Rabu, 24 April 2024

Situs Watu Lumpang Pudakpayung Semarang

Watu Lumpang Pudakpayung

      Rabu, 24 April 2024. kedatangan 2 sahabat senasib blusukan situs, Lek Eka Budi dan Kang Seno menjadikan tantang an saya untuk mencari 'suguhan' watu. Bukan kenyang secara fisik tapi lahir...hahahhaha. Akhirnya terbersit ide maksi sekaligus blusukan. disebuah warung di Pudakpayung tepatnya di jalan Pramuka. Dimana 2 kali saya gagal mendokumentasikan karenna dilarang yang punya, dengan alasan takut hilang. Saya terima sih. tapi tetap harus saya tulis kisahnya.     Maka kesempatan inilah saya ajak maksi disini. Ijin maksi mudah.... 
watu lumpang Pudakpayung

      Situs di Pudakpayung ini, ada beberapa yang cukup dekat. Membuktikan kawasan ini dulunya sangat penting. Ada komunitas peradaban yang cukup maju. Klink link untuk tahu lebih detail.

  1. Yoni Kalipepe 
  2. Yoni Kalimaling
  3. Watu Gong
  4. Tak begitu jauh ada candi Bruning di pakintlan (terpisah sungai kaligarang)
  5. Arca di sendang putri Jalan Pramuka 9yang tak bisa saya temukan keberadaanya. Airnya sampai saat ini masih ada namun sudah tak dipakai masyarakat lagi.

    Watu Lumpang tinggalan peradaban Hindu Klasik secara spiritual menjadi alat untuk ritual pernyembahan dewi Sri, Dewi Kesuburan. Bantuknya cukup spesial. Sederhana cenderung cembung. Fungsi selain menumbuk sesajen/ menaruh sesajen juga menumbuk biji-bijian. Terlihat dari lubang yang berukuran cukup besar saya duga cenderung sering dipakai harian bukan pada acara ritus tertentu seperti masa panen atau awal tanam. namun sejarah adalah fakta bukan mitos. Jadi saya sangat menerima pencerahan. 

 ini  Versi Video (Segera setelah saya edit : ada versi ngobrol santai dengan sahabat saya itu)

    Salam Pecinta situs watu candi


#situs#Dewasiwa#blusukan

sahabat senasib blusukan situs

#sedulursaklawase!


Kamis, 29 Februari 2024

Berkunjung ke Lumpang Situs Rumah Retret Syalom Desa Duren Bandungan

       Blusukan Sangat spesial, ditempat yang spesial.

 Begini ceritanya....

Lumpang Situs Duren Bandungan

       Kamis, 29 Februari 2024.  Gimana tidak spesial, blusukan di Kemisan, tanggal 29 Februari ini kapan lagi akan terulang? sangat spesial,  belum lagi kisah yang melatarbelakangi 'baru sekarang' bisa ke lokasi ini. Singkat cerita seorang rekan yang di komunitas Dewa Siwa (Sengaja nama saya sembunyikan), memamerkan dia barusaja penelusuran watu lumpang di sebuah rumah retret. Namun sayangnya diaa memwanti-wanti bahwa saya tidak akan bisa masuk karena ijinnya susah. Tak tahu maksudnya apa sahabat itu., barangkali dulu tanpa sengaja menghalangi saya dengan candaan kejadian itu kurang lebih sekitar tahun 2012/13 . ---berlalunya waktu---

     Jadilah saat ini, cerita blusukan ini akhirnya bisa saya tuangkan, adalah rekan 'partner in kemisan': Mas Eka WP, kegabutan kami saat tanpa janjian, tiba-tiba ketemu, ngobrol ngalor ngidul trus celetukan "yoh, blusukan kemisan!". Dan, muncul ide "Watu lumpang retret di bandungan, konon susah masuk?", usul saya. Seperti yang kita tahu, untuk urusan lobi alias social enginering bahasa kerenya ngapusi dengan elegan. Mas Eka ini jagonya, sudah berapa puluh warga lokal akhirnya malah jadi guide ke lokasi situs...hehehe... 

