Kamis, 14 November 2024

Situs Ploso Desa Ngrawan Kecamatan Getasan

Situs makam Ploso Desa Ngrawan
Kamis, 14 November 2024.
       Berulangkali saya mengutarakan jargon blusukan 'rise of kemisan'. Namun belum pernah ada yang kesampaian. baru kali ini dengan keadaan yang serba kebetulan. Dimana sehari sebelumnya senior di Komunitas Dewa Siwa mampir ke tempat kerja saya, tanpa diduga beliau dengan entengnya membagi beberapa destinasi baru. Menulis cerita blusukan inipun dengan perjuangan yang berat, memulai kembali 'kebiasaan' memang lebih sulit daripada mengawali hal yang baru itu saya rasakan benar. Situs Kemiri Gubug, Ganesha Kedung Jati, Blusukan Alas Darupono, umbul Gedong Jetis Klaten, adalah beberapa naskah perjalanan yang belum saya selesaikan. tapi tetap saya akan berusaha menyelesaikan, jadi tunggu saja.
     Yang penting yakin, ketika menguatkan mental untuk blusukan kemisan sendirian, lama tidak blusukan sempat membuat saya insecure. Namun kepalang tanggung kalau tidak hari ini kapan? Apalagi info yang saya dapatkan, tak hanya satu, namun 2 situs yang berdekatan di satu Desa Ngrawan. Semakin menambah tekad, memantapkan hati. Setelah absen pagi, saya langsung meluncur menuju lokasi. Kali ini tujuan saya di Desa Ngrawan Getasan, dimana memang  disini pula ada peninggalan berupa prasasti "Ngrawan
      Berbekal titik koordinat, pemberian pak Nanang K, saya meluncur dengan keyakinan pasti dimudahkan.... Perjalanan menuju Getasan lancar tanpa kendala, sesampai di Getasan, untuk memastikan lokasi saya kemudian buka aplikasi Googgle map. Ditambah dengan bantuan petunjuk dari Pak Nanang," Kalau ke Kiri ke Prasasti Ngrawan itu ambil Kanan".   
        Dilokasi pertama yaitu Pemakaman 'Sasana Langganan', saya coba menelusuri lokasinya tepat di gerbang masuk Desa Ngrawan  : arah Panah gambar : 
Gerbang Desa Ngrawan

      Di Lokasi ini info yang saya dapat dari Pak Nanang Krisdiarto,
ada Yoni berukuran kecil berada di sekitar pojokan makam, namun pojok mana tidak tahu.  Karena Pak Nanang sendiri juga tak menemui yoni itu berada.  Saya kemudian mencoba mengitari 7 kali segenap penjuru makam, namun ternyata saya tak melihatnya pula. sempat putus asa namun asa masih ada ketika ada dua orang warga sedang menanam bibit pohon di ladang sebelah area makam.
Yoni Desa Ngrawan : sumber gambar : Widjatmiko ap
    Singkatnya setelah saya mengutarakan tujuan saya, ternyata kedua orang bapak ini menyarankan saya untuk datang ke kantor desa dan menemui salah satu perangkat. Walaupun sudah jelas menyebutkan nama perangkatnya, namun saya sudah kadung pesimis. akhirnya saya mengurungkan niat untuk penelusuran Yoni di Makam ini. saya juga sudah mencoba bertanya rekan yang kebetulan kenal di  Desa Ngrawan ini, sayangnya rekan tersebut tidak tahu mengenai situs ini, bahkan tak menyangka di desanya ada situs selain Prasasti ngrawan. Padahal rekan tersebut termasuk aktivis tokoh muda yang ikut menggerakkan pemuda di desa Ngrawan. 
Status : Yoni ini tidak berhasil saya temui.....
   Harapan saya, semoga Yoni ini tidak hilang.  Sayang banget karena Desa Ngrawan termasuk Desa Wisata, terkenal dengan Desa menari, alangkah lengkapnya juga obyek cagar budaya berbentuk watu juga di uri-uri.----
        Berlanjut di destinasi Kedua, masih dengan tujuan situs yang berada di makam. Sayangnya kejadian yang saya takutkan terjadi. saya terlalu pede, akhirnya setengah jam saya mutar-mutar saja di desan Ngrawan. rute googglemaps yang biasanya bisa dan fasih membaca belokan eh hari ini saya benar benar tak tahu arah. Akhirnya saya tahu penyebabnya.... Ya karena bertahun-tahun tidak blusukan, akhirnya kena mental ketika blusukan sendiri... hahahha... lebih dari setengah jam, namun berkahnya, jadi hapal jalan Gang di Desa Ngrawan. untunya saya pakai seragam, jadi warga tak terlalu curiga.. hahahahha...
     Akhirnya dengan sangat penasaran karena tak segera ketemu, ketika sampai, "Arghhhh!!!" saya berteriak lega. untung kondisi sepi....  
     Disinilah ....
Lingga Yoni Situs Ngrawan
Lingga Yoni Situs Makam Ploso Desa Ngrawan Getasan
          Lokasi keberadaan "watu candi' itu tepatnya di cungkup, fokus sudah terlihat dari parkiran motor. 
         Setelah uluk salam kemudian saya masuk ke dalam cungkup. dan tara....   
Lingga semu Situs Makam Ploso Ngrawan Getasan

