Tampilkan postingan dengan label Lingga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2024

Situs Ploso Desa Ngrawan Kecamatan Getasan

Situs makam Ploso Desa Ngrawan
Kamis, 14 November 2024.
       Berulangkali saya mengutarakan jargon blusukan 'rise of kemisan'. Namun belum pernah ada yang kesampaian. baru kali ini dengan keadaan yang serba kebetulan. Dimana sehari sebelumnya senior di Komunitas Dewa Siwa mampir ke tempat kerja saya, tanpa diduga beliau dengan entengnya membagi beberapa destinasi baru. Menulis cerita blusukan inipun dengan perjuangan yang berat, memulai kembali 'kebiasaan' memang lebih sulit daripada mengawali hal yang baru itu saya rasakan benar. Situs Kemiri Gubug, Ganesha Kedung Jati, Blusukan Alas Darupono, umbul Gedong Jetis Klaten, adalah beberapa naskah perjalanan yang belum saya selesaikan. tapi tetap saya akan berusaha menyelesaikan, jadi tunggu saja.
     Yang penting yakin, ketika menguatkan mental untuk blusukan kemisan sendirian, lama tidak blusukan sempat membuat saya insecure. Namun kepalang tanggung kalau tidak hari ini kapan? Apalagi info yang saya dapatkan, tak hanya satu, namun 2 situs yang berdekatan di satu Desa Ngrawan. Semakin menambah tekad, memantapkan hati. Setelah absen pagi, saya langsung meluncur menuju lokasi. Kali ini tujuan saya di Desa Ngrawan Getasan, dimana memang  disini pula ada peninggalan berupa prasasti "Ngrawan
      Berbekal titik koordinat, pemberian pak Nanang K, saya meluncur dengan keyakinan pasti dimudahkan.... Perjalanan menuju Getasan lancar tanpa kendala, sesampai di Getasan, untuk memastikan lokasi saya kemudian buka aplikasi Googgle map. Ditambah dengan bantuan petunjuk dari Pak Nanang," Kalau ke Kiri ke Prasasti Ngrawan itu ambil Kanan".   
        Dilokasi pertama yaitu Pemakaman 'Sasana Langganan', saya coba menelusuri lokasinya tepat di gerbang masuk Desa Ngrawan  : arah Panah gambar : 
Gerbang Desa Ngrawan

      Di Lokasi ini info yang saya dapat dari Pak Nanang Krisdiarto,
ada Yoni berukuran kecil berada di sekitar pojokan makam, namun pojok mana tidak tahu.  Karena Pak Nanang sendiri juga tak menemui yoni itu berada.  Saya kemudian mencoba mengitari 7 kali segenap penjuru makam, namun ternyata saya tak melihatnya pula. sempat putus asa namun asa masih ada ketika ada dua orang warga sedang menanam bibit pohon di ladang sebelah area makam.
Yoni Desa Ngrawan : sumber gambar : Widjatmiko ap
    Singkatnya setelah saya mengutarakan tujuan saya, ternyata kedua orang bapak ini menyarankan saya untuk datang ke kantor desa dan menemui salah satu perangkat. Walaupun sudah jelas menyebutkan nama perangkatnya, namun saya sudah kadung pesimis. akhirnya saya mengurungkan niat untuk penelusuran Yoni di Makam ini. saya juga sudah mencoba bertanya rekan yang kebetulan kenal di  Desa Ngrawan ini, sayangnya rekan tersebut tidak tahu mengenai situs ini, bahkan tak menyangka di desanya ada situs selain Prasasti ngrawan. Padahal rekan tersebut termasuk aktivis tokoh muda yang ikut menggerakkan pemuda di desa Ngrawan. 
Status : Yoni ini tidak berhasil saya temui.....
   Harapan saya, semoga Yoni ini tidak hilang.  Sayang banget karena Desa Ngrawan termasuk Desa Wisata, terkenal dengan Desa menari, alangkah lengkapnya juga obyek cagar budaya berbentuk watu juga di uri-uri.----
        Berlanjut di destinasi Kedua, masih dengan tujuan situs yang berada di makam. Sayangnya kejadian yang saya takutkan terjadi. saya terlalu pede, akhirnya setengah jam saya mutar-mutar saja di desan Ngrawan. rute googglemaps yang biasanya bisa dan fasih membaca belokan eh hari ini saya benar benar tak tahu arah. Akhirnya saya tahu penyebabnya.... Ya karena bertahun-tahun tidak blusukan, akhirnya kena mental ketika blusukan sendiri... hahahha... lebih dari setengah jam, namun berkahnya, jadi hapal jalan Gang di Desa Ngrawan. untunya saya pakai seragam, jadi warga tak terlalu curiga.. hahahahha...
     Akhirnya dengan sangat penasaran karena tak segera ketemu, ketika sampai, "Arghhhh!!!" saya berteriak lega. untung kondisi sepi....  
     Disinilah ....
Lingga Yoni Situs Ngrawan
Lingga Yoni Situs Makam Ploso Desa Ngrawan Getasan
          Lokasi keberadaan "watu candi' itu tepatnya di cungkup, fokus sudah terlihat dari parkiran motor. 
         Setelah uluk salam kemudian saya masuk ke dalam cungkup. dan tara....   
Lingga semu Situs Makam Ploso Ngrawan Getasan