     Menuju lokasi, beberkal gmaps, kami meluncur. (video perjalanan segera setelah edit selesai saya uplod di youtube juga). 

   Lokasi cukup mudah berada dekat dengan pusat Bandungan, setelah lapor bapak security. Dan diluar dugaan kami, selain ramah... eh malah nawari kami untuk ndampingi. (Versi lengkapnya diampingi Pak Security ada di video).

     Berada di tengah tengah komplek Gedung retret Syalom, watu lumpang ini sudah di 'tempatkan', di lokasi yang layak. Tepatnya di Jl. Ampel Gading 29 Bandungan. Ada penanda pagar pembatas dan nama peninggalan menandakan perhatian pengelola retret Syalom ini. Respect!      

Watu Lumpang
       Kondisi watu Lumpang Rumah Retret Syalom masih cukup baik, lubang ditengah terlihat jelas walau di secara keseluruhan watu lumpang tak lagi bulat utuh, mungkin kerusakan alami tak sengaja.

           Obyek Cagar Budaya Watu Lumpang ini dikategorikan sebagai peninggalan masa Hindu-Budha Klasik. Bukti penguat adalah keberadaan candi gedongsongo yang tak jjauh dari Watu lumpang ini.           Secara umum dulu Watu Lumpang digunakan sebagai alat penumbuk bahan pangan seperti gabah (padi) atau kopi. Selain itu, Watu lumpang memiliki nilai simbolis sebagai penanda batas wilayah kekuasaan tertentu. Kadang watu lumpang memiliki hiasan atau tulisan atau angka tahun.

         Fungsi lain  watu lumpang secara religius, bermakna spiritual, digunakan sebagai sarana pemujaan kepada Dewi Kesuburan, (Pertanian) Dewi Sri. Sehingga keberadaan Watu Lumpang ini juga memungkinkan sebagai bukti bahwa Kawasan Desa Duren kecmatan Bandungan ini dulunya kawasan pertanian.  
lumpang Duren Bandungan
        Setelah kami rasa cukup, perjalanan blusukan Kemisan spesial kali ini kami sudahi. sebuah pelajaran berharga bagi saya pribadi, apa yang dikatakan sulit orang lain belum tentu tidak bisa kita lakukan.

      Terimakasih Partner Blusukan Kemisan : Mas Eka (foto tak tersedia, tapi di video ada...wkwkwk

Punggung Mas Eka WP

      Salam Pecinta Situs dan Watu Candi:
ssdrmk
#Kemisan#blusukan#Dewasiwa

Minggu, 06 Agustus 2023

Jejak Candi Darupono, Kaliwungu Kendal

 Minggu, 6 Agustus 2023. 

sisa Candi eksotis Darupono

       Lanjutan dari blusukan bareng komunitas Dewa Siwa, setelah di Lapik arca situs Tulangbawang Darupono, Blusukan berlanjut ke reruntuhan Candi Darupono.  Melewati Jembatan legendaris, tinggalan Kompeni : Jembatan Plengkung.

     Keberadaan situs (baru saya ketahui setelah melihat titik korrdinat gambar), Tak Jauh dari tepi Jl. Raya Darupono-Kedungsuren. Berada di lahan kering bekas perkebunan warga, dikelilingi alas jati. Saat sampai dilokasi ini matahari sangat terik.  

