Jumat, 27 Maret 2015

Ganesha Situs Banjaran Karangjati


Ganesha Situs Banjaran Karangjati
     24 Maret 2015
     Hasil penelusuran informasi di internet beberapa tahun lalu, masih tersimpan. Ternyata membuat saya bersemangat lagi... Mbolang kali ini memang butuh perjuangan yang ekstra. Karena berada di dekat jalur PP saya kerja, niat saya menyempatkan berangkat/pulang mbolang terlebih dahulu. saya hitung ada 4 kali saya berusaha nyari Situs Dewa Ganesha ini,baru keempat kalinya bisa ketemu... mulai dari kurang tepatnya info dari web site yang saya dapat...., masyarakat sekitar juga ga tahu keberadaannya, juga kendala cuaca. Berbagai hambatan yang saya temui itu, tak mengurangi semangat saya.
  Jalurnya arah Semarang sebelum pasar Karangjati ada jalan masuk ke Ngobo, ati2 ketika di gang masuk ini... selain termasuk jalan berkategori 'blindspot' juga sering macet dan rawan. Masuk kira-kira 100m ketemu dengan gang Jl. Suka Rukun.
PT USG Congol :
gambar saya ambil dari parkir motor depan rumah warga
      Ikuti Jalan itu, sampai ketemu dengan perempatan, ambil lurus, kemudian perempatan ke dua ambil kanan arah ke Parik Garmen PT. USG Congol.
    


     Jalan menuju Situs ini tepat di depan PT. USG Congol ambil kanan arah persawahan, Parkir Motor di depan rumah warga. 

ganesha Karangjati
Gambar disamping adalah gambar yang menjadi bekal saya mbolang....... dan ternyata info lakasi nya salah.... bukan ngimbun tapi Banjaran, Masih Sama Karangjati. 
Sempat "clingak-clinguk", karena tak terlihat dewa Ganesha di sekitar sawah di depan ku... info gambar dari Dinas Pariwisata, Keterangan sumber gambar : Arca ganesha ini berada di tengah sawah milik ibu Siti warga Ngimbun Karangjati


   Karena keterangan seperti itu, ketika kusampai ku langsung mengedarkan pandangan... namun setelah beberapa lama ga terlihat juga, sempet mau mutung. Beruntung ada seorang ibu-ibu (beliau ga berkenan diketahui namanya), , karena saya saking senengnya diantar ke  situs, saya lupa foto beliau... namun tak mengurangi hormat saya, beribu terimakasih saya ucapkan pada beliau melalui tulisan ini, sudah repot mau menunjukkan lokasi Situs Arca Ganesha. 
     Beliau pun dengan yakin, "Saya 'bejo' ketemu dengan ibu itu, soalnya kalo orang lain belum tentu tahu keberadaan Situs ini, karena banyak warga yang sekitar saat ini pendatang.. 
jadi untuk peninggalan leluhur ini jarang yang peduli apalagi memperhatikan", jelas beliau.
  Petualangan sebenarnya menanti, Jalurnya melewati pematang sawah, pas saya mbolang ke sini tanah pematang sawah baru saja dicangkul.

    Telusuri pematang sawah itu sampai ketemu dengan sungai, kemudian sebrangi... 

         Arca Dewa Ganesha ada di tengah kebun dan disela-sela pohon sengon (dibawah tulisan merah)

 Ganesha: Dewa pengetahuan, kecerdasan, kebijaksanaan dan pelindung terhadap segala bencana
Ganesha Situs Banjaran karangjati
       Ganesha (Dewanagari) adalah salah satu dewa dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala / bencana serta Dewa kebijaksanaan. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati, Winayaka dan Pilleyar. Dalam tradisi pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putra Bhatara Guru (Siwa).
Ganesha Situs Banjaran karangjati
               
   Kondisi Arca Ganesha Situs banjaran Karangjati ini cukup memprihatinkan.             Pelapukan oleh alam dan diperparah dengan pembiaran arca ini di sini menjadikan Ganesha nampak seperti ini dari dekat.
    Menurut informasi yang ada arca tersebut sudah beberapa kali akan dipindahkan namun tidak berhasil.


Ganesha Situs Banjaran karangjati
    








Ganesa berkepala gajah dengan perut buncit. Patungnya memiliki empat lengan, yang merupakan penggambaran utama tentang Ganesa. 



