Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri ngrawan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri ngrawan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2024

Situs Ploso Desa Ngrawan Kecamatan Getasan

Situs makam Ploso Desa Ngrawan
Kamis, 14 November 2024.
       Berulangkali saya mengutarakan jargon blusukan 'rise of kemisan'. Namun belum pernah ada yang kesampaian. baru kali ini dengan keadaan yang serba kebetulan. Dimana sehari sebelumnya senior di Komunitas Dewa Siwa mampir ke tempat kerja saya, tanpa diduga beliau dengan entengnya membagi beberapa destinasi baru. Menulis cerita blusukan inipun dengan perjuangan yang berat, memulai kembali 'kebiasaan' memang lebih sulit daripada mengawali hal yang baru itu saya rasakan benar. Situs Kemiri Gubug, Ganesha Kedung Jati, Blusukan Alas Darupono, umbul Gedong Jetis Klaten, adalah beberapa naskah perjalanan yang belum saya selesaikan. tapi tetap saya akan berusaha menyelesaikan, jadi tunggu saja.
     Yang penting yakin, ketika menguatkan mental untuk blusukan kemisan sendirian, lama tidak blusukan sempat membuat saya insecure. Namun kepalang tanggung kalau tidak hari ini kapan? Apalagi info yang saya dapatkan, tak hanya satu, namun 2 situs yang berdekatan di satu Desa Ngrawan. Semakin menambah tekad, memantapkan hati. Setelah absen pagi, saya langsung meluncur menuju lokasi. Kali ini tujuan saya di Desa Ngrawan Getasan, dimana memang  disini pula ada peninggalan berupa prasasti "Ngrawan
      Berbekal titik koordinat, pemberian pak Nanang K, saya meluncur dengan keyakinan pasti dimudahkan.... Perjalanan menuju Getasan lancar tanpa kendala, sesampai di Getasan, untuk memastikan lokasi saya kemudian buka aplikasi Googgle map. Ditambah dengan bantuan petunjuk dari Pak Nanang," Kalau ke Kiri ke Prasasti Ngrawan itu ambil Kanan".   
        Dilokasi pertama yaitu Pemakaman 'Sasana Langganan', saya coba menelusuri lokasinya tepat di gerbang masuk Desa Ngrawan  : arah Panah gambar : 
Gerbang Desa Ngrawan

      Di Lokasi ini info yang saya dapat dari Pak Nanang Krisdiarto,
ada Yoni berukuran kecil berada di sekitar pojokan makam, namun pojok mana tidak tahu.  Karena Pak Nanang sendiri juga tak menemui yoni itu berada.  Saya kemudian mencoba mengitari 7 kali segenap penjuru makam, namun ternyata saya tak melihatnya pula. sempat putus asa namun asa masih ada ketika ada dua orang warga sedang menanam bibit pohon di ladang sebelah area makam.
Yoni Desa Ngrawan : sumber gambar : Widjatmiko ap
    Singkatnya setelah saya mengutarakan tujuan saya, ternyata kedua orang bapak ini menyarankan saya untuk datang ke kantor desa dan menemui salah satu perangkat. Walaupun sudah jelas menyebutkan nama perangkatnya, namun saya sudah kadung pesimis. akhirnya saya mengurungkan niat untuk penelusuran Yoni di Makam ini. saya juga sudah mencoba bertanya rekan yang kebetulan kenal di  Desa Ngrawan ini, sayangnya rekan tersebut tidak tahu mengenai situs ini, bahkan tak menyangka di desanya ada situs selain Prasasti ngrawan. Padahal rekan tersebut termasuk aktivis tokoh muda yang ikut menggerakkan pemuda di desa Ngrawan. 
Status : Yoni ini tidak berhasil saya temui.....
   Harapan saya, semoga Yoni ini tidak hilang.  Sayang banget karena Desa Ngrawan termasuk Desa Wisata, terkenal dengan Desa menari, alangkah lengkapnya juga obyek cagar budaya berbentuk watu juga di uri-uri.----
        Berlanjut di destinasi Kedua, masih dengan tujuan situs yang berada di makam. Sayangnya kejadian yang saya takutkan terjadi. saya terlalu pede, akhirnya setengah jam saya mutar-mutar saja di desan Ngrawan. rute googglemaps yang biasanya bisa dan fasih membaca belokan eh hari ini saya benar benar tak tahu arah. Akhirnya saya tahu penyebabnya.... Ya karena bertahun-tahun tidak blusukan, akhirnya kena mental ketika blusukan sendiri... hahahha... lebih dari setengah jam, namun berkahnya, jadi hapal jalan Gang di Desa Ngrawan. untunya saya pakai seragam, jadi warga tak terlalu curiga.. hahahahha...
     Akhirnya dengan sangat penasaran karena tak segera ketemu, ketika sampai, "Arghhhh!!!" saya berteriak lega. untung kondisi sepi....  
     Disinilah ....
Lingga Yoni Situs Ngrawan
Lingga Yoni Situs Makam Ploso Desa Ngrawan Getasan
          Lokasi keberadaan "watu candi' itu tepatnya di cungkup, fokus sudah terlihat dari parkiran motor. 
         Setelah uluk salam kemudian saya masuk ke dalam cungkup. dan tara....   
Lingga semu Situs Makam Ploso Ngrawan Getasan

