Minggu, 09 Juni 2024

Jejak Candi di Umbul gedong Klaten

Reruntuhan Candi di Umbul Gedong, Kec. Tulung Klaten 

      Minggu, 9 Juni 2024. Saat mendampingi anak mengikuti kegiatan Sekolah (SD Alam Ungaran - Saung) Outing di Umbul Besuki, saya langsung mencoba menghubungi senior perwatuan "Mas Yoan", barangkali ada situs yang saya bisa mlipir. Dan akhirnya kisah ini terjadi.... Saking semangatnya, keseruannya baiknya menyimak hasil video amatir saya... hahahha (Segera setelah edit) :

    Menuju lokasi yang pertama saya lihat adalah : Simbar

Antefik Candi Gedong
       Didepan rumah warga, simbar atau yang dikenal dengan Antefik candi, salah satu komponen arsitektur candi yang berfungsi sebagai hiasan luar,  berbentuk segitiga meruncing.  Antefik digunakan untuk memperindah tampilan bangunan dan memberikan kesan bahwa candi tersebut lebih tinggi dari ukuran aslinya. Secara teknis, antefik merupakan bagian yang menyatu dengan bangunan induk (bersifat struktural) dan tidak dapat berdiri sendiri.   
      Biasanya ditempatkan di sisi terluar atap candi, pelipit batur, atau pada tingkatan-tingkatan atap atau ditempatkan pada sudut-sudut bangunan.
    Melihat 'antefik', ini semakin semangat, walau kaki sudah pegal-pegal. Karena sudah ada petunjuk mendekati titik utama, dan setelah berjalan kira-kira 50m setelah tikungan .... sayangnya :
reruntuhan Candi Gedong, Tulung Klaten
Reruntuhan Candi Gedong
    Tinggal reruntuhan. Sempat terpaku beberapa saat, antara tak percaya tapi ini kenyataan. Tak percaya karena dalam batin saya sekitar area Klaten jika ada peninggalan seperti ini pasti di'openi' tapi ini kok.....
      Karena saya hanya berdiri diam, beberapa warga yang sedang duduk di dekat mushola  melihat saya dengan tatapan aneh, daripada penasaran timbul pertanyaan, saya pun mendekat. Uluksalam, akhirnya mengalirlah obrolan diantara kami. 
      Intinya ternyata diluar dugaan, bahwa terbengkalainya Candi Gedong ini karena ada campurtangan 'pemerintah' juga, konon awalnya ingin revitalisasi. Tapi cerita yang saya dapat lembaga yang biasa revitalisasi sebuah situs bahkan terkesan pura-pura tidak melihat. saking  berkuasanya pihak yang ingin revitalisasi itu. Selentingan ingatan saya  umbul gedong ini bukan revitalisasi tapi modernisasi menjadi kolam renang modern. Tapi prihatinnya struktur candi menjadi tertumpuk berserakan. Jadi gagal!
Candi Gedong, Tulung Klaten

    Sekedar perbandingan saya cari urutan waktu Jejak Candi Gedong Tulung Klaten dari Google maps :
2017


2023


2024      














          Dari tumpukan watu candi tersebut, Kenapa saya yakin ini Candi karena keberadaan Yoni!
Yoni Candi Gedong, Tulung Klaten

      Yoni pada candi Hindu berfungsi utama sebagai landasan atau tempat dudukan Lingga (simbol Dewa Siwa) dan secara simbolis mewakili energi feminin (Shakti) atau kesuburan. Dalam kosmologi Hindu, pertemuan antara Yoni dan Lingga melambangkan persatuan langit dan bumi yang menciptakan energi kehidupan dan keseimbangan alam semesta.
        Namun Yoni posisinya jungkir balik, selain berubah bentuk mirip Hulk! :
Yoni Situs Gedong, tulung Klaten

       Yoni dilengkapi dengan cerat (saluran menonjol) yang berfungsi mengalirkan air yang telah dituangkan ke atas Lingga saat upacara pemujaan. Air yang mengalir melalui cerat ini dianggap sebagai air suci (amerta).
    Lubang di bagian tengah Yoni dirancang khusus untuk meletakkan Lingga, sehingga keduanya menjadi satu kesatuan utuh. Yoni gedong, Tulung Klaten ini berbentuk kubus atau persegi dengan lubang di tengah (namun saya tak bisa melihat jelas detailnya, karena posisi terbalik).
     Ada struktur kuncian batu, batu berpelipit, bahkan masih terlihat ada relief hiasan atap candi : 


Candi Gedong

Candi Gedong


       Cukup untuk hari ini, sudah lama saya merasa sangat kecewa seperti yang saya rasakan hari ini. Perjuangan jalan kaki memutar menuju Candi gedong, di Dusun Gedongjetis ini menambaha nelangsa... bukan lebay tapi apa boleh buat..... ----

Warga di Umbul Gedong : suwun

          Maturnuwun warga sekitar, saya mendapatkan perspektif baru tantangan peninggalan tidak hanya eksternal, bahkan penguasa lokal saya menjadi kekuatan merusak. sayang banget!