Ganesha  karangjati

    Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis, yang ia comot dengan belalainya, pada tangan kiri bawah. Motif Ganesa yang belalainya melengkung tajam ke kiri untuk mencicipi manisan pada tangan kiri bawahnya. Dalam perwujudan yang biasa, Ganesa digambarkan memegang sebuah kapak atau angkusa pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya. 

Cerita mengenai Ganesha : 
 Ganesa lahir dengan tubuh dan kepala manusia, kemudian Siwa memenggalnya ketika Ganesa mencampuri urusan antara Siwa dan Parwati. Kemudian Siwa mengganti kepala asli Ganesa dengan kepala gajah. Detail kisah pertempuran dan penggantian kepala, memiliki beragam versi menurut sumber yang berbeda-beda. 
    Dalam kitab Brahmawaiwartapurana terdapat kisah yang cukup menarik. Saat Ganesa lahir, ibunya,Parwati, menunjukkan bayinya yang baru lahir ke hadapan para dewa. Tiba-tiba, Dewa Sani (Saturnus), yang konon memiliki mata terkutuk, memandang kepala Ganesa sehingga kepala si bayi terbakar menjadi abu. Dewa Wisnu datang menyelamatkan dan mengganti kepala yang lenyap dengan kepala gajah. Kisah lain dalam kitab Warahapurana mengatakan bahwa Ganesa tercipta secara langsung oleh tawa Siwa. Karena Siwa merasa Ganesa terlalu memikat perhatian, ia memberinya kepala gajah dan perut buncit.
    Dalam kitab Siwapurana dikisahkan, suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki. Ia berpesan agar anak tersebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik.
      Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya, ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. Siwa menjelaskan bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. Namun sang bocah tidak mau mendengarkan perintah Siwa, sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Akhirnya Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah. Ketika Parwati selesai mandi, ia mendapati putranya sudah tak bernyawa. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya.
    Atas saran Brahma, Siwa mengutus abdinya, yaitu para Gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, gana mendapati seekorgajah sedang menghadap utara. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk mengganti kepala Ganesa. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan.
     Sebagian badannya terpendam sehingga tidak dapat diketahui secara pasti apakah arca ini beralas atau tidak. 


Dari dekat : 




Dari Samping : 

 













Dari belakang: 






Bila tetap dibiarkan seperti ini, tak butuh waktu lama, Arca Ganesha Banjaran karangjati ini lapuk!!!! .... Adakah cara untuk membuat sedikit melindungi? Lapor ke pada siapakah seharusnya.......------
Patut Kita Wacanakan..... diskusi welcome di 081805803200 / fb : Saya


nb: 


Saat perjalanan pulang....saya ketemu dengan seorang kakek, Setelah kujelaskan saya dari mana... Beliau bercerita.... Arca Ganesha ini masih ada hubungannya dengan Arca Ganesha Mbah Dul Jalal.
"Mbah Gono", masyarakat jaman dulu menyebut arca itu..... sampai saat inipun kadang masih ada beberapa yang melakukan ritual di arca itu" jelas kakek iu

---Bila dihubungkan dengan fakta keberadaan 3 buah arca ganesha di daerah sekitar bergas ini... (Satu lagi arca ganesha pondansari) kemudian beberapa sisa batu-batu candi di Situs Kalitaman Wujil bergas--- bolehkah saya menyimpulkan kawasan ini dulunya semacam kawasan pusat pendidikan?, dengan fakta pendukung letak di bawah lereng gunung ungaran yang berdiri kokoh Candi Gedong songo... 
Namun sahaya hanya menduga saja.... Saya yakin suatu saat kebenaran sejarah akan terkuak......


*****

Save the This...Not Only a Stone!!!








Salam Pecinta Candi


Rabu, 18 Maret 2015

Lingga Situs Bukit Cinta Rawapening

Lingga Situs Bukit Cinta
  Rabu 19 Maret 2015
       Disela kerjaan saya nyuri waktu mbolang ke Bukit Cinta di Banyubiru. Sebenarnya beberapakali wisata ke Bukit cinta ini, namun saya belum sadar jika di Bukit cinta ada Lingga. Berkat postingan gambar di FB rekan wahid, saya 'harus mbolang'!.
   Rute dari Ambarawa, Lewat Jalan Banyubiru arah Salatiga, kira-kira 5 km sudah sampai : 
   






 Karena didalam kawasan wisata, masuk ada tiketnya, @Rp. 6000 dan Rp. 1000 untuk Parkir R2.  