     Awalnya dugaan saya ini lingga Yoni, tapi setelah saya mencoba lebih dekat, cerat yoni kok ga ada. Saya kesulitan untuk mencoba menyimpulkan. Sementara saya menganggap ini ' lingga semu'.
      Lingga semu adalah bentuk lingga yang tidak sempurna atau sederhana, berupa tugu dari batu andesit berujung bulat dengan dasar segi empat.
lingga semu ngrawan
      Umumnya, digunakan sebagai penanda batas wilayah (patok) atau situs suci pada masa Kerajaan Jawa Kuno, berbeda bentuk dengan lingga peribadatan yang lengkap.
      Terdiri atas bagian bulatan (atas) saja menyerupai phallus, namun tidak memiliki detail bagian Brahma, Wisnu, dan Siwa secara lengkap.
       Selain penanda wilayah kerajaan atau desa, lingga semu sering menjadi bagian dari kompleks percandian atau tempat pemujaan, dan kadang ditemukan berpasangan dengan yoni atau di dekat sumber air. Namun karena perubahan zaman yang cukup lama ciri keberadaan Lingga semu ini, apakah sudah berpindah atau masih insitu, kemudian kok berada di tengah makam maka itu akan tetap menjadi misteri selama belum ada catatan atau prasasti. heheheh..... tapi yang pasti keberadaan Lingga semu yang dikeramatkan ini akan menjadi pengaman dari perusakan atau penghilangan.... 
Semoga tetap lestari!
Segera video dokumentasi saat blusukan sendiri kali ini, 

Rise of Kemisan di Ploso desa Ngrawan

     Sampai Ketemu di Penelusuran Berikutnya, "RISE of KEMISAN"

    Salam Pecinta Situs Watu Candi!
















Selasa, 22 Juli 2014

Prasasti Ngrawan

Prasasti Ngrawan
       17 Juli 2014, bersama penunjuk arah Juragan Setyo Widodo (Pamong budaya Getasan) yang bersedia  menjadi guide dadakan jadilah meluncur ke Prasasti Ngrawan.
     Arah ke Prasasti Ngrawan sebenarnya cukup mudah, jika jeli sahabat akan menemukan papan petunjuk arah di pinggir jalan menuju Kawasan Wisata Kopeng.
   Ikuti jalan masuk tersebut, melewati SMPN 1 Getasan... jika menemukan tanda tulisan "KALIPANCUR" sebaiknya sobat tanya lagi, Prasasti sudah dekat.

Prasasti Grawan
        Prasasti Ngrawan, berada di Ngrawan Kecamatan Getasan kabupaten Semarang. Tepatnya di Kaki Gunung Telomoyo. barangkali itu juga kenapa diberi nama, (yang bisa ) Ngrawan;  diartikan daerah yang rawan (longsor). karena memang di lereng lereng banyak sekali batuan besar.
      Prasasti ini sudah lumayan(walaupun sedikit saja) diperhatikan dengan dibangunnya pagar dan atap serta sudah ada papan peringatan. Namun usaha untuk menggali lebih dalam prasasti ini nampaknya terhenti.
      Prasasti Ngrawan sampai saat ini belum diketahui informasi mengenai siapa pembuatnya, jaman apa dan bagaimana isinya, karena tulisannya sudah tidak jelas.
Prasasti ngrawan
     Konon, daerah ini dulu adalah pemukiman dan  daerah ini (ngrawan) sudah ada sejak dulu. Namun ketika terjadi bencana. Masyarakat pindah. jadi uniknya Prasasti ini tetap bernama Ngrawan. Tapi Desa Ngrawan sendiri sudah pindah ke tempat yang lebih aman. (Sumber pamong desa)
     