        Semoga tersadar...

ssdrmk

Salam pecinta situs dan watu candi

Rabu, 24 April 2024

Situs Watu Lumpang Pudakpayung Semarang

Watu Lumpang Pudakpayung

      Rabu, 24 April 2024. kedatangan 2 sahabat senasib blusukan situs, Lek Eka Budi dan Kang Seno menjadikan tantang an saya untuk mencari 'suguhan' watu. Bukan kenyang secara fisik tapi lahir...hahahhaha. Akhirnya terbersit ide maksi sekaligus blusukan. disebuah warung di Pudakpayung tepatnya di jalan Pramuka. Dimana 2 kali saya gagal mendokumentasikan karenna dilarang yang punya, dengan alasan takut hilang. Saya terima sih. tapi tetap harus saya tulis kisahnya.     Maka kesempatan inilah saya ajak maksi disini. Ijin maksi mudah.... 
watu lumpang Pudakpayung

      Situs di Pudakpayung ini, ada beberapa yang cukup dekat. Membuktikan kawasan ini dulunya sangat penting. Ada komunitas peradaban yang cukup maju. Klink link untuk tahu lebih detail.

  1. Yoni Kalipepe 
  2. Yoni Kalimaling
  3. Watu Gong
  4. Tak begitu jauh ada candi Bruning di pakintlan (terpisah sungai kaligarang)
  5. Arca di sendang putri Jalan Pramuka 9yang tak bisa saya temukan keberadaanya. Airnya sampai saat ini masih ada namun sudah tak dipakai masyarakat lagi.

    Watu Lumpang tinggalan peradaban Hindu Klasik secara spiritual menjadi alat untuk ritual pernyembahan dewi Sri, Dewi Kesuburan. Bantuknya cukup spesial. Sederhana cenderung cembung. Fungsi selain menumbuk sesajen/ menaruh sesajen juga menumbuk biji-bijian. Terlihat dari lubang yang berukuran cukup besar saya duga cenderung sering dipakai harian bukan pada acara ritus tertentu seperti masa panen atau awal tanam. namun sejarah adalah fakta bukan mitos. Jadi saya sangat menerima pencerahan. 

 ini  Versi Video (Segera setelah saya edit : ada versi ngobrol santai dengan sahabat saya itu)

    Salam Pecinta situs watu candi


#situs#Dewasiwa#blusukan

sahabat senasib blusukan situs

#sedulursaklawase!


Kamis, 29 Februari 2024

Berkunjung ke Lumpang Situs Rumah Retret Syalom Desa Duren Bandungan

       Blusukan Sangat spesial, ditempat yang spesial.

 Begini ceritanya....

Lumpang Situs Duren Bandungan

       Kamis, 29 Februari 2024.  Gimana tidak spesial, blusukan di Kemisan, tanggal 29 Februari ini kapan lagi akan terulang? sangat spesial,  belum lagi kisah yang melatarbelakangi 'baru sekarang' bisa ke lokasi ini. Singkat cerita seorang rekan yang di komunitas Dewa Siwa (Sengaja nama saya sembunyikan), memamerkan dia barusaja penelusuran watu lumpang di sebuah rumah retret. Namun sayangnya diaa memwanti-wanti bahwa saya tidak akan bisa masuk karena ijinnya susah. Tak tahu maksudnya apa sahabat itu., barangkali dulu tanpa sengaja menghalangi saya dengan candaan kejadian itu kurang lebih sekitar tahun 2012/13 . ---berlalunya waktu---

     Jadilah saat ini, cerita blusukan ini akhirnya bisa saya tuangkan, adalah rekan 'partner in kemisan': Mas Eka WP, kegabutan kami saat tanpa janjian, tiba-tiba ketemu, ngobrol ngalor ngidul trus celetukan "yoh, blusukan kemisan!". Dan, muncul ide "Watu lumpang retret di bandungan, konon susah masuk?", usul saya. Seperti yang kita tahu, untuk urusan lobi alias social enginering bahasa kerenya ngapusi dengan elegan. Mas Eka ini jagonya, sudah berapa puluh warga lokal akhirnya malah jadi guide ke lokasi situs...hehehe... 

     Menuju lokasi, beberkal gmaps, kami meluncur. (video perjalanan segera setelah edit selesai saya uplod di youtube juga). 

   Lokasi cukup mudah berada dekat dengan pusat Bandungan, setelah lapor bapak security. Dan diluar dugaan kami, selain ramah... eh malah nawari kami untuk ndampingi. (Versi lengkapnya diampingi Pak Security ada di video).

