Berulangkali saya mengutarakan jargon blusukan 'rise of kemisan'. Namun belum pernah ada yang kesampaian. baru kali ini dengan keadaan yang serba kebetulan. Dimana sehari sebelumnya senior di Komunitas Dewa Siwa mampir ke tempat kerja saya, tanpa diduga beliau dengan entengnya membagi beberapa destinasi baru. Menulis cerita blusukan inipun dengan perjuangan yang berat, memulai kembali 'kebiasaan' memang lebih sulit daripada mengawali hal yang baru itu saya rasakan benar. Situs Kemiri Gubug, Ganesha Kedung Jati, Blusukan Alas Darupono, umbul Gedong Jetis Klaten, adalah beberapa naskah perjalanan yang belum saya selesaikan. tapi tetap saya akan berusaha menyelesaikan, jadi tunggu saja.
Yang penting yakin, ketika menguatkan mental untuk blusukan kemisan sendirian, lama tidak blusukan sempat membuat saya insecure. Namun kepalang tanggung kalau tidak hari ini kapan? Apalagi info yang saya dapatkan, tak hanya satu, namun 2 situs yang berdekatan di satu Desa Ngrawan. Semakin menambah tekad, memantapkan hati. Setelah absen pagi, saya langsung meluncur menuju lokasi. Kali ini tujuan saya di Desa Ngrawan Getasan, dimana memang disini pula ada peninggalan berupa prasasti "Ngrawan
Berbekal titik koordinat, pemberian pak Nanang K, saya meluncur dengan keyakinan pasti dimudahkan.... Perjalanan menuju Getasan lancar tanpa kendala, sesampai di Getasan, untuk memastikan lokasi saya kemudian buka aplikasi Googgle map. Ditambah dengan bantuan petunjuk dari Pak Nanang," Kalau ke Kiri ke Prasasti Ngrawan itu ambil Kanan".
Dilokasi pertama yaitu Pemakaman 'Sasana Langganan', saya coba menelusuri lokasinya tepat di gerbang masuk Desa Ngrawan : arah Panah gambar :
Di Lokasi ini info yang saya dapat dari Pak Nanang Krisdiarto, ada Yoni berukuran kecil berada di sekitar pojokan makam, namun pojok mana tidak tahu. Karena Pak Nanang sendiri juga tak menemui yoni itu berada. Saya kemudian mencoba mengitari 7 kali segenap penjuru makam, namun ternyata saya tak melihatnya pula. sempat putus asa namun asa masih ada ketika ada dua orang warga sedang menanam bibit pohon di ladang sebelah area makam.
Yoni Desa Ngrawan : sumber gambar : Widjatmiko ap
Singkatnya setelah saya mengutarakan tujuan saya, ternyata kedua orang bapak ini menyarankan saya untuk datang ke kantor desa dan menemui salah satu perangkat. Walaupun sudah jelas menyebutkan nama perangkatnya, namun saya sudah kadung pesimis. akhirnya saya mengurungkan niat untuk penelusuran Yoni di Makam ini. saya juga sudah mencoba bertanya rekan yang kebetulan kenal di Desa Ngrawan ini, sayangnya rekan tersebut tidak tahu mengenai situs ini, bahkan tak menyangka di desanya ada situs selain Prasasti ngrawan. Padahal rekan tersebut termasuk aktivis tokoh muda yang ikut menggerakkan pemuda di desa Ngrawan.
Status : Yoni ini tidak berhasil saya temui.....
Harapan saya, semoga Yoni ini tidak hilang. Sayang banget karena Desa Ngrawan termasuk Desa Wisata, terkenal dengan Desa menari, alangkah lengkapnya juga obyek cagar budaya berbentuk watu juga di uri-uri.----
Berlanjut di destinasi Kedua, masih dengan tujuan situs yang berada di makam. Sayangnya kejadian yang saya takutkan terjadi. saya terlalu pede, akhirnya setengah jam saya mutar-mutar saja di desan Ngrawan. rute googglemaps yang biasanya bisa dan fasih membaca belokan eh hari ini saya benar benar tak tahu arah. Akhirnya saya tahu penyebabnya.... Ya karena bertahun-tahun tidak blusukan, akhirnya kena mental ketika blusukan sendiri... hahahha... lebih dari setengah jam, namun berkahnya, jadi hapal jalan Gang di Desa Ngrawan. untunya saya pakai seragam, jadi warga tak terlalu curiga.. hahahahha...