     Awalnya dugaan saya ini lingga Yoni, tapi setelah saya mencoba lebih dekat, cerat yoni kok ga ada. Saya kesulitan untuk mencoba menyimpulkan. Sementara saya menganggap ini ' lingga semu'.
      Lingga semu adalah bentuk lingga yang tidak sempurna atau sederhana, berupa tugu dari batu andesit berujung bulat dengan dasar segi empat.
lingga semu ngrawan
      Umumnya, digunakan sebagai penanda batas wilayah (patok) atau situs suci pada masa Kerajaan Jawa Kuno, berbeda bentuk dengan lingga peribadatan yang lengkap.
      Terdiri atas bagian bulatan (atas) saja menyerupai phallus, namun tidak memiliki detail bagian Brahma, Wisnu, dan Siwa secara lengkap.
       Selain penanda wilayah kerajaan atau desa, lingga semu sering menjadi bagian dari kompleks percandian atau tempat pemujaan, dan kadang ditemukan berpasangan dengan yoni atau di dekat sumber air. Namun karena perubahan zaman yang cukup lama ciri keberadaan Lingga semu ini, apakah sudah berpindah atau masih insitu, kemudian kok berada di tengah makam maka itu akan tetap menjadi misteri selama belum ada catatan atau prasasti. heheheh..... tapi yang pasti keberadaan Lingga semu yang dikeramatkan ini akan menjadi pengaman dari perusakan atau penghilangan.... 
Semoga tetap lestari!
Segera video dokumentasi saat blusukan sendiri kali ini, 

Rise of Kemisan di Ploso desa Ngrawan

     Sampai Ketemu di Penelusuran Berikutnya, "RISE of KEMISAN"

    Salam Pecinta Situs Watu Candi!

Jumat, 12 Februari 2021

Misteri Makam Penden Penawangan : Jejak Peninggalan Lumpang dan Alu yang Hilang

       Sabtu, 13 Februari 2021. Kali ini sebenarnya menjadi destinasi diluar dugaan saat Gowes Bersama Komunitas ALibs (Arsip Library Sepedaan) 'Gowes Goes to Penawangan". Awalnya inceran saya adalah informasi dari Mas Seno adanya sebuah OCB yang berada di Dusun Mranak. Tepatnya Lapik arca yang menjadi umpak teras warga. Cluenya dekat Tugu Suharto Penawangan. 