     Berada di tengah tengah komplek Gedung retret Syalom, watu lumpang ini sudah di 'tempatkan', di lokasi yang layak. Tepatnya di Jl. Ampel Gading 29 Bandungan. Ada penanda pagar pembatas dan nama peninggalan menandakan perhatian pengelola retret Syalom ini. Respect!      

Watu Lumpang
       Kondisi watu Lumpang Rumah Retret Syalom masih cukup baik, lubang ditengah terlihat jelas walau di secara keseluruhan watu lumpang tak lagi bulat utuh, mungkin kerusakan alami tak sengaja.

           Obyek Cagar Budaya Watu Lumpang ini dikategorikan sebagai peninggalan masa Hindu-Budha Klasik. Bukti penguat adalah keberadaan candi gedongsongo yang tak jjauh dari Watu lumpang ini.           Secara umum dulu Watu Lumpang digunakan sebagai alat penumbuk bahan pangan seperti gabah (padi) atau kopi. Selain itu, Watu lumpang memiliki nilai simbolis sebagai penanda batas wilayah kekuasaan tertentu. Kadang watu lumpang memiliki hiasan atau tulisan atau angka tahun.

         Fungsi lain  watu lumpang secara religius, bermakna spiritual, digunakan sebagai sarana pemujaan kepada Dewi Kesuburan, (Pertanian) Dewi Sri. Sehingga keberadaan Watu Lumpang ini juga memungkinkan sebagai bukti bahwa Kawasan Desa Duren kecmatan Bandungan ini dulunya kawasan pertanian.  
lumpang Duren Bandungan
        Setelah kami rasa cukup, perjalanan blusukan Kemisan spesial kali ini kami sudahi. sebuah pelajaran berharga bagi saya pribadi, apa yang dikatakan sulit orang lain belum tentu tidak bisa kita lakukan.

      Terimakasih Partner Blusukan Kemisan : Mas Eka (foto tak tersedia, tapi di video ada...wkwkwk

Punggung Mas Eka WP

      Salam Pecinta Situs dan Watu Candi:
ssdrmk
#Kemisan#blusukan#Dewasiwa

Minggu, 06 Agustus 2023

Jejak Candi Darupono, Kaliwungu Kendal

 Minggu, 6 Agustus 2023. 

sisa Candi eksotis Darupono

       Lanjutan dari blusukan bareng komunitas Dewa Siwa, setelah di Lapik arca situs Tulangbawang Darupono, Blusukan berlanjut ke reruntuhan Candi Darupono.  Melewati Jembatan legendaris, tinggalan Kompeni : Jembatan Plengkung.

     Keberadaan situs (baru saya ketahui setelah melihat titik korrdinat gambar), Tak Jauh dari tepi Jl. Raya Darupono-Kedungsuren. Berada di lahan kering bekas perkebunan warga, dikelilingi alas jati. Saat sampai dilokasi ini matahari sangat terik.  

Candi Darupono Kaliwungu
        Karena tour guide blusukannya orang lokal, (suwun mas Fikri) sehingga tanpa kesulitan kami langsung ke titik lokasi. Dan Langsung disuguhi hamparan berceceran batu bata kuno. 
Candi Darupono Kaliwungu
      Sampai saat saya menulis cerita di blog ini, saya tak menemukan data apapun, atau cerita mengenai jejak Candi Darupono.. -- Tapi ini saya coba  WA mas fikri siapa tahu beliau bisa berbagi... segera nanti saya update. Matursuwun Kawan :
saya dan Mas Fikri
     Saking banyaknya sebaran tinggalan batu bata, saat kami lokasi menemui batu bata yang berelief. salah satunya kebetulan saya dokumentasikan dengan mas Fikri.
     Dari lokasi reruntuhan ini, Kali Blerong yang melegenda di kalangan warga sekitar cukup eksotis. Sungguh menggugah rasa penasaran kami mengenai keberadaan bangunan yang saat ini tinggal sisa saja. Batu bata lebih besar dari sejengkal tangan saya :
Candi Darupono
Dengan skala seadanya, nampak ukurannya sebesar itu :
      Kerusakan sangat masif apalagi saat tahun 2023 saya kesini bekas ladang singkong (Entah sekarang). Proses cangkul kemudian tanaman singkong yang mengambil nutrisi tanah (singkong aadalah tanaman brutal dalam mengambil nutrisi) saya bayangkan kerusakan yang terjadi saat proses ini, pasti memperparah keadaan sebelumnya.  
candi Darupono
      Setelah dirasa cukup, kami kemudian menyudahi blusukan kali ini. sebuah pengalaman yang tersimpan dalam ketika jajak peninggalan sangat terbengkalai. jarang orang mengetahui. jangankan tahu pernah mendengar saja tidak.
         Masih bersama pasangan blusukan saya : 