     Awalnya dugaan saya ini lingga Yoni, tapi setelah saya mencoba lebih dekat, cerat yoni kok ga ada. Saya kesulitan untuk mencoba menyimpulkan. Sementara saya menganggap ini ' lingga semu'.
      Lingga semu adalah bentuk lingga yang tidak sempurna atau sederhana, berupa tugu dari batu andesit berujung bulat dengan dasar segi empat.
lingga semu ngrawan
      Umumnya, digunakan sebagai penanda batas wilayah (patok) atau situs suci pada masa Kerajaan Jawa Kuno, berbeda bentuk dengan lingga peribadatan yang lengkap.
      Terdiri atas bagian bulatan (atas) saja menyerupai phallus, namun tidak memiliki detail bagian Brahma, Wisnu, dan Siwa secara lengkap.
       Selain penanda wilayah kerajaan atau desa, lingga semu sering menjadi bagian dari kompleks percandian atau tempat pemujaan, dan kadang ditemukan berpasangan dengan yoni atau di dekat sumber air. Namun karena perubahan zaman yang cukup lama ciri keberadaan Lingga semu ini, apakah sudah berpindah atau masih insitu, kemudian kok berada di tengah makam maka itu akan tetap menjadi misteri selama belum ada catatan atau prasasti. heheheh..... tapi yang pasti keberadaan Lingga semu yang dikeramatkan ini akan menjadi pengaman dari perusakan atau penghilangan.... 
Semoga tetap lestari!
Segera video dokumentasi saat blusukan sendiri kali ini, 

Rise of Kemisan di Ploso desa Ngrawan

     Sampai Ketemu di Penelusuran Berikutnya, "RISE of KEMISAN"

    Salam Pecinta Situs Watu Candi!

Rabu, 24 April 2024

Situs Watu Lumpang Pudakpayung Semarang

Watu Lumpang Pudakpayung

      Rabu, 24 April 2024. kedatangan 2 sahabat senasib blusukan situs, Lek Eka Budi dan Kang Seno menjadikan tantang an saya untuk mencari 'suguhan' watu. Bukan kenyang secara fisik tapi lahir...hahahhaha. Akhirnya terbersit ide maksi sekaligus blusukan. disebuah warung di Pudakpayung tepatnya di jalan Pramuka. Dimana 2 kali saya gagal mendokumentasikan karenna dilarang yang punya, dengan alasan takut hilang. Saya terima sih. tapi tetap harus saya tulis kisahnya.     Maka kesempatan inilah saya ajak maksi disini. Ijin maksi mudah.... 
watu lumpang Pudakpayung

      Situs di Pudakpayung ini, ada beberapa yang cukup dekat. Membuktikan kawasan ini dulunya sangat penting. Ada komunitas peradaban yang cukup maju. Klink link untuk tahu lebih detail.