Selain Prasasti  adapula : 
lumpang
sisa2 saluran air
batu Candi terpendam 
 Prasasti Ngrawan pada saat bulan Rejeb masih digunakan untuk ritual budaya grup seni 'Topeng'. Selain itu masih digunakan untuk 'ziarah' ; terbukti masih ada sisa-sisa pembakaran kemenyan. 


nyepi u wangsit juga
SALAM PENYUKA CANDI
Save This
Not Only a stone!!
    
kika : saya, Setyo widodo (Pamong Budaya Getasan dan Mr. Pman.)


Jumat, 17 Maret 2017

Jejak Peradaban : Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen #Part 2.

Watu Lumpang Ngrawan Lor #2

Jumat,  17 maret 2017, cerita lanjutan penelusuran setelah Watu Lumpang di rumah warga, kakek Taslan. Link cerita sebelumnya : Jejak Peradaban: Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen #Part 1. Dari masjid Al Istijab Perum Mustika Jati Bawen, Kami keluar menuju gang arah ke kanan (2 kali ambil kanan). Menyusuri jalan kampung sampai, di sepanjang jalan ini ada salah satu rumah yang konon dulu saat ramai ‘toto gelap’ pernah ada Yoni di samping rumahnya. Namun karena banyak aktivitas tengah malam, pemilik rumah kemudian merasa terganggu dan akhirnya di di hancurkan menjadi kerikil. Apaboleh buat, nasih sudah menjadi bubur, tak mungkin bubur menjadi nasi lagi kan? Kemudian tepat dibelakang Pos Kamling ada juga hasil mengumpulkan (saya menduga seperti ditulisan saya beberapa tahun lalu) struktur bangunan suci yang konon dulu berasal dari area ditengah Perum Mustika Jati : link tulisan : Situs Ngrawan Lor + Poskamling.
Saya dan Eka Budiyono sudah pernah mampir di situs tersebut (dengan waktu dan rekan berbeda), jadi kami biarkan Mbah Eka WP untuk menengok sendiri, sedangkan kami tetap melanjutkan penelusuran ulang (Watu Lumpang Makam Lingkungan Ngrawan Lor). 
Berada di pinggir area makam sebelah kiri gerbang masuk, tepat dibawah pohon durian Lumpang ini berada.

Kondisi lumpang sudah tak utuh lagi, tak lagi bulat, namun oval. Sayangnya bukan asli original oval namun terlihat ada usaha perusakan… entah dimasa apa.
Keberadaan beberapa sebaran situs di sekitar area Ngrawan Lor menjadikan kami menduga peradaban masa lalu pernah bertahta di sini. Teringat pula cerita dari rekan dulu ada watu gentong kuno berjumlah 4 buah yang dicuri orang di Ngrawan Lor ini (dari cerita warga). Beberapa kepingan sejarah yang tersisa itu bisa menjadi bukti awal keberadaan bangunan ritual suci yang memakai tirta-amerta, air suci dalam prosesi ritualnya.
Apalagi menurut cerita yang kami dapat sebelumnya dari Mbah Taslan (Part 1) bahwa dulu sekali “Pada suatu masa itu” sebelum nama Ngrawan dikenal. Daerah ini pernah ada satu lokasi yang bernama jembangan. Sebuah ceruk sumber air yang deras dan tak henti-hentinya menyemburkan air. 
Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen #Part 2.
 Lambat laun jembangan yang awalnya hanya ceruk air yang dikelilingai pemukiman (bisa jadi bagian vassal kerajaan kecil) dimana setiap pemukiman (=peradaban) pasti ada bukti eksistensi hubungan manusia dan penciptanya, kemudian berganti masa lama-kelaman pemukiman berkembang dan segera setelah berganti generasi kemudian orang menjadi lebih suka menyebut dengan Ngrawan (berasal dari kata rowo=rawa. Sumber : obrolan dengan mbah Taslan, 17/3-2017).
Tak jauh dari watu lumpang ini, sekitar 50m arah ke timur banyak batu (struktur) candi berbentuk Kotak yang sebagian masih berada dilokasi awal, yang sebagian lagi tersebag dibeberapa titik. Yang paling ketara adalah berfungsi menjadi ‘patokan’  makam yang nampaknya keramat. Auranya berbeda dari makam yang lain. Pikiran kami berimajinasi liar, membayangkan batu candi kotak ini bagian struktur sebuah bangunan suci yang dulu konon berdiri disini. Dan jejaknya masih terlihat. Mungkin saja banyak masih terpendam didalam , jika iya. Semoga tetap aman dan biarlan begitu adanya.
Foto bersama oleh Eka Budiyono.... Si Mantan Andheng-Andheng ijo lumuten :