Tugu Suharto, Penawangan
     Sayangnya kondisi tak memungkinkan, walaupun saya sempat survai dahulu saat start gowes, Lapik arca Mranak dekat tugu suharto, 

    Rencana awal gowes pulang saya mampir, tapi kondisi berkata lain. Hujan sangat deras, jadi Lapik Mranak next penelusuran. Selain keberadaan situs, ada watu lain yang cukup unik, dari penamaan watu tersebut, konon bentuknya mirip yang memang bikin penasaran.. hahahha.... 

Menuju Watu Penthil, Penawangan
        Pemandangan di Watu Penthil memang Joss Gandos, potensi untuk wisata alam yang menakjubkan. Yang mungkin saat ini masih terbatas pada komunitas Trabas.

Pemandangan di Watu Penthil

      Penampakan Patu Penthil masih menunggu kiriman foto rekan, saking terpesonanya saya terlupa untuk foto watu penthil yang di tanam warga dekat gardu pandang. konon watu pentil, dinamai demikian karena memang mirip bentiknya dengan penthil. Yang berada di terbing terjal dan menjadi jalur pintas warga untuk ngurusi ladang, beri makan ternak. "Warga memanjat tebing dengan nggragap-ngraggap batu yang menonjol di beberapa bagian menjadi jalur naik itulah yang karena mirip bentuknya akhirnya dinamakan sama.".

     Saat ngobrol dan beristirahat di Gardu Pandang Watu Penthil inilah, saya dapat cerita dari Kapten Alibs, Mas Didik bahwa di Makam Punden ada Watu Lumpang dan Alu yang telah hilang. Singkat cerita saya duluan, dan mampir di Makam Punden Tersebut.  


sasadaramk.com

   Di pintu gerbang masuk tertulis Nama Makam Ki  Ageng R. Sudjono.  untuk siapa beliau terus terang saya tak punya informasi.

      Setelah mencari beberapa saat di area makam, ketemu juga. Dibawah pohon menjadi satu dengan satu makam. 

    Sayang sekali saya terlalu susah untuk mendapatkan sedikit cerita perihal Watu Lumpang di makam Punden ini, sang kaptenpun tak berani bercerita, sementara salah satu warga yang saya tanyai lewat WA, mensyaratkan untuk ketemu langsung jika ingin tahu sejarahnya. Terus terang karena jarak yang cukup jauh, jadi ya saya jawab lain kali... heheh.

    Hanya yang saya dapat, kepercayaan warga sekitar bahwa untuk ke makam harus ke Sendang Nggandul Temetes terlebih dahulu. 

     Dokumentasi Watu Lumpang Makam Punden Penawangan







   Semoga ada sahabat yang memberikan pencerahan narasi cerita sejarah Makam Punden Penawangan ini, 

   Video Penelusuran Situs Makam Punden Penawangan :

     Foto bersama Teman Komunitas Alibs, saya yang berdiri ditengah :

Komunitas ALIBS, Perpusda Kab. Semarang

   Sambil rehat di Warung Ngelo, Penawangan. Kami konsolidasi kembali untuk perjalanan pulang. tak lupa tentu mengisi pertut karena jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.

       Salam Pecinta Situs dan Watu Candi, 

#hobikublusukan

Minggu, 13 Desember 2020

Candi Bruning : Jejak Kehidupan Peradaban Masa Lalu di Pakintelan Gunungpati Kota Semarang