Akhirnya dengan sangat penasaran karena tak segera ketemu, ketika sampai, "Arghhhh!!!" saya berteriak lega. untung kondisi sepi....
Disinilah ....
Lingga Yoni Situs Makam Ploso Desa Ngrawan Getasan
Lokasi keberadaan "watu candi' itu tepatnya di cungkup, fokus sudah terlihat dari parkiran motor.
Setelah uluk salam kemudian saya masuk ke dalam cungkup. dan tara....
Lingga semu Situs Makam Ploso Ngrawan Getasan
Awalnya dugaan saya ini lingga Yoni, tapi setelah saya mencoba lebih dekat, cerat yoni kok ga ada. Saya kesulitan untuk mencoba menyimpulkan. Sementara saya menganggap ini ' lingga semu'.
Lingga semu adalah bentuk
lingga yang tidak sempurna atau sederhana, berupa tugu dari batu andesit
berujung bulat dengan dasar segi empat.
lingga semu ngrawan
Umumnya, digunakan sebagai penanda batas wilayah (patok) atau situs suci pada
masa Kerajaan Jawa Kuno, berbeda bentuk dengan lingga peribadatan yang lengkap.
Terdiri atas bagian bulatan (atas) saja menyerupai phallus, namun tidak memiliki detail bagian
Brahma, Wisnu, dan Siwa secara lengkap.
Selain penanda wilayah kerajaan atau desa, lingga semu
sering menjadi bagian dari kompleks percandian atau tempat pemujaan, dan kadang
ditemukan berpasangan dengan yoni atau di dekat sumber air. Namun karena perubahan zaman yang cukup lama ciri keberadaan Lingga semu ini, apakah sudah berpindah atau masih insitu, kemudian kok berada di tengah makam maka itu akan tetap menjadi misteri selama belum ada catatan atau prasasti. heheheh..... tapi yang pasti keberadaan Lingga semu yang dikeramatkan ini akan menjadi pengaman dari perusakan atau penghilangan....
Semoga tetap lestari!
Segera video dokumentasi saat blusukan sendiri kali ini,
Rise of Kemisan di Ploso desa Ngrawan
Sampai Ketemu di Penelusuran Berikutnya, "RISE of KEMISAN"
Jumat 28 Agustus 2020, Ajakan Blusukan Pak Nanang tak mampu ku tolak, apalagi tujuan yang ditawarkan saya belum pernah penelusuran. Candi Renteng Grabag Magelang.
"Sebuah bukti keberadaan "Candi" yang tersebar di pemukiman warga", pancing Pak Nanang kepada saya.
Tentu saya tak berpikir dua kali untuk langsung gass poll merapat ke markas. Dari Bawen, kami lewat jalur Banyubiru. Tembus Getasan kemudian terus lewat jalur menuju Prasasti Ngrawan, kemudian lurus sampai dengan rumah makan "Sere Wangi", Kami sebenarnya berniat silaturahmi ke Bapak Sutikto, kenalan Pak Nanang yang memberikan informasi Perihal Candi Renting. Namun ternyata saat kami kesini beliau tak ada di rumah.
Penanda keberadaan Candi Renting : Rumah Makan sere Wangi
Saya kemudian mengekor Pak Nanang, berjalan kaki menuju belakang Rumah Makan 'Sere Wangi', tepatnya sebelah Masjid. Tapi tepat saat di depan rumah sebelum Rumah Makan, Pandangan Pak Nanang terasa Aneh... "Ora reti po ra ngeh?", agak sedikit ngece. Langsung saya berhenti dan mengedarkan pandangan. Ternyata epat di depan rumah, di halaman nempel di pagar :
Yoni Candi Renteng Pandean Lor, Grabag
Konon Yoni ini berasal dari gumuk (bukit) di belakang perkampungan, warga menyebutnya Blok Reco. Sebenarnya ada Yoni yang masih komplit dengan Lingga yang beberapa waktu lalu ada di dekat sekolah. Namun informasi dari Pak Sutikto saat ini sudah raib... (informasi kehilangan inilah sebenarnya yang menjadikan pak Nanang ke sini lagi).
