Tampilkan postingan dengan label Purwodadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purwodadi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2022

Yoni Situs Makam Keramat, Desa kemiri Kec. Gubug kab. Grobogan

      Jumat 24 Juni 2022. 

     Sebenarnya semangat penelusuran situs masih ada di benak, walaupun banyak kendala namun keinginan blusukan terus ada, sayangnya memang waktu dan situasi belum memungkinkan. Sampai ada informasi yang saya dapatkan secara tak sengaja di percakapan grup WA. Rekan tersebut  sudah terlebih dulu nglimpe ke lokasi situs ini. 

     Perjuangan memulai menuliskan cerita ini setelah lebih dari 4 tahun butuh usaha lebih. Semoga masih ingat..  

    Jadi apa yang  akan saya tuliskan berdasarkan memori dengan bantuan foto dan video. semoga masih bercirikan ssdrmk... hehehe.

     Ceritanya waktu itu, dapat lihat postingan rekan tentang keberadaan situs di sebuah Makam Keramat di Kabupaten Gubug. Segera, saya iseng  menghubungi beberapa rekan yang asli Gubug tentang bagaimana medan dan petunjuk arahnya.  Rata - rata menjawab mudah dan terlihat dari pinggir. Juga spekulasi mencoba minta guide bang Romi yang asli Mranggen Demak untuk sekaligus teman blusukan.

       Singkat cerita, setelah terkondisikan saya meluncur menuju pertigaan  yang sehari sebelumnya saya sudah janjian. Ternyata di pertigaan ini menyimpan sejarah yang cukup panjang.... 

Pertigaan Gubug, Ambil Kiri

      Bung Karno Pernah Berpidato di Sini... Saya membaca di : www.khazanahgrobogan.com . Dari pertigaan ambil jalan ke kiri  Kira-kira 2 km ketemu dengan KUA , tepat di seberang KUA di tengah persawahan ada bangunan bercungkup ditengah rimbunan pohon .

panah merah
Makam Keramat Desa Kemiri Gubug
      Segera saya menuju makam tersebut, tak sabar. efek jarang dan lama tak blusukan memang sangat mempengaruhi langkah saya. 
Rasanya tak sabar mendekat. Hati langsung tenang setelah sampai. selain sejuk semilir angin, juga ada rasa damai di sini yang tak bisa dijelaskan. 
     Yoni ini berada di Makam punden Kramat Desa Kemiri, Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. 
Menurut legenda yang berkembang, sumber cerita dari Bapak Bapak yang kami temui di sini tentu saja saya sangat beruntung ada mas Romi yang masih mengingat cerita dari Bapak tersebut.    
Yoni
Yoni Makam Kramat Punden Desa Kemiri
     Berdasarkan obrolan dengan beliau kurang lebih begini ....
     "Mbah keramat masih keturunan dari  Kanjeng Sunan Kalijaga, terus setiap malam" tertentu "mereka"  (dari bangsa gaib) berkumpul di situ, bahasa gampange ngaji, termasuk kanjeng ratu". 
    Tanda-tanda kalau kanjeng ratu hadir,akan ada pusaran angin (muter") di sekitaran makam,terutama di bawah pohon.
  Terus Yoni yang di situ itu replika, aslinnya di simpan beliau, soale berniat nyalon kepala desa, kalau dadi yoni  akan di "ketoke alias di pajang
 Terus perbedaan kanjeng ratu dan nyi Roro kidul,,ada pada kaki,kanjeng ratu kaki e mulus,nyi Roro kidul kakie ada sisik ulo tapi sithik,,

    Walaupun saya pribadi tak bisa masuk secara logika tentang cerita seputar Yoni ini, legenda yang berkembang setengah mitos namun saya respect apapun itu. Sejarah memang berbeda dengan mitos namun bisa beriringan. Saya juga tidak membahas lebih lanjut karena keterbatasan sumber informan. (pembaca yang tahu versi lain bisa wa/ tinggalkan komentar).

  Punden Kramat Kemiri Gubug.     Minimnya sumber data mengenai Yoni ini, yang masih tertinggal dan lestari ya hanya Yoni sajam tanpa lingga atau pun 'biasanya', ada arca nandi, atau peninggalan lain yang masih berkaitan dengan upacara ibadah jaman hindu klasik.  