Yang tersisa
Candi Bruning Pakintelan Gunungpati Kota Semarang

      Selasa, 14 Desember 2020. Pada suatu ketika (periode sekitar tahun 2015), saat berkunjung ke salah satu warga di Pakintelan ada sebuah cerita yang mencengangkan, ketika saya memastikan kebenaran tentang info tentang Gunung di Pakintelan yang ada tinggalan kuno ada sebuah Candi. 
   Sayangnya saat itu tawaran untuk diantar tak bisa saya terima soalnya bersama orang tua dan keluarga. Juga tentang keberadaan informasi Arca Ganesha yang berada di sebuah Vihara di Pakintelan pula . (Tak berapa lama saya menelusuri jejak Arca ganesha tersebut : cek blog Arca Ganesha Pakintelan, Gunungpati). 
     Obrolan juga tentang Yoni yang sempat diturunkan dari Gunung Bruning (Candi Bruning), awalnya sesepuh dan tokoh desa saat itu berniat Yoni dijadikan tetenger desa dan ditempatkan di area dekat makam (perempatan Pakintelan), namun setelah berganti generasi... ketika pembangunan talud jalan, (para tokoh dan sesepuh sudah berganti) dan  tega sekali Yoni itu dibuat Talud. (entah benar kurang lebihnya saya mohon maaf, tapi sudah terjadi, ibarat bubur tak kan bisa menjadi nasi).
     Beberapakali merencanakan penelusuran ke Candi Bruning, namun entah kenapa selalu gagal, Yang pertama saya di limpe rekan blusukan yang konon namanya berarti satu, yang kedua bersama beberapa komunitas, paguyuban budaya, Pak Hari Bid. Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Semarang, juga Perangkat kelurahan Pakintelan. Sambil terlebih dulu ngopi alias NGObrol Perihal situs di Vihara Pakintelan sambil mempersiapkan proses mendaki Gunung Bruning. 

   Sayangnya karena diskusi kelewat seru, kata Mas Yoga Sendangguwo akhirnya Penelusuran ditunda, Kata mas Yoga "Karena Hujan", (saya? saya pulang dulu karena durasi waktu mepet.. hehehheh).
    Dan Akhirnya, setelah beberapa kali merencanakan dengan beberapa teman berbeda, kejutan datang. Mas Ary Zincron, seorang pembuat film, menawari saya untuk kolaborasi mengupas Gunung (Candi) Bruning.
   Tak berpikir dua kali, saya menerima ajakan beliau. Janjian di Vihara Pakintelan, dan sekali lagi keramahan Bapak Samanera Dhammatejo dari  Vihara Pakintelan menjadi energi tersendiri bagi saya untuk tetap menelusuri jejak peninggalan kuno. Apalagi informasi yang saya terima di awal untuk menuju Candi Bruning, butuh effort lebih, selain mendaki, tantangan rumput lebat menanti, ditambah cuaca masih tak menentu di musim hujan, tentu jalur juga licin. 
      Singkat cerita, peneusuran Candi Bruning bersama Mas Ari, Mas Ian (narasumber-pegiat sejarah kuno), penduduk asli dan perangkat kelurahan yang saya lupa nama2 beliau.
       Sayangnya HP saya mati pas di parkiran, sesaat sebelum perjalanan. Melalui jalur setapak yang hampir tertutup lebatnya rumput, dengan penduduk asli yang didepan karena bawa alat (parang) untuk membuka jalan. Kami berjalan pelan-pelan. Rute nanjak khas gunung, kurang lebih 45 derajat cukup menguji stamina. Sebenarnya tidaak lama, paling perjalanan kurang dari 10 menit berjalan mendaki. Tapi bagi kaum rebahan memang cukup lama... hehehe.
Sampailah kami kemudian..
Yang tertinggal
Candi Bruning Pakintelan 
      Minimnya literasi yang saya dapat, bahkan saya tak punya data... menjadikan naskah blog ini sambil mencoba mencari sumber sejarah saya tetap publish dulu, barangkali ada pembaca yang berkenan membagian cerita sejarah juga sumber literasi kepada saya. no wa ada di kolom bawah.
       Sambil mendengarkan penjelasan dari Mas Ian, yang cukup mumpuni, beliau cukup menguasai literatur sejarah kuno tentang Gunungpati terutama Gunung Bruning ini. Salah satu yang mencengangkan adalah banyaknya inkripsi di batuan, salah satunya yang ditunjukkan kepada kami. (nampak digambar)
Mas Ary Zincron (kaos putih) dan Mas Ian diskusi hasil foto. Perangkat kelurahan (Kaos Biru) dan warga asli pakintelan
      Yang ikonik di Candi Bruning, (sebenarnya yang tertinggal - struktur candi yang lain entah dimana : selain Yoni dan ganesha yang mingkin sudah saya ketahui) ya Lingga ini. Berukuran cukup besar, walaupun dibagian atas sudah patah. Sebagai skala ukuran di foto bawah ini 
Lingga Candi Bruning, Pakintelan
    Cukup besar untuk ukuran sebuah lingga, apabila keberadaan Lingga tersebut di atas Yoni, bagaimana besarnya ukuran Yoninya?
     Selain Lingga, seingat saya kata mas Ian, banyak struktur yang indah yang dibawa Kompeni. (semoga mas Ian juga berkenan njawil memeberi tambahan infomasi Candi Bruning). Nampak Lingga dari sisi lain :
      Bagian bagian Lingga masih terlihat lumayan jelas, dimana Lingga terdiri atas tiga bagian yaitu bagian dasar berbentuk segi empat disebut brahmabhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut wisnubhaga dan bagian puncak berbentuk bulat panjang disebut siwabhaga (bagian yang memang sudah rusak). Bila melihat Lingga dari dekat, akan terlihat ikonik yang lain yaitu relief bunga teratai yang sedang mekar. 
       Terus terang saya masih bingung, motif teratai di lingga itu melambangkan apa. Jika ini bukan Lingga pasangan dari Yoni, andaikan Lingga tugu/ lingga pathok... berarti jumlahnya lebih dari satu dan di area ini dulu ada area yang suci/ disakralkan. Jika tidak salah saat menyimak penjelasan mas Ian, Lingga ini bisa jadi menjadi penyangga langit. Sebuah perumpamaan yang berarti banyak... diluar jangkauan saya.
    Selain lingga, ada batu unik lonjong yang membuat penasaran apakah terkait atau batu alam saja.