Secara Administrasi Berada di Dsa kebondowo Kec, Banyubiru


    Situs Lingga Bukit Cinta ada di pendopo : Petilasan Ki Godho Pameling
Lingga Situs Bukit Cinta

    Lingga adalah sebuah arca atau patung, yang merupakan sebuah objek pemujaan atau sembahyang umat Hindu. Kata lingga ini biasanya singkatan daripada Siwalingga dan merupakan sebuah objek tegak, tinggi yang melambangkan falus atau kemaluan Batara Siwa. Objek ini merupakan lambang kesuburan. (sumber : wikipedia).
      Lingga berdiri diatas umpak.... hal ini yang baru saya temui... biasanya ditempatkan diatas yoni. (entah mungkin karena kedangkalan pengetahuan) menurut sumber bacaan saya :  
      Sejak abad ke 8 yaitu Prasasti Canggal telah menyebutkan bahwa seorang raja mendirikan lingga dan Yoni untuk mengukuhkan kedudukannya. Diberi nama yang menggambarkan perpaduan antara raja yang mendirikan dengan sang dewa yang menjadi pemujanya (Siwa). Lingga yang didirikan juga untuk memperingati suatu peristiwa penting, seperti menang dalam perang.  
     Dari data-data prasasti yang ditemukan, untuk sementara dapatlah dianggap bahwa di sebuah desa setidak-tidaknya terdapat sebuah bangunan suci. Tetapi mungkin juga ada desa yang tidak mempunyai bangunan suci. Di dalam sebuah bangunan suci terdapat arca dewa yang merupakan arca perwujudan atau wakilnya yang disebut lingga. Arca atau lingga itu berdiri di atas landasan yang disebut pranala atau yoni. (sumber bacaan : egga-pramuditya)
Lapik Arca Situs Bukit Cinta
      Bolehlah saya menyebut, Lingga Situs Bukit Cinta ini ditempatkan diatas umpak???
   Selain Lingga ada 2 buah batu Lapik arca, dulunya diatas batu itu parsinya ada arca dewa..... dan 1 lagi batuan yang (karena rusak/rompal) tak saya pahami itu apa....
     Situs Lingga Bukit Cinta masih sering digunakan untuk semedi, dengan banyaknya sisa sesaji serta abu pembakaran menyan, dupa di sekitarnya.
Lingga Situs Bukit Cinta
          Ada hal yang unik, keberadaan bendera Merah Putih... saya meduga kuat, bila situs ini lekat kaitannya dengan Candi Dukuh yang tak jauh dari lokasi ini. (Kebetulan saya sudah kesana tahun 2011 lalu). Candi dukuh yang konon peninggalan Majapahit : Raja Brawijaya V, Kerajaan Majapahit seperti yang diketahui mempunyai bendera kebesaran / PANJI 'gulo kelopo', gulo / gula = merah, kelopo/kelapa = putih. 

Lingga dari dekat : 
Lingga Bukit Cinta


Ukuran :
Umpak
  • Panjang : 20 cm 
  • Lebar : 20 cm 
  • Tinggi : 35 cm 
Lingga
  • Panjang : 73 cm 
  • Lebar : 73 cm 
  • Tinggi : 35 cm

perahu wisata di Rawa Pening
        Karena berada satu wilayah dengan wisata, Saat kesini bisa berwisata sejarah, sambil menikmati sejuknya Bukit Cinta, serta indahnya pemandangan Rawa Pening. Bagi yang suka memancing, atau sekedar berkeliling naik tersedia pula perahu. Di tengah Rawa pening ada pula warung apung yang menyediakan ikan bakar segar.