Yoni
Kondisi Yoni Kemiri Gubug

       Kondisi Yoni Situs Kemiri terlihat seperti di gambar.  Walaupun masih 'beruntung' Yoni ini ga ikut di musnahkan, namun tetap dilestarikan. Lubang tempat Lingga masih terlihat jelas. 

        Yoni Kemiri berbentuk segi empat, sebagai perbandingan ilustrasi bentuk umum yoni :
Perbandingan Bentuk Yoni Sumber https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/36/yoni
       Kondisi kerusakan yang terlihat, aus dan mirip bekas senjata tajam, nampaknya untuk asahan/ di gesek untuk menajamkan alat tajam, dari gambar close up, saya menduga bagian penampang atas badan yoni sampai hilang yang terlihat hanya bekas lubang cerat yoni. Umumnya di bagian atas yoni ada bagian pembatas untuk mengeluarkan air suci melalui lubang cerat. 
     Cerat sendiri adalah bagian khusus yoni yang berguna untuk mengalirkan air upacara setelah di sirakan ke bagian Lingga. Air yang keluar dari lubang reat inilah yang disebut air suci yang merupakan unsur utama ritual keagaman.
Hiasan di badan Yoni sederhana, namun karena kerusakan di area cerat sehingga tak bisa diketahui apakah ada hiasan di bawah cerat (bisa berupa naga-kura-kura).
Secara keseluruhan saya pribadi merasa pelestarian Yoni Situs Kemiri ini sudah cukup baik walaupun ada sedikit sejarah yang berbeda baik fungsi, cerita maupun kegunaan. Tapi tak apalah yang penting Yoni ini tetap ada sebagai bukti jejak peradapan masa lalu. 
     Versi video di Channel Youtube  : 

    Maturnuwun mas Romi. Sampai ketemu lagi di cerita penelusuran selanjutnya. 

Yoni Kemiri Gubug
Mas Romi, Bapak Narasumber dan ssdrmk di Situs Yoni Kemiri GUbug
      Perjalanan hari ini berlanjut ke Stasiun Kedungjati...

#hobikublusukan

Minggu, 03 Desember 2017

Rumah Arca Banjarejo, Gabus Purwodadi

Rumah Fosil Banjarejo Purwodadi
 Minggu, 3 Desember 2017. Blusukan Lintas Batas yang beberapa kali kami lakukan, membuat kangen. Sudah lama sekali rasanya tak blusukan luar kota karena seorang kawan pergi ke luar pulau dimana didi kempot menciptakan lagu "Perawan Kalimantan", atau memang Raden Naya Gonggong memang dalam rangka itu... Ditambah kesibukan masing masing dari kami, terakhir berempat crew lintas batas blusukan ke Candi Angin-Brubah Jepara.
SDN Gabus 02
       Sehari sebelumnya, saya ditawari Lek Suryo untuk turut serta menapaki jejak peninggalan purba daerah pesisir kuno yang saat ini mulai bermunculan, banyak ditemukan oleh warga Banjarejo, Gabus Kabupaten Grobogan.  
Sesuai kesepakatan, kumpul dulu dirumah saya, kemudian berangkat berempat lewat jalur Ungaran-Kawengen-Mranggen kemudian menuju Purwodadi. Jalur Gubug-kemudian Godong, Kota Purwodadi bagi saya mengingatkan perjalalanan 7 tahun lalu saat menuju Trowulan Mojokerto. 
RM Kharisma Sar














Saat itulah pertama kali passion saya terhadap candi-situs mulai terpatri. Perjalanan pus sama dengan istri. Saat hampir sampai  di Wirosari, 7 tahun lalu kami sarapan di RM. Kharisma Sari (yang terletak di dekat Wirosari ini, foto 2010 dan 2017.
Di perempatan Wirosari kami berhenti dan mencoba update petunjuk jalan dengan GMaps, juga mencoba WA Bapak Kades Banjarejo dengan maksud minta petunjuk (Maturnuwun Pak tri Subekso cp pak Kadesnya), Mengikuti GMaps, menuju Banjarejo Gabus, dari Wirosari kami lurus (Bila kanan lewat Bledug Kuwu), kira-kira 30 menit kemudian melewati beberapa kelokan gang serta jembatan gantung yang hanya bisa dilalui 1 motor saja, (yang nantinya kami akhirnya tahu bahwa perempatan Wirosari ambil kanan lebih dekat menuju Gabus, serta jalan lebih mulus).
Rumah Fosil berada di Rumak Bapak Kades, Pak Taufik, tepat didepan SDN Banjarejo 02 Gabus.
Banon di Rumah Fosil Banjarejo
Rumah etnik khas jawa, Joglo milik pribadi yang dijadikan Rumah fosil, Detail penjelasan cukup memudahkan kami untuk mengetahui apa saja yang ada di dalam Rumah Fosil Banjarejo ini. Saat kami datang, kebetulan Bapak Kades sedang interview dengan majalah lokal. 
Sehingga kami cukup terbantu dengan detail penjelasan yang terpasang.
Alu, Pipisan dan Lumpang mini :
Rumah Fosil Banjarejo