Close up Yoni Situs Pandean Lor, Candi renting Grabag:
Yoni Pandean Lor Candi renteng
Vandalisme di Yoni Pandean Lor Candi Renteng
Cerat Yoni Pandean Lor Candi Renteng
sasadara manjer kawuryan di Yoni Pandean Lor Candi Renteng
Saya kemudian diajak terus jalan menyusuri gang di sebelah rumah makan ... dan ..... Dari jauh terlihat struktur batuan candi yang menjadi pondasi Rumah .......
Struktur Candi renting menjadi rumah
Seketika saya memang tak tahu harus berbuat apa.... kira-kira 5 detik saya cuma tercenung diam. Namun saya juga menyadari tak ada sumber daya kekuatan untuk mampu mengubah atau sedikit menyelamatkannya.
Hanya bisa menyesali, namun bersyukur masih bisa menjadi saksi. Saya kesini rumah ini masih tahap renovasi dan nampaknya semua nanti akan ditutup plester dan semen. Bayangkan bila kesini dah tertutup dan tak nampak lagi keindahan Batuan Struktur Candi Renting. Mirip kejadian Yoni di Sendangguwo Semarang yang karena arogan ditutup semen dan hanya tinggal kenangan
Berdasarkan cerita pemilik rumah yang sekarang, beliau mendapatkan rumah inipun pulung, namun beliau juga mengetahui keberadaan struktur batuan candi. Saat ngobrol sama kami, nampaknya beliau juga sedikit merasa bahwa Batu ini adalah peninggalan kuno yang tak boleh diganggu. Sehingga beliau ketika merombak rumah... ketika di bawah lantai ada banyak batu kotak ya hanya dibiarkan dan ditutup lagi. Dilema memang..... ketika sudah ditutup, maka kajian, penelitian bahkan eskavasi penyelamatan akan mustahil, kecuali Bandungbondowoso kesini, tapi bagaimana lagi... Kami hanya seseorang yang hanya bisa menyarankan, menghimbau....
"Dulu sebelum dibongkar, tiang rumah ini ada umpaknya yang lumayan bagus, namun 'dibawa' teman saya. Malah sepertinya ada tulisan", jelas empunya rumah. Kata 'dibawa' membuat saya gelisah, ada makna lain disini dan saya yakin bukan dibawa dalam arti tinggal cangking begitu saja.
Kami kemudian lanjut ke belakang rumah yang masih tersisa jejak struktur batuan Candi Renteng, tapi entah sampai kapan.
Struktur Batuan Candi Renteng yang terbengkalai, Pandean Lor Grabag Magelang
Saat kami berkumpul di belakang rumah, beberapa warga nampak penasaran dan mendekat, kesempatan edukasi (---pikir kami), selain kami tanya tentang Blok Reco, kami juga menyelipkan haarapan kami agar masyarakat lebih peduli dengan tinggalan Candi Renteng.
Selanjutnya Pak Nanang memberikan kode untuk saya mengikuti beliau, mencari keberadaan sebuah arca di dekat masjid (informasi dari Bapak Sutikto). Yang masyarakat sekitar nampaknya tak ngeh ada arca di dekat masjid, akhirnya kami cari sendiri.
Setelah kami memutari dan meneliti di setiap detail sekitar candi. Akhirnya :
Arca Candi Renteng
Kami duga dari bentuknya, Arca Agastya sebagai pengisi Relung Candi Renteng . Warga sekitarpun hanya menatap takjub sekaligus kaget... ternyata ini Arca. Harus di uri-uri, minimal pemdes mencoba menyelamatkan yang bisa diselamatkan .. misal untuk sementara yang iconik seperti arca ini di pindah (diberi etalase) ke kantor Desa. Selain arca, terplester di pinggiran rumah juga struktur batuan Candi Renteng :
Struktur Batuan Candi Renteng
Itu dulu yang bisa saya sampaikan. hati kecewa namun masih bersyukur.... Blog saya ini masih bisa menjadi saksi bahwa dulu percah ada Candi Renteng di Pandean Lor ini. Maturnuwun Pak Nanang dan Bu Bu Wahyuni.... hehehe. Blusukan hari ini bersambung ke Situs Makam Dalangan Telomoyo.
