
gedong songo : candi ke 8 masuk wilayah sumowono
Berada di ‘gumuk’ di tengah-tengah hutan pinus… serta tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan candi ini, menjadikan suasana masih alami dan batu candi yang tanpa coretan… hmmm (Kecuali tulisan inventarisasi dari Dinas
Gedong songo : ornamen atap cand
Ada 3 tumpukan sisa bangunan candi, yang nampaknya berupa kemuncak / bagian paling atas bangunan. Yang masing masing nampaknya adalah sisa dari bangunan yang terpisah. Terlihat jelas ini peninggalan masa kuno yang klasik jika kita cermati pahatan batuan yang masih sederhana. Jika kita cermati gambar foto ini disamping.
       Sama persis dengan ornamen dalam atap candi (bandingkan dengan candi ke 6 gedong songo) : 
Di buku yang saya baca... (Sejarah Kebudayaan Bangsa : Arsitektur, Mukhlis Paeni. Rajawali Press 2009)  Ornamen seperti itu selain sakral juga berfungsi untuk memecah beban.... salah satu faktor kenapa bangunan candi bisa bertahan lama.









Close up Candi ke 8 :





Dari sisi belakang :
Candi Gedong songo : candi ke 8 dari sisi belakang
Masih sering digunakan untuk ritual..
jiwa tenang : menyejukkan di candi ke 8
dengan bukti keberadaan tempat pembakaran menyan.. serta sisa sisa menyan.
Berpose bersama minus mba derry. 
ki-ka : saya, anaknya mba derry, Devi, Pman dan mas kusbi

Perjalanan lanjut ke Candi 9..

        Setelah puas eksplore candi ke 8, lanjut lagi..... melewati hutan perdu yang seperti lorong, saya sempatkan untuk ambil gambar, spot yang menarik....

 


****

Candi ke 9 (Komplek Candi Gedong 9)
Gedong songo : candi ke 9

       Sisa bantuan Candi ke 9 relatif lebih banyak dari candi ke 8, atau barangkali banyak yang masih terpendam tanah. Relief / pahatan yang sederhana dan menjadikan bukti bahwa Candi di Kawasan gedong songo ini merupakan candi klasik (Mataram Kuno).  
    Pahatan indah (rumit), bangunan nya mungkin lebih besar, daripada candi ke 8. Pahatan masih sederhana namun membentuk pola yang indah, rumit namun presisi.
      Sama dengan candi ke 8 sebelumnya, keberadaan yang tersembunyi (belum diketahui orang)… menjadikan suasana begitu alami.. namun ada yang special disini… deru angin menambah suasana ketenangan saat berada di sini. Menurut saya (bukan maksud melebih-lebihkan).. namun pengalaman saya membuktikan… saat saya berada di sini “ketenangan dalam keramaian saya rasakan”…. Walau saya ramai2 alias berlima (seperti pandawa..hahahaha), namun ketenangan dan kenyamanan benar-benar terasa.
Close up candi ke 9 :



ornamen tiang kemuncak unik : berlubang
     Suasana Nyaman..... Diskusi seru saat rehat di Candi Ke 9 ini... dari diskusi tentang sejarah kenapa dibangun candi, pemahat itu menahan kedinginan saat memahat batu candi, siapa yang membangun, bagaimana cara membangun di tempat yang tinggi ini, bagaimana parsampai kenapa bangsa kita mudah dijajah.... "aah.." namun hanya diskusi ngalor ngidul....ga harus dibuktikan keabsah-an nya, yang penting bukan makar..... hahahahaha.
diskusi di Gedung songo : candi ke 9



        
       Tidak Jauh dari Candi ke 9 ini, ada sebuah batu hitam berukuran besar, yang kono menurut seorang rekan (Pa kabar mas Radito?).. energy positifnya lumayan besar…. ---
      Di Sebelah Batu besar, ada tumpukan batuan candi, 5 meter ke arah kanan ada pula beberapa tumpukan candi. Yang mungkin saja satu kesatuan dengan Candi utama (candi ke 9), barangkali tumpukan itu candi perwara (maaf kesimpulan pribadi)

POSE KOMPLIT : anakmu gokil mba..... derry...
Ki-Ka: mas Kusbi, aku, Devi, Mb. Derry, Mas Pman

     Jangan lupa jika berkunjung ke Gedong songo sempatkan pula ke Mata Air panas..... bila tahan dengan bau belerang jadilah foto seperti ini : 

Di atas Candi ke III, bila sobat lurus ke atas.... cari jalan setapak.... akan ketemu dengan patung anoman.... : 
Gedong Songo : Patung Anoman

Save this..
Not Only a Stone....
sasadara manjer kawuryan
Salam pecinta candi....

Kamis, 16 Oktober 2014

Situs Kenangkan Diwak bergas

situs Umpak dan Yoni Dusun kenangkan, Desa  Diwak, bergas
Jumat, 10 Oktober 2014
         Setelah blusukan ke Situs Arca ganesha "Mbah Dul jalal, tujuan selanjutnya masih di Kecamatan Bergas saya menuju daerah Kenangkan... Depan Pabrik Sosro. Tepatnya di Sebuah Pabrik Pengisian LPG.
    Kebetulan ada info dari Mas Radito yang 'ngiming-ngimingi' ada situs di tempat kerjanya. Juga kebetulan Rekan yang satu ini sangat tahu luar dalam tentang situs... jadi saya bisa belajar banyak...
      Keberadaan situs yang berada di dalam area pabrik memang bermanfaat. Secara keamanan, situs ini sangat lah terjaga dari pencurian (tapi juga tergantung si pemilik, lha ternyata di sekitar situs ditanami Jati--- kan seperti yang kita tahu Jati itu merusak tanah, menghancurkan batuan pula---).... Namun memang menjadikan tak banyak orang yang tahu... (tapi di pinggir jalanpun banyak pula orang tak dpeduli ding.....)
Situs Kenangkan Diwak Bergas

      Yang menarik, di situs ini terdapat batu yang mirip Yoni namun banyak rekan yang yakin itu umpak.                                Selain yang berbentuk kotak ini, disekeliingnya ada beberapa umpak sederhana yang berbentuk bulat.
   Cerita dari Mas Radito :
      Di Pohon dekat situs ini ada arca yang belum terungkap...belum diekskavasi (untuk keamanan..mohon maaf gambar ta saya tampilkan)....
    Di Situs ini juga masih banyak batu bata yangberukuran besar (3x lipat dari ukuran sekarang)
Batu Bata Ukuran Besar di Situs Kenangkan Diwak

Batu Bata Merah Berukuran Besar   

    Keberadaan batu bata berukuran besar itu, memunculkan dugaan saya... dulu situs ini berupa bagian dari sebuah bangunan. 






     Ada Pula batu umpak yang terpisah agak jauh... juga batu candi yang tersisa.... benar benar berceceran....




Dari sisi sebaliknya.....
Situs Kenangkan Diwak




Salam Penyuka Candi


Aku, Mas Radito, Mas Mugiyanto dan Mas P.Man.

Save This..
not Only A Stone