Saat kami kesini, ada kakek yang tertarik dengan aktifitas kami, Mbah Kaslan (aneh, unik namanya mirip dengan Lumpang Ngrawan Lor Bawen : Part 1: Mbah Taslan). Singkat cerita beliau sangat penasaran dengan laku kami, dimana tak biasanya ke makam, anak (masih) muda mencabuti rumput disekitar Lumpang, kemudian ziarah pula ke makam kuno. 
Tak ada yang berani maupun peduli katanya dalam bahasa jawa”. Kami sebisanya menjelaskan kami ini siapa. Intinya Pecinta Situs dan Watu Candi.
Setelah kami jelaskan, beliau dengan berbinar menceritakan perihal makam kuno ini. “Ini yang bubak yoso, sesepuh desa ini. Kyai Trembuku dan Nyai Cangki  di sekelilingnya makam para abdinya”, jelas Mbah Kaslan. Kami tak dapat agi cerita di zaman apa Kyai Trembuku dan Nyai Cangki ini hidup.
Tapi apresiasi dan menjelaskan perihal makam walau singkat namun kami sudah cukup. 
Semoga ada yang meneruskan penelusuran kami tentang Ngrawan Lor ini…. Apa kabar warga lokal? Sudah lah cukup selama ini abai… mari ketahui dan lestarikan…
Wis tuo dijak selfinan, jian tenan….. :
Di Makam Ngrawan Lor : Makam Kyai Trembuku

Saat perjalanan pulang, niat kami ingin silaturahmi sekaligus kuliner Mie Ayam bakso Pak Keman... Namun kami tak beruntung.... TUTUP... Ke Mana Pak Nanang Klisdiarto? padahal mie ayam kami sudah impikan sejak tadi malam.
Akhirnya kuliner di dekat si andheng2....
MIE AYAM gedanganak... 






Salam Peradaban!