Candi Darupono Kaliwungu
        Karena tour guide blusukannya orang lokal, (suwun mas Fikri) sehingga tanpa kesulitan kami langsung ke titik lokasi. Dan Langsung disuguhi hamparan berceceran batu bata kuno. 
Candi Darupono Kaliwungu
      Sampai saat saya menulis cerita di blog ini, saya tak menemukan data apapun, atau cerita mengenai jejak Candi Darupono.. -- Tapi ini saya coba  WA mas fikri siapa tahu beliau bisa berbagi... segera nanti saya update. Matursuwun Kawan :
saya dan Mas Fikri
     Saking banyaknya sebaran tinggalan batu bata, saat kami lokasi menemui batu bata yang berelief. salah satunya kebetulan saya dokumentasikan dengan mas Fikri.
     Dari lokasi reruntuhan ini, Kali Blerong yang melegenda di kalangan warga sekitar cukup eksotis. Sungguh menggugah rasa penasaran kami mengenai keberadaan bangunan yang saat ini tinggal sisa saja. Batu bata lebih besar dari sejengkal tangan saya :
Candi Darupono
Dengan skala seadanya, nampak ukurannya sebesar itu :
      Kerusakan sangat masif apalagi saat tahun 2023 saya kesini bekas ladang singkong (Entah sekarang). Proses cangkul kemudian tanaman singkong yang mengambil nutrisi tanah (singkong aadalah tanaman brutal dalam mengambil nutrisi) saya bayangkan kerusakan yang terjadi saat proses ini, pasti memperparah keadaan sebelumnya.  
candi Darupono
      Setelah dirasa cukup, kami kemudian menyudahi blusukan kali ini. sebuah pengalaman yang tersimpan dalam ketika jajak peninggalan sangat terbengkalai. jarang orang mengetahui. jangankan tahu pernah mendengar saja tidak.
         Masih bersama pasangan blusukan saya : 

Salam Pecinta situs dan watu candi 

Sabtu, 05 Agustus 2023

lapik Arca Situs Tulang Bawang : Jelajah Alas Darupono Kendal

lapik Arca Situs Tulang Bawang : Jelajah Alas Darupono Kendal
    
      Minggu 6 AGUSTUS 2023. Akhirnya setelah sekian lama, komunitas Dewa Siwa kembali blusukan bareng. Kami menamai blusukan kali ini Jelajah Alas Darupono Kendal sebagai penyemangat untuk kembali giat blusukan situs dan cagar budaya. Momentum Jelajah Alas Darupono ini dalam suasana bulan kemerdekaan, jadi turut menghidupkan semangat nguri-nguri peninggalan leluhur.
     Adalah kang Mas Roso yang terdepan, memilih destinasi blusukan kali ini. Selain silaturahmi, juga kolaborasi dengan kawan seperjuangan para pegiat pelestari cagar budaya hindu klasik dari kendal dan beberapa kawan independen.
     Titikkumpul di Pertigaan Boja (sempat terjadi drama disini, soalnya beberapa rekan menginginkan titik kumpul di pertigaan depan kelurahan Mijen. Namun Karena pertimbangan ada rekan yang rumahnya dekat (Mas Age Kharisma), saya terpaksa mengambil keputusan titik kumpul utama di perempatan tugu Nyi Pandansari dekat TMP Boja.
     Singkat cerita sampailah kami, (beberapa perjalanan ada di beberapa video rekan. juga ada di video saya, link tunggu setelah edit:

      Penanda kami koordinasi dulu, sambil nunggu rekan yang tertinggal . 
Penanda  menuju situs darupono

           Transit di Basecamp penjaga RPH. 
sumber foto Video Pak Nanang Klisdiarto


       Dari video cuplikan, ada sedikit gambaran rute dari basecamp penjaga menuju tujuan. Situs Lapik Arca  Alas Darupono Kendal. Berada bawah pohon beringin ditengah tengah alas jati. Situs ini berada. Sendirian .... terbelah


        Jelajah dengan personil yang cukup banyak memberikan ruang diskusi yang cukup seru, dari jauh mirip yoni terbalik karena ada tonjolan yang mirip cerat.

          Namun ketika dibalik, diskusi tambah makin ramai. 