     Beberapa hasil spot (maaf masih belajar)  di Bukit Cinta Rawa Pening : 

Rawa Pening
Rawa Pening


















      Rawa Pening, terkenal dengan legenda Naga Baru Klinting :
      Dahulu, di lembah antara Gunung Merbabu dan telomoyo terdapat sebuah desa bernama Ngasem. Di Desa itu tinggal sepasang suami-istri bernama Ki hajar dan Nyai Selakanta. Beliau dikenal pemurah baik hati dan suka menolong, sehingga warga masyarakat sangat menghormatinya. Namun mereka belum juga dikaruniai seorang anak, walau sudah berkeluarga sejak lama. Meskipun demikian, mereka bisa hidup rukun.
      Di Suatu siang, Nyai Selakanta termenung seorang diri di teras rumahnya. Melihat hal itu, Ki Hajar mendekati dan bertanya, "Istriku, kenapa kamu melamun dan terlihat bersedih?" tanya ki Hajar.
Nyai Selakanta tak menanggapi, masih terdiam melamun. Kaget saat suaminya memegang pundaknya, "Eh, kanda, " ucapnya terkejut.
"Istriku, apa yang sedang kamu pikirkan, sampai terlihat muram begitu?" tanya ki Hajar.
 "Tidak ada yang kupikir kanda. Dinda hanya kesepian, apalagi saat kanda pergi. Seandainya di rumah ini selalu terdengar tangis dan rengekan bayi, tentu hidup kita tidak akan sesepi ini," jelas Nyai Selakanta. "Sejujurnya Dinda ingin sekali mempunyai anak, ingin merawat juga membesarkan dengan penuh kasih sayang, Kanda...", tambah Nyai Selakanta.
     Mendengar ungkapan hati sang istri, Ki Hajar terdiam, dengan menghela nafas panjang beliau berkata, "Sudahlah Dinada, Barangkali belum waktunya Hyang Widi memberikan kita keturunan. Yang penting kita harus selalu berdoa dan berusaha", kata Ki Hajar berusaha menenangkan sang istri.
"Baik Kanda, Semoga harapan kita dikabulkan", jawab Nyai Selakanta sambil meneteskan air mata.
Melihat sang istri sedih, tak tahan pula Ki Hajar menahan air mata. Kemudian kihajar berkata, "Baiklah Dinda, jika Dinda sangat ingin mempunyai anak, Kanda ingin bertapa untuk memohon kepada Hyang Widi", kata Ki Hajar.
      Singkat cerita, Nyai selakanta melepas kepergian suaminya untuk bertapa, meskipun berat berpisah. Tinggalah kini Nyai Selakanta seorang diri dirumah, hati pun semakin sepi. Sudah berbulan-bulan Ki Hajar pergi bertapa, namun Nyai Selakanta ta kunjung mendapat kabar, hingga suatu hari Nyai Selakanta merasakan keanehan dalam dirinya. Nyai Selakanta merasa mual, dan kemudian muntah-muntah layaknya wanita yang sedang hamil. Ternyata apa yang diduga benar, Semakin hari, perut Nyai Selakanta tambah besar. Sapai tiba waktunya Nyai Selakanta Melahirkan.
    Namun alangkat kaget dan sedihnya, saat Nyai Selakanta mengetahui bayi yang dilahirkan bukan seorang bayi manusia, namun berwujud ular naga. Nyai Selakanta memberi nama anak itu Baru Klinthing, yang diambil dari tombak pustaka milik sang suami, Ki Hajar. Kata 'baru' berasal dari kata bra yang artinya keturunan seorang Brahmana Seorang resi) yang memopunyai kedudukan lebih tinggi dari pendeta. Sementara Klinthing berarti bunyi dari lonceng.