Ada juga Video Vlog link Channel Youtube :
https://www.youtube.com/watch?v=8eRSN42JYfg
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Ini Candi Renteng, Pandean Lor Grabag Magelang
Literatur Candi Renteng dari tulisan Verbek,
Dari Tulisan itu.... Ada Nandi, Ada Arca Durga..... sekarang dimana?
Juga tulisan dari Veronique degrot :
(saya dapat broadcast ini dari Grup WA, tapi dari siapa tak tahu.. semoga yang punya confirm, saya akan ijin mencantumkan sumber)
Sumber lain dari grup FB Dewa Siwa :
catatan :
Bila kedua orang yang punya broadcast tersebut tak berkenan akan saya hapus....
Jumat,17 maret 2017. Sebenarnya baru dua hari yang
lalu saya ‘blusukan’, menelusuri jejak peradaban di Ngobo Wringinputih Bergas.
Namun beberapa informasi baru tentang batu purbakala membuat saya menyusun
strategi. Jumat ini kebetulan saya juga ada bazaar buku yang harus saya
dokumentasikan di Perpus Ambarawa. Mencari target guide, siasat saya untuk mencari rekan agar di terke. Setelah yakin, sasaran tembak saya adalah di manusia mantan
andeng-andeng yang dengan anehnya selalu menemukan yang menurut keyakinan saya
karena andeng-andengnya itu, seperti antena pencari, pendeteksi.Namun sayangnya, Si target ini malah
menghilangkan alat pencarinya itu (=andeng andeng). Foto yang menjadikan oknum ini target guide saya
Setelah mendokumentasikan kegiatan di perpustakaan
Ambarawa, Saya antarkan terlebih dahulu 2 Eka yang saya jadikan target saya ini
ke Situs Lumpang kaliputih dan Umpak Kalipawon. Kemudian kami langsung menuju
Ngrawan Lor, Karena Suara panggilan Ibadah Salat Jumat sudah berkumandang, kami
langsung mencari masjid. Kali ini Masjid Istijab di Perum Mustika Jati Bawen.
Namun karena jam ditangan belum waktunya adzan, setelah parker di belakang
masjid. Dan dengan tatapan jamaah yang sudah didalam masjid, 2 Eka nengok Mbah
Nandi, dimana lokasinya 100m dari masjid ini. Saya tunggu beberapa waktu, saya
kemudian nyusul, saat ketemu, hanya
dengan bahasa mata kami bertiga (namun bukan pandangan seperti seorang kekasih
lo ya)… kami langsung sepakat sambil nunggu adzan. Kami berjalan kaki menuju
Lumpang Ngrawan. Tak sampai 2 menit dari masjid, posisi Lumpang ada dibelakang
warung kelontong arah jalan tembus Bawen-Gembol.
Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
Watu Lumpang berada di depan rumah Mbah Taslan (no
rumah 55, RT 03/RW 05.saya melihat di papan penanda rumah beliau). Beruntungnya, beliau ada
dirumah dan ramahnya Kakek yang berusia lebih dari 80 tahun ini menerima kami dengan
tangan terbuka, mempersilahkan untuk mengabadikan Watu Lumpang yang berada
didepan rumah beliau.
Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
“Kulo lair
tahun 35, watu niku mpun wonten teng mriku awit jamanipun mbah buyut kulo”,
cerita mbah Taslan dalam bahasa jawa. ---saya sengaja tak mentranslate.
“Dhek mbiyen, kene ki rowo, ning sebelah kono kae, ono sumber air sing
gede banget, sebelahe ono watu lumpang sing luwih gede seko ini. Trus karo mbah
kyai diwalik nggo mbumpeti sumber mau. Makane
saiki iso dadi omah omah sing ramene koyo saiki”, tambah Mbah Taslan sambil
menunjuk arah.