        Penampilan penampang atas memiliki cekungan sebagai tempat dimana arca di letakkan, bukan kuncian hanya pembatas aliran air yang keluar akan mengalir melalui cerat. 
Lapik Arca
    Berukuran kecil sendirian di tengah alas, keberadaan lapik arca ini sangat riskan. baik hilang, dirusak. Bentuk yang cukup unik walau mgungil menggugah rasa penasaran kami. Dewa apa yang di arcakan dan di letakkan di sini dibawah pohon beringin ini. 
lapik arca

      Diskusi arca apa mengerucut pada arca durga mahisasuramardini.  Namun berbagai kemungkinan tetap ada. dan diskusi tak pernah selesai. Yang paling menyenangkan adalah ketika acara jelajah, blusukan seperti ini adalah makan rame-rame, dengan piring pincuk dan lauk seadanya :


Komunitas Dewa Siwa
        Salah satu yang menjadi klangenan Komunitas Dewa Siwa. Sambil ngobrol ringan, bercanda. salam pecinta situs watu candi. Paseduluran Saklawase.
     Segera setelah video hasil dokumentasi saya selesai di edit dan diupload di youtube akan saya tampilkan disini juga.

Foto bersama :

Salam pecinta situs dan watu candi...

di Situs Tulangbawang Alas Darupono Kendal

Bersambung ke Candi Darupono

Selasa, 30 Agustus 2022

Prasasti Watu Lawang , Desa Tajuk Getasan

Prasasti Watu Lawang Tajuk Getasan
   
 Selasa. 30 Agustus 2022. Akhirnya saya bisa sampai sini juga. setelah sekian lama hanya bisa mendengar informasi beberapa tahun sebelumnya, tepat sebelum pandemi ada berita viral tentang ditemukannya sebuah prasasti.  Informasi yang sangat berharga ditengah terbatasnya bukti tulisan di Kabupaten Semarang yang berbentuk tulisan (baik angka ataupun aksara)   
     Mohon maaf dengan segala keterbatasan ingatan cerita blusukan, nakah ini saya upload dengan dukungan video

 Video di Youtube 


    Maturnuwun semua yang berperan di pelusuran kali ini

Prasasti Watu Lawang Tajuk Getasan


Terimakasih Ms Eko Budi:


Prasasti Watu Lawang Tajuk getasan

        Salam pecinta situs dan watu candi

Prasasti Watu Lawang Tajuk getasan


#ssdrmk

Jumat, 24 Juni 2022

Arca di Stasiun KA Kedungjati kab. Grobogan

Arca di Stasiun Kedungjati

Jumat 24 Juni 2022.

     Lanjutan dari Penelusuran Yoni di Situs Kemiri Gubug, perjuangan menulis tambah berat karena ingatan saya terfokus pada Yoni tersebut. Sementara hasil blusukan di area Stasiun KA malah terlewat dari ingatan. Untungnya di googlefoto masih tersimpan bahan mentahannya. Sambil Membuat tulisan di blog ini, saya juga mencoba membuat videonya di channel youtube saya, semoga lancar.     
      Informasi adanya sebuah arca dekat rel di area Stasiun Kedungjati beberapa tahun sebelumnya membuat saya janjian dengan mas Romi untuk meneruskan penelusuran, waktu yang tersisa lumayan panjang sehingga saya memantapkan untuk berlanjut, walaum memang jarak Gubug dan Kedungjati lumayan jauh, sambil menikmati perjalanan melewati alas jati 30 menit kemudian sampailah kami.     
Stasiun Kedungjati
    Tapi karena tak ada yang bisa kami temui untuk minta ijin akses masuk stasiun  akhirnya kami mencoba  menyusuri gang di samping stasiun. Dari Jalan samping rel ini kemudian kami parkir masuk dekat gedung stasiun 
      Terletak diamping peron Stasiun Kedungjati di tanah lapang berdampingan dengan besi bekas Rel.
Arca Kedungjati
    Kondisi arca sudah apa adanya tinggal menyisakan bukan bagian inti, sesuai yang terlihat di dokumentasi. Tanpa kepala (apalah artinya tubuh) Arca yang telah hilang dan beberapa kerusakan (penyebabnya entah pelapukan atau dirusak atau rusak tanpa sengaja).
     Dari detail arca yang masih terlihat, saya secara pribadi cukup bingung. Dari diskusi antara saya dan mas romi, dugaan  kami mengerucut antara arca wisnu atau siwa. Tapi  itu hanya dugaan, tapi tentu saja kami menerima pencerahan dari para ahli.... terlihat dari ciri-ciri :
ssdrmk
arca kedungjati. foto by ssdrmk
       Arca  dibuat dari batu andesit. Sayang sekali karena bagian kepala tak ada jadi tak bisa mendeskripsikan wajah, bahkan atribut, atau hiasan ikonografis sudah tak nampak. kabur. 
      Close up alas arca :