Jejak Peradaban : Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen #Part 1

 Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
          Jumat,  17 maret 2017. Sebenarnya baru dua hari yang lalu saya ‘blusukan’, menelusuri jejak peradaban di Ngobo Wringinputih Bergas. Namun beberapa informasi baru tentang batu purbakala membuat saya menyusun strategi. Jumat ini kebetulan saya juga ada bazaar buku yang harus saya dokumentasikan di Perpus Ambarawa. Mencari target guide, siasat saya untuk mencari rekan agar di terke. Setelah yakin, sasaran tembak saya adalah di manusia mantan andeng-andeng yang dengan anehnya selalu menemukan yang menurut keyakinan saya karena andeng-andengnya itu, seperti antena pencari, pendeteksi.  Namun sayangnya, Si target ini malah menghilangkan alat pencarinya itu (=andeng andeng). Foto yang menjadikan oknum ini target guide saya
                Setelah mendokumentasikan kegiatan di perpustakaan Ambarawa, Saya antarkan terlebih dahulu 2 Eka yang saya jadikan target saya ini ke Situs Lumpang kaliputih dan Umpak Kalipawon. Kemudian kami langsung menuju Ngrawan Lor, Karena Suara panggilan Ibadah Salat Jumat sudah berkumandang, kami langsung mencari masjid. Kali ini Masjid Istijab di Perum Mustika Jati Bawen. Namun karena jam ditangan belum waktunya adzan, setelah parker di belakang masjid. Dan dengan tatapan jamaah yang sudah didalam masjid, 2 Eka nengok Mbah Nandi, dimana lokasinya 100m dari masjid ini. Saya tunggu beberapa waktu, saya kemudian nyusul, saat ketemu, hanya dengan bahasa mata kami bertiga (namun bukan pandangan seperti seorang kekasih lo ya)… kami langsung sepakat sambil nunggu adzan. Kami berjalan kaki menuju Lumpang Ngrawan. Tak sampai 2 menit dari masjid, posisi Lumpang ada dibelakang warung kelontong arah jalan tembus Bawen-Gembol.
 Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
                Watu Lumpang berada di depan rumah Mbah Taslan (no rumah 55, RT 03/RW 05.saya melihat di papan penanda rumah beliau). Beruntungnya, beliau ada dirumah dan ramahnya Kakek yang berusia lebih dari 80 tahun ini menerima kami dengan tangan terbuka, mempersilahkan untuk mengabadikan Watu Lumpang yang berada didepan rumah beliau.
 Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
       Kulo lair tahun 35, watu niku mpun wonten teng mriku awit jamanipun mbah buyut kulo”, cerita mbah Taslan dalam bahasa jawa. ---saya sengaja tak mentranslate.
    “Dhek mbiyen, kene ki rowo, ning sebelah kono kae, ono sumber air sing gede banget, sebelahe ono watu lumpang sing luwih gede seko ini. Trus karo mbah kyai diwalik nggo mbumpeti sumber mau. Makane saiki iso dadi omah omah sing ramene koyo saiki”, tambah Mbah Taslan sambil menunjuk arah. 
   Dan watu lumpang yang dibalik itu, Mbah Taslan masih yakin ada diposisi semula namun sekarang ada diruang tamu anak keturunan mbah Kyai yang dulu membalik Lumpang tersebut. (Sebuah cerita menarik yang patut ditelusuri).
 Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
                Kondisi Watu Lumpang masih lumayan (terawat) namun ada beberapa bagian yang rusak. Beberapa sumber memberikan deskripsi fungsi Watu Lumpang, Ada yang dibuat sebagai penanda tanak sima (perdikan) dengan ciri khas spesifik dan spesial, misal ada tulisan/ inskripsinya. 
 Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
     Ada pula sumber lain yang menjelaskan tentang fungsi lumpang untuk menumbuk sajen yang digunakan untuk ritual penyembahan para dewa saat masa tanam/panem. Juga ada yang berfungsi hanya untuk menumbuk padi.
                Saat ngobol panjang lebar, Adzan Masjid Istijab sudah memanggil kami untuk Salah Jumat, kami berpamitan dan mengucapkan terimakasih atas sambutan dan tentu saja apresiasi tinggi kepada Mbah Taslan yang masih mempertahankan Watu Lumpang Ini.
Ngobrol dengan Mbah Taslan :  Watu Lumpang Ngrawan Lor Bawen
Semoga tak hanya kami yang mencoba membangkitkan kembali peradaban lama yang dikaji dan dipelajari untuk pengalaman dimasa yang akan datang.

Salam Peradaban!
  
 Penelusuran berlanjut ke Lumpang Ngrawan Part 2.



Jumat, 03 Juli 2015

Menelusuri jejak Candi di Situs Ngrawan Lor Bawen a.k.a. Perum Mustika Jati

Situs Ngrawan Lor 
Kamis 18 Juni 2015
    Penelusuran kali ini dinaungi keberuntungan, serba kebetulan. Setelah Dari Arca Nandi Situs Mustika Jati Bawen, Kami bertiga : Saya Koh Singo dan Max Trist mencoba menelusur kembali keberadaan Yoni di Desa Ngrawan Lor Bawen.
   Jalan menuju lokasi paling mudah melalui jalur alternatif Gembol, dari Semarang setelah SMKN1 Bawen Gang pertama sebelah kanan masuk, melalui gapura Ngrawan Lor 
   Sumber info adalah tukang pijat andalan Koh Singo, Di belakang rumahnya ada yoni. 
     Namun sesampainya disini, ternyata Yoni itu telah diamankan oleh seorang oknum. Dibawa kerumahnya di daerah Banyubiru (semoga penelusuran kami berlanjut kesana). Perhatikan Gambar : Arah Panah warna merah adalah lokasi dulu Yoni Ngrawan lor berada.

    

Poskamling Ngrawan Lor RT02/V
      "Di Belakang pos Kamling malah ada tumpukan batu candi.."Kata bapak tukang pijat tersebut..
   Lokasinya berada di Poskamling RT02/V, sebelum makam umum warga Ngrawan Lor.




Segera saja kami meluncur ke sana..


     Dan Memang Benar, dibelakang posKamling Ngrawan Lor Rt02/V Bawen, Bertumpuk-tumpuk watu candi (terlihat dari jalan) 

Sumber dari cucu / generasi ke3:
    Dulu batu itu memang berasal dari kawasan yang saat ini menjadi Perumahan Mustika Jati. Yang memindahkan adalah yang punya rumah Alm Bapak Sariman Pitoyo.