  1. Yoni Kalipepe 
  2. Yoni Kalimaling
  3. Watu Gong
  4. Tak begitu jauh ada candi Bruning di pakintlan (terpisah sungai kaligarang)
  5. Arca di sendang putri Jalan Pramuka 9yang tak bisa saya temukan keberadaanya. Airnya sampai saat ini masih ada namun sudah tak dipakai masyarakat lagi.

    Watu Lumpang tinggalan peradaban Hindu Klasik secara spiritual menjadi alat untuk ritual pernyembahan dewi Sri, Dewi Kesuburan. Bantuknya cukup spesial. Sederhana cenderung cembung. Fungsi selain menumbuk sesajen/ menaruh sesajen juga menumbuk biji-bijian. Terlihat dari lubang yang berukuran cukup besar saya duga cenderung sering dipakai harian bukan pada acara ritus tertentu seperti masa panen atau awal tanam. namun sejarah adalah fakta bukan mitos. Jadi saya sangat menerima pencerahan. 

 ini  Versi Video (Segera setelah saya edit : ada versi ngobrol santai dengan sahabat saya itu)

    Salam Pecinta situs watu candi


#situs#Dewasiwa#blusukan

sahabat senasib blusukan situs

#sedulursaklawase!


Kamis, 29 Februari 2024

Berkunjung ke Lumpang Situs Rumah Retret Syalom Desa Duren Bandungan

       Blusukan Sangat spesial, ditempat yang spesial.

 Begini ceritanya....

Lumpang Situs Duren Bandungan

       Kamis, 29 Februari 2024.  Gimana tidak spesial, blusukan di Kemisan, tanggal 29 Februari ini kapan lagi akan terulang? sangat spesial,  belum lagi kisah yang melatarbelakangi 'baru sekarang' bisa ke lokasi ini. Singkat cerita seorang rekan yang di komunitas Dewa Siwa (Sengaja nama saya sembunyikan), memamerkan dia barusaja penelusuran watu lumpang di sebuah rumah retret. Namun sayangnya diaa memwanti-wanti bahwa saya tidak akan bisa masuk karena ijinnya susah. Tak tahu maksudnya apa sahabat itu., barangkali dulu tanpa sengaja menghalangi saya dengan candaan kejadian itu kurang lebih sekitar tahun 2012/13 . ---berlalunya waktu---

     Jadilah saat ini, cerita blusukan ini akhirnya bisa saya tuangkan, adalah rekan 'partner in kemisan': Mas Eka WP, kegabutan kami saat tanpa janjian, tiba-tiba ketemu, ngobrol ngalor ngidul trus celetukan "yoh, blusukan kemisan!". Dan, muncul ide "Watu lumpang retret di bandungan, konon susah masuk?", usul saya. Seperti yang kita tahu, untuk urusan lobi alias social enginering bahasa kerenya ngapusi dengan elegan. Mas Eka ini jagonya, sudah berapa puluh warga lokal akhirnya malah jadi guide ke lokasi situs...hehehe... 

     Menuju lokasi, beberkal gmaps, kami meluncur. (video perjalanan segera setelah edit selesai saya uplod di youtube juga). 

   Lokasi cukup mudah berada dekat dengan pusat Bandungan, setelah lapor bapak security. Dan diluar dugaan kami, selain ramah... eh malah nawari kami untuk ndampingi. (Versi lengkapnya diampingi Pak Security ada di video).

     Berada di tengah tengah komplek Gedung retret Syalom, watu lumpang ini sudah di 'tempatkan', di lokasi yang layak. Tepatnya di Jl. Ampel Gading 29 Bandungan. Ada penanda pagar pembatas dan nama peninggalan menandakan perhatian pengelola retret Syalom ini. Respect!      

Watu Lumpang
       Kondisi watu Lumpang Rumah Retret Syalom masih cukup baik, lubang ditengah terlihat jelas walau di secara keseluruhan watu lumpang tak lagi bulat utuh, mungkin kerusakan alami tak sengaja.