     Bayi berwujud naga itu memang ajaib, walau berbentuk ular naga namun bisa berbicara dan menangis seperti layaknya bayi manusia yang lain. Nyai Selakanta tak dapat menahan rasa herannya bercampur rasa haru melihat keanehan itu. Namun di hati kecilnya, terbersit pula rasa kecewa, malu jika warga mengetahui bahwa yang ia lahirkan seekor ular naga. Untuk merahasiakan hal itu, Nyai Selakanta memounyai rencana untuk mengasingkan Baru Klinthing di bukit Tugur, sampai ia besar nanti. Yang kemudian nanti setelah besar Baru Klinthing akan mengadakan perjalanan ke Gunung Telomoyo yang jaraknya cukup jauh.            Dan Rahasia baru Klintingpun tak pernah diketahui oleh warga sekitar.
      Singkat cerita, ketika Baru Klinting remaja, suatu hari bertanya kepada Ibunya, "Ibu, apakah aku ini mempunyai seorang ayah?" tanya Baru Klinthing dengan polosnya. Kaget dengan pertanyaan anaknya, namun Nyai Selakanta juga menyadari sudah saatnya Baru Klinthing harus mengetahui siapa ayahnya.
"Iya anakku, Kamu mempunyai ayah. Ayahmu bernama Ki Hajar. Saat ini sedang bertapa di gunung Telomoyo. Pergilah temui dia dan katakan padanya engkau ini putra beliau", jelas Nyai Selakanta.
Dengan ragu Baru Klinting menjawab, "Apakah ayah mamu mempercayai perkataanku, dengan tubul ular saya ini Ibu?", tanya Baru Klinthing.
"Jangan Kawatir Anakku, Bawalah Pusaka Tombak Baru Klinthing ini sebagai bukti, engkau memang anaknya", jelas Nyai Selakanta.
Setelah mendapat restu dari Ibunya, Baru Klinthing berangkat menuju Lereng Gunung Tinjomoyo sambil membawa pusaka. Setelah sampai di lereng Gunung, kemudian baru Klinthing mencari Gua. Di dalam gua itu terdapat seorang laki-laki yang sedang duduk bersemedi. Kedatangan Baru Klinthing rupanya membangunkan Ki Hajar dari pertapaannya.
"Siapa itu?!!", tanya Ki Hajar.
"Maafkan saya Bapak. Jika kedatangan saya ini mengagetkan serta mengganggu ketenangan Bapak", jelas Baru Klinthing.
     Terkejut Ki Hajar melihat seekor naga namun bisa berbicara layaknya manusia.
"Siapa kamu dan kenapa kamu mampu berbicara bahasa manusia?", tanya Ki Hajar penuh keheranan.
"Saya Baru Klinthing", jawabnya. "Berkenan saya bertanya, benarkan ini pertapaan dari Ki Hajar?", tanya Baru Klinthing.
"Iya benar. Saya sendiri Ki Hajar. Bagaimana kau tahu namaku?, siapa sebenarnya kamu?", tanya Ki Hajar.
      Mendengar jawaban Ki Hajar, Baru Klinthing langsung Sembah sujud kepada Ayahnya. Kemudia ia menjelaskan ihwal dirinya. Namun awalnya Ki Hajar tidak mempercai Baru Klinthing anaknya, apalagi mempunyai wujud seekor naga. Ketika akhirnya Baru Klinthing menunjukkan pusaka yang diberikan kepadanya untuk ditunjukkan, Ki Hajar pun mulai percaya namun belum sepenuh hati.
"Biaklah, aku percaya jika tombak pusaka itu memang milikku. Tapi bukti itu belum cukup bagiku. Jika kamu benar anakku, coba kamu lingkari Gunung Telomoyo ini", perintah Ki Hajar.
         Untuk meyakinkan ayahnya, Baru Klinting segera melaksanakan permintaan Ki Hajar.  Berbekal kesaktian yang dipunyai. Baru Klinthing berhasil melingkari Gunung Telomoyo. Akhirnya Ki Hajar Mengakui bahwa Seekor Naga yang bernama Baru Klinthing itu memang benar anaknya. Setelah itu Ki Hajar memerintahkan anaknya untuk bertapa terlebih dahulu di Bukit Tugur.
"Sekarang, Bertapalah di Bukit Tugur Anakku, suatu saat kelak tubuhmu akan berubah menjadi manusia", kata Ki Hajar."Baik Ayah....", jawab Baru Klinthing