Dan watu lumpang yang dibalik itu, Mbah Taslan masih yakin ada
diposisi semula namun sekarang ada diruang tamu anak keturunan mbah Kyai yang
dulu membalik Lumpang tersebut. (Sebuah cerita menarik yang patut ditelusuri).
Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
Kondisi Watu Lumpang masih lumayan (terawat) namun
ada beberapa bagian yang rusak. Beberapa sumber memberikan deskripsi fungsi
Watu Lumpang, Ada yang dibuat sebagai penanda tanak sima (perdikan) dengan ciri
khas spesifik dan spesial, misal ada tulisan/ inskripsinya.
Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
Ada pula sumber
lain yang menjelaskan tentang fungsi lumpang untuk menumbuk sajen yang
digunakan untuk ritual penyembahan para dewa saat masa tanam/panem. Juga ada
yang berfungsi hanya untuk menumbuk padi.
Saat ngobol panjang lebar, Adzan Masjid Istijab sudah
memanggil kami untuk Salah Jumat, kami berpamitan dan mengucapkan terimakasih
atas sambutan dan tentu saja apresiasi tinggi kepada Mbah Taslan yang masih
mempertahankan Watu Lumpang Ini.
Ngobrol dengan Mbah Taslan : Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
Semoga tak
hanya kami yang mencoba membangkitkan kembali peradaban lama yang dikaji dan
dipelajari untuk pengalaman dimasa yang akan datang.
Jumat, 17 maret 2017, cerita lanjutan penelusuran
setelah Watu Lumpang di rumah warga, kakek Taslan. Link cerita sebelumnya : Jejak Peradaban: Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen #Part 1. Dari masjid Al Istijab
Perum Mustika Jati Bawen, Kami keluar menuju gang arah ke kanan (2 kali ambil
kanan). Menyusuri jalan kampung sampai, di sepanjang jalan ini ada salah satu
rumah yang konon dulu saat ramai ‘toto gelap’ pernah ada Yoni di samping
rumahnya. Namun karena banyak aktivitas tengah malam, pemilik rumah kemudian
merasa terganggu dan akhirnya di di hancurkan menjadi kerikil. Apaboleh buat,
nasih sudah menjadi bubur, tak mungkin bubur menjadi nasi lagi kan? Kemudian
tepat dibelakang Pos Kamling ada juga hasil mengumpulkan (saya menduga seperti
ditulisan saya beberapa tahun lalu) struktur bangunan suci yang konon dulu
berasal dari area ditengah Perum Mustika Jati : link tulisan : Situs Ngrawan Lor + Poskamling.
Saya dan Eka
Budiyono sudah pernah mampir di situs tersebut (dengan waktu dan rekan
berbeda), jadi kami biarkan Mbah Eka WP untuk menengok sendiri, sedangkan kami
tetap melanjutkan penelusuran ulang (Watu Lumpang Makam Lingkungan Ngrawan Lor). Berada di
pinggir area makam sebelah kiri gerbang masuk, tepat dibawah pohon durian Lumpang
ini berada.
Kondisi
lumpang sudah tak utuh lagi, tak lagi bulat, namun oval. Sayangnya bukan asli original oval namun terlihat ada usaha
perusakan… entah dimasa apa.
Keberadaan
beberapa sebaran situs di sekitar area Ngrawan Lor menjadikan kami menduga
peradaban masa lalu pernah bertahta di sini. Teringat pula cerita dari rekan
dulu ada watu gentong kuno berjumlah 4 buah yang dicuri orang di Ngrawan Lor
ini (dari cerita warga). Beberapa kepingan sejarah yang tersisa itu bisa
menjadi bukti awal keberadaan bangunan ritual suci yang memakai tirta-amerta,
air suci dalam prosesi ritualnya.
Apalagi
menurut cerita yang kami dapat sebelumnya dari Mbah Taslan (Part 1) bahwa dulu
sekali “Pada suatu masa itu” sebelum nama Ngrawan dikenal. Daerah ini pernah
ada satu lokasi yang bernama jembangan. Sebuah ceruk sumber air yang deras dan
tak henti-hentinya menyemburkan air.
Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen #Part 2.