  Pemandangan dari Atas Gunung cukup mengagumkan, Kaligarang yang mengarah ke Banjir kanal di Semarang cukup indah.
Eksotis
Pemandangan dari Gunung Bruning, Pakintelan
     Ada sumur tua diatas Gunung Bruning, mungkinkah ini sumuran candi?

    Dibeberapa titik, saat kami turun dengan mencoba jalur yang sangat ekstrim menurut saya, selain licin, rumput lebat bahkan berduri, juga banyak sarang lebah liar yang siap menyambut. Tapi penjelasan Mas Ian cukup membuat sata tetap mengikuti beliau, beberapa obyek lain disekitar Gunung Bruning yang terkait misal Goa Pertapaan, Watu Lumpang, Watu Asahan, Batu Semedi juga batu berinkripsi di beberapa titik, Membuat blusukan kali ini benar-benar blusukan.  Salah satu batu bersimbol yang ditunjukkan mas Ian kepada kami.
      Blusukan kali ini tentu tak cukup satu kali untuk mengeksplor Gunung Bruning, yang tentu dengan sejuta misteri bagi saya. Semoga akan ada yang bercerita, mencerahkan dan membagikan literasi sejarah kapada saya untuk melengkapi pengetahuan dan membagikan jejak peradaban kepada generasi sekarang bahkan mungkin generasi yang akan datang.
     Link Vlog di Candi Gunung Bruning :


        Sampai ketemu di kisah penelusuran situs yang lain....
  
       Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
#Hobikublusukan

Jumat, 05 Juni 2020

Blusukan Silaturahmi 1441H # Part 2 : Situs Lingga Bergas Lor

Situs Lingga Bergas Lor       
     Lanjutan dari Blusukan Silaturahmi Situs Ndompon Bergas,  Link di : https://www.sasadaramk.com/2020/06/blusukan-silaturahmi-situs-lingga.html, penelusuran berlanjut masih satu area. Saat kami bepapasan dengan warga, ternyata salah satunya kenal dengan Mas Dhany. Sangat heran, "Apa iya di dekat tempat tinggalnya ada batu kuno?"... tapi faktanya memang bertebaran (=berserakan). 
      Kurang dari 2 menit kami sampai di lokasi yang kedua, dan masih ada adegan nyasarke sik khas Mas Dhany. Tapi karena mata kami (Saya dan Mas Eka WP sudah mata watunen (mirip istilah mata hijau ketika ada uang) gak akan dapat menipu kami engkau si raja tengil. Walaupun sudah 10 meter melewatkan, tapi kami tetap berhenti tepat didepan Lingga Krajan Bergas Lor. 
Situs Lingga Bergas Lor 
      Orang awam tak akan menyangka Batu yang berdiri ini adalah jajak peradaban hindu klasik yang pernah menghuni area ini.

      Berada di depan rumah warga, Kondisi Lingga lebih baik dari yang sebelumnya. Masih utuh.
      "Dulu ada di talud, saat saya benahi ada saudara dari luar kota yang menyarankan untuk mengangkat. Karena menurutnya itu batu tinggalan kuno. Ya sudah saya angkat, karena menurut saya memang batu itu unik dan niat saya akan saya jadikan salah satu ornamen hiasan di taman yang rencana saya buat di depan rumah", jelas empunya rumah panjang lebar.
Sebelumnya memang Lingga ini menjadi salah satu batu yang tertata menjadi talud saluran air. tanpa ada yang ngeh jika ini Lingga
     Obrolan kami tentang kemungkinan - kemungkinan di sini (apakah Linga ini insitu atau tidak), merembet ke beberapa informasi situs di sekitar bergas Lor. Semoga lain waktu kami bisa menelusuri ulang informasi dari beliau. karena mungkin saja terkait dan bisa menjadi cerita yang utuh.
      Close up Lingga Bergas Lor:
Situs Lingga Bergas Lor 




























       Walaupun puncak Lingga sudah tak semulus yang seharusnya, tapi membayangkan Yoni pasangannya bagaimana bentuk dan besarnya cukup membuat angan angan kami tinggi membayangkan keindahan karya nenek moyang.
Situs Lingga Bergas Lor 

     Kami  meyakini Lingga ini berasal tak jauh dari lokasi Lingga sekarang. Kondisi kontur alam memungkinkan.
      Dan perjalanan Blusukan silaturahmi 1441H masih belanjut ke destinasi yang ketiga. (Bersambung)
Mas Dhany, Saya dan Mas Eka WP
      Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
#Hobiku Blusukan