Sementara itu, di saat yang sama di daerah lain

      Tersebutlah desa bernama Pathok. Desa ini tanahnya subur, sehingga penghidupan warga masyarakatnya yang petani cukup makmur. Namun ada yang perilaku kurang terpuji dari hampir semua warga desa. yaitu mereka angkuh.
    Suatu ketika, Penduduk Desa Pathok berencana mengadakan kegiatan merti desa, pesta sedekah bumi setelah panen. yang melambangkan rasa syukur terhadap penciptanya. Berbagai acara digelar untuk memeriahkan acara tersebut, seperti pertunjukan seni dan tari bahkan wayang. Untuk melengkapi hidangan bagi para tamu yang akan diundang, para warga beramai-ramai berburu di Bukit Tugur
     Namun, sudah hampir seharian mereka berburu. Belum ada satupun binatang yang mereka jumpai. Kala matahari sedang terik, saat terasa penat, para warga memutuskn untuk istirahat terlebih dulu di tanah yang agak lapang. 
     Sambil bercakap-cakap, para penduduk mencari tempat untuk  beristirahat barang sejenak. Ada salah satu warga yang menggunakan golok membabat tumbuhan liar untuk tempat dia istirahat. Ketika tak sengaja membacok sesuatu yang nampak mirip akar pohon besar, keluarlah darah segar.
     Gemparlah .... kemudian setelah dicermati ternyata yang di bacok warga tadi adalah tubuh dari seekor ular yang sangat besar. Tak menunggu lama warga akhirnya memotong-motong ular tersebut, sampai bersisa hanya bagian kepalanya saja. (kemudian kepala naga ini ditinggal begitu saja). 
   Daging ular naga Baru Klinting mereka bawa pulang kemudian diolah dengan berbagai jenis menu. Saking banyaknya bahkan setiap penduduk desa memasak sendiri-sendiri beraneka menu dari daging ular naga tersebut.
     Saat Pesta Sedekah Bumi berlangsung, datanglah ke Desa Pathok. Seorang anak kecil yang tubuhnya penuh luka karena penyakit, bahkan berbau amis darah. Anak kecil itu penjelmaan dari Baru Klinting, Kepala Naga yang telah ditinggalkan itu yang berubah menjadi sesosok anak ini.
    Karena sangat lapar, Baru Klinthing pun ikut bergabung dengan pesta Sedekah Bumi penduduk Desa Pathok. namun saat ia berkeliling meminta makan, tak satupun warga mau memberinta makan barang sesua nasi. mereka justru memaki-maki dan mengusir nya.
"Hai anak pengemis. Terkutuk. Cepat Pergi dari sini!!", usir para warga. "Tubuhmu bau amis sekali", tambah warga yang lain.
     Pun demikian, Baru Klinthing yang berwujud seorang anak itu masih mencoba meminta sesuap nasi kepada beberapa rumah yang ditemuinya. Dengan perut kosong dan sangat lemah, akhirnya Baru Klinting ketemu dengan rumah paling pojok desa. 
Setelah uluk salam, si empunya rumah keluar. dan yang keluar seorang nenek yang tinggal sebatang kara. Mbok Rondho biasa dipanggil.
"Nenek, bolehkah saya minta sesuap nasi untuk saya makan. saya lapar nek. Saya sudah berkeliling di rumah warga tidak ada yang berkenan memberi makan kepada saya. Karena badan saya ini bau", pinta Baru Klinting
"Bukankan ada pesta nak, disana banyak makanan, apakah kamu sudah kesana?", tanya nenek itu.
"Saya sudah kesana nek, tapi warga semua mengusirku, mencaci maki", jawab Baru Klinthing sedih.
"Ya Sudahlah nak... Mari Masuk...., ini ada sedikit makanan." Kata Nenek itu.
    Saat Baru Klinting sedang makan, nenek itu juga bercerita, "Warga memang angkuh nak, mereka juga melarangku datang ke pesta. Alasannya nenek merepotkan dan kumuh.", jelas Nenek itu.
    Saat mendengar cerita nenek itu, Baru klinthing merasa geram. " Terlintas rencana di pikirannya.
"Nek, Kalau nanti ada air meluap... nenek naik lesung itu ya." kata Baru Klinting. 
Walau bingung dan tak dapat menangkap apa maksud baru Klinting, Nenek itu mengiyakan....

     Tak Berapa lama kemudian... Baru Klinting kembali ke keramaian pesta. Penduduk yang melihatnya kembali pun banyak yang menggerutu....

Tiba-tiba Baru Klinting mengeluarkan sebatang lidi, kemudian dengan lantang mengucapkan tantangan. 
"Wahai kalian semua, siapa saja yang bisa mencabut lidi ini.... jika bisa saya akan pergi dan tak kan pernah kembali lagi", seru Baru Klinting
   Merasa itu hanya masalah sepele, warga banyak yang terbaha-bahak, mereka menyuruk anak-anak kecil mencabut lidi itu...

Namun...
 Ternyata tak satupun orang bisa mencabut lidi itu....



to be continue...
   