arca kedungjati. foto by ssdrmk
arca kedungjati. foto by ssdrmk
     Tak ada sumber referensi mengenai keberadaan  arca ini. Stasiun Kedungjati yang didirikan tahun 1897 yang berupa bangunan jati kemudian di pugar tahun 1907 menjadi bangunan bata berplester (Sumber: wikipedia). Dugaan Kami arca ini temuan lepas yang berasal di area dekat Stasiun Kedungjadi (bukan insitu) dipindah saat proses pembangunan jalur kereta api.
arca kedungjati. foto by ssdrmk
arca kedungjati. foto by ssdrmk

    Sebagai penanda, hiasan ataupun hanya dibiarkan begitu saja di stasiun setelah di temukan ( di hancurkan segan), di area alas kedungjati dan sekitar memang banyak tersebar peninggalan masa Hindu-Budha

Versi video di Channel Youtube :
(proses edit)

     Waktu sudah terasa cukup bagi kami, akhirnya kami menyudahi blusukan. Maturnuwun mas Romi. Sampai ketemu lagi di cerita penelusuran selanjutnya.
arca
Arca di Situs Kedungjati : Mas Romi dan ssdrmk
         Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
arca di Kedung Jati
#hobikublusukan

Kamis, 23 Juni 2022

Yoni Situs Makam Keramat, Desa kemiri Kec. Gubug kab. Grobogan

      Jumat 24 Juni 2022. 

     Sebenarnya semangat penelusuran situs masih ada di benak, walaupun banyak kendala namun keinginan blusukan terus ada, sayangnya memang waktu dan situasi belum memungkinkan. Sampai ada informasi yang saya dapatkan secara tak sengaja di percakapan grup WA. Rekan tersebut  sudah terlebih dulu nglimpe ke lokasi situs ini. 

     Perjuangan memulai menuliskan cerita ini setelah lebih dari 4 tahun butuh usaha lebih. Semoga masih ingat..  

    Jadi apa yang  akan saya tuliskan berdasarkan memori dengan bantuan foto dan video. semoga masih bercirikan ssdrmk... hehehe.

     Ceritanya waktu itu, dapat lihat postingan rekan tentang keberadaan situs di sebuah Makam Keramat di Kabupaten Gubug. Segera, saya iseng  menghubungi beberapa rekan yang asli Gubug tentang bagaimana medan dan petunjuk arahnya.  Rata - rata menjawab mudah dan terlihat dari pinggir. Juga spekulasi mencoba minta guide bang Romi yang asli Mranggen Demak untuk sekaligus teman blusukan.

       Singkat cerita, setelah terkondisikan saya meluncur menuju pertigaan  yang sehari sebelumnya saya sudah janjian. Ternyata di pertigaan ini menyimpan sejarah yang cukup panjang.... 

Pertigaan Gubug, Ambil Kiri

      Bung Karno Pernah Berpidato di Sini... Saya membaca di : www.khazanahgrobogan.com . Dari pertigaan ambil jalan ke kiri  Kira-kira 2 km ketemu dengan KUA , tepat di seberang KUA di tengah persawahan ada bangunan bercungkup ditengah rimbunan pohon .