Informasi (sumber) dari warga: 
Max Trist ngobrol dengan warga : Gali informasi tentang watu candi
    Bukit di perumahan Mustika Jati, masyarakat menyebutnya dulu Tegalcandi 
  Beliau  Mindah di 'bopong' sendiri, sementara yang agak besar memakai gerobak dan mobil pick up. Setahu saya niatnya dulu mengamankan...
    Namun setelah beliau meninggal sekitar Tahun 2000an, Tumpukan watu candi itu tak ada yang mengurus.
    Bahkan Saya masih ingat dulu ada arca yang berbentuk orang, masih bagus namun kini hilang...
Sekarang yang tinggal dirumah cucunya, dulu posisi tumpukan batu ada didepan rumah namun karena dibangun rumah jadi di pinggirkan disitu.

Dari Pantauan saya, di Tumpukan watu candi itu ada: 

  • Yoni berukuran kecil, 1 yoni sedang. 
  • Lingga
  • Batu penyusun candi berbentuk kotak dan berpola
  • Kemuncak Candi
  • Banyak lagi bermacam-macam (unsur sebuah bangunan suci/kuil/candi)

    Yang masih tersisa, watu candi yang dikumpulkan oleh beliau, Almarhum Bapak Sariman Pitoyo :





    Ada Yoni berukuran Sedang (lumayan besar yang terpendam plester. 


     Yoni berukuran kecil ke 2
Yoni Situs Mustikajati

Yoni berukuran kecil 3
Yoni Mustikajati Bawen


Kemuncak candi
Kemuncak Candi: Ratna Mustikajati
     
      Dari bentuk Kemuncak candi tersebut dapat diyakini dulunya sebuah Bangunan suci Hindu, dengan didukung keberadaan Nandi dan Yoni di Sekitar Mustika Jati.


Situs Tegal Candi di perumahan Mustikajati

   Hiasan di atas bangunan candi (Saya belum dapat referensi ini apa-segera update)



   
Situs Candi di perumahan Mustikajati Bawen

       Batu Penyusun candi berukuran Besar, Berpola dan berelief..


Situs Tegal Candi a.k.a Perum Mustikajati









      Keberadaan pendukung seperti Yoni yang telah diamankan oknum (dan dipindah ke Banyubiru), Patung Arca nandi yang menjadi langkah ritual pertama sebelum menyembah Dewa Siwa melalui yoni menjadikan kuat dugaan saya ini Sebuah Banngunan Suci atau Kuil untuk Dewa Siwa.


    Saat informan ada yang menceritakan bahwa dulu Di Tegal Candi ini (sekarang Mustika Jati) ada Sendang didekat Batu ini berada. 
 Saya mencoba menelusuri keberadaan sendang di Mustikajati. Yang nantinya bisa di perkirakan letak awal muasal Candi ini berada.. (naskah belum selesai.... nunggu hasil menelusuri)



      Belum adanya Papan Peringatan Purbakala, Bahkan Kode Inventarisir yang belum tercantum di batu candi ini membuat saya bertanya-tanya apakah pihak terkait belum ada yang tahu? Apakah tidak ada upaya untuk menyelamatkan sebelum musnah? Eman-eman sejarah ini bila tak di urusi...Pada Akhirnya Anak cucu kita akan tahu dari Luar Negeri tentang sejarah leluhurnya. 

        Dari Pantuan pandang mata kami, tumpukan watu candi ini dibiarkan terbengkalai, bila maksud beliau alm. Bapak Sariman inngin menyelamatkan dengan dikumpulkan, namun setelah sekarang estafet generasi ke tiga hanya dibiarkan begitu saja. 
       Malah saat kami kesini, diperingatkan untuk tidak macam-macam dan memindahkan watu ini barang sejengkalpun...takut berakibat buruk.  Ketakutan itu yang mungkin saja membuat si cucu ini enggan merawat/ peduli dengan tumpukan candi di Rumah si Kakek..... (praduga saya)





     Bersama Trio 'Stone Blues' ini saya menelusuri sisa Candi Ngrawan Lor bawen : 

Komunitas Dewa Siwa di Ngrawan Lor Bawen

Save This Not Only a Stone!

Sampai ketemu di kisah Mbolang Situs selanjutnya...
Mari Kunjungi dan Lestarikan.... Salam Pecinta Situs




Gabung yuk di Grup FB Pecinta Situs DEWA SIWA