Salam Pecinta situs dan watu candi 

Sabtu, 05 Agustus 2023

lapik Arca Situs Tulang Bawang : Jelajah Alas Darupono Kendal

lapik Arca Situs Tulang Bawang : Jelajah Alas Darupono Kendal
    
      Minggu 6 AGUSTUS 2023. Akhirnya setelah sekian lama, komunitas Dewa Siwa kembali blusukan bareng. Kami menamai blusukan kali ini Jelajah Alas Darupono Kendal sebagai penyemangat untuk kembali giat blusukan situs dan cagar budaya. Momentum Jelajah Alas Darupono ini dalam suasana bulan kemerdekaan, jadi turut menghidupkan semangat nguri-nguri peninggalan leluhur.
     Adalah kang Mas Roso yang terdepan, memilih destinasi blusukan kali ini. Selain silaturahmi, juga kolaborasi dengan kawan seperjuangan para pegiat pelestari cagar budaya hindu klasik dari kendal dan beberapa kawan independen.
     Titikkumpul di Pertigaan Boja (sempat terjadi drama disini, soalnya beberapa rekan menginginkan titik kumpul di pertigaan depan kelurahan Mijen. Namun Karena pertimbangan ada rekan yang rumahnya dekat (Mas Age Kharisma), saya terpaksa mengambil keputusan titik kumpul utama di perempatan tugu Nyi Pandansari dekat TMP Boja.
     Singkat cerita sampailah kami, (beberapa perjalanan ada di beberapa video rekan. juga ada di video saya, link tunggu setelah edit:

      Penanda kami koordinasi dulu, sambil nunggu rekan yang tertinggal . 
Penanda  menuju situs darupono

           Transit di Basecamp penjaga RPH. 
sumber foto Video Pak Nanang Klisdiarto


       Dari video cuplikan, ada sedikit gambaran rute dari basecamp penjaga menuju tujuan. Situs Lapik Arca  Alas Darupono Kendal. Berada bawah pohon beringin ditengah tengah alas jati. Situs ini berada. Sendirian .... terbelah


        Jelajah dengan personil yang cukup banyak memberikan ruang diskusi yang cukup seru, dari jauh mirip yoni terbalik karena ada tonjolan yang mirip cerat.

          Namun ketika dibalik, diskusi tambah makin ramai. 

        Penampilan penampang atas memiliki cekungan sebagai tempat dimana arca di letakkan, bukan kuncian hanya pembatas aliran air yang keluar akan mengalir melalui cerat. 
Lapik Arca
    Berukuran kecil sendirian di tengah alas, keberadaan lapik arca ini sangat riskan. baik hilang, dirusak. Bentuk yang cukup unik walau mgungil menggugah rasa penasaran kami. Dewa apa yang di arcakan dan di letakkan di sini dibawah pohon beringin ini. 
lapik arca

      Diskusi arca apa mengerucut pada arca durga mahisasuramardini.  Namun berbagai kemungkinan tetap ada. dan diskusi tak pernah selesai. Yang paling menyenangkan adalah ketika acara jelajah, blusukan seperti ini adalah makan rame-rame, dengan piring pincuk dan lauk seadanya :


Komunitas Dewa Siwa
        Salah satu yang menjadi klangenan Komunitas Dewa Siwa. Sambil ngobrol ringan, bercanda. salam pecinta situs watu candi. Paseduluran Saklawase.
     Segera setelah video hasil dokumentasi saya selesai di edit dan diupload di youtube akan saya tampilkan disini juga.

Foto bersama :

Salam pecinta situs dan watu candi...

di Situs Tulangbawang Alas Darupono Kendal

Bersambung ke Candi Darupono

Selasa, 30 Agustus 2022

Prasasti Watu Lawang , Desa Tajuk Getasan

Prasasti Watu Lawang Tajuk Getasan
   
 Selasa. 30 Agustus 2022. Akhirnya saya bisa sampai sini juga. setelah sekian lama hanya bisa mendengar informasi beberapa tahun sebelumnya, tepat sebelum pandemi ada berita viral tentang ditemukannya sebuah prasasti.  Informasi yang sangat berharga ditengah terbatasnya bukti tulisan di Kabupaten Semarang yang berbentuk tulisan (baik angka ataupun aksara)   
     Mohon maaf dengan segala keterbatasan ingatan cerita blusukan, nakah ini saya upload dengan dukungan video

 Video di Youtube 


    Maturnuwun semua yang berperan di pelusuran kali ini

Prasasti Watu Lawang Tajuk Getasan


Terimakasih Ms Eko Budi:


Prasasti Watu Lawang Tajuk getasan

        Salam pecinta situs dan watu candi

Prasasti Watu Lawang Tajuk getasan


#ssdrmk