Lambat laun jembangan yang awalnya hanya ceruk air yang dikelilingai
pemukiman (bisa jadi bagian vassal kerajaan kecil) dimana setiap pemukiman (=peradaban)
pasti ada bukti eksistensi hubungan manusia dan penciptanya, kemudian berganti
masa lama-kelaman pemukiman berkembang dan segera setelah berganti generasi
kemudian orang menjadi lebih suka menyebut dengan Ngrawan (berasal dari kata
rowo=rawa. Sumber : obrolan dengan mbah Taslan, 17/3-2017).
Tak jauh dari
watu lumpang ini, sekitar 50m arah ke timur banyak batu (struktur) candi
berbentuk Kotak yang sebagian masih berada dilokasi awal, yang sebagian lagi
tersebag dibeberapa titik. Yang paling ketara adalah berfungsi menjadi ‘patokan’ makam yang nampaknya keramat. Auranya berbeda
dari makam yang lain. Pikiran kami berimajinasi liar, membayangkan batu candi
kotak ini bagian struktur sebuah bangunan suci yang dulu konon berdiri disini.
Dan jejaknya masih terlihat. Mungkin saja banyak masih terpendam didalam , jika
iya. Semoga tetap aman dan biarlan begitu adanya.
Foto bersama oleh Eka Budiyono.... Si Mantan Andheng-Andheng ijo lumuten :
Saat kami
kesini, ada kakek yang tertarik dengan aktifitas kami, Mbah Kaslan (aneh, unik
namanya mirip dengan Lumpang Ngrawan Lor Bawen : Part 1: Mbah Taslan). Singkat cerita beliau sangat
penasaran dengan laku kami, dimana tak biasanya ke makam, anak (masih) muda mencabuti
rumput disekitar Lumpang, kemudian ziarah pula ke makam kuno.
“Tak ada yang
berani maupun peduli katanya dalam bahasa jawa”. Kami sebisanya menjelaskan
kami ini siapa. Intinya Pecinta Situs dan Watu Candi.
Setelah kami
jelaskan, beliau dengan berbinar menceritakan perihal makam kuno ini. “Ini yang bubak yoso, sesepuh desa ini. Kyai
Trembuku dan Nyai Cangki di
sekelilingnya makam para abdinya”, jelas Mbah Kaslan. Kami tak dapat agi
cerita di zaman apa Kyai Trembuku dan Nyai Cangki ini hidup.
Tapi
apresiasi dan menjelaskan perihal makam walau singkat namun kami sudah cukup.
Semoga ada yang meneruskan penelusuran kami tentang Ngrawan Lor ini…. Apa kabar
warga lokal? Sudah lah cukup selama ini abai… mari ketahui dan lestarikan…
Wis tuo dijak selfinan, jian tenan….. :
Di Makam Ngrawan Lor : Makam Kyai Trembuku
Saat perjalanan pulang, niat kami ingin silaturahmi sekaligus kuliner Mie Ayam bakso Pak Keman... Namun kami tak beruntung.... TUTUP... Ke Mana Pak Nanang Klisdiarto? padahal mie ayam kami sudah impikan sejak tadi malam. Akhirnya kuliner di dekat si andheng2.... MIE AYAM gedanganak...
Berawal dari rencana di jauh hari sebelumnya. Komunitas Dewa Siwa akan mengadakan kegiatan "Gathering" bersama Keluarga. Pas sedang mematangkan rencana, Pak Nanang klisdiantoro posting penelusuran Ganesha di Belakang SMK Islam Sudirman Ambarawa. Dan Pak Nanang ini Juragan bakso, yang juga buka warung di Berokan Bawen. Jadilah... kegiatan Kami adakan di lokasi warung Beliau "Bakso Pak Keman".
Ngobrol ngalor ngidul dari yang ringan sampai berat, dari yang sekedar gossip rekan Dewa Siwa sampai bahas ilmu percandian. Suasana kekeluargaan memang sengaja dibangun di pertemuan kali ini. Saya, Lek Wahid dan Mas Beny yang kebetulan bisa membawa serta keluarga masing-masing.