  
Save this Not Only a Stone
Di Lingga Situs Bukit cinta rawa pening

Salam Pecinta Situs

Jumat, 13 Maret 2015

Situs Sitoyo Keji Ungaran

Umpak Situs Sitoyo Keji Ungaran
12 Maret 2015, 
     Setelah dapat info keberadaan umpak di Dusun Sitoyo Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat... segera saya meluncur kesana. Berada kira2 3 km dari pusat kota Ungaran. 
Kampung Seni Lerep
     Rute yang saya lalui dari alun-alun lama ungaran ambil melewati SMK NU Ungaran, Karangbolo ambil kiri... melalui kampung seni lerep ungaran, 
     Kemudian melewati pula kawasan wisata watugunung.
 Setelah itu terus saja keatas sampai melewati Kantor kecamatan Ungaran Barat. Kemudian melewati pula kolam renang. 









   Ikuti jalan desa, sampai ketemu dengan papan petunjuk ini : 
Di sebelah kiri papan gerbang penunjuk nama : 
     

       Masuk, Umpak Situs Sitoyo Berada di Halaman Masjid Ponpes Al Madinah ini : 
Umpak Situs Sitoyo Keji Ungaran 
    Umpak adalah sebuah alas tiang sebuah bangunan, bila dihubungkan dengan kondisi lingkungan, besar kemungkinan di sekitar situs ini dulunya ada sebuah bangunan suci (masa Hindu), tentunya ada lebih dari 1 umpak (seharusnya).. juga ada media penyembahan seperti bangunan candi, arca ataupun lingga yoni. Namun saat ini yang diketahui / yang tersisa hanya umpak saja.
   Keunikan umpak Situs Sitoyo Keji ungaran ini terdapat tonjolan yang berelief : 


Relief di Umpak situs Sitoyo Keji Ungaran

       Umpak Situs Sitoyo dari belakang :
Umpak Situs Sitoyo Keji
     Umpak Situs Sitoyo dari Atas
Umpak Situs Sitoyo Keji
     Umpak Situs Sitoyo dari Dekat
Umpak Situs Sitoyo Keji Ungaran
    Karena saya tidak ketemu informan /pemilik ponpes ini/ warga yang bisa saya tanya jadi cukup disini dulu, suatu saat mungkin saya perbaharui informasi...jika berkesempatan kesini lagi.... 

Save This Not Only a stone
Salam Pecinta situs

Rabu, 11 Maret 2015

Situs Lingga Karanganyar Candisari Semarang

Lingga Karanganyar Jangli Semarang
     Setelah Blusukan dari Yoni Don Bosco , Mbolang saya lanjutkan didaerah Karanganyar Kec. Candisari Semarang. Masih berkat pertolongan guide pemilik blog http://sutrisnasmg.blogspot.com/  Mbolang kali ini mblusuk sampai daerah Karanganyar, tepatnya masuk wilayah Kecamatan Candisari. Benar-benar mblusuk, karena kalau diulang saya ragu apa bisa menemukan kembali.. :)
    Rute yang saya lalui, dari arah peterongan - tanah putih terus naik ... Sampai melewati SPBU, kemudian ada jalan masuk arah kiri... tertulis nama jalan : jl. Jangli. Ikuti sampai ketemu dengan Gang berikut : 





      Kemudian sedikit berliku, agak membingungkan bila saya jelaskan (ta sempat ambil gambar petunjuk) namun tanya saja arah menuju watu Dandang di lingkungan Karanganyar Legok. Lingga berada di tempat pengelolaan air bersih warga. Lingga berada di halaman bangunan 'saniter' ini.... :





      Masyarakat mengenalnya dengan watu dandang....

Lingga Karanganyar Candisari  Semarang
        Seperti menjadi sebuah bukti, keberadaan sebuah situs tak lepas dari mata air - Pentirtaan... sebagai sebuah simbol dan air sebagai penyuci diri sebelum ritual. Lingga sebagai Perlambang Kesuburan, erat kaitannya dengan Barata Siwa.