           Obyek Cagar Budaya Watu Lumpang ini dikategorikan sebagai peninggalan masa Hindu-Budha Klasik. Bukti penguat adalah keberadaan candi gedongsongo yang tak jjauh dari Watu lumpang ini.           Secara umum dulu Watu Lumpang digunakan sebagai alat penumbuk bahan pangan seperti gabah (padi) atau kopi. Selain itu, Watu lumpang memiliki nilai simbolis sebagai penanda batas wilayah kekuasaan tertentu. Kadang watu lumpang memiliki hiasan atau tulisan atau angka tahun.

         Fungsi lain  watu lumpang secara religius, bermakna spiritual, digunakan sebagai sarana pemujaan kepada Dewi Kesuburan, (Pertanian) Dewi Sri. Sehingga keberadaan Watu Lumpang ini juga memungkinkan sebagai bukti bahwa Kawasan Desa Duren kecmatan Bandungan ini dulunya kawasan pertanian.  
lumpang Duren Bandungan
        Setelah kami rasa cukup, perjalanan blusukan Kemisan spesial kali ini kami sudahi. sebuah pelajaran berharga bagi saya pribadi, apa yang dikatakan sulit orang lain belum tentu tidak bisa kita lakukan.

      Terimakasih Partner Blusukan Kemisan : Mas Eka (foto tak tersedia, tapi di video ada...wkwkwk

Punggung Mas Eka WP

      Salam Pecinta Situs dan Watu Candi:
ssdrmk
#Kemisan#blusukan#Dewasiwa

Minggu, 06 Agustus 2023

Jejak Candi Darupono, Kaliwungu Kendal

 Minggu, 6 Agustus 2023. 

sisa Candi eksotis Darupono

       Lanjutan dari blusukan bareng komunitas Dewa Siwa, setelah di Lapik arca situs Tulangbawang Darupono, Blusukan berlanjut ke reruntuhan Candi Darupono.  Melewati Jembatan legendaris, tinggalan Kompeni : Jembatan Plengkung.

     Keberadaan situs (baru saya ketahui setelah melihat titik korrdinat gambar), Tak Jauh dari tepi Jl. Raya Darupono-Kedungsuren. Berada di lahan kering bekas perkebunan warga, dikelilingi alas jati. Saat sampai dilokasi ini matahari sangat terik.  

Candi Darupono Kaliwungu
        Karena tour guide blusukannya orang lokal, (suwun mas Fikri) sehingga tanpa kesulitan kami langsung ke titik lokasi. Dan Langsung disuguhi hamparan berceceran batu bata kuno. 
Candi Darupono Kaliwungu
      Sampai saat saya menulis cerita di blog ini, saya tak menemukan data apapun, atau cerita mengenai jejak Candi Darupono.. -- Tapi ini saya coba  WA mas fikri siapa tahu beliau bisa berbagi... segera nanti saya update. Matursuwun Kawan :
saya dan Mas Fikri
     Saking banyaknya sebaran tinggalan batu bata, saat kami lokasi menemui batu bata yang berelief. salah satunya kebetulan saya dokumentasikan dengan mas Fikri.
     Dari lokasi reruntuhan ini, Kali Blerong yang melegenda di kalangan warga sekitar cukup eksotis. Sungguh menggugah rasa penasaran kami mengenai keberadaan bangunan yang saat ini tinggal sisa saja. Batu bata lebih besar dari sejengkal tangan saya :
Candi Darupono
Dengan skala seadanya, nampak ukurannya sebesar itu :
      Kerusakan sangat masif apalagi saat tahun 2023 saya kesini bekas ladang singkong (Entah sekarang). Proses cangkul kemudian tanaman singkong yang mengambil nutrisi tanah (singkong aadalah tanaman brutal dalam mengambil nutrisi) saya bayangkan kerusakan yang terjadi saat proses ini, pasti memperparah keadaan sebelumnya.  
candi Darupono
      Setelah dirasa cukup, kami kemudian menyudahi blusukan kali ini. sebuah pengalaman yang tersimpan dalam ketika jajak peninggalan sangat terbengkalai. jarang orang mengetahui. jangankan tahu pernah mendengar saja tidak.
         Masih bersama pasangan blusukan saya : 