Rumah Fosil Banjarejo
Arca Ganesha, Banon, dan tribal batu (Konon adalah lempengan alat musik), relief dari tanah liat

Rumah Fosil Banjarejo
Arca Ganesha Rumah Fosil Banjarejo
Pandangan kami saat sampai adalah tumpukan batu bata besar (banon) yang berupa pecahan yang berada di buk teras rumah fosil.  Tak sabar kami melihat apa yang ada di rumah Fosil ini, Masuk kedalam, disambut etalase yang berisi perkakas dari batu, pipisan, mini alu dan mini lumpang.
Di etalase sebelahnya ada arca Ganesha mini dan beberapa pecahan terakota-bata yang ada relief, keramik dan foto dokumentasi perhiasan emas jaman dulu (masyarakat sini berburu emas di seputaran dusun medang). 
Fosil yang terpajang di etalase Rumah fosil :
Rumah Fosil Banjarejo
Masih fosil hewan laut purba ; 

























Banteng Purba:
Tak Jauh ada Kepala Banteng Purba, bergeser di sisi sebelah kanan ada tanduk kerbau purba yang berukuran sangat besar dan panjang.
Lanjut ke tulang dan Ganding Gajah Purba.
Gading Gajah Purba
Rumah Arca Banjarejo, Gabus Purwodadi
Terus terang pak, kami sangat tertarik berkunjung ke Banjarejo ini ya karena pernah membaca di media massa tentang penemuan truktur yang konon dipercaya warga adalah pondasi istana  Prabu Ajisaka“, ucap kami saat minta ijin kepada Bapak Taufik, Kades.
Sambil beristirahat, kami membuka bekal dan minum yang kami bawa dari rumah. “Temuan Watu lesung dan struktur istana di Dusun medang. Juga masih ada petilasan dampar Prabu Ajisaka”, jelas Mas Fuad “Cukup dekat dari sini, karena menjadi salah satu dusun di banjarejo”, tambah beliau yang merupakan adik dari Pak Kades.
Benda Pusaka yang ditemukan :
Rumah Arca Banjarejo, Gabus Purwodadi
Guci Kuno

Melihat desa Banjarejo yang dikomandoi Pak Kades seharusnya menjadi inspirasi bagi desa lain bahkan membuka mata pemerintah daerah yang wilayah-nya bertebaran situs purbakala. “Bagaimana memperlakukan benda bersejarah”.
Setelah badan terasa segar kembali, dan kami sudah merasa cukup kami kemudian minta ijin melanjutkan menuju Dusun Medang.
Rumah Arca Banjarejo, Gabus Purwodadi
Foto dengan Pak Kades plus guide Lokal : Mbak Mutmainah, teman dari Mbak Laiva,

 Video Amatir

Salam Pecinta Situs dan Watu Candi
Rumah Arca Banjarejo, Gabus Purwodadi
#hobikublusukan

Jejak Medang kamulan di Banjarejo, Gabus Kabupaten Grobogan

Watu Lesung Medang Kamulan
           Minggu, 3 Desember 2017. Rangkaian blusukan lintas batas setelah mampir di Rumah Fosil Banjarejo, Gabus Kab. Grobogan kami kemudian melanjutkan perjalanan, sesuai petunjuk Pak Taufik dan Mas Fuad, serta ditambah guide local special (Matursembahnuwun mba Mutmainah ; temen Kuliah Mbak Laiva) jadilah lancar manunggal tanpa kendala sedikitpun dan tak perlu lagi membuka GMaps. 
Menuju Dusun medang kamulan

      Tujuan kami ini masih merupakan dusun yang berada di wilayah Desa Banjarejo. Sehingga tak terlalu lama. Sempat sebelumnya. Kami diantara dua pilihan prioritas pertama antara pasujudan (dampar) Ajisaka atau Watu Lesung terlebih dahulu. Akhirnya, kami menuju Watu Lesung terlebih dahulu.