Blusukan Silaturahmi 1441H part 1 : Situs Lingga Dompon Bergas Lor

Situs Lingga Ndompon Bergas Lor
      Jumat, 5 Juni 2020. Ketika persahabatan blusukan dipaksa  social distancing - physical distancing selama masa pandemi, ditambah adat silaturahmi lebaran membuat banyak orang termasuk saya seperti ranjau yang diinjak, siap meledak. Saya terakhir blusukan situs sekitar 3 bulan  lalu yang menjadikan 'harus hari ini' kalau tidak  ranjau bisa booooom!!! .. heheheh. 
Dhany Putra
Berawal dari kiriman gambar mas Dhany yang berpose santuy (sandaran kaum ambyar) dengan Lingga, jiwa blusukan saya seketika bergejolak, segera saya menghubungi rekan yang merespon unggahan mas Dhany. dan ternyata sama, Mas Eka pun kangen blusukan. 
    Apalagi clue  mas Dhany menambah semangat kami. "Daerah Bergas, cuman belakang toko!", jelas Mas Dhany. (Beliau Juragan e TB Dhany Putra Traffict Light Karangjati). 
      Seketika memori kami langsung teringat bejibun situs terserak di sekitar area yang ditunjuk mas Dhany itu, dan hanya sebagian kecil yang sudah saya telusuri. Baik sendiri, atau bersama rekan komunitas Dewa Siwa. 
       Beberapa diantaranya situs Silowah, Situs Kalitaman, Situs Sawah Reco, Arca Mbah Dul Jalal, Beberapa situs watu lumpang. --- ada di blog ini - search saja di kolom pencarian di kanan atas mu.
Nginting sik
     Tak menunda, esok paginya kami langsung meluncur menuju rumah Mas Dhany, walaupun diminta siang namun kalau siang durasi membatasi kami, jadilah jam 10 an kami sampai. Karena konon WFH, eh jam 10 baru bangun, OMG!!. salah satu enake Bos yo ngono. Tak ketemu lama menjadikan bahan ngobrol ngalor ngidul tiada habisnya, apalagi didukung ketersediaan turbo (turahan bodho) yang terjamin. Plus kopi-wedang uwuh dan tembakau lintingan, lengkap sudah. 
    Setelah Jumatan, memakai masker, membawa hand sanitizer kamipun siap meluncur ke tujuan. Tak membutuhkan waktu yang lama, namun bukan Mas Dhany kalau tak ngerjani dulu, kami diarahkan untuk mengikutinya, muter-muter dulu, padahal gang yang seharusnya lurus sudah sampai, jadi hati-hati dan waspada tetap awasi pandangan, bila guide blusukan mu Mas Dhany. 
     Karena pasti pura-pura belum sampai, setelah terlewati... ngakak model kuntolanak akan keluar. Kami cuman mengeluh pelan, namun tetap dalam hati dendam pasti terbalaskan, bahkan lebih kejam, suatu saat, kami yakin.... hahahhaha... finnaly sampailah kami.
Lingga di Ndompon Bergas Lor
           Berawal dari jalan tak tentu arahnya mas Dhani, saat bosan di rumah, katanya sambil jalan pulang silaturami ke saudara (hanya 1 saudara namun jalan seperti mencari kitab di barat), dari ungaran entah kok bisa nyasar sampai sini Ndompon, tapi berkat seperti itu cerita ini bisa saya tulis.
       Berada di pekarangan Bapak Basori, dusun Ndompon, Bergas Kidul lingga ini berada. "Sebelum saya tempatkan disitu, dulunya menjadi talud depan rumah, saat perbaikan talud tersebut saya putuskan untuk mengangkat. Karena saya merasa  eman dengan watu kuno tersebut. Konon sudah ada sejak sebelum mbah buyut saya", jelas beliau panjang lebar.
Situs Lingga Dompon Bergas Lor
    Namun sisik melik sejarah tak ada yang tahu, bahkan ibu Bapak Basori juga hanya menyebut bahwa Lingga ini tinggalan kuno.
     Kondisi Lingga juga sudah sedari dulu tinggal separuh bagian bawah saja. Tak ada yang tahu sejak kapan berwujud seperti itu. 

     Selain lingga, ada satu batu struktur candi yang kami duga awalnya berbentuk kotak, dan mungkin ada kaitannya dengan lingga ini.
Ndompon, Bergas Lor

     Tak jauh, sebenarnya ada makam sepepuh desa mbah Ndompon, yang konon ada di puncak Gumuk. menjadikan kami bertiga saling berpandangan... seketika dimata terbitlah asumsi kemungkinan berasal dari area gumuk tersebut. kemungkinan lain struktur OCB lain di sana... serta banyak kemungkinan apa lagi....
    Setelah saya merasa cukup mendokumentasikan jejak peradaban Lingga Ndompon, kami kemudian pamit dan blusukan silaturahmi 1441H masih berlanjut di Area Bergas Kidul.... (bersambung)
      Berfoto bersama walau belum sepenuhnya normal, 
Mengunjungi Situs Lingga Di Ndompon Bergas Lor

    Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
ssdrmk
#hobikublusukan
IG : @sasadaramanjer
FB : sasadara manjer kawuryan