Salam Pecinta situs dan watu candi 

Sabtu, 05 Agustus 2023

lapik Arca Situs Tulang Bawang : Jelajah Alas Darupono Kendal

lapik Arca Situs Tulang Bawang : Jelajah Alas Darupono Kendal
    
      Minggu 6 AGUSTUS 2023. Akhirnya setelah sekian lama, komunitas Dewa Siwa kembali blusukan bareng. Kami menamai blusukan kali ini Jelajah Alas Darupono Kendal sebagai penyemangat untuk kembali giat blusukan situs dan cagar budaya. Momentum Jelajah Alas Darupono ini dalam suasana bulan kemerdekaan, jadi turut menghidupkan semangat nguri-nguri peninggalan leluhur.
     Adalah kang Mas Roso yang terdepan, memilih destinasi blusukan kali ini. Selain silaturahmi, juga kolaborasi dengan kawan seperjuangan para pegiat pelestari cagar budaya hindu klasik dari kendal dan beberapa kawan independen.
     Titikkumpul di Pertigaan Boja (sempat terjadi drama disini, soalnya beberapa rekan menginginkan titik kumpul di pertigaan depan kelurahan Mijen. Namun Karena pertimbangan ada rekan yang rumahnya dekat (Mas Age Kharisma), saya terpaksa mengambil keputusan titik kumpul utama di perempatan tugu Nyi Pandansari dekat TMP Boja.
     Singkat cerita sampailah kami, (beberapa perjalanan ada di beberapa video rekan. juga ada di video saya, link tunggu setelah edit:

      Penanda kami koordinasi dulu, sambil nunggu rekan yang tertinggal . 
Penanda  menuju situs darupono

           Transit di Basecamp penjaga RPH. 
sumber foto Video Pak Nanang Klisdiarto


       Dari video cuplikan, ada sedikit gambaran rute dari basecamp penjaga menuju tujuan. Situs Lapik Arca  Alas Darupono Kendal. Berada bawah pohon beringin ditengah tengah alas jati. Situs ini berada. Sendirian .... terbelah


        Jelajah dengan personil yang cukup banyak memberikan ruang diskusi yang cukup seru, dari jauh mirip yoni terbalik karena ada tonjolan yang mirip cerat.

          Namun ketika dibalik, diskusi tambah makin ramai. 

        Penampilan penampang atas memiliki cekungan sebagai tempat dimana arca di letakkan, bukan kuncian hanya pembatas aliran air yang keluar akan mengalir melalui cerat. 
Lapik Arca
    Berukuran kecil sendirian di tengah alas, keberadaan lapik arca ini sangat riskan. baik hilang, dirusak. Bentuk yang cukup unik walau mgungil menggugah rasa penasaran kami. Dewa apa yang di arcakan dan di letakkan di sini dibawah pohon beringin ini. 
lapik arca

      Diskusi arca apa mengerucut pada arca durga mahisasuramardini.  Namun berbagai kemungkinan tetap ada. dan diskusi tak pernah selesai. Yang paling menyenangkan adalah ketika acara jelajah, blusukan seperti ini adalah makan rame-rame, dengan piring pincuk dan lauk seadanya :


Komunitas Dewa Siwa
        Salah satu yang menjadi klangenan Komunitas Dewa Siwa. Sambil ngobrol ringan, bercanda. salam pecinta situs watu candi. Paseduluran Saklawase.
     Segera setelah video hasil dokumentasi saya selesai di edit dan diupload di youtube akan saya tampilkan disini juga.

Foto bersama :

Salam pecinta situs dan watu candi...

di Situs Tulangbawang Alas Darupono Kendal

Bersambung ke Candi Darupono

Selasa, 30 Agustus 2022

Prasasti Watu Lawang , Desa Tajuk Getasan

Prasasti Watu Lawang Tajuk Getasan
   
 Selasa. 30 Agustus 2022. Akhirnya saya bisa sampai sini juga. setelah sekian lama hanya bisa mendengar informasi beberapa tahun sebelumnya, tepat sebelum pandemi ada berita viral tentang ditemukannya sebuah prasasti.  Informasi yang sangat berharga ditengah terbatasnya bukti tulisan di Kabupaten Semarang yang berbentuk tulisan (baik angka ataupun aksara)   
     Mohon maaf dengan segala keterbatasan ingatan cerita blusukan, nakah ini saya upload dengan dukungan video

 Video di Youtube 


    Maturnuwun semua yang berperan di pelusuran kali ini

Prasasti Watu Lawang Tajuk Getasan


Terimakasih Ms Eko Budi:


Prasasti Watu Lawang Tajuk getasan

        Salam pecinta situs dan watu candi

Prasasti Watu Lawang Tajuk getasan


#ssdrmk

Jumat, 24 Juni 2022

Arca di Stasiun KA Kedungjati kab. Grobogan

Arca di Stasiun Kedungjati

Jumat 24 Juni 2022.