Pencerahan Tirta (sumber dari tetangga) : 
      Air merupakan sarana sembahyang yang penting. Ada 2 jenis air yang dipakai pada saat akan sembahyang yaitu: air untuk membersihkan mulut dan tangan dan air yang nantinya berfungsi sebagai tirtha. Beberapa orang juga menyebutnya dengan Toya. Tirta adalah air yang telah disucikan. kesuciannya bisa diperoleh dengan jalan dimantrai oleh orang yang berwenang(pandita dll) atau dengan mengambil disuatu tempat dengan disertai ritual keagamaan(wangsuhpada). Dilihat dari manfaat ada 3 jenis tirtha:
     Tirta yang digunakan untuk pensucian terhadap bangunan,alat upacara atau diri seseorang. Tirta ini diperoleh dengan jalan puja mantra para pandita. Tirtha ini sering disebut dengan tirtha. pengelukatan,perbesihan atau parayascita.biasanya dicipratkan tika kali yang mengandung arti sebagai simbol pensucian yang meliputi:awal,tengah dan akhir.
     Tirta yang digunakan untuk penyelesaian dalam upacara persembahyangan. Umumnya tirtha ini dimohon disuatu pelinggih utama pada suatu pura atau tempat suci tersebut. Istilah lain titha ini adalah wangsuhpada. Selain dicipratkan (maketis)di kepala (ubun-ubun) juga diminum tiga kali sebagai simbol pensucian bathin,lalu meraup(mencuci muka)tiga kali sebagai simbol pensucian terhadap lahir.
   Tirtha yang dimanfaatkan untuk penyelesaian upacara kematian. misalnya: Tirtha Penembak,Tirtha Pemanah dan Tirtha Pengentas.
      Didalam Weda Parikrama dan Surya Suwana dijelaskan, maksud dari pemakaian tirta itu adalah sebagai pensucian secara lahiriah dan rohaniah (lahir dibersihkan dengan air, bathin/rohani dibersihkan dengan kesucian tirtha). sumber :  https://m.facebook.com/notes/om-swastiastu/makna-sarana-persembahyangan-hindu/631699873521410/ 

informan : Lingga Karanganyar Candisari  Semarang
     
 Saat Berada di sini, kebetulan ada warga yang bisa saya tanya keberadaan lingga ini. Info yang saya dapat tentang Batu ini: Karena Mirip Dandang (tempat Menanak nasi berukuran besar), akhirnya masyarakat menyebut lingga ini watu dandang. 

Lingga Karanganyar Candisari  Semarang
     



 Kondisi batu yang rompal, menjadikan penampakan watu dandang bagian atasnya misterius... namun uniknya bagian bawah lingga ini berbentuk segi delapan. : 








(Info tentang bentuk unik segi delapan : 
     Berdasarkan bentuknya, Lingga dapat dibagi menjadi empat bagian, sebagai berikut.
a) Bagian puncak lingga yang berbentuk bulat disebut Siwabhaga lingga, merupakan simbol dari sthana atau linggih Bhatara Siwa.
b) Bagian tengah lingga yang berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga, merupakan simbol dari sthana atau linggih Bhatara Wisnu. 
c. Bagian bawah lingga yang berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga, merupakan simbol dari sthana atau linggih Bhatara Brahma.
d) Dasar lingga yang berbentuk segi empat, dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah saluran menyerupai mulut adalah tempat di mana air dialirkan seperti pancuran. Dasar lingga ini disebut Yoni.(Sumber : wira-hady blogspot.com)

Lingga Karanganyar Candisari  Semarang
      Biasanya berpasangan dengan Yoni...... Namun menurut info yang saya dapat hanya Lingga phala (lingga yang terbuat dari batu) inilah yang diketahui oleh warga. Keberadaan lingga berada di dekat mata air serta sungai saat ini menjadi tempat warga menggantungkan kebutuhan airnya di tempat ini.

Pohon Bendo
        Di Sebelah atas Lingga, ada pohon Bendo yang sangat besar, dan keberadaannya sangat dijaga oleh warga, karena mereka yakini ... yang menjadikan debit mata air tinggi serta jernih ya keberadaan pohon Bendo ini.... 
    Bahkan warga (informan) sempat menunjukkan debit yang tinggi itu kepada saya dengan menunjukkan tandon serta saluran air.
   Bila diurut keatas, menyusuri sungai, kata informan itu ada batu lempeng/datar yang sampai saat ini bisa mengeluarkan bunyi.... ini magis mungkin... tapi saya tak mau berandai-andai.. mungkin suatu saat nanti, entah kapan barangkali saya bisa kembali menelusuri... 
      Karena di Semarang... Kawasan Candisari ini dulunya memang banyak peninggalan kuno. Namun tentu saja perjuangan berat untuk menelusuri kembali.....
    
Lingga Karanganyar Candisari  Semarang
Semoga ada jalan untuk mengungkap kembali Situs di Candisari...  semoga....

Mari Kita Lestarikan.....

Gabung di grup : Komunitas Pecinta Situs Semarang Yuk...


Save This Not Only a Stone

Salam Pecinta Situs