Maksudnya biar keluarga tak kawatir saat kita blusukan... karena sudah kenal semua. Beberapa foto guyub Dewa Siwa kali ini :
Dewa Siwa di Bakso Pak Keman Berokan Bawen
Dewa Siwa di Bakso Pak Keman Berokan Bawen
Dewa Siwa di Bakso Pak Keman Berokan Bawen : Mas Hendri Lapar
Dewa Siwa di Bakso Pak Keman Berokan Bawen
DS di Bakso Pak Keman Berokan Bawen
Dewa Siwa di Bakso Pak Keman Berokan Bawen
Bakso Pak Keman Berokan Bawen
Bagi kami, Dewa siwa lebih dari sekedar teman blusukan bersama, lebih dari sehobi, dan lebih dari 'edan' bersama.
Namun sudah seperti keluarga besar.
Di Kesempatan kali ini, kaos, kalender dan langkah kedepan kami bicarakan santai tapi serius sambil saling bercanda..
Walaupun masih banyak yang belum bisa menghadiri, namun Komunitas Dewa Siwa senantiasa berproses untuk menjadi keluarga. Keluarga Pecinta Situs dan Watu Candi.
Terimakasih kepada Pak Nanang "Bakso Pak Keman", Berokan Bawen (Tanjakan menuju Gembol-Dari Ambarawa) yang telah mempersilahkan kami "Gathering" di Warungnya.
Setelah makan bersama, Kami lanjutkan blusukan bersama dengan destinasi Arca Ganesha di Belakang SMK Islam Sudirman 2 Ambarawa. Tentusaja Guide Beliau Pak Nanang Klisdiarto. Sebelum itu kami mendokumentasikan terlebih dulu... 10 tahun lagi menjadi sebuah kenangan yang mungkin saja sulit untuk kami ulang.
Setelah foto bersama, kami meluncur melalui rute melewati SMKN 1 Bawen Kemudian pertigaan berokan ambil kanan arah Kota Ambarawa. Setelah Jembatan Sebelah kanan ada jalan keatas (Sebelah klinik), arah Sekolah (SMPN 5, SMK Islam Sudirman). 50 m dari SMK Islam Sudirman ada perempatan kecil, ambil kanan (penanda warung kelontong). Masuk kira-kira 100m. Jalan menurun kemudian belok kanan lagi mengikuti jalan beton dengan pohon bambu disebelah kiri.
Lalu Sampailah :
Arca Ganesha di Kupang Ambarawa
Dari ciri fisik, mudah dikenali ini Ganesha. Posisi Duduk, perut buncit dan hiasan padma di bawah arca. Kondisi Arca seperti yang bisa dilihat, sudah tanpa kepala arca, belalai pun tak berbekas... Penuh Lumut dan Jamur.
Close up Arca Ganesha dari atas
Kami mencoba memberikan advice kepada warga sekitar untuk merawatnya, minimal mengamankan dilokasi yang terlindungi dari alam maupun mafia kolektur murka bin b@#$@#t, maaf.... masih banyak berkeliaran yang melihat sesuatu ada uang nya... atau yang punya rasa ingin memiliki.
Ganesa (Dewanagari) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Dalam relief, patung dan lukisan, ia digambarkan berkepala gajah, berlengan empat dan berbadan gemuk. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati, Winayaka dan Pilleyar. Dalam pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putra Bhatara Guru (Siwa).
Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali.
Ganesa masyhur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa, Wigneswara), "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan", dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan".
Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara.
Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.
Beberapa rekan mencoba menelusuri ulang 100m disekitar arca Ganesha ini. Namun tetap nihil. Masyarakatpun sudah tak ada yang tahu ihwal sejarah atau 'teman' dari Arca Ganesha ini
Ganesha Ambarawa : Komunitas Dewa Siwa
Semakin lama sejarah jika masyarakat abai maka sejarah berganti dengan 'jarene' mitos bahkan 'tak tahu'!
Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
@ssdrmk : dub smash di Ganesha Ambarawa
Blusukan formasi lengkap keluarga :
ssdrmk
Pengumuman, barangkali berkenan membaca.
Telah hilang disini : Sandal saya yang sebelah kanan ..... (Tertinggal)
Barang siapa menemukannya.. Akan saya pertemukan dengan sandal saya sebelah kiri