     Lanjutan dari Penelusuran Yoni di Situs Kemiri Gubug, perjuangan menulis tambah berat karena ingatan saya terfokus pada Yoni tersebut. Sementara hasil blusukan di area Stasiun KA malah terlewat dari ingatan. Untungnya di googlefoto masih tersimpan bahan mentahannya. Sambil Membuat tulisan di blog ini, saya juga mencoba membuat videonya di channel youtube saya, semoga lancar.     
      Informasi adanya sebuah arca dekat rel di area Stasiun Kedungjati beberapa tahun sebelumnya membuat saya janjian dengan mas Romi untuk meneruskan penelusuran, waktu yang tersisa lumayan panjang sehingga saya memantapkan untuk berlanjut, walaum memang jarak Gubug dan Kedungjati lumayan jauh, sambil menikmati perjalanan melewati alas jati 30 menit kemudian sampailah kami.     
Stasiun Kedungjati
    Tapi karena tak ada yang bisa kami temui untuk minta ijin akses masuk stasiun  akhirnya kami mencoba  menyusuri gang di samping stasiun. Dari Jalan samping rel ini kemudian kami parkir masuk dekat gedung stasiun 
      Terletak diamping peron Stasiun Kedungjati di tanah lapang berdampingan dengan besi bekas Rel.
Arca Kedungjati
    Kondisi arca sudah apa adanya tinggal menyisakan bukan bagian inti, sesuai yang terlihat di dokumentasi. Tanpa kepala (apalah artinya tubuh) Arca yang telah hilang dan beberapa kerusakan (penyebabnya entah pelapukan atau dirusak atau rusak tanpa sengaja).
     Dari detail arca yang masih terlihat, saya secara pribadi cukup bingung. Dari diskusi antara saya dan mas romi, dugaan  kami mengerucut antara arca wisnu atau siwa. Tapi  itu hanya dugaan, tapi tentu saja kami menerima pencerahan dari para ahli.... terlihat dari ciri-ciri :
ssdrmk
arca kedungjati. foto by ssdrmk
       Arca  dibuat dari batu andesit. Sayang sekali karena bagian kepala tak ada jadi tak bisa mendeskripsikan wajah, bahkan atribut, atau hiasan ikonografis sudah tak nampak. kabur. 
      Close up alas arca :

arca kedungjati. foto by ssdrmk
arca kedungjati. foto by ssdrmk
     Tak ada sumber referensi mengenai keberadaan  arca ini. Stasiun Kedungjati yang didirikan tahun 1897 yang berupa bangunan jati kemudian di pugar tahun 1907 menjadi bangunan bata berplester (Sumber: wikipedia). Dugaan Kami arca ini temuan lepas yang berasal di area dekat Stasiun Kedungjadi (bukan insitu) dipindah saat proses pembangunan jalur kereta api.
arca kedungjati. foto by ssdrmk
arca kedungjati. foto by ssdrmk

    Sebagai penanda, hiasan ataupun hanya dibiarkan begitu saja di stasiun setelah di temukan ( di hancurkan segan), di area alas kedungjati dan sekitar memang banyak tersebar peninggalan masa Hindu-Budha

Versi video di Channel Youtube :
(proses edit)

     Waktu sudah terasa cukup bagi kami, akhirnya kami menyudahi blusukan. Maturnuwun mas Romi. Sampai ketemu lagi di cerita penelusuran selanjutnya.
arca
Arca di Situs Kedungjati : Mas Romi dan ssdrmk
         Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
arca di Kedung Jati
#hobikublusukan