        Watu Lesung ini ditemukan oleh para ‘pemburu harta karun”, saat mencari emas di areal persawahan warga pada 23 Agustus 2013. 

      Oleh warga kemudian diamankan dan di pindah ke lokasi yang sekarang, didepan rumah warga. 
Rumah dimana watu lesung berada

       Warga menyebutnya dengan Watu Lesung, Namun dengan keberadaan 3 lubang saya malah menduga ini adalah Watu Lumpang sangat spesial.
Jejak Medang kamulan di Banjarejo, Gabus Kabupaten Grobogan

    Spesial lubang 3

    Yang unik selanjutnya, dan membuat saya merasa beruntung bisa melihat Watu Lesung ini adalah motif teratai di sekeliling batu yang memang sekilas (jika memaksa) mirip lesung. 
    Saya sengaja mengikuti saja, apa yang sudah terpatri di masyarakat, menyebut batu sakral jejak masa lalu ini dengan "Watu Lesung", agar tak membingungkan. Walau secara pribadi saya malah menduga ini watu lumpang spesial.
   "Sampai hari ini, masih banyak orang yang laku ritual di situ, dulu", ungkap Ibu Endang SR., pemilik rumah dimana Watu lesung ini berada dihalaman rumahnya.

Video Amatir:




       Salam Pecinta Situs dan Watu Candi

       Setelah cukup di Watu Lesung Medang, kami kemudian menuju "Pasujudan Prabu Ajisaka", yang tak jauh dari lokasi ini. Sekitar 5 menit, menyusuri jalan dusun cor2an kembali ke pertigaan dimana kami sempat bimbang, kali ini pertigaan tersebut kami lurus, jika kiri kembali ke Rumah Fosil.
     Dari Kejauhan, beberapa pohon besar yang tinggi menjulang terlihat dan menjadi tujuan kami. Tepat dibelakang madrasah lokasi Dampar Ajisaka berada.
(saya Foto landskape komplit tapi entah mengapa hilang---- saya lagi nego rekan untuk minta fotonya.... : Nyuwun Nggeh Kang Achid Zamroji)
     Kesan pertama tiba dilokasi ini, suasananya sangat menyejukkan, tenang. batu Dampar Ajisaka sudah dibuatkan pengayom dalam bentuk rumah tertutup.
        Sambil menunggu juru kunci, kami membuka bekal dulu, makan bersama dengan suasana seperti ini terasa nikmat sekali. 
Ditengah sawah, dibawah pohon rindang ditambah sangat kelaparan... sungguh nikmat!
    Beberapa saat kemudian, bukan pak Basrofi yang datang namun seorang warga yang membawa kunci (saya lupa tanya namanya. Kemudian mempersilahkan kami untuk masuk rumah Batu Pasujudan Ajisaka yang dikeramatkan warga ini.
Petilasan Ajisaka, Dusun Medang Banjarejo
       Didalam ruangan, ada dua batu datar yang dipercaya warga masyarakat sebagai dampar ajisaka, sebagian lagi tempat semedi Prabu Ajisaka
     Kesan sakral, sangat berwibawa sangat terasa sejak dibukakan pintu saat kami masuk. Butuh keberanian lebih untuk saya berfoto di lokasi ini.
Di Batu Pasujudan Ajisaka Medang, Banjarejo
        Setelah merasa cukup, kami menyudahi blusukan luar kota ini, tapi saat akan perjalanan pulang saat berpamitan dengan Mbak Mutmainah : “Eman – eman kalau tak mampir di Bledug Kuwu”, kata Mbak Mutmainah menyarankan. Jadilah kami…. 
saya dan istri
        Keunikan, Bledug Kuwu adalah lumpur yang berasa asin air laut, padahal Daerah ini ada di tengah pulau jawa. Yang menguatkan dugaan bahwa dulu selat muria sampai juga di wilayah ini = Bledug Kuwu dulunya lautan.

#hobikublusukan