panah merah
Makam Keramat Desa Kemiri Gubug
      Segera saya menuju makam tersebut, tak sabar. efek jarang dan lama tak blusukan memang sangat mempengaruhi langkah saya. 
Rasanya tak sabar mendekat. Hati langsung tenang setelah sampai. selain sejuk semilir angin, juga ada rasa damai di sini yang tak bisa dijelaskan. 
     Yoni ini berada di Makam punden Kramat Desa Kemiri, Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. 
Menurut legenda yang berkembang, sumber cerita dari Bapak Bapak yang kami temui di sini tentu saja saya sangat beruntung ada mas Romi yang masih mengingat cerita dari Bapak tersebut.    
Yoni
Yoni Makam Kramat Punden Desa Kemiri
     Berdasarkan obrolan dengan beliau kurang lebih begini ....
     "Mbah keramat masih keturunan dari  Kanjeng Sunan Kalijaga, terus setiap malam" tertentu "mereka"  (dari bangsa gaib) berkumpul di situ, bahasa gampange ngaji, termasuk kanjeng ratu". 
    Tanda-tanda kalau kanjeng ratu hadir,akan ada pusaran angin (muter") di sekitaran makam,terutama di bawah pohon.
  Terus Yoni yang di situ itu replika, aslinnya di simpan beliau, soale berniat nyalon kepala desa, kalau dadi yoni  akan di "ketoke alias di pajang
 Terus perbedaan kanjeng ratu dan nyi Roro kidul,,ada pada kaki,kanjeng ratu kaki e mulus,nyi Roro kidul kakie ada sisik ulo tapi sithik,,

    Walaupun saya pribadi tak bisa masuk secara logika tentang cerita seputar Yoni ini, legenda yang berkembang setengah mitos namun saya respect apapun itu. Sejarah memang berbeda dengan mitos namun bisa beriringan. Saya juga tidak membahas lebih lanjut karena keterbatasan sumber informan. (pembaca yang tahu versi lain bisa wa/ tinggalkan komentar).

  Punden Kramat Kemiri Gubug.     Minimnya sumber data mengenai Yoni ini, yang masih tertinggal dan lestari ya hanya Yoni sajam tanpa lingga atau pun 'biasanya', ada arca nandi, atau peninggalan lain yang masih berkaitan dengan upacara ibadah jaman hindu klasik.  

Yoni
Kondisi Yoni Kemiri Gubug

       Kondisi Yoni Situs Kemiri terlihat seperti di gambar.  Walaupun masih 'beruntung' Yoni ini ga ikut di musnahkan, namun tetap dilestarikan. Lubang tempat Lingga masih terlihat jelas. 

        Yoni Kemiri berbentuk segi empat, sebagai perbandingan ilustrasi bentuk umum yoni :
Perbandingan Bentuk Yoni Sumber https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/36/yoni
       Kondisi kerusakan yang terlihat, aus dan mirip bekas senjata tajam, nampaknya untuk asahan/ di gesek untuk menajamkan alat tajam, dari gambar close up, saya menduga bagian penampang atas badan yoni sampai hilang yang terlihat hanya bekas lubang cerat yoni. Umumnya di bagian atas yoni ada bagian pembatas untuk mengeluarkan air suci melalui lubang cerat. 
     Cerat sendiri adalah bagian khusus yoni yang berguna untuk mengalirkan air upacara setelah di sirakan ke bagian Lingga. Air yang keluar dari lubang reat inilah yang disebut air suci yang merupakan unsur utama ritual keagaman.
Hiasan di badan Yoni sederhana, namun karena kerusakan di area cerat sehingga tak bisa diketahui apakah ada hiasan di bawah cerat (bisa berupa naga-kura-kura).
Secara keseluruhan saya pribadi merasa pelestarian Yoni Situs Kemiri ini sudah cukup baik walaupun ada sedikit sejarah yang berbeda baik fungsi, cerita maupun kegunaan. Tapi tak apalah yang penting Yoni ini tetap ada sebagai bukti jejak peradapan masa lalu. 
     Versi video di Channel Youtube  : 

    Maturnuwun mas Romi. Sampai ketemu lagi di cerita penelusuran selanjutnya. 

Yoni Kemiri Gubug
Mas Romi, Bapak Narasumber dan ssdrmk di Situs Yoni Kemiri Gubug
      Perjalanan hari ini berlanjut ke Stasiun Kedungjati...

